Asal Usul
Pogung
Dahulu
kala, ada seorang putri bernama Campa yang diusir rakyat karena sang raja jatuh
cinta padanya. Pengusiran ini dilakukan karena adanya peraturan kerajaan yang
melarang Raja menikah dengan orang asing,” Maafkan aku putri, kita harus
berpisah di sini ,” ucap sang raja. “ Ini bukan salah Baginda, mungkin memang
ditakdirkan kita tidak hidup bersama,”kata sang Putri sambil menangis.
”Sudahlah, tak usah kau tangisi , Putri. Ki Dalang akan menemani dan menjagamu
ketika kau pergi,” ucap sang Raja sambil mengusap air mata di pipi Putri Campa.
Putri Campa dan Ki Dalang lalu pergi .
Dalam perjalanan, mereka
beberapa kali berhenti untuk istirahat. Kadang mereka tinggal sementara di desa
yang mereka lewati. Mereka membayar jasa-jasa orang desa setempat tersebut
menggunakan sejumlah uang atau emas yang raja berikan pada mereka untuk bekal
perjalanan ketika mereka berpisah kala itu. Mereka juga mengajarkan bagaimana
cara menanam padi dan membajak sawah dengan benar supaya hasilnya baik. Masyarakat
setempat juga menerima mereka dengan senang hati karena sifat mereka yang
sangat baik pada masyarakat sekitar. Ketika
akan melanjutkan perjalanan, masyarakat setempat memberikan bekal yang cukup
banyak untuk Putri Campa dan Ki Dalang sebagai rasa terima kasih mereka.
Sampai suatu saat mereka
melewati hutan belantara. Mereka sudah dua hari terjebak di hutan itu.” Kita
sudah dua hari terjebak di hutan ini Ki Dalang, kira kira kapan kita keluar
dari sini ?, bekal kita semakin lama semakin sedikit,” ucap Putri Campa.”
Memang sudah dua hari kita terjebak di sini, Putri. Tapi aku yakin, kita
sebentar lagi akan keluar dari hutan ini karena sudah tampak cahaya matahari di
ujung sana,” jawab Ki Dalang. “ Aku harap juga begitu ,”sahut Putri Campa.
Di tengah perjalanan, Putri
Campa sangat kelelahan. Ki Dalang yang sadar akan hal itu langsung menawarkan
bantuan.” Biarkan saya menggendong Tuan Putri, Tuan Putri tampak kelelahan,”
kata Ki Dalang. “ Oh terima kasih Ki Dalang, perbuatanmu sangat membantuku.”
Jawab Putri Campa sambil naik ke gendongan Ki Dalang. Dan dari situ, Ki Dalang
tiba tiba jatuh cinta pada sang putri.
Di Kerajaan, raja terlihat lelah dan membutuhkan pendamping hidup.
Utusan raja sudah berkali kali disuruh mencarikan wanita yang tepat untuk sang Raja.
Tetapi, sang raja tidak merasa cocok dengan wanita wanita yang utusannya
tawarkan ke dia. Teringat wajah sang Putri yang cantik dan baik hatinya di
kepala sang raja. Dia semakin rindu dengan Putri Campa. Dia tidak dapat
menemukan pengganti yang tepat seperti Putri Campa.
Sampai suatu saat raja di tawarkan oleh utusan nya adik perempuan
dari kerajaan di Pulau Seberang. Dia sangat antusias. Dia dan adik raja kerajaan
seberang di pertemukan dan tinggal bersama. Tetapi tidak sampai seminggu, dia
sudah bosan dengan perempuan itu karena perilakunya yang merendahkan orang-orang
istana.” Sepertinya, sudah tidak ada seorang wanita yang sifatnya seperti Putri
Campa,” ucap sang Raja.
Dua tahun kemudian, Raja jatuh sakit akibat merindukan putri,
rakyat pun sadar dan meminta para pasukan istana untuk berpencar mencari
keberadaan sang putri. “ Aku harap kau berhasil menemukan Campa dan membawa dia
pulang ke istana,” harap sang raja pada salah satu pemimpin pasukannya.” Hamba berjanji akan
membawakan Putri Campa pulang dengan selamat sampai di pangkuan Baginda” jawab
pemimpin pasukan itu. Pasukan dibagi menjadi empat kelompok. Mereka masing
masing pergi ke Selatan, Barat,Timur, dan Utara.
Sehari setelah pencarian putri, istana mendapatkan kabar bahwa
tidak ada jejak Putri Campa atau Ki Dalang di Selatan. Esoknya ada kabar lagi
bahwa di Barat tidak ada tanda tanda kehadiran Putri Campa. Begitu juga di
Timur. Dua hari kemudian pasukan yang menuju Utara sampai ke sebuah desa yang
sangat subur. Mereka dengan hati hati masuk ke desa tersebut. Tidak lupa mereka
izin dengan pemimpin setempat. Dan akhirnya, mereka menemukan Putri Campa dan
Ki Dalang di desa tersebut. Tetapi mereka sangat kaget karena hal yang tak
terduga terjadi.
Di Kerajaan, Raja masih menunggu kabar pasukan yang di utusnya
untuk pergi ke Utara. Beberapa saat kemudian, datang pemimpin pasukan Raja
dengan nafas yang terengah engah. “ Maafkan saya Baginda, hal buruk sedang
terjadi “ kata pemimpin pasukan itu. “ Apa maksudmu, apa yang telah terjadi ? “
Tanya raja dengan suara yang keras. “ Putri Campa telah menikah dan mempunyai
anak dari Ki Dalang, Baginda” jawab pemimpin pasukan itu. Seketika itu tuuh
raja lemas tak berdaya. Ia tak menyangka bahwa Ki Dalang yang ia percayakan
selama ini mengkhianatinya.
Seminggu kemudian, raja meninggal dunia. Rakyat sangat sedih atas
kepergian sang raja. Mereka juga tidak menyangka Ki Dalang utusan terbaik raja
malah mengkhianati raja karena yang mereka tahu, Ki Dalang adalah tangan kanan
raja yang raja tugaskan untuk membantu rakyat dan mengajarkan rakyat cara
bercocok tanam. Mereka juga tidak menyangka jika ternyata Ki Dalang mencintai
Putri Campa dengan tulus.
Rakyat pun murka dan menuduh Putri Campa lah yang menyebabkan
semua ini terjadi, termasuk meninggalnya sang raja. Rakyat meminta seluruh
pasukan raja untuk mencari Putri Campa dan membunuhnya. Para pemimpin pasukan
juga setuju akan hal itu karena menurut mereka, Putri Campa harus dihukum mati
akibat perbuatannya pada sang Raja. Lalu mereka bersiap siap untuk pergi mencari
dan membunuh Putri Campa.
Ki Dalang akhirnya mendengar kabar bahwa raja telah meninggal, ia
juga turut sedih. Ia tahu jika ini mungkin juga salahnya karena mencintai Putri
Campa. Sampai akhirnya dia mendengar bahwa pasukan istana sedang mencari Putri
Campa dan akan membunuhnya. “ Campa, pergilah dari sini, pasukan kerajaan
sedang kemari dan ingin merenggut nyawamu “ ucap Ki Dalang. “ baik Ki, aku akan
pergi. Jagalah anak kita, rawatlah dia supaya dia menjadi orang yang berguna
bagi masyarakat. Lalu Putri Campa pergi berlari tanpa arah dan tujuan.
Putri Campa melarikan diri dan di kejar oleh pasukan raja hingga
pantai selatan. Seluruh pesisir pantai sudah di penuhi oleh ribuan pasukan
raja. Tanpa Putri Campa sadari, ia semakin berlari ke tengah lautan dan
akhirnya ditelan samudra akibat ombak besar. Dalam kesedihan, Ki Dalang kembali
ke Utara setelah semuanya hancur akibat cinta segitiga ini. Kerajaan sudah
hancur lebur. Ia mengajak orang orang yang tersisa kembali ke Utara. Karena
wilayahnya sempit, Ki Dalang memutuskan untuk membangun desa supaya lebih
makmur
Pembangunan diiringi oleh suara ‘Pong’ dan ‘Gung’ berulang ulang
dari alat musik yang dimainkan oleh Ki Dalang. Setelah desa berdiri, mereka
namai dengan “Pogung” yang berasal dari ‘pong gung’ yang menyemangati mereka
saat membangun desa. Ki Dalang membagi desa menjadi empat dusun : Pogung
Dalangan, yaitu tempat tinggal Ki Dalang. Pogung Rejo, dusun subur dekat Kali
Code. Pogung Kidul di selatan dan Pogung Lor di utara.
Namaku
Ahza Pratama, biasa di pangil Ahza. Aku
lahir di Mataram 07 Agustus 2002. Aku sekarang bersekolah di SMAN I
Pakem. Aku anak pertama dari tiga bersaudara dengan dua adik perempuan. Hobiku
olahraga seperti basket atau sepak bola.
menulis memang bukan hobiku sih,aku bisa dibilang tidak suka menulis,
apalagi mengembangkan cerita rakyat seperti ini. Karena ini tugas, yaa aku
berusaha mengerjakannya dengan ikhlas dan ternyata menulis bisa menjadi sesuatu
yang mengasyikkan. Tidak seperti yang kukira menulis itu membosankan dan melelahkan.
Saat tugas ini dikumpulkan, aku harap Bu Mamik senang membacanya. Amin
Asal-Usul
Dusun Ponggol
(Ponggol, Hargobinangun, Pakem, Sleman
, D.I. Yogyakarta)
Di pinggir hutan yang
sangat subur, terdapatlah sebuah keluarga kecil yang hidup rukun dan sederhana.
Keluarga itu dikenal mencintai alam dan memiliki sebuah kekuatan yang dapat
berhubungan dengan alam, seperti tumbuhan dan hewan. Di dalam sebuah keluarga
tersebut terdapatlah seorang pemuda yang baik hati dan tampan parasnya. Pemuda
itu bernama Wayan. Wayan sangat menyukai alam beserta isinya. Tiada hari dia
tidak pergi ke hutan. Dia sangat suka dengan kehidupan di hutan, dia merasa
senang dan tenang.
Suatu hari saat pergi ke tengah hutan, dia melihat sebuah
perkelahian antara dua ekor harimau. Wayan tidak tinggal diam, dia langsung
mengambil kayu untuk berjaga-jaga jika mereka menyerang Wayan, kemudian Wayan mendekat
untuk berbicara dengan mereka. Wayan berteriak, “Hei kalian! Para harimau yang
gagah dan berani, hentikan perbuatan bodoh kalian itu!” Kemudian kedua harimau
tersebut terkaget dan langsung menghentikan perkelahian. “Ada apa kalian
bertarung seperti itu? Kalian adalah saudara satu jenis yang seharusnya damai
dan rukun.” Tanya Wayan kepada kedua harimau itu. “Ampun tuan muda Wayan, kami
bertarung karena merebutkan harimau betina yang baik dan cantik parasnya, kami
berdua sangat mencintainya dan ingin memiliki dia.” Jawab mereka dengan sopan
kepada Wayan. Kata Wayan dengan bijaksana kepada mereka berdua “ Wahai kalian,
memanglah harimau betina itu baik dan cantik parasnya, tetapi apakah di dunia
yang besar dan megah ini hanya terdapat satu harimau betina ? apakah kalian
yakin bahwa dia adalah yang terbaik untuk kalian ? maka berdamailah, kalian
adalah satu jenis yang harunya saling mencintai.” “Maafkan kami Tuan Wayan kami
akui bahwa kami salah, kami berjanji akan menjadi harimau yang baik dan akan
menjaga hutan ini dengan sepenuh ketangguhan kami.” Kemudian kedua harimau itu
pergi bersama danterlihat bahagia kedua harimau itu. Wayan pun merasa lega dan
membuang kayu tadi dan melanjutkan perjalanan.
Di tengah hutan terdapat sebuah tempat yang sangat sunyi, damai,
dan nyaman. Di sekitarnya terdapat dua air terjun yang indah dari dua mata air
yang berbeda. Burung-burung pun bernyayi bak paduan suara dengan indahnya.
Ikan-ikan berenang ke sana dan ke mari dengan riang hati. Jangkrik-jangkrik pun
bersuara melengkapi indahnya suasana di tempat itu. Di pinggir air terjun itu
terdapat sebuah batu besar yang memiliki bagian datar pada permukaan atasnya.
Wayan pun duduk di situ menyilakan kakiknya dan mulai fokus untuk bermeditasi.
Saat akan selesai meditasi dia berdoa kepada Sang Maha Pencipta. “Tuhan Yang
Maha Pencipta akan seluruh isi dimuka bumi ini, kami bersyukur atas semua pemberianmu
yang baik adanya, tolonglah kami para makhluk di bumi ini untuk bisa menjaga
bumi dan alam sekitar ini agar bisa berguna bagi penerus-penerus kami.” Sesudah
Wayan bermeditasi dan berdoa Wayan pun pulang ke rumah dan membantu ayahnya
untuk memeras santan kelapa yang akan dibuat menjadi masakan yang enak oleh
ibunya. Itulah kegiatan rutin Wayan disetiap harinya.
Seiringnya zaman Wayan pun
menjadi tua dan kedua orang tuanya sudah dipanggil Yang Maha Kuasa. Dia hidup
sendiri di pinggir hutan tersebut. Ki Wayan masih sering melakukan meditasi di
tempat tersebut hingga masa tuanya. Suatu hari saat dia bermeditasi datanglah tujuh
dewi yang cantik rupanya dan halus perkataannya. Dewi itu berkata “Ki Wayan,
engkau adalah pria tangguh yang sangat mencintai bumi ini, sekarang pergilah ke
suatu tempat yang memiliki tanah yang teramat subur, namun belum ada satupun
manusia yang mengolah tempat itu.” Setelah dewi itu berkata, lalu pergilah
mereka. Ki Wayan pun langsung tersadar dan segera pulang untuk menyiapkan
pengembaraanya. Karena Ki Wayan sangat sederhana dia hanya membawa tongkat dan
bekal makan dan minum seadanya. Berangkat lah dia dengan berpasarah kepada
Tuhan.
Jarak pengembaraannya lumayan
jauh, Ki Wayan tetap bersemangat walaupun merasa kelelahan. Saat mengembara
sampailah dia pada sebuah perkampungan. Dia mendengar bahwa kampung ini sering
diserang oleh sekumpulan monyet yang turun dari pegunungan. Ki Wayan singgah di
sebuah rumah milik nenek tua yang tidak memiliki keluarga. Dia mengikuti
kegiatan bertani nenek itu setiap harinya. Ki Wayan sangat suka berada di alam
sehingga dia menikmati kegiatan bertani itu. Nenek itu menamam berbagai
tanaman, seperti cabai, tomat, dan tumbuhan lompong.
Suatu hari saat Ki Wayan dan
nenek bertani kampung mereka diserang oleh sekumpulan monyet nakal.
Monyet-monyet itu merusak rumah warga dan kebun mereka. Ki Wayan tidak tinggal
diam. Dia mengambil tongkatnya dan berteriak, “Hei kalian para monyet! Pergilah
dari tempat ini dan carilah tempat lain!” Monyet-monyet itu berhenti sejenak,
tetapi tetap saja merusak permukiman tersebut. Warga ketakutan dan berhamburan
keluar kampung. Ki wayan merasa kasihan kepada warga desa dan marah kepada
monyet-monyet itu. Ki Wayan pun megambil tongkatnya dan megibas-kibaskan ke
arah monyet-monyet itu. Monyet-monyet itu pun ketakutan dan menghentikan
perbuatan mereka. “Ampun Tuanku, hamba dan kawan-kawan mengaku bersalah telah merusak
permukiman ini, kami hanya mecari makan, hutan tempat tinggal kami dari kecil
telah mengalami kerusakan karena telah dilahap si jago merah. Kami berjanji
tiak akan kembali ke sini untuk mengganggu kawasan ini.” Ucap Raja Monyet.
“Baiklah, sekarang pergilah dari sini.” Perintah Wayan kepada monyet-monyet itu,
lalu mereka pergi meninggalkan kawasan
itu.
Setelah kejadian itu warga desa
sangat bahagia. Mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Ki Wayan pun
merasa untuk segera melanjutkan pengembaraannya. Sebelum pergi nenek tadi
member Ki Wayan bibit tanaman bonggol yang diharapkan akan berguna untuk Ki
Wayan. Ki Wayan berterimakasih kepada warga sekitar, tetapi sebelum pergi Ki Wayan berpesan “ Wahai para warga, sebelum
aku pergi aku berpesan kepada kalian. Jagalah bumi ini engan sepenuh hati karena
bumi ini adalah anugerah dari Tuhan untuk kita yang amat besar dan megah. Jika
kita merusak bumi ini maka kita akan menerima akibatnya sendiri.” “Baik Ki
Wayan,” jawab mereka dengan serentak dan semangat.
Akhirnya sampai lah Ki Wayan ke
tempat yang dia tuju. Dia melihat bahwa tempat ini sangat subur, banyak sekali
bonggol-bonggol yang subur. Ki Wayan pun mulai membangun rumah kecil untuk
tinggal sementara. Lalu dia mulai berpikir bagaimana cara mengolah tempat ini.
Saat berpikir Ki Wayan teringat bahwa dia memiliki bibit lompong dari warga. Ki
Wayan pun mengambil bibit itu dan menanamnya dengan penuh perasaan. Setiap hari
Ki Wayan merawatnya, hingga akhirnya tumbuh subur dan tinggi. Orang-orang baru pun
mulai berdatangan membangun permukiman. Mereka juga suka bertani, setiap hari
mereka bergotong royong yang dipimpin oleh Ki Wayan. Hidup mereka aman dan
damai dan karena banyak tumbuhan lompong yang subur dan banyak sekali ditemukan
bonggol, maka tempat itu dijuluki Ponggol (lompong dan bonggol). Hingga sekarang
warga-warga hidup rukun dan damai. Setiap hari libur mereka begotong royong
bersama tanpa melihat latar belakang masing-masing.
Sumber:
Bapak
Drs. Belariantata,
umur 55 tahun
lahir
pada 1 Februari 1963
selaku tokoh masyarakat
Alamat:
Ponggol, Hargobinangun, Pakem, Sleman, D.I. Yogyakarta
Halo…perkenalkan namaku Albertus
Magnus Yudha Pratama. Bisa dipanggil Yudha atau Albert. Aku sangat suka
memainkan bola basket yang berbentuk bulat seperti perutku, hahahaha. Aku
sekarang masih menjadi siswa di SMA Negri 1 Pakem, bagian dari keluarga kecil
di X MIPA 3.
Salam kenal yaa…..
Raksasa Penjaga Gunung Merapi
Alkisah, puluhan tahun lalu
terdapat dua pemuda yang gagah berani hendak mendaftarkan diri mereka untuk
menjadi seorang abdi dalem Keraton Yogyakarta. Kedua pemuda itu bersahabat
sejak kecil. Namanya, yaitu Abisatya dan Dewangkara. Sebelum mendaftarkan diri
menjadi abdi dalem keraton, mereka lebih dulu barlatih dengan paman dari
Dewangkara yang bernama Kyai Giandra.
Abisatya dan Dewangkara dilatih
selama kurang lebih dua bulan oleh Kyai Giandra. Mereka dilatih ilmu bela diri,
ilmu agama, ilmu perang, dan masih banyak lagi. Setiap berlatih bela diri,
mereka harus saling melawan satu sama lain, tetapi tidak pernah sekali pun
Abisatya dan Dewangkara berkelahi dengan amarah. Kyai Giandra yang melihatnya
pun ikut senang karena keponakannya dan sahabatnya tersebut tidak pernah
berkelahi. Selama meelatih Abisatya dan Dewangkara, Kyai Giandra mengamati
bahwa Abisatya lebih unggul dibidang apa pun, tetapi ia tidak pernah mengatakan
seperti itu. Kyai Giandra selalu mengatakan bahwa mereka berdua sama kuatnya,
hal itu dilakukan agar diantara mereka tidak terjadi permusuhan.
Pada suatu hari ketika matahari
belum menampakkan dirinya dan hanya ada kabut yang menyelimuti halaman rumah,
Kyai Giandra membangunkan kedua pemuda itu untuk berlatih menombak kendi.
Dewangkara yang mendengar panggilan pamannya sekaligus gurunya itu terlihat
malas-malasan karena ia merasa ia tidak perlu takut dengan Kyai Giandra karena
ia adalah pamannya sendiri. Berbeda dengan Abisatya yang bergegas cuci muka dan
langsung menyusul Kyai Giandra menuju halaman rumah. Tidak lama kemudia mereka
bertiga sudah ada di depan rumah untuk berlatih menombak. Angin pagi yang
dingin menusuk jiwa, membuat siapapun enggan beraktivitas termasuk Dewangkara,
ia terlihat malas untuk melakukan latihan hari ini. Beberapa hari terakhir ini
ia terlihat malas-malasan karena ia menganggap bahwa ia lebih pandai dari Abisatya.
Untuk latihan pagi ini, Kyai
Giandra telah menyiapkan banyak kendi di halaman rumah untuk berlatih. Kyai
Giandra mulai mencontohkan apa yang harus dilakukan kedua pemuda itu pagi ini.
Mereka harus menembakkan tombak dengan jarak kurang lebih seratus meter. Dengan
cepat dan tepat tombak yang dilemparkan Kyai Giandra mengenai kendi di hadapannya
dan langsuh pecah. “Kalian harus melakukannya seperti yang aku contohkan tadi,”
kata Kyai Giandra. “Baik, Kyai, ini akan mudah dilakukan,” dengan sombong
Dewangkara menjawab sambil mengambil tombak yang telah disiapkan. Kyai Giandra berjalan
menuju ke obor dekat kendi dan mematikannya. “Kalian harus mengenai kendi ini
tanpa cahaya obor,” kata Kyai Giandra. “Tetapi paman, bagaimana kita bisa
mengenai kendi tersebt jika tidak ada cahaya, ini juga masih petang, matahari
belum muncul,” kata Dewangkara dengan nada sedikit jengkel. “Kalian harus
konsentrasi dan selebihnya, itu ada di tangan kalian,” jawab Kyai Giandra
santai. Mendengar perkataan pamannya Dewangkara menghela nafas kesal. Berbeda
dengan Dewangkara, Abisatya dengan mantap mengambil tombaknya.
Pertama kali percobaan, keduanya
gagal, tombak Dewangkara meleset jauh di atas kendi. Tombak Abisatya juga belum
mengenai kendi hanya hampir mengenai, tombaknya berada kurang lebih satu
jengkal di atas kendi. Dewangkara yang merasa kesal ia terus menggerutu karena
selama lima kali ia mencoba melempar tidak sekali pun tombaknya mengenai
sasaran, sedangkan dalam lima kali percobaan tombak Abisatya telah mengenai
kendi dua kali. Kyai Giandra yang melihat hal tersebut spontan langsung memuji
Abisatya dan sekaligus membuat Dewangkara iri dan makin kesal. “Kerja bagus
Abistya, tingkatkan lagi,” puji Kyai Giandra. “Terima Kasih, Kyai, ini berkat
ajaran dari Kyai,” jawab Abisatya merendah. “Kau memang suka merendah, Abistya,
ini bukanlah karenaku, tetapi ini karena kemampuanmu,” jawab Kyai Giandra memuji
Abisatya yang membuat telinga Dewangkara semakin panas mendengar pamannya
memuji Abisatya bukannya dirinya.
Waktu mereka berlatih telah
habis dan ini saatnya Abisatya dan Dewangkara untuk mendaftarkan diri menjadi
seorang abdi keraton. Untuk menjadi
seorang abdi dalem, seseorang tersebut harus melewati serangkaian tes untuk
membuktikan bahwa dirinya layak menjadi abdi keraton. Setelah melakukan
serangkaian tes ternyata mereka berdua diterima menjadi seorang abdi dalem.
Selama bertahun-tahun mereka mengabsikan dirinya kepada Keraton Ngayogyokarto. Dewangkara
diangkat menjadi seorang pemimpin para abdi lain karena Sri Sultan ingin balas
budi kepada Kyai Giandra yang telah menyelamatkan nyawa Sri Sultan saat
berburu, karena tidak memungkinkan mengangkat Kyai Giandra sebagai pemimpin
abdi dalem mengingat usia Kyai Giandra yang sudah terlalu tua. Sri Sultan
mengangkat Dewangkara menjadi pemimpin abdi dalem karena ia merupakan keponakan
dari Kyai Giandra.
Selama menjabat sebagai pemimpin
atau kepala abdi dalem, Dewangkara merasa sombong dan berpikir jika semua abdi
keraton tidak boleh berani menentang perintahnya. Termasuk Abisatya sekali pun.
Bahkan, Abisatya pernah disuruh-suruh seperti seorang pembantu pribadinya saat
ia menjalankan tugas di luar Yogyakarta. Namun, karena kebaikan Abisatya, ia
tidak pernah sekali pun mengeluh ataupun merasa jengkel dengan perlakuan
Dewangkara kepadanya. Dewangkara memerintah Abisatya seakan hubungan persabatan
diantara meraka tidak pernah ada.
Pada suatu hari, Sri Sultan
membentuk sebuah pasukan untuk mengusir para pemberontak di suatu wilayah.
Abisatya termasuk dalam pasukan tersebut. Beberapa strategi telah dilakukan,
tetapi hasilnya nihil, tidak ada strategi yang bisa mengusir para pemberontak
itu. Abisatya yang pernah mempelajari strategi perang dengan Kyai Giandra,
mencoba mengusulkan strategi tersebut kepada pimpinan pasukannya yang bernama Adibrata.
Awalnya, ia dianggap remeh oleh pimpinan pasukan, pimpinannya tersebut hanya
menganggap Abisatya sebagai abdi biasa. Namun, pimpinannya tersebut tetap memberikannya
kesempatan untuk mengemukakan strateginya. “Permisi, Tuan, jika diperkenankan,
saya hendak menyampaikan strategi yang pernah saya pelajari,” izin Abisatya
kepada pimpinannya. Mendengar hal itu, pimpinannya meremehkan apa yang
dibicarakan Abisatya bahkan hampir melarangnya, “Memangnya kau bisa apa? Dan
dari mana kau mempelajari sebuah strategi?” Tanya pimpinannya tersebut. “Saya
mempelajari strategi perang dari Kyai Giandra sebelum saya mendaftarkan diri
menjadi seorang abdi, Tuan,” jawab Abisatya penuh hormat meskipun pimpinannya
telah meremehkannya tadi. Mendengar nama Kyai Giandra disebut, Pimpinannya
tersebut langsung memperkenankan Abisatya berbicara. Setelah membicarakan
strateginya tersebut, keesokan harinya mereka semua langsung melaksanakan
strategi tersebut. Perlawanannya tersebut terlaksana seperti yang diharapkan,
pihak pemberontak dapat dikalahkan dengan mudah berkat strategi dari Abisatya.
Melihat hal itu pemimpin pasukan menghadap Sri Sultan.
Pimpinan pasukan tersebut
menghadap Sri Sultan sehari setelah ia dan pasukannya kembali ke keraton.
Pimpinan pasukan tersebut menceritakan secara detail apa yang terjadi selama
melawan pemberontakan itu. “Yang Mulia, hamba sungguh tidak percaya seorang
abdi yang terlihat biasa-biasa saja ternyata menguasai strategi perang dan sangat
lihai dalam menggunakan alat perang, seperti pedang, tombak, panah, dan
lainnya,” jelas Adibrata. “Itu berita yang bagus, kepala pemimpin prajurit
sudah sangat tua dan tidak memungkinkan baginya untuk memimpin peperangan, kau
umumkan kepada seluruh warga jika aku mengangkat Abisatya sebagai pemimpin
prajurit yang baru,” ucap Sri Sultan dengan gembira.
Berita pengangkatan Abisatya
menjadi pemimpin prajurit atau seorang jendral telah sampai ke telinga
Dewangkara. Ia yang mendengar hal tersebut, merasa iri karena jabatan Abisatya
menjadi lebih tinggi daripada dia. Semalaman ia tidak bisa tidur semenjak
mendapat kabar tersebut. Dengan akal liciknya, ia berpikir bagaimana caranya
untuk melengserkan Abisatya dari jabatannya itu. Setelah semalaman suntuk ia
berpikir, ia akhirnya menemukan ide untuk memfitnah Abisatya.
Keesokan harinya sebelum fajar
menampakkan diri, Dewangkara telah sampai di kamar Abisatya dan mengambil
sebuah gelang yang diberikan Sri Sultan saat pengangkatannya sebagai pemimpin
prajurit. Dewangkara bersama pasukannya yang jahat mengacak-acak, mencuri, dan
membakar gudang pangan keraton saat pagi-pagi buta. Agar Abistya yang dikira
melakukan pemberontakan, Dewangkara meninggalkan gelang Abisatya di gudang
tersebut.
Sri Sultan yang mendengar kabar
pemberontakan tersebut menyuruh para abdi lainnya untuk menyelidiki siapa
dalang dari pemberontakan tersebut. Setelah diselidiki, abdi dalem menyampaikan
kepada Sri sultan bahwa ia menemukan gelang Abisatya. Sri Sultan yang mendengar
hal tersebut hanya tersenyum, bagaimana tidak, sejak tadi pagi Sri Sultan
mengajak Abisatya mengobrol di kamarnya. Sri Sultan pun menyuruh abdi tersebut
untuk mencari bukti lain. Beberapa waktu kemudian, para abdi menemukan sebuah
kalung Dewangkara yang terjatuh tanpa ia sadari. Sementara Dewangkara yang
belum sadar jika kalungnya terjatuh, ia merasa berhasil dan tinggal menunggu
Abisatya diturunkan dari jabatan tersebut. Dewangkara dan pasukannya merayakan
kemenangannya sambil minum-minum di kamar Dewangkara.
Tiba-tiba, pintu kamar
Dewangkara terdengar seperti ditendang dari luar. Dewangkara dan teman-temannya
tersebut kaget melihat Sri Sultan ada di luar bersama Abisatya. “Keluar kau
Dewangkara!” perintah Sri Sultan.
Dewangkara tidak bisa menjawab dan hanya bisa berjalan dalam diam menuju
Sri Sultan. “Kamu berani sekali memfitnah sahabatmu ini yang tidak pernah
sekali pun berbuat jahat padamu,” kata Sri Sultan menaikkan nada berbicaranya.
Sri Sultan akhirnya menghukum Dewangkara dengan mengutuknya menjadi raksasa
besar dengan tugas menjaga merapi bagian selatan agar letusan merapi tidak bisa
ke arah selatan mengenai Keraton Yogyakarta.
Sumber : Ibu Suratilah
Usia : 80 tahun
Namaku
Annissa Sekar Azzahra, aku biasa dipanggil Annissa atau Nisa. Aku lahir di
Sleman, 02 November 2003. Aku adalah anak tunggal dari kedua orang tuaku.
Hobiku mendengar musik menggambar dan terkadang aku suka membaca buku. Aku
tinggal bersama kedua orang tuaku di Desa Ngebo, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman. Sebelumnya
aku bersekolah di SDIT Luqman AL-Hakim, melanjutkan sekolah ke SMPN 4 Pakem. Sekarang,
aku duduk dibangku SMA lebih tepatnya kelas X MIPA 3 SMAN 1 Pakem.
Asal Usul Dusun Sawungan
Suatu hari di suatu daerah yang cukup banyak penduduknya, ada dua
orang yang mempunyai ayam jago yang spesial. Mereka adalah Ki Jaka Sawung dan
Ki Mangun Saka. Ki Jaka Sawung adalah orang yang pendiam dan dia dikenal
sebagai orang gila di daerahnya, dia memiliki ayam jago yang biasa-biasa saja,
sedangkan Ki Mangun Saka adalah orang yang pemalas tetapi suka berkelana dia
memiliki ayam jago yang mempunyai kekuatan spesial. Mereka bertemu di suatu
persimpangan saat Ki Jaka Sawung bermain-main dengan ayam jagonya dan
mengajaknya berbicara, Ki Mangun Saka pun kebingungan dan berfikir bahwa Ki
Jaka Sawung adalah orang gila. Dia pun menyapa Ki Jaka Sawung dan berkenalan,
lantas dia pun bertanya mengapa Ki Jaka Sawung berbicara dengan ayam peliharaannya.
Ki Jaka Sawung menjelaskan bahwa ayam jagonya adalah ayam yang spesial baginya,
dia merasa bahwa ayamnya bisa mengerti apa yang diucapkannya. Ki Mangun Saka
lalu berbicara “Aku juga punya ayam yang spesial, mungkin lebih spesial dari
milikmu karena dia kuat.” Tak lama kemudian Ki Mangun Saka menceritakan
kekuatan ayam jagonya, Ki Jaka Sawung hanya mendengarkan dan memperhatikannya
tanpa komentar apa pun. Setelah Ki Mangun Saka selesai bercerita dia pun
berpamitan dengan Ki Jaka Sawung dan mengajaknya untuk mengadu ayam mereka
suatu hari nanti. Tiga hari kemudian mereka bertemu dan memutuskan untuk
mengadu ayam mereka. Mereka mencari
lapangan yang sesuai dengan yang mereka kehendaki untuk mengadu kekuatan ayam
jago mereka. Setelah menemukan lapangan, mereka pun memulai untuk mengadu ayam
jago mereka. Pada hari itu Ki Jaka Sawung yang memenangkan pertandingan itu.
Kesal dengan kekalahannya Ki Mangun Saka mengejek bahwa Ki Jaka Sawung menang
karena keberuntungannya bukan karena kekuatan ayam jago yang ia miliki. Dia pun
mengajak Ki Jaka Sawung untuk melakukan pertandingan adu ayam lagi di tempat
yang sama.
Selang beberapa hari ada beberapa orang yang mengetahui tentang
pertandingan itu dan menyebarkannya di daerah mereka, hampir semua orang di daerah
itu ingin mengetahui kekuatan ayam spesial mereka. Mereka mendesak Ki Jaka
Sawung dan Ki Mangun Saka untuk bertanding lagi, seperti rencana Ki Mangun Saka
mereka pun melakukan pertandingan lagi. Tetapi tetap saja kemenangan tetap
diraih oleh Ki Jaka Sawung, Ki Mangun Saka masih belum menyerah dan ingin
mengalahkan ayam milik Ki Jaka Sawung. Ia menantang Ki Jaka Sawung untuk
melawan ayam milik warga yang lain. Ki Jaka menerima tantangan itu, namun dia
tidak bisa bertanding untuk hari ini karena dia ingin bermain-main dengan ayam
kesayangannya itu. Lantas seluruh warga yang berkumpul disitu tertawa
terbahak-bahak dan mengolok-olok Ki Jaka Sawung yang mereka anggap gila. Setelah
itu mereka meninggalkan lapangan dan kembali menuju rumah mereka masing-masing dan
menyiapkan ayam jago mereka untuk mengikuti pertandingan mengalahkan Ki Jaka
Sawung dan ayam jagonya. Setelah beberapa hari mereka menyiapkan ayamnya mereka
pun mendatangi rumah Ki Jaka Sawung, sesampainya di sana mereka tertawa
terbahak-bahak mendengarkan Ki Jaka Sawung yang sedang berbicara dengan
ayamnya, ada seseorang yang bertanya sekaligus mengejeknya “Kamu udah gila ya
bicara sama ayam, atau mungkin kamu ga punya temen? Hahaha.” Ki Jaka Sawung
hanya diam dan berjalan mengajak ayamnya dan warga untuk pergi ke lapangan.
Satu persatu warga menantang dan menjamin mereka akan mengalahkan Ki Jaka
Sawung dan ayamnya. Sebaliknya, banyak ayam warga yang mati karena kalah dengan
ayam Ki Jaka Sawung, para warga menyerah dengan Ki Jaka Sawung dan mereka mengakui
bahwa ayam jago Ki Jaka Sawung adalah ayam yang spesial.
Ki Mangun Saka yang ada di sana pun geram dan menantangnya sekali
lagi dan jika Ki Mangun Saka memenangkan pertandingan itu maka Ki Jaka Sawung
harus pergi dari daerah itu dan menjadikan daerah itu sebagai miliknya. Ki Jaka
Sawung yang ditantang pun hanya diam saja dan mengiyakan tantangan dari Ki
Mangun Saka. Para warga yang berada di lapangan tidak setuju jika Ki Mangun
Saka mengambil daerah milik mereka dan mereka mendesak Ki Jaka Sawung untuk memenangkan
pertandingannya. Mereka berjanji akan memberikan daerah itu kepada Ki Jaka
Sawung jika ia memenangkan pertandingannya, Ki Jaka Sawung mengiyakan dan
berbicara kepada ayamnya untuk berjuang dan tetap semangat supaya tidak kalah
dengan ayam milik Ki Mangun Saka. Kebiasaan Ki Jaka Sawung berbicara dengan
ayamnya pun dianggap lazim oleh warga dan mereka menyemangati Ki Jaka Sawung
supaya memenangkan pertandingan. Tak ingin membuang waktunya Ki Mangun Saka
mendesak Ki Jaka Sawung untuk segera bertanding. Pertandingan pun dimulai, para
warga yang menonton mulai panik dan berharap Ki Mangun Saka dan ayamnya
mengalami kekalahan. Ayam milik Ki Mangun Saka berhasil memukul mundur ayam
milik Ki Jaka Sawung, namun pertandingan itu belum selesai. Ayam milik Ki Jaka
Sawung tampak kelelahan karena sudah bertanding dengan banyak ayam milik warga.
Walaupun kelelahan, ayam itu nampak bersemangat untuk mengalahkan lawannya.
Setelah beberapa lama, kedua ayam nampak kelelahan dan tidak bisa melanjutkaan
pertandingan tetapi ayam milik Ki Jaka Sawung tiba-tiba mengeluarkan jurus
pamungkasnya yang belum diketahui oleh semua orang. Ayam milik Ki Mangun Saka
pun mati karenanya, Ki Mangun Saka dengan geram meninggalkan lapangan. Lantas
warga yang menyaksikan kaget dan senang karena Ki Jaka Sawung memenangkan
pertandingan itu mereka sangat berterima kasih kepada Ki Jaka Sawung.
Cerita tentang kekalahan Ki Mangun Saka tersebar ke berbagai
daerah, orang yang mendengarkan cerita itu kaget, lantas ingin mengetahui siapa
yang telah mengalahkan Ki Mangun Saka. Banyak orang yang mendatangi daerah Ki
Jaka Sawung dan bertanya siapa yang telah mengalahkan Ki Mangun Saka. Setelah
diceritakan oleh warga, orang-orang yang mendatangi pun ingin mengajak
bertanding dengan ayam jago milik Ki Jaka Sawung yang telah mengalahkan ayam jago spesial milik Ki Mangun Saka. Mereka
tidak percaya bahwa ayam jago yang biasa-biasa saja bisa mengalahkan ayam jago
yang berkekuatan spesial milik Ki Mangun Saka. Tanpa basa-basi mereka
mendatangi rumah Ki Jaka Sawung untuk bertanding, mereka pun tertawa dan
mengolok-olok seperti warga sekitar yang dahulu pernah melihat Ki Jaka
berbicara dengan ayamnya. Warga di sekitar situ memperingatkan bahwa jangan
pernah menertawakan dan mengejek orang lain, tetapi mereka meremehkan
peringatan warga. Mereka pun dengan bangganya mengajak Ki Jaka Sawung untuk
bertanding dan berpikir bahwa mereka dapat mengalahkan Ki Jaka Sawung dan
ayamnya yang biasa-biasa saja. Setelah pertandingan selesai, tidak ada satu pun
ayam yang tersisa dari lawan Ki Jaka Sawung, mereka terkejut karena ayam jago
yang mereka anggap berkekuatan itu kalah dengan ayam jago yang biasa saja milik
Ki Jaka Sawung.
Lantas salah seorang warga dari daerah lain mengadakan tantangan
bagi warga yang bisa mengalahkan ayam jago milik Ki Jaka Sawung maka akan
dihadiahi hadiah spesial berupa uang dan segala macam kebutuhan olehnya.
Tantangan itu menyebar ke banyak daerah, sampai suatu hari daerah Ki Jaka
Sawung didatangi oleh penantang beserta ayam jago yang mereka anggap spesial
ingin mengalahkan Ki Jaka Sawung. Tidak seperti sebelumnya, mereka menganggap
ayam jago milik Ki Jaka Sawung mempunyai kekuatan spesial karena telah berhasil
mengalahkan penantangnya yang memiliki ayam yang sangat spesial. Pertandingan
ayam jago pun dimulai, lagi-lagi tidak ada ayam milik penantang yang berhasil
mengalahkan ayam milik Ki Jaka Sawung, mereka pun mengaku kalah, sudah tidak
sanggup melawan ayam milik Ki Jaka Sawung. Warga sekitar sepakat untuk memberi
nama daerah mereka dengan apa yang disarankan oleh Ki Jaka Sawung. Ia pun
berkata “Sawungan” yang berarti tempat yang digunakan untuk mengadu ayam jago.
Daerah tersebut dinamakan “Dusun Sawungan”, daerah tersebut semakin terkenal
karena ayam jago, bahkan ada banyak orang yang mendatangi Dusun Sawungan untuk
mengadu ayam jago mereka. Kebiasaan mereka terus berlanjut, namun untuk
beberapa tahun terakhir sudah tidak ada warga yang mengadu ayam jagonya, hanya
tersisa ayam jago yang mereka jadikan hewan peliharaan yang mereka sayangi.
Sumber: Tutik Rahayu, beliau adalah
seorang warga yang lahir dan tinggal di Dusun Sawungan. Beliau berprofesi sebagai guru dan
ibu rumah tangga.
Namaku
Arrahman Catur Atmaja, biasa dipanggil Rahman. Aku lahir di Sleman, 22 Juni
2003. Aku suka mendengarkan musik, bermain komputer dan mengimajinasikan
sesuatu yang kadang tidak masuk akal. Kadang aku membaca buku novel dan buku
mengenai teknologi terutama komputer. Cita-citaku adalah menjadi seorang editor
video dan menjadi photographer.
TAMBAK KALI GENDOL
ASAL MUASAL DESA CANGKRINGAN
Tambak Kali Gendol, salah satu
legenda sejarah budaya di daerah Argomulyo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.
Yang ada kaitannya dengan erupsi Gunung Merapi. Ceritanya demikian :
Tersebutlah bahwa sang raja dari Keraton Surakarta bernama Raja
Mangkunegara yang akan memberikan tahta jabatan adipati kepada salah satu
diantara kedua putranya yaitu Ki Demang Tomenggolo ataukah Pangeran
Jayaningrat. Singkat cerita Pangeran Jayaningratlah yang dipilih oleh Raja
Mangkunegara dan dinobatkan menjadi adipati. Konon ceritanya Ki Demang
Tomenggolo tidak terima dengan keputusan itu.
“Wahai Jayaningrat adikku! Mengapa harus engkaulah yang menjadi
adipati? Mengapa tidak aku saja, yang jelas-jelas lebih tua dari engkau!”seru
Ki Demang tak terima.
“Maafkanlah daku kakangmas, ini semua bukan maksud dari hatiku.
Namun, bukankah ini semua keputusan dari
Ayahanda?”Tanya pangeran kepada Ki Demang Tomenggolo.
“Ya aku tahu, tapi keputusan ini tak adil. Aku tidak bisa
menerimanya.” Kata Ki Demang Tomenggolo.
“Kan kutanyakan semua ini pada Ayahanda!” Kata Ki Demang
Tomenggolo yang bersungut-sungut tak terima dengan keputusan itu. Ki Demang
Tomenggolo pun menemui raja, lalu menanyakan haknya menjadi adipati.
“Ayahandaku mengapa Engkau tak memilihku menjadi adipati, mengapa
engkau justru memilih Pangeran Jayaningrat? Bukankah aku ini kakangmasnya yang
jelas-jelas lebih pantas menjadi adipati?” Tanya Ki Demang yang keheranan
dengan keputusan Ayahandanya.
“Oh, soal aku memilih adikmu untuk menjadi adipati karena aku tau
adikmu lebih siap, dan lebih baik dalam menjalankan kekuasaan. Kau harus lebih
banyak belajar dari adikmu. Maafkan Ayahanda dengan keputusan ini, tapi ini semua juga demi kebaikan bersama.” Raja
Mangkunegara menjelaskan.
“Jadi maksud Ayahanda aku ini tidak pantas? Tidak siap? Tidak baik
dalam menjalankan kekuasaan? Baiklah jika Ayahanda lebih memilih Pangeran. Aku akan
pergi dari sini!” Seru Ki Demang Tomenggolo dengan disertai luapan amarahnya.
“Jangan nekat kau!” Perintah Raja Mangkunegara.
Ki Demang Tomenggolo tak
menggubris perintah Ayahandanya dan langsung pergi menunggangi kuda meninggalkan
Keraton Surakarta beserta pengikut setianya. Berhari-hari Ki Demang dan para
pengikutnya berkelana keluar masuk hutan untuk pergi menjauh dari wilayah
Keraton Surakarta. Hingga akhirnya rombongan Ki Demang Tomenggolo sampailah di
tepian Sungai Gendol dan mereka pun membangun tempat tinggal dan menetap di sana.
Sementara itu, di Keraton Surakarta sedang geger mencari
keberadaan Ki Demang Tomenggolo. Dikerahkannya seluruh prajurit keraton untuk
menemukan keberadaan Ki Demang Tomenggolo tapi tak berhasil juga. Hingga
akhirnya Raja Mangkunegara menyuruh Pangeran Jayaningrat untuk turun langsung
mencari Ki Demang Tomenggolo hingga berhasil.
“Seluruh prajurit telah dikerahkan namun urung juga Ki Demang
Tomenggolo ditemukan. Kali ini kau kuperintah untuk mencari keberadaan kakangmu
hingga kau berhasil menemukannya. Kupercayakan sepenuhnya kepadamu, karena
kuyakin engkau pasti bisa menemukannya.”kata sang raja.
“Baik Ayahandaku dengan sekuat tenaga akan kucari kakangmas
Ki Demang hingga berhasil ditemukan.
Mohon doanya ayahanda.”kata Pangeran Jayaningrat.
“Doaku selalu menyertaimu
putraku. Segeralah bertindak!” Perintah Raja Mangkunegara.
“Siap bertindak.” Balas pangeran.
Dengan secepat kilat pangeran
beserta prajurit-prajuritnya segera melesat meninggalkan keraton. Beberapa
detik kemudian telah menghilang dari wilayah kraton dengan kuda-kuda mereka.
Berhari-hari pangeran dan prajurit-prajuritnya berkelana menyusuri sungai,
keluar masuk hutan, naik turun perbukitan
namun Ki Demang Tomenggolo urung juga ditemukan. Namun, Pangeran
Jayaningrat pantang menyerah dan terus berjuang tanpa lelah mencari kakangnya.
“Tuanku Pangeran, bagaimana
jika kita beristirahat sejenak? Beberapa dari kami sudah letih dengan
perjalanan menemukan Ki Demang Tomenggolo yang tak kunjung ditemukan ini.” Celetuk
salah seorang prajurit di tengah perjalanan.
“Hushh… Lain kali jangan asal bicara kau ya. Aku yakin kakang Ki
Demang akan segera ditemukan.” Jawab pangeran yang sedikit kaget dengan ucapan
prajuritnya.
“Maafkan hamba tuanku Pangeran, hamba tak bermaksud seperti itu.”
Kata salah seorang prajurit tadi.
“Baiklah tak apa tak
masalah. Untuk sekarang segeralah kalian beristirahat! Perjalanan akan segera
berlanjut.” Perintah Pangeran Jayaningrat.
“Siap tuanku Pangeran!” Jawaban
serentak dari para prajurit.
Mereka rehat sejenak mengusir letih setelah itu melanjutkan
perjalanan kembali. Baru setengah perjalanan dari tempat mereka beristirahat
Pangeran Jayaningrat melihat beberapa ekor kuda yang salah satu kuda itu ia
kenali.
“Tunggu sebentar. Sepertinya aku mengenal kuda warna hitam belang
putih yang sedang diikat di pohon itu.” Kata Pangeran Jayaningrat sambil
menunjuk dengan jari telunjuknya arah kuda itu berasal.
“Ituu….ituuu…ituuuu kuda milik Ki Demang Tomenggolo. Tak salah
lagi memang benar.” Kata salah satu prajurit.
“Baiklah kita cek dahulu untuk memastikan kebenarannya.” Kata sang
pangeran.
Rombongan Pangeran Jayaningratpun segera menuju kearah kuda yang
diikat dengan pohon itu. Tak jauh dari tempat kuda itu berdiri terdapat sebuah
gubuk luas dengan penuh harapan pangeran pun mendatangi gubuk itu lalu
mengetuk-ketuk pintu gubuk.
“Permisi…Apakah ada orang di dalam?” sempat tak ada jawaban dari
gubuk itu. Seketika harapan pangeran bertemu kakangnya sirna mengetahui tak ada
sahutan dari dalam gubuk.
Namun, beberapa detik saat Pangeran Jayaningrat dua langkah
meninggalkan gubuk itu samar-samar seseorang laki-laki keluar dari balik daun
pintu.
“Ya ada penghuni di gubuk
ini. Anda ini siapa ya? Dan ada keperluan apa datang kemari?” Kata sosok lelaki
itu.
Firasat Pangeran Jayaningrat itu tadi seperti suara laki-laki yang
sering ia dengar tapi siapa. Baru saja Pangeran menolehkan kepalanya ia
langsung sedikit kaget dan tak percaya bahwa itu adalah Ki Demang Tomenggolo
yang tak salah lagi kakangmasnya.
“Kakangmas Demang!! Ini aku adik engkau Jayaningrat. Akhirnya
setelah sekian lama dicari-cari engkau kujumpai juga. Bagaimana kabarmu
kakang?” Jelas pangeran.
“Eeengkau Jayaningrat? Kenapa engkau datang kemari hah? Apa hanya
sekedar menanyakan kabar hah? Apa peduli engkau padaku?” Bentak Ki Demang
Tomenggolo.
“Jangan begitu kakang, kami
semua mencari kakang, Ayahanda khawatir pada kakangmas, marilah kita pulang
bersama-sama ke keraton. Keluarga keraton merindukan kakangmas.” Pangeran
berusaha mendamaikan suasana.
“Tak semudah itu untuk
kembali ke keraton. Aku sudah tak menginginkan kehidupan di sana, dan aku ingin
menetap di sini saja. Jika engkau ingin pulang pulanglah saja aku tak kan
pernah mau lagi menginjakkan kakiku di keraton itu.” Pangeran Jayaningrat
bingung harus bagaimana mengajak kakangmasnya agar mau diajak kembali ke
keraton, ia berpikir keras dan terus berpikir hingga akhirnya dia memiliki ide.
“Kakangmasku, sebenarnya aku juga tak menginginkan jabatan dan
tahtaku menjadi seorang adipati. Maka dari itu, aku akan menyerahkan jabatanku
ini kepadamu. Bagaimana jika kita bermain cangkriman?
Jika kakang dapat menebaknya dengan tepat maka jabatan ini menjadi milik
kakang, tetapi………..” Belum selesai pangeran berbicara sudah dipotong oleh Ki
Demang Tomenggolo
“Jika aku dapat menebak cangkriman
darimu akulah yang akan menjadi adipati, tetapi jika aku tak berhasil menebaknya
aku bersumpah aku akan mati menceburkan diri di gunung itu. Hahaha… hanya
menebak cangkriman saja itu
hal yang mudah.” Kata Ki Demang Tomenggolo dengan sombongnya.
Akhirnya Pangeran Jayaningrat dan Ki Demang Tomenggolo sepakat
dengan perjanjian itu. Sebelum memulai bermain cangkriman Pangeran Jayaningrat berpikir, jika dia
memberikan sebuah cangkriman
yang susah pasti Ki Demang Tomenggolo akan mati menceburkan dirinya di gunung.
Tapi jika pangeran memberikan sebuah cangkriman
yang mudah pasti Ki Demang Tomenggolo dapat menjawabnya dan dia mau kembali
lagi ke keraton lagi. Akhirnya Pangeran Jayaningrat memutuskan untuk memberikan
sebuah cangkriman yang mudah. Hingga
tibalah saatnya Pangeran Jayaningrat memberikan sebuah cangkriman pada Ki Demang Tomenggolo. Disaksikan para prajurit di kedua pihak antara
pihak Ki Demang Tomenggolo ataukah pihak Pangeran Jayaningrat.
“Wahai Jayaningrat adikku! Manakah cangkriman yang akan kutebak dengan mudahnya? Hahaha….”
Tanya Ki Demang Tomenggolo dengan sombongnya.
“Bersiap-siaplah wahai kakangmasku sebentar lagi kau kan menjadi
adipati karena ini merupakan cangkriman
yang mudah.” Kata pangeran.
“Ya tentu saja sebentar lagi aku akan menjadi adipati. Hahahaha…”
Lanjut Ki Demang dengan kesombongannya.
“ANA TULISAN ARAB MACANE
SAKA NGENDI?” Tanya sang pangeran.
“Jawabannya ya SEKO TENGEN lah. Dasar pangeran tak becus! Cangkriman macam apa ini? Tak ada
yang lebih mudah lagi?hahaha…” Kata Ki Demang melecehkan Pangeran
Jayaningrat.
“SALAH!!! Jawabannya adalah SEKO ALAS.” Kata pangeran tegas.
Pangeran mencoba untuk sabar dan terus bersabar.
Rupanya Ki Demang tak terima karena dia mengakui bahwa jawabannya
itu benar. Singkat cerita terjadilah pergulatan kecil di antara keduanya. Tapi
pergulatan itu dapat dilerai oleh para prajurit.
“Manakah janjimu yang akan menceburkan diri ke gunung? Apakah
engkau takut ya?”Tanya pangeran yang sudah terbawa amarahnya.
“Tentu saja tidak.” Tanpa rasa takut Ki Demang yang jiwanya telah
diliputi amarah akhirnya dia menceburkan dirinya ke gunung berapi, sebelum itu
ia bersumpah “Jayaningrat! ketahuilah, sepeninggalku aku tetap takkan terima
sampai kapan pun. Sampai kamu dikubur pun akanku aliri dengan lahar panas
gunung ini beserta anak keturunanmu kelak.”
Namun, oleh para pengikut
Ki Demang Tomenggolo Pangeran Jayaningrat dibunuh dengan cara yang licik yakni
ditombak dari belakang. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya Pangeran
Jayaningrat berwasiat agar ia dimakamkan di tepi sungai agar semoga aliran
laharnya tidak meluap hingga ke Keraton Surakarta. Oleh
pengikut setia Pangeran Jayaningrat beliaupun dimakamkan di tepi sungai
tersebut. (di Sungai Gendol di dusun Gadingan, Argomulyo, Cangkringan.)
***** TAMAT*****
Dari suatu perjanjian dalam permainan cangkriman hingga sekarang
menjadi nama Kecamatan Cangkringan. Oleh sebagian masyarakat, ketika terjadi
erupsi Gunung Merapi ada kaitannya dengan cerita di atas. Oleh pemerintah desa
legenda tersebut diperingati tiap tahunnya dengan nama “gelar budaya tambak
kali” dan hingga kini tradisi itu masih dilestarikan.
Sumber
: internet = https//Sdin.slemankab.go.id
Narasumber =
Agus Purwanto [42tahun](Jiwan, RT 03/RW 40, Cangkringan, Sleman)
BIOGRAFI PENULIS
Gadis berkerudung dengan
motto hidupnya yang berbunyi “Man Jadda Wajada” ini lahir di Sleman, 28 Januari
2003 berzodiak Aquarius. Yang berhabitat
di Jiwan, Argomulyo, Cangkringan, Sleman. Buah pasangan dari orangtuanya Agus
Purwanto dan Soni Hidayati. Anak sulung dari 2 bersaudara. Bergolongan darah O.
Yang memiliki banyak sekali hobby, salah satu dari hobbynya adalah membaca
buku, entah buku novel ataupun buku esiklopedia pengetahuan umum. Hingga kini
gadis berkerudung itu duduk di bangku kelas 10 Mipa 3 di SMA N 1 PAKEM. ia
menyukai pelajaran Bahasa inggris, waktu jenjang SMP dulu ia berhasil
mendapatkan juara 2 di ajang kejuaraan story telling club. Ia juga senang
berorganisasi. Cita-citanya kelak adalah bersekolah di sekolah kedinasan STAN
atau di STIS dalam bidang perpajakan. Doakan semoga ia dapat mencapai
cita-citanya yaaa… AMINNN….
ASAL USUL DUSUN
TANEN
(Tanen,
Hargobinangun, Pakem, Sleman, DIY)
Dahulu kala, hiduplah seorang penjual
batu yang bernama Kyai Selo. Ia tinggal di suatu tempat yang berada di kaki
Gunung Merapi yang berjarak 9 kilometer dari gunung tersebut. Dia tinggal bersama
istri dan anak-anaknya. Istri Kyai Selo bernama Nyai Rejo, sedangkan anak
pertamanya bernama Anom dan anak keduanya bernama Roro. Dia hidup bersama
keluarganya di tengah hutan yang sangat lebat yang disekitarnya terdapat banyak
hewan dan tumbuhan liar. Sehari-hari Kyai Selo sekeluarga hidup dari alam
sekitar dengan mengolah tumbuhan dan hewan menjadi makanan pokok mereka. Mereka
hidup rukun dan saling membantu satu dengan yang lain. Kyai Selo berangkat pagi
pulang malam untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dengan mengumpulkan batu-batu
untuk dijual. Batu-batu tersebut dikumpulkan di sekitar rumahnya.
Pada suatu hari, Kyai Selo
mencari batu di hutan. Setelah beberapa lama berjalan, ia melihat sebuah batu
yang sangat besar. Dihampirinya batu tersebut, kemudian diamati. Ternyata, batu
tersebut berbeda dengan batu yang biasa ditemuinya. Dalam hati ia berkata bahwa
batu ini mempunyai nilai jual yang sangat besar sehingga dapat mencukupi
kebutuhan keluarganya.
Tiba-tiba terdengarlah suara
dari dalam batu. Batu itu berkata, “Bawalah aku pulang ke rumahmu dan ukirlah
aku menjadi sebuah patung raja yang gagah dan perkasa.” Maka, dengan
kesaktiannya, didoronglah batu itu menuju ke rumahnya. Setelah sampai di rumah,
mulailah ia mengukir batu itu menjadi patung yang memiliki wajah serupa dengan
sultan penguasa Keraton Yogyakarta saat itu.
Hatta beberapa waktu berjalan, proses pembuatan membutuhkan
ketelitian dan alat-alat pahat yang baik karena batu tersebut lebih keras
daripada batu biasanya sehingga seringkali harus mencari alat pahat di kota.
Syahdan, mulailah Kyai Selo menawarkan patung tersebut kepada orang-orang
maupun kerabat yang ditemuinya. Menawarkan patung tidaklah semudah dan secepat yang
Kyai Selo bayangkan. Kyai Selo, istri, dan anak-anaknya selau berdoa kepada
Tuhan Yang Maha Esa agar diberikan kemudahan dalam mencari rezeki terutama
dalam usahanya menjual patung yang sudah dibuatnya itu.
Setelah lama menunggu, tiba-tiba datanglah beberapa orang yang
katanya merupakan utusan dari Keraton Yogyakarta. Mereka mendengar bahwa ada
patung yang mirip dengan sultan pada waktu itu. Orang-orang utusan tersebut
kemudian mendatangi rumah Kyai Selo dan melihat patung tersebut. Begitu
takjublah mereka saat melihat patung yang begitu besar yang sangat mirip dengan
raja mereka. Maka, terjadilah tawar menawar antara mereka. Kyai Selo menawarkan
dengan harga yang sangat tinggi karena proses pembuatannya tidak mudah dan
memerlukan biaya yang banyak untuk membeli alat-alatnya serta membutuhkan keterampilan,
ketelitian, dan kesabaran. Setelah terjadi tawar-menawar yang cukup panjang,
muncullah kesepakatan harga penjualan yang menurut Kyai Selo sudah laku cukup
tinggi. Hasil penjualan tersebut digunakan Kyai Selo sebagian untuk memajukan
daerah tempat tinggalnya. Waktu berjalan terus, Kyai Selo dan istrinya semakin
lama semakin tua dan tidak produktif lagi. Tibalah suatu saat Kyai Selo dan
Nyai Rejo meninggal. Maka, oleh anak-anaknya dan oleh warga sekitar, daerah
tempat tinggal mereka diberi nama Selorejo untuk menghormati Kyai Selo dan Nyai
Rejo yang telah memakmurkan dan memajukan desa ini. Setelah ditinggalkan oleh
kedua orang tuanya, Anom dan Roro hidup dengan uang sisa penjualan patung yang
diberikan oleh Almarhum Kyai Selo. Anak-anak
Almarhum Kyai Selo dan Almarhumah Nyai Rejo diangkat oleh warga sekitar menjadi
tokoh dan pemuka masyarakat Dusun Selorejo.
Saat menjadi tokoh masyarakat, Anom bersikap semena-mena terhadap
rakyatnya sehingga rakyat sengsara. Ia meminta pajak kepada rakyatnya dengan nilai
yang sangat tinggi. Pada suatu hari, Anom bertemu dengan rakyatnya yang tua dan
hidup sebatang kara, yang mana dia tidak mempunyai apa-apa di dalam rumahnya.
Tanpa rasa kasihan, Anom membentak kakek tesebut, katanya, “Heiiiii, kakek tua,
mana uang pajak yang wajib kau berikan padaku?”. Lalu, kakek tersebut bersujud
dan menyembah Anom seraya berkata, “Maafkan saya, Tuan, saya benar-benar tidak
mempunyai uang sepeser pun, untuk makan pun saya tidak sanggup membelinya.” Pada
saat melihat kakek itu, Anom teringat akan pesan dari kedua orang tuanya.
Syahdan, munculah rasa iba terhadap kakek tersebut dan membawanya pulang ke
rumah. Sesampainya di rumah, ia menyuruh Roro untuk membawakan makanan dan
minuman kepada kakek tersebut. Melihat wajah kakek yang sangat senang, Anom
merasa bersalah karena sudah membentak kakek tersebut saat meminta uang pajak.
“Kek, maafkan saya atas perbuatan saya selama ini, saya benar-benar menyesal
dan saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” kata Anom. “Ini ada sedikit
rezeki untuk kakek dari Anom, semoga dapat membantu biaya hidup kakek. Jika
kakek butuh bantuan, datanglah ke sini saja dan akan saya bantu,” lanjutnya. Melihat
itu semua, kakek merasa terharu sampai meneteskan air mata. Kemudian ia
berkata, “Terima kasih Tuan, engkau telah memberiku makanan dan minuman ini.
Engkau juga telah memberiku rezeki yang sangat banyak.” Setelah kejadian itu,
Anom sangat memperhatikan rakyatnya. Ketika ada yang membutuhkan bantuan, ia
langsung datang membantu tanpa memperhitungkan biaya yang akan dikeluarkannya.
Hatta waktu berjalan sangat lama, berpuluh-puluh tahun kemudian warga
mulai beralih pekerjaan dari pencari batu menjadi petani. Di dukung letak Dusun
Selorejo yang diapit sungai besar dan tanah yang cukup subur, maka lama
kelamaan warga Dusun Selorejo memilih menekuni bidang pertanian. Kebanyakan
dari mereka menanam padi, jagung, dan palawija untuk mencukupi kebutuhan
hidupnya yang semakin besar. Ada juga warga yang menjadi petani cengkeh, petani
kopi, dan petani cokelat. Setiap rumah diwajibkan menanam tanaman cengkeh,
kopi, dan cokelat. Semakin lama hampir semua penduduk Dusun Selorejo bekerja di
bidang pertanian.
Dengan bantuan pemerintah, pada tahun 1970 dusun tersebut bisa
meningkatkan pertanian dengan penyaluran pupuk dari pemerintah dan pembangunan
dusun dengan bekerja sama melaksanakan program padat karya pembuatan dan
pengerasan jalan. Program padat karya dibantu oleh para ABRI masuk desa. Selain
program padat karya, warga Dusun Selorejo juga mengikuti banyak perlombaan
dalam bidang pertanian yang mendorong perkembangan pertanian semakin pesat. Dalam mengikuti perlombaan-perlombaan
tersebut, sering memperoleh kejuaraan, baik tingkat kabupaten, provinsi, maupun
nasional. Maka, Dusun Selorejo menjadi terkenal di bidang pertanian di seluruh
Indonesia pada waktu itu. Hasil pertanian yang terus meningkat, menjadikan
kemakmuran bagi warga Dusun Selorejo. Tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan
sendiri, tetapi sebagian bisa di jual ke daerah lain. Berdasarkan kesepakatan warga,
nama Dusun Selorejo diganti menjadi Dusun Tanen karena warga masyarakat sekitar
sebagian besar bekerja sebagai petani.
Aku
Aurelia Grandia Venia Agusta. Aku lahir di Sleman, 30 September 2002. Dari
bulannya aja dah tau kan kalau zodiakku Libra. Rumahku di Tanen, RT 01/RW 25,
Hargobinangun, Pakem, Sleman, DIY. Aku mempunyai hobi menyanyi dan membaca. Aku
sekarang sekolah di SMA Negeri 1 Pakem kelas X MIPA 3.
Sumber: Sademi, Agus. 2018. Asal
Usul Dusun Tanen.
Legenda kaliwanglu
Sebagai
salah satu dusun yang terleetak di Desa Harjobinangun, Kaliwanglu merupakan
dusun yang dekat perbatasan dengan Kecamatan Ngemplak. Berhimpit dengan Kali
Dadap kemudian sungai yang memisahkan antara Kecamatan Pakem dan Kecamatan
Ngemplak.
Kata
Kaliwanglu secara harfiah adalah Kali Cawang Telu (sungai cabang tiga). Dan
memang di desa Saya, pas tengah desa ada sungai yang bercabang tiga. Satu ke
barat yang mengairi dusun, satu lurus ke tengah mengairi desa bagian tengah, dan
1 ke timur mengairi dusun bagian timur. Desa Saya tidak pernah kekeringan
walaupun musim kemarau, sungai itu memiliki sumber mata air di atas cabang
sungai dan tidak pernah kering. Perekonomian dan perternakan sangat bergantung
pada sungai itu. Itulah nilai yang terkandung dari nama desa Saya, yaitu Desa
Kaliwanglu.
Secara
historis desa Kaliwanglu didirikan oleh Kyai Gendrang Serang, arti gendrang
adalah memukul sedangkan serang adalah menyerang. Kyai Gendrag Serang memiliki
kekuatan yaitu berupa sebuah tongkat. Tongkat itu adalah tongkat yang sakti,
yang ia dapatkan di kaki Gnung Merapi.
Dengan
hikayat sebagai berikut, pada waktu itu Kyai Gendrang Serang bertapa di kaki
gunung Merapi. Beiau bertapa untuk mencari kedamaian hidup. Selain itu beliau
juga bertapa untuk mencari ketenangan. Setelah beberapa lama bertapa, ada
bisikan ysng terdenagr di telinganya agar beiau mengakhiri pertapaannya.
Setelah beliau mendengar bisikan itu, beliau langsung mebakhiri pertapaannya
dan segera turun gunung. Selain mendapatkan bisikan bahwa ia harus turun
gunung, Kyai Gendrang Serang juga mendpatkan petunjuk bahwa ia nanti harus
berhenti di mana.
Ia
menuruni gunung Merapi menuju arah selatan. Kyai Gendrag Serang melewati hutan-hutan
yang sangat gelap tanpa ada rasa takut. Sesampainya di suatu tempat Kyai
gendrang serang merasa capai dan haus. Saat itu ada cobaan yang diberikan ke
padanya yaitu beliau tidak menemukan dusun atau sungai di situ. Pada situasi
itu beliau langsung mengambil keoutusan bahwa beliau harus mencari sumber mata
air. Beliau mencari sumber mata air dengan memukul tongkatnya ke arah barat
tetapi tidak muncul, walau begitu beliau tidak menyerah. Beliau mengganti arah
berlawanan yaitu ke arah timur, beliau pukulkan tongkat ke arah timur, ternyata
air juga tidak keluar.
Tak
lama kemuadian muncul banyak kelabang/kaki seribu di sekitar kakinya, dalam
keadaan itu beliau langsung mengibaskan tongkatnya membunuh kelabang itu.
Kelabang itu pun berjatuhan dan mati. Tinggal satu kelihatannya Sang Patih pas
di tengah arah selatan. Dengan sekuat tenaga dipukulnya kelabang itu sangat
kencang sehinga membuat kelabang tersebut mati. Tak disangka pukulan itu
membuat air mengucur dari dalam tanah. Air yang mengucur dalam tanah tersebut sampai
membentuk sungai dan teryata, bekas pukulan yang di arah barat dan timur juga
ikut mengucurkan air. Kyai pun akhirnya meminum air itu dan beristirahat di
tempat itu. Dan beliau menamakan dusun itu Kaliwanglu.
Bagi
Kyai Gendrang Serang tempat ini menjadi tanda bahwa beliau harus menetap.
Beliau juga berfikir bahwa beliau harus beranakpinak di Dusun Kaliwanglu.
Kyai
Gendrang Serang selain pandai olah kanuragun beliau juga sakti. Mengapa sungai
di kaliwanglu tetap mengalir? Ternyaa Kyai Gendrang Serang mempunyai sahabat
jin yang mengawasi sugai itu.
Jin
itu tinggal di pohon berigin yang ada di dekat sumber mata air sungai. Sang
penunggu sungai tersebut di beri nama Kebo Landoh. Kebo Landoh berwujut
kebo/kerbau. Dia memiliki tugas yaiitu mengusir secara halus orang-orang yang
memiliki niatan jahat merusak sungai di Kaliwangu ini, bukan cuma itu tugas
dari kebo landoh melainkan juga menjaga mata air di desa ini.
Saat
ini sang pejaga sungai dan mata air yang di sebut kebo landoh ini bersemayam di
sebuah keris yang di simpan oleh sesepuh desa dan yang menyimpan pusaka keris
itu merawat dan memandikan pusaka keris itu setiap malam satu Suro.
Itulah
legenda dan hikayat dari desa kaliwanglu yang saya catat dan rekam dari sesepuh
desa. Sesepuh desa itu tidak lain dan tidak bukan adalah simbah penulis yang
bernama Mbah Karjo Suwiryo. Semoga bias bermanfaat bagi kita semuanya.
sumber
:
hasil
wawancara sesepuh di Kaliwanglu.
Nara
sumber :
Mbah
Karjo Suwiryo
Perkenalkan
nama lengkap saya Bernofani Radithya Medyana, biasanya teman teman memanggil
saya Medy. Kata mama saya Bernofani berasal dari kata Berno dan fani. Berno
berasal dari nama seorang pembalap dari Italia yaitu Feansisco Bernolly, dan
fani berasal dari kedua nama orang tua saya yaitu ayah saya yang bernama Fajar,
dan ibu saya yang bernama Ninuk. Sedangkan Radithya berasal dari Bahasa
sanskerta yang berarti dini hari karena kata mama saya, saya di lahirkan pada
dini hari. Saya lhir di sleman pada 20
Oktober 2002. Saya di lahirkan dengan normal tanpa kekurangan apapun. Mungkin
teman teman saya sudah tau bahwa hobby saya bermain basket, namun tiak anyak
orang yang tau bahwa selain hobby basket saya juga memiiki hoby bernyanyi.
HIKAYAT DESA PANDANPURO
Pada zaman dahulu, hiduplah seorang pengembara tampan bernama
Parta Pemadi. Ia tak sendiri melainkan ditemani oleh pengikut setianya Basupati
yang telah ia anggap sebagai adik sendiri. Parta Pemadi adalah salah satu
kesatria hebat pada zamannya. Tujuan mengembaranya bukan untuk mencari
kesaktian namun ia ingin mencari cintanya. Ia terlalu sibuk di medan perang
sehingga ia menyadari bahwa ia belum memiliki seorang pendamping.
Dalam perjalanan ia dan pengikutnya beristirahat sejenak di bawah
pohon jambu yang besar. Buah jambunya pun banyak hingga Basupati pun memutuskan
memanjat dan memetik jambu tersebut. Saat sudah sampai di atas ia pun terkejut
melihat sebuah keris yang tertancap di batang pohon. Diambilnya keris itu
kemudian diberikan pada Parta Pemadi. Parta Pemadi bingung bagaimana bisa keris
seindah ini tertancap pada batang pohon. Keris cantik yang terdapat ukiran
indah di bagian bilahnya.
Kemudian Parta Pemadi merasakan ada kekuatan dari dalam keris itu
yang akan menutunnya menuju tujuannya. Dibawalah keris itu pada Mpu Gandring,
seorang pandai besi yang terkenal sakti dan mampu menghasilkan keris dengan
ukiran rumit yang cantik. Mpu Gandring membenarkan bahwa keris itu adalah
buatannya yang telah lama hilang karena terlalu sakti. Kemudian Mpu Gandring
menyimpan keris itu dan mempersilakan mereka berdua untuk duduk dan
berbincang-bincang . “Anakku, bawakan air minum untuk dua pemuda ini !” Perintah
Mpu Gandring. Muncullah sesosok wanita cantik juga anggun membawa air minum
untuk kedua pemuda tersebut. Parta Pemadi kagum melihat pesona yang terpancar
darinya. Ia adalah Rukmawati anak dari Mpu Gandring yang dikenal santun dan
cantik.
Tanpa disadari Parta Pemadi terus memandangi wanita itu hingga
Rukmawati salah tingkah dibuatnya. “Tinggalah di sini untuk beberapa hari,
lagipula kalian pasti butuh tempat untuk bermalam.” Pinta Mpu Gandring. Kedua
pemuda tersebut berpikir dan akhirnya menerima penawaran Mpu Gandring. Dua hari
berlalu dengan cepat, tanpa pikir panjang Parta Pemadi mengungkapkan
perasaannya pada Rukmawati. “Rukmawati, saat pertama kali aku bertemu dirimu
aku merasa bahwa kaulah yang selama ini aku cari. Ternyata cinta pada pandangan
pertama itu adalah kenyataan. Aku sudah menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu.
Karena itu maukah kau menjadi istriku ?” Ungkap Parta Pemadi. Rukmawati
terkejut akan kata-kata yang terucap dari pemuda itu. Ia bingung dan merasa
bahwa ini terlalu terburu-buru.
“Apakah ini tidak terlalu terburu-buru. Kita baru dua hari
bertemu, haruskah secepat ini ?” Rukmawati mencoba memastikan. “Aku tidak bisa
menunggu lebih lama lagi. Menurutku waktu dua hari saja sudah cukup bagiku
untuk bisa mengenalmu. Jadi bagaimana ?” Parta Pemadi mencoba memastikan. “Ya
aku menerimanya. Tapi,” air matanya menetes, “aku tidak bisa memberimu anak.” Ungkap
Rukmawati. Parta Pemadi kemudian mengusap air mata wanita itu dan berkata,
“Tidak apa-apa aku menerimamu apa adanya, urusan itu kita cari jalan keluarnya
bersama-sama.”
Beberapa waktu kemudian, pernikahan telah dilaksanakan dan mereka
terus berusaha dan memohon kepada Sang Pencipta agar diberi momongan. Akhirnya
karena usaha dan doa Rukmawati pun hamil. Setelah lahir anak itu diberi nama
Arya Jayastu, yang artinya agar anak tersebut menjadi bangsawan yang berjaya
kelak. Namun tak berapa lama kemudian, Arya Jayastu sakit. Tabib yang memeriksa
anak itu mengatakan bahwa ia menderita penyakit yang hanya bisa disembuhkan
dengan air rebusan daun pandan. Daun pandan tersebut hanya mampu didapatkan di
hutan Pandandeni yang dijaga oleh raksasa.
Karena begitu sayang pada anaknya Parta Pemadi memutuskan pergi ke
hutan Pandandeni bersama pengikut setianya Basupati. Perjalan tersebut harus
menempuh waktu tiga hari tiga malam untuk sampai ke hutan tersebut. Di tengah
perjalanan mereka mampir ke sebuah desa kecil. Dari kejauhan mereka melihat ada
seorang perempuan yang diganggu oleh beberapa pemuda yang mabuk. Segera mereka
menyelamatkan wanita tersebut dan menghajar para pemuda itu.
Wanita itu bernama Gayatri, sesosok perempuan cantik yang berasal
dari keluarga miskin. Wanita tersebut menawarkan tempat tinggal pada Parta
Pemadi dan Basupati yang akhirnya diterima. Benih cinta mulai muncul di hati
Gayatri pada Parta Pemadi. Ketampanan dan kebaikan hati pemuda itulah yang membuat
Gayatri terpikat. Tanpa disadari ada sesosok pemuda lain yang sudah memandang
Gayatri. Ia adalah Basupati, walau ia tahu bahwa Gayatri sudah menyukai Parta
Pemadi. Gayatri yang tidak tahu bahwa pemuda yang ia cintai telah memiliki
istri. Gayatri mengungkapkan cintanya, tapi ditolak oleh Parta Pemadi. “Maafkan
aku, aku telah memiliki istri dan anak, pengembaraanku ini bertujuan mencari
obat untuk anakku yang sedang sakit.” Ungkap Parta Pemadi. Wanita itu hanya
diam dan terkejut, merasa ada sesuatu yang terluka namun kenapa tidak ada darah
yang keluar. Perasaannya sudah hancur berkeping-keping.
Gayatri kemudian pergi meninggalkan pemuda itu. Air matanya sudah
tidak mampu dibendung lagi. Basupati yang melihat itu pun datang dan mencoba
untuk menenangkan. Kemudian Basupati membawa Gayatri ke dalam dekapannya agar
ia menjadi tenang. Disitulah Gayatri merasakan bahwa ada cinta untuknya dari
Basupati. Keduanya pun semakin dekat. Beberapa hari kemudian Parta Pemadi dan
Basupati melanjutkan perjalanan. “Gayatri, aku akan segera kembali agar kita
bisa melangsungkan pernikahan. Jaga dirimu untukku. Jika aku tak mampu bertemu
dirimu lagi, aku ingin kau tahu bahwa aku begitu mencintaimu.” Ucapan
perpisahan dari Basupati. “Cepatlah pulang, aku menunggumu di sini.” Ucap
Gayatri.
Kedua
pemuda itu pun melanjutkan perjalanan mereka. Sampailah pada hutan pandan yang
sangat hijau dan indah. Wangi khas pandan pun semerbak. Hutan ini diberi nama
Pandandeni karena orang yang ingin masuk atau hanya sekedar lewat
saja sudah takut melihatnya. Bukan karena hutannya yang mengerikan, justru hutannya lah yang
membuat mereka terpikat ingin masuk. Yang mereka takutkan adalah Jurumeya,
raksasa buruk rupa yang tak segan-segan melukai siapa pun yang berani masuk ke dalam
hutan tersebut. Dan benar saja kedatangan Parta Pemadi
beserta pengikutnya telah disambut oleh Jurumeya. Pertarungan pun dimulai.
Parta Pemadi mengeluarkan keris sakti yang telah sengaja dibuat Mpu Gandring
untuk melawan raksasa itu. Kedua pemuda itu bertarung dengan mengeluarkan
seluruh kekuatan mereka.
Jurumeya pun tak mau kalah, ia juga mengeluarkan kesaktiannya.
Luka di sekujur tubuh Parta Pemadi pun ia hiraukan karena begitu sayangnya ia
pada anaknya. Basupati pun membantu melawan menggunakan panah saktinya. Pertarungan
sengit itu pun membuat Jurumeya jatuh tak berdaya. Parta Pemadi pun telah
mengeluarkan seluruh tenaganya demi mengalahkan raksasa itu. Tanpa disadari
Jurumeya masih memiliki sedikit kekuatan yang akan digunakan untuk mengenai
Parta Pemadi.
Parta Pemadi yang tidak mengira bahwa Jurumeya masih memiliki
sedikit kekuatan berdiri membelakangi raksasa itu. Basupati yang menyadari
bahwa raksasa itu akan melepaskan kekuatannya pada Parta Pemadi kemudian
mendorong pemuda itu agar menghindar. “Kakaaaaaaaaaaaak….” Teriak Basupati.
Namun sayang, kekuatan itu mengenai Basupati. Parta Pemadi yang melihat
Basupati terkena serangan menangis. “Kenapa … kau menyelamatkan aku.” Tangis
Parta Pemadi pecah seketika. Basupati yang telah bersamanya sejak lama, mati
karena menyelamatkannya. “Ma-afkan a-ku kakak, se-moga kau baha-gia.” Ucap
Basupati sebagai kata-kata terakhirnya.
Kemudian ia menguburkan Basupati diantara pohon-pohon pandan. Tak
lupa ia kembali dan membawa beberapa lembar daun pandan muda. Perasaannya
bercampur aduk, antara senang bahwa ia telah berhasil mendapatkan daun pandan
untuk kesembuhan anaknya atau bersedih karena pengikut yang sudah ia anggap
adiknya sendiri rela mati berkorban untuk dirinya. Ia bingung bagaimana cara
mengatakan ini kepada Gayatri. “Gayatri, maafkan aku, Basupati telah
mengorbankan jiwanya untukku. Ia telah menyelamatkanku dari serangan Jurumeya,
namun ia malah terkena serangannya. Sekarang ia telah aku kuburkan di sana,
maafkan aku.” Ucap Parta Pemadi. Gayatri patah hati untuk kedua kalinya. Cinta
yang selama ini ia nanti kepulangannya telah berpulang bukan pada dirinya tapi
pada Sang Pencipta.
Parta Pemadi meninggalkan Gayatri yang sedang dalam keadaan
berkabung. Ia segera pulang dan memberikan daun pandannya pada tabib.
Direbuslah daun pandan tersebut dan diminumkan kepada Arya Jayastu. Beberapa
lama kemudian, Arya Jayastu pun sembuh dan kembali sehat. Akhirnya keluarga
kecil itu mengajak Gayatri untuk pindah dan menetap di Pandandeni. Agar mereka
selalu mengingat akan pengorbanan Basupati. “Akan aku ubah nama tempat ini
bukan lagi Pandandeni tapi menjadi Pandanpuro. Agar orang yang masuk merasa
disambut dan terlindugi dari segala macam bahaya.”
-TAMAT-
Hai
namaku Bopa Noverina Rahmadhaningtyas. Aku lahir pada tanggal 27 November 2002.
Banyak yang merasa aneh dengan namaku, ya aku pun juga begitu haha. Namaku
adalah akronim dari hari dimana aku lahir. Rebo pahing haha pasti kalian sudah
mengerti tanpa harus aku jelaskan lebih rinci. Yaa bisa dibilang orang tuaku
itu kreatif wkwkwk. Cukup untuk masalah nama, sekarang tentang kegemaranku. Aku
sangat suka dengan sesuatu yang berhubungan dengan Korea Selatan. Entah dari
makanannya, grup idolnya, drama-dramanya, juga orang-orangnya yang super tampan
dan cantik. Tidak cuma Korea Selatan, aku juga menggilai anime Jepang. Walau sekarang aku sudah duduk di bangku kelas 10 SMA
N 1 PAKEM. Aku masih menyukai hal-hal yang berhubungan dengan serial animasi
Jepang. Sudah dulu deh perkenalanku, nanti malah makin panjang dan nggak ada habisnya
hehehe.
Sumber
: Bapak Tukimun dan Khairani Intan
Alamat : Pandanpuro, RT/RW 05/22,
Hargobinangun, Pakem, Sleman, Yk.
Hikayat Kali
Boyong
Konon, ada seorang pemuda bernama Aji Kusno yang berasal dari Jawa
Tengah. Ia suka menjelajahi tempat-tempat yang terpencil dan tidak banyak
diketahui oleh khalayak. Oleh karena itu, ia punya banyak cerita tentang suku,
budaya, dan legenda yang berasal dari tempat yang berbeda-beda . Petualangannya
sering ia ceritakan saat ia kembali ke desa tempat tinggalnya.
Suatu hari, ia sampai di sebuah gunung. Gunung itu adalah Gunung
Merapi. Ia sudah banyak dengar tentang mitos kerajaan yang ada di Merapi,
tetapi ia tidak tau tentang apa yang ada di sisi lain Merapi. Rasa keingintahuan
itulah yang mendorongnya untuk berpetualang ke sana.
Aji Kusno berjalan ke selatan menuruni Gunung Merapi dengan
berjalan. Diperjalanannya, ia melihat sebuah sungai yang mengarah ke selatan. Ia
memutuskan untuk berjalan mengikuti jalur sungai tersebut.
Matahari mulai tenggelam dan malam Jumat Kliwon datang menyambut. Karena
ia tidak membawa sumber cahaya apa pun yang bisa ia gunakan untuk menerangi
jalur sungai itu, Ia berjalan di kegelapan. Ia hanya mendengar suara langkah
kakinya dan suara gemericik air sungai yang mengalir.
Tak lama kemudian, ia melihat ada sumber cahaya dari kejauhan.
Rupanya ada desa kecil di pinggir sungai itu. Dengan segera ia berlari mendatangi
salah satu rumah kecil yang ada di pinggir desa itu.
Aji Kusno mengetuk pintu rumah tersebut. Seorang kakek tua membuka
dengan hati-hati dan mengintip dengan waspada. Saat melihat Aji Kusno, kakek
itu langsung membuka pintu dan segera mengajaknya untuk masuk dengan bahasa
tubuh yang sepertinya panik. Ia dipersilahkan untuk duduk di kursi ruang tamu
yang diterangi oleh sebuah lilin.
Aji Kusno duduk sambil melihat sekeliling ruangan itu. Di ruang
tamu terdapat sebuah meja kayu kecil yang sekelilingnya terdapat empat dingklik
kayu ditempatkan berhadap-hadapan. Dapurnya hanya ada di sebelah ruang tamu,
dari situ Aji Kusno bisa melihat si kakek menghidupkan api untuk merebus air. Dengan
suasana yang sunyi dalam ruangan yang redup itu, Aji Kusno tiba-tiba merasa
dingin.
“Monggo Mas mau minum
apa?” Tanya kakek yang sedang mengeluarkan gelas dan teko. Aji Kusno yang masih
sedikit bingung dengan tingkah laku kakek itu saat membukakan pintu menjawab,
“Apa saja boleh, Mbah.”
“Namamu sapa, Le?
Ngapain kamu kok bisa sampai kesini?” Tanya kakek itu.
“Nama saya Aji Kusno Mbah. Saya ke sini untuk berjelajah.” Jawab
Aji Kusno. Kakek itu datang membawa segelas teh dan teko kecil ke meja ruang
tamu sambil duduk di depan Aji Kusno. Kakek itu berjalan mendekati cahaya dan
untuk pertama kalinya, Aji Kusno bisa melihat wajah kakek itu. Wajahnya banyak
kerutannya dan saat dilihat, kakek itu sepertinya orang yang lembut. Tetapi
dimatanya, ia menyimpan kesedihan yang tidak diketahui oleh Aji Kusno.
“Panggil saya ‘Kung Arga’ atau ‘Kakung’ saja tidak apa-apa. Cucu
saya dulu sering memanggil saya seperti itu. Ya… jika mereka masih di sini,
mereka pasti seumuran denganmu,” kata kung Arga. Aji Kusno yang penasaran pun
bertanya,
“Keluarganya Kung Arga kemana? Kung Arga tinggal sendiri?”
“Iya, keluarga saya-“
Entah dari mana Aji Kusno tiba-tiba mendengar bunyi gemerincing
dan derap kaki kuda dari luar rumah. Kung Arga tiba-tiba berdiri dan mematikan
api yang digunakan untuk merebus air yang ada di dapur. Lalu ia secepatnya
kembali ke ruang tamu untuk meniup lilin.
Aji Kusno yang terkejut dan bingung bertanya dengan panik, “Kenapa?
Ada apa?”
“Shh..” desus Kung Arga sambil meletakkan jari telunjuk di depan
mulutnya. Bunyi gemerincing dan derap kaki kuda dari luar rumah itu masih
terdengar. Tanpa peringatan, Aji Kusno tersentak kaget oleh suara jeritan seorang
wanita dari luar rumah.
Aji Kusno terdiam, jantungnya berdebar dan nafasnya bertambah
cepat. Sambil mendengarkan bunyi gemerincing dan derap kaki kuda yang ada di
luar lama-lama menghilang, dengan hati-hati ia mengintip keluar melalui celah
jendela yang tertutup. Ia melihat ada kereta kuda berjalan yang disusul dengan
khalayak yang berbaris rapi, mirip seperti pasukan berbaris.
Setelah beberapa saat, mereka
menghilang. Aji Kusno yang mengintip
keluar, menutup mata dan mengatur nafasnya. Saat matanya terbuka, ia
berdiri dan dengan pelan mengikuti kung Arga yang membuka pintu dan keluar. Ia
melihat warga desa berkumpul mengelilingi satu titik di sungai. Aji Kusno yang
menyusul, mencoba untuk masuk ke dalam lingkaran penduduk.
Apa yang ia lihat selanjutnya akan menghantuinya seumur hidupnya.
Mayat seorang wanita yang tergeletak lemas di tanah, seperti tengkorak yang
berkulit. Kulit wanita itu berwarna kelabu dan wajahnya menghilang.
Melihat hal itu, Aji Kusno merasa mual. Bau busuknya pun tak
meredakan rasa mualnya itu. Tiba-tiba tubuhnya lemas dan yang dia lihat
selanjutnya adalah kegelapan.
Malam Jumat Kliwon sudah lewat, matahari sudah lama terbit, dan
Aji Kusno terbangun dari tidurnya. Ia melihat sekelilingnya, ia tertidur di
lantai ruang tamunya kung Arga. Kebingungan, ia mencoba untuk mengingat-ingat
apa yang terjadi.
Ingatannya lekas datang kembali, perasaan mual saat melihat mayat
wanita itu juga terasa kembali. Disaat itu pula kung Arga masuk rumah. Saat
melihat Aji Kusno, kung Arga berkata,
“Sudah bangun, Le? Kamu
tertidur cukup lama. Ya… wajar saja, setelah apa yang kamu lihat.” Aji Kusno
yang penasaran mulai bertanya,
“Kung, apa yang terjadi? Kenapa semalam ada mayat wanita itu?
Bunyi-bunyi apa itu semalam?” Banyak pertanyaan yang keluar dari mulut Aji
Kusno yang tercengang akan kejadian-kejadian semalam.
“Pelan-pelan saja bicaranya, saya akan jawab satu-satu.” Kata kung
Arga sambil membawakan segelas air untuk Aji Kusno. Selagi Aji Kusno minum,
kung Arga mulai bercerita,
“Kejadian semalam itu dinamakan Lampor. Jika saya pikir, kejadian
itu sudah lama tak terjadi. Kejadian di mana Ratu Pantai Selatan dengan kereta
kuda dan pasukannya mengunjungi Gunung Merapi melalui jalur sungai ini.
Keluargaku pergi meninggalkanku di sini karena ketakutan dengan adanya kejadian
ini.”
“Kenapa Kung Arga tidak ikut saja dengan mereka?” Tanya Aji Kusno.
“Saya lahir disini, saya juga akan mati di sini. Disinilah
satu-satunya tanah yang ku miliki,” jawab kung Arga dengan nada lembut. Kung
Arga melanjutkan,
“Mayat yang kamu lihat di sungai, hal yang sama terjadi pada
istriku. Nyawanya diambil oleh pasukan Ratu Pantai Selatan dan dijadikan oleh
mereka anggota pasukan baru. Itulah yang terjadi jika pasukan Ratu Pantai
Selatan melihatmu.”
Aji Kusno merasa bulunya berdiri, karena ia mengintip melalui
jendela rumah, ia berharap pasukan itu tak melihatnya saat ia mengintip.
“Ya… karena itu sungai ini disebut Kali Boyong. Sungai ini sering mboyong nyawa yang kemudian dijadikan
anggota pasukan ratu.” Lanjut kung Arga.
Aji Kusno yang merasakan kengerian Kali Boyong yang sesungguhnya,
segera pamit untuk melanjutkan perjalanannya. Ia menghabiskan air minum yang
diberikan kepadanya dan berterima kasih kepada kung Arga.
Kung Arga yang mengerti akan alasan Aji Kusno terburu-buru untuk
pergi, berterima kasih kepada Aji Kusno karena telah menjadi teman bicaranya.
“Matur nuwun Le… sudah
menemaniku, walaupun hanya sebentar.” Kata kung Arga.
“Nggih, sami-sami.
Terima kasih juga sudah memperbolehkan saya untuk menginap.” Kata Aji Kusno
dengan senang hati. Dengan begitu Aji Kusno melanjutkan perjalanannya untuk
kembali pulang.
Beberapa hari kemudian, mayat Aji Kusno ditemukan hanyut kembali
ke desa itu. Rupanya ia meninggal di jalan karena sebuah penyakit yang tak
diketahui. Saat bercerita, kung Arga lupa menyampaikan satu hal. Jika seseorang
melihat kereta kuda dan pasukan Ratu Pantai Selatan lewat, maka mereka akan
terkena penyakit yang mengakibatkan kematian. Begitulah akhir dari Aji Kusno.
-Tamat-
Hallooooo…
Namaku Cut Nabila Olga Maulida, biasa dipanggil Olga. Saya lahir di Yogyakarta
pada tanggal 17 Mei 2003. Sekarang saya adalah siswa SMA Negeri 1 Pakem dan
saya duduk di kelas X MIPA 3. Saya adalah pecinta anime dan BTS. Hobiku
mendengarkan music dan menggambar. Sejak aku lahir 15 tahun yang lalu, ini
adalah pertamakalinya aku menulis sebuah cerita. Saat aku menulis cerita ini,
ternyata lumayan asyik prosesnya. Maka, karena itu saya berterimakasih kepada
pembaca karena telah membaca hikayat ini.
Sumber : https://chirpstory.com/li/393935
Hikayat Tegaltelan (Dukuhsari)
Dahulu kala di sebuah kerajaan bagian utara yang dipimpin oleh
raja yang sangat bijak, dermawan, dan
ramah, beliau mempunyai dua orang putra. Putra sulung bernama Raden Tunggal. Dia
memiliki sifat yang yang mirip dengan ayahnya dan selalu tersenyum dengan siapa
saja. Putra bungsu bernama Raden Kaleh, dia
masih kecil. Sifatnya pun juga sama dengan kakaknya. Mereka selalu berkeliling
di sekitar kerajaan untuk menyapa dan membantu rakyatnya.
Suatu hari saat Raden Tunggal dan adiknya sedang berjalan-jalan.
Mereka memilki seorang paman yang baik. Namun ternyata paman mereka baik hanya
didepan mereka saja. Tiba-tiba paman
mereka melakukan pemberontakan. Dia behasil membunuh sang raja, dan dia ingin
juga membunuh kedua putra sang raja. Panglima sang raja yang saat itu terluka
pergi menemui kedua putra sang raja. Dia berhasil menemukan mereka dan menyuruh
mereka untuk lari dari kerajaan ini. Dia
menceritakan bahwa paman mereka telah melakukan pemberontakan dan membunuh ayah
mereka. Raden Tunggal dan Raden Kaleh sedih saat mengetahui ayah mereka
meninggal di tangan paman mereka sendiri, Akhirnya mereka pun kabur sambil
membawa batang pohon singkong yang diberikan oleh seorang kakek-kakek.
Saat mereka sampai di sebuah gubuk kosong. Mereka pun beristirahat
disana sambil memikirkan tentang kerajaan mereka saat ini.
”Kak, bagaimana nasib rakyat kita kanda?” tanya sang adik.
”Aku tidak tahu dinda, yang penting sekarang kita bersembunyi dari
para pemberontak itu agar kita bisa menyelamatkan kerajaan.” Jawab sang kakak dengan bijak.
Raden Kaleh menyetujuinya dan mereka melanjutkan perjalanan ke
tempat yang aman.
Di kerajaan, paman mereka, Ki Suyut memikirkan cara agar kedua
keponakannya dapat dibunuh. Ki Suyut memerintahkan seluruh pengikutnya untuk
melakukan pencarian besar-besaran. Barang siapa yang menemukan mereka akan
mendapat imbalan yang besar. Mereka pun mulai untuk mencari kedua pangeran
tersebut.
Raden Tunggal dan adiknya, Raden
Kaleh sampai di sebuah kampung pedalaman. Mereka berjalan diantara para warga
setempat yang melihat mereka dengan tatapan aneh.Ada seorang warga yang
menghampiri mereka dan bertanya,
”Wahai pemuda, ada apa kalian? Kenapa kalian terlihat was-was dan
darimana asal kalian?”
Raden Tunggal pun menjawab , “Kami dari kerajaan bagian utara
paman, kerajaan kami dikhianati paman kami sendiri dan pengikutnya. Mereka
telah membunuh ayahanda dan sekarang mereka mengincar kami. Jadi kami lari dari
mereka. Oh iya, paman apakah kami boleh tinggal dan menyamar sementara di
tempat ini?”
”Ya kalian boleh melakukannya asal kalian izin dulu pada kepala
desa”, orang itu pun memperbolehkan. Raden Tunggal dan adiknya pun mengikuti
orang tadi.
Mereka sampai di rumah kepala desa. Mereka meminta izin dan
diperbolehkan. Mereka pun disuruh tinggal di rumah kepala desa untuk sementara,
karena mereka bilang bahwa mereka adalah pangeran kerajaan bagian utara.
Pengikut Ki Suyut masih belum menemukan kedua pangeran itu.
”Sialan, kenapa belum ketemu juga.
Dasar kalian tidak becus, cepat cari mereka dengan benar!!” marah Ki Suyut.
Para prajurit pun mencari mereka lagi dan mereka mendapat info
bahwa kedua pangeran tersebut berada di sebuah kampung.
Raden Tunggal sedang membantu warga bercocok tanam, dia mencangkul
tanah agar tanahnya gembur. Sedangkan adiknya, Raden Kaleh sedang membantu memanen
hasil panen di kampung itu. Para warga merasa senang dengan sifat mereka yang
sangat suka membantu orang lain. Saat kedua pangeran itu sedang membantu para
warga, tiba-tiba ada gerombolan bandit yang datang ke kampung tersebut. Mereka
mengobrak-abrik dan mengambil benda-benda berharga milik warga yang ada
dikampung tersebut. Para warga resah dan kabar itu pun sampai di telinga Raden
Tunggal dan Raden Kaleh. Mereka langsung menuju lokasi kejadian. Saat mereka
telah sampai, mereka melihat ada anak yang ditawan oleh bandit itu.
”HEY! Lepaskan anak itu!” seru Raden Tunggal
”Kau inging anak ini selamat? Serahkan semua barang-barang
berharga kalian semua jika ingin anak ini selamat!” perintah si Bandit.
Raden Tunggal pun maju untuk menyelamatkan anak tersebut. Dia
langsung melawan mereka dengan mudahnya karena dia dulu berlatih bela diri
dengan giat. Hasilnya para bandit itu langsung kabur saat melihat dua pemuda
tersebut mengalahkan mereka dengan mudahnya. Para warga bersorak gembira dan
mengucapkan terima kasih kepada Raden Tunggal. Raden Kaleh sangat senang dan
bangga kepada kakaknya itu.
Di saat yang bersamaan, saat para bandit itu kabur. Mereka
melewati para prajurit kerajaan yang sedang mencari Raden Tunggal dan Raden
Kaleh. Prajurit-prajurit itu menghentikan para bandit itu dan bertanya dari
mana mereka dan kenapa mereka bisa babak belur.Salah seorang bandit menjawab,
“Kami di kalahkan oleh dua
pemuda di kampung itu”
Sambil menunjuk kampung
yang dimaksud. Prajurit itu langsung menuju kampung itu dan mereka melihat ada
dua pemuda yang sedang membantu para warga. Prajurit-prajurit itu tidak
mengenali dua pangeran itu karena saat ini Raden Tunggal dan Raden Kaleh sedang
menyamar. Prajurit-prajurit itupun masuk ke kampung itu dan mereka langsung
menghampiri dua pemuda itu. Raden Tunggal kaget saat ada prajurit dari
kerajaannya telah menemukannya dan adiknya. Dia langsung menyuruh adiknya untuk
ikut bersamanya dan bersembunyi. Mereka bersembunyi di salah satu rumah warga.
Salah satu prajurit masuk ke rumah yang saat itu juga Raden Kaleh
ada di situ. Prajurit itu mengobrak-abrik rumah itu dan berhasil menemukan
Raden Kaleh, dia langsung menyeret Raden Kaleh untuk ikut dengannya. Raden
Tunggal mengetahui itu dan langsung menghentikan prajurit itu. Tiba-tiba saja
pandangan Raden Tunggal menggelap dan dia pingsan karena tengkuknya dipukul
oleh prajurit itu. Raden Kaleh menangis dan dia hendak mendatangi kakaknya
namun dia juga dibuat pingsan oleh prajurit-prajurit kerajaan itu menggunakan
sapu tangan yang diberi ramuan.
Raden Tunggal terbangun dan dia sangat bingung karena dia
tiba-tiba berada di penjara bawah tanah kerajaannya. Dia teringat akan adiknya
yang juga dibawa prajurit kerajaannya. Dia langsung berteriak
“Hey, dimana adikku?!”
Salah satu prajurit yang berjaga di penjara itu menjawab bahwa
adiknya saat ini berada di penjara lain. Raden Tunggal langsung berpikir dan
dia mendapakan sebuah ide. Dia pernah diajari oleh seseorang bagaimana cara
membuat racun ringan dari ketela. Ternyata di sakunya sudah ada racun yang dia
buat saat dia berada di kampung itu. Dia langsung membekap prajurit itu dan
prajurit itu pingsan seketika. Raden Tunggal mengambil kuncinya dan keluar dari
penjara itu.
Raden Kaleh saat itu sudah berada di ambang kematian karena dia
telah disiksa oleh pamannya sendiri. Dia sudah tidak kuat, namun tiba-tiba
kakaknya datang dan langsung membunuh pamannya dari belakang. Raden Kaleh
melihatnya dan dia senang pamannya yang jahat itu telah berhasil dikalahkan. Raden
Tunggal menghampiri adiknya
“A-apa kamu tidak apa-apa dinda?” tanya Raden Tunggal khawatir
“A a aku ti-dak a-pa a-pa
kanda,” jawab Raden Kaleh dengan nada yang sangat lemah.
Raden Tunggal yang mengetahui itu langsung membawa adiknya ke
tabib,namun nyawa adiknya tidak terselamatkan.
Dia menangis dan dia langsung membawa jasad adiknya di sebuah tanah yang
kosong nan gersang dan menguburkannya di situ, karena jasad ayahnya dulu juga
dikurburkan di situ. Dia menancapkan sebuah batang singkong yang dulu pernah
diberikan seorang kakek-kakek. Dia menatapi kedua makam itu dengan rasa yang
sangat sedih, karena dia tidak memiliki keluarga lagi. Ibunya meninggal setelah
melahirkan Raden Kaleh. Tiba-tiba saja
makam adiknya yang ditancapi batang pohon singkong itu tumbuh dan menjadi
sebuah pohon singkong yang sangat besar. Dan pohon itu menyebar hingga menutupi
seluruh tanah kosong nan kering tersebut. Raden Tunggal kaget dengan apa yang
telah terjadi.
Bersamaan dengan kejadian ajaib itu,kerajaan tiba-tiba saja
mengalami kebakaran dan para warga bingung harus ke mana mereka. Raden Tunggal
yang mengetahui itu langsung memerintah rakyatnya untuk pindah di tempat yang
mulanya makam keluarganya, dan kini telah menjadi tempat yang penuh akan pohon
singkong. Raden Tunggal langsung menyuruh warganya untuk tinggal di situ dan
membuat kampung. Raden Tunggal-lah yang menjadi kepala desa.Dia membuat tempat
makam ayah dan adiknya menjadi sebuah tugu peringatan. Dia akhirnya menamai
tempat kosong itu yang saat ini telah menjadi sebuah kampung dengan nama
“Tegaltelan”. Tegal yang berarti kebun dan Telan yang berarti singkong. Dia
melakukan itu untuk menghormati keluarganya dan akhirnya kampung Tegaltelan pun
terbentuk dan menjadi sebuah dusun sampai saat ini.
Menjadi nama Dukuhsari karena diganti oleh pemerintah dan telah
menjadi nama dusun yang resmi.
Sumber : Supriyadi, S. Pd
Namaku
Defi Rahmadani, panggilannya Defi atau kalo mau manggil Dani juga boleh :v. Aku lahir setelah ibu melahirkanku pada
tanggal 16 Desember 2002. NAH! itulah yang mejadi arti namaku yaitu DE =
Desember dan FI = Fitri. Aku tinggal di rumah(iyalah masa di kolong jembatan
-_-) tepatnya di dusun Dukuhsari, Wonokerto, Turi. Hobi aku tuh ndengerin
musik(kata Bu Mamik aku orangnya gk pernah susah,padahal mikir buat biodata aja
susah :v), band favorit aku tuh ONE OK ROCK & BTS hehehe(band asal jepang
sama boyband asal korea), suka nonton anime,gambar,bikin kreasi setelah lihat postingan
@5.min.craft :v, dan hobi yang paling penting......Tidur 😊.
Aku suka ceplos spoiler jadi hati” aja. Aku tuh pengen jadi seorang arsitek , tapi
kadang juga pengen jadi animator :v. Aku orangnya juga suka nyengir dalam
keadaan apapun :v. Dan sekarang aku sekolah di SMA Negeri 1 Pakem.
Ok
guys,itulah sekilas tentang diri saya yang sangat absurd ini :v sekian dan
terima kasih.
ASAL
USUL PENAMAAN DUSUN BULUS
Dahulu kala ada seorang santri bernama Abdullah yang ditugaskan
oleh Guru Besarnya untuk berdakwah di daerah dekat Gunung Merapi. Perjalanan
yang harus ditempuh oleh Abdullah menghabiskan waktu yang cukup panjang.
Abdullah hanya boleh membawa sepotong roti dan sedikit air minum
serta perlengkapan untuk sholat. Jika Abdullah kekurangan makanan maka ia
diwajibkan untuk mendapatkannya dari alam. Selasa Kliwon adalah awal perjalanan
Abdullah. Ia pergi dengan cara berjalan kaki. Ternyata, perjalanan yang harus
dilalui Abdullah tidak semudah yang dibayangkan. Pada malam hari tibalah Abdullah
di hutan antah-berantah. Di dalam hutan ia kesulitan untuk melihat jalan karena
sangat gelap. Akhirnya dia memutuskan untuk membuat pencahayaan dari api.
Dengan pencahayaan yang hanya datang dari bulan, ia mulai mencari
dua batu berukuran sedang serta beberapa ranting pohon untuk bahan membuat api.
Setelah menemukan bahan-bahan yang dibutuhkan, ia mulai membuat api. Abdullah
menggesekan dua batu tersebut sampai keluar percikan api. Akhirnya api itu
menyala, setelah beberapa kali digesekan. Abdullah melanjutkan perjalanan
dengan penerangan dari api yang ia buat tadi. Suasana di dalam hutan sangat
hening dan mengerikan. Hanya ada suara burung hantu dan daun yang bergesekan.
Untuk menghilangkan keheningan Abdullah bersholawat.
Hari menjelang subuh, Abdullah mencari sebuah tempat untuk ibadah
sholat subuh, setelah sholat subuh ia memakan secuil roti yang ia bawa serta
meminum setenggak air, Abdullah harus melakukan hal tersebut agar makanannya
cukup. Abdullah melanjutkan perjalanan setelah selesai sarapan. Ia terus
berjalan sampai menemukan sebuah sungai yang membatasi antara hutan dengan
sebuah desa. Tak jauh dari sebrang sungai terdapat gubuk kecil. Air sungai tidak mengalir begitu
deras, cenderung tenang. Hal itu menandakan bahwa di dalam air ada seekor
buaya.
“Jika saya tidak menyebrangi sungai ini maka saya harus memutar
jalan yang membutuhkan waktu banyak,” ujar Abdullah
Abdullah menutup matanya lalu berkata,”Saya harus menggunakan cara
ini.”
Abdullah melangkahkan kakinya ke belakang . Dia membuka matanya
dan menatap lurus ke arah sungai. Benar,
di dalam sungai itu ada seekor buaya putih yang sedang menatap lapar ke arah Abdullah.
Abdullah mulai menfokuskan pikiran, mengatur napas nya dan bersiap untuk lari…
“Allahuakbar!” seru Abdullah sambil berlari. Saat ia sudah dekat
dengan sungai, ia mengangkat kakinya ke udara. Melompat tinggi, menyebrangi
sungai yang cukup luas. Pada saat itu pula si buaya putih mengangkat moncongnya
dan bersiap untuk memakan Abdullah tetapi gerakan Abdullah lebih cepat dari
buaya putih itu.
“Alhamdullilah, saya selamat,” ucap syukur Abdullah
Abdullah sangat kelelahan, apalagi tadi malam ia memutuskan untuk
tidak tidur. Ada sebuah gubuk kecil dan ia memutuskan untuk mampir sebentar.
“Assalamualaikum, apa ada orang di dalam? Bolehkan saya istirahat
di sini sebentar?” Abdullah
mengetok-ngetok pintu.
“Assalamualaikum,”ucapnya lagi.
Lalu pintu terbuka, keluarlah
seorang nenek tua dengan tongkatnya yang ia pakai untuk berjalan. “Wahai
anak muda darimana kau berasal?” Tanya nenek itu.
“Saya Abdullah berasal dari daerah selatan. Saya ditugaskan oleh
guru saya untuk pergi ke daerah gunung merapi tetapi saat sini saya sangat
lelah. Bolehkah saya istirahat sebentar di sini?” ucap Abdullah.
Nenek itu diam sebentar, lalu pada akhirnya ia mempersilakan Abdullah
masuk.
“Duduklah,” ucap nenek itu sambil menunjuk sebuah kursi yang
terbuat dari bambu yang sudah reyot.
“Terima kasih,” balas Abdullah.
Lalu nenek itu masuk ke dalam ruangan kecil yang diyakini adalah
sebuah dapur.
Abdullah mengecek persediaan makananan yang ternyata tinggal
sedikit. Hanya tersisa secuil roti dan setetes air. Nenek itu keluar dari
ruangan kecil dan membawa segelas air.
“Ini minumlah, kau pasti haus,” nenek itu menyerahkan gelas
tersebut kepada Abdullah. Abdullah
menerima gelas itu, lalu berdoa sebelum meminum itu.
“Bagaimana kau bisa selamat dari buaya yang ada di sungai
itu?”Tanya Nenek.
“Nenek tau jika ada buaya di sungai itu?” Abdullah balik bertanya.
“Buaya itu sudah lama berada di sungai itu. Buaya itu juga yang
sudah membunuh suami dan anak saya,” jelas nenek.
“Maafkan saya,” Abdullah merasa bersalah karena membuat nenek
sedih. “Saya melewati sungai itu dengan cara melompat, saya bergerak lebih
cepat dari buaya itu.”
Nenek tersenyum,”Tidurlah, nenek akan membangunkan mu saat
dzuhur.”
“Terima Kasih,” Abdullah tersenyum.
Abdullah bangun saat waktu dzuhur, ia sholat terlebih dahulu
kemudian pamitan kepada nenek.
“Nenek saya ingin melanjutkan perjalanan dulu. Terima kasih atas
segalanya,” pamit Abdullah
Nenek menyodorkan sebuah kantong, “Ini untuk bekal kamu nanti.
Perjalananmu ke daerah Gunung Merapi masih sekitar 20 km. Satu lagi, tak jauh
dari sini sedang ada keributan antar desa kamu harus berhati-hati.”
“Baik, Nek. Terima kasih. Saya pamit dulu. Assalamualikum,” Abdullah
mencium punggung tangan nenek.
Abdullah melanjutkan perjalanannya. Suasana di daerah itu sangat
sepi dan sejuk tetapi tidak seram seperti di hutan tadi. Abdullah berjalan
sambil bersenandung kecil. Apa yang dikatakan nenek tadi benar. Dua ratus meter
di depan Abdullah sedang ada keributan
antara kelompok yang satu dengan yang lain. Mereka saling menyerang dengan menggunakan
berbagai senjata. Abdullah prihatin melihat itu semua. Ia berjalan mendekati
kerumunan. Kemudian ia membaca ayat Al-Quran dengan suara yang lantang dan merdu.
Semua orang yang tadinya ribut menjadi diam. Kemudian, Abdullah membacakan arti
dari ayat yang ia baca tadi. Semua langsung tertunduk diam.
“Saling memaafkanlah jika kalian tidak ingin di azab oleh Allah,”
ucap Abdullah. Kemudian mereka semua saling memaafkan. Abdullah tersenyum,
setelah mengucapkan salam Abdullah melanjutkan perjalanannya. Waktu Ashar telah
tiba Abdullah segera mencari tempat yang nyaman untuk sholat. Ia memutuskan
untuk sholat di pinggir sungai. Air tidak begitu deras tetapi tidak setenang
sungai sebelumnya. Setelah selesai sholat Abdullah untuk mencuci kakinya di
sungai tersebut. Saat sedang mencuci kakinya, Abdullah melihat segerombolan bulus (kura-kura)yang masih kecil.
Karena tertarik Abdullah menghampiri segerombolan bulus itu. Ada sekitar tiga
puluh anak bulus yang sedang berjalan menuju daratan. Abdullah melihat satu
anak bulus yang kesulitan melewati
batu. Kemudian ia mengambil anak bulus
itu dan membantunya.
“Hati-hati,” ucap Abdullah pada bulus yang ia bantu tadi.
Setelah itu Abdullah melanjutkan perjalanannya. Ia amat terkejut
karena anak bulus yang ia tolong tadi mengikutinya. “Kembalilah ke teman-temanmu,”
ucap Abdullah tetapi anak bulus itu tetap mengikutinya. Abdullah melihat
sekumpulan bulus dewasa, kemudian dia mengangkat anak bulus yang mengikutinya
dan meletakkannya di dekat sekumpulan bulus. Anak bulus itu tetap mengikutinya,
akhirnya Abdullah menyerah dan membiarkan anak bulus itu mengikutinya. Tak jauh
dari sungai, ternyata ada sebuah desa. Terdengar suara ribut-ribut yang berasal
dari sebuah sawung. Abdullah berjalan
menuju sawung itu dan bertanya
mengapa ada keributan di situ.
Salah satu warga menjawab, “kami sedang mencari nama yang tepat
untuk desa ini.”
“Kami semua bingung ingin memberikan nama apa, banyak yang
mengusulkan dan banyak juga yang tidak setuju,” tambah warga yang lain.
Abdullah berpikir sejenak. Setelah melihat anak bulus ia menjadi
punya ide.
“Kalian tahu, di sungai dekat desa ini terdapat bulus yang sangat
banyak?”tanya Abdullah.
“Ya kami tahu, kami sering menangkapnya untuk dijual atau
dipelihara,” balas warga.
“Lantas kenapa desa ini tidak dinamakan desa bulus?” tanya
Abdullah lagi.
Warga yang ada disitu saling berbisik. Menatap satu sama lain
seperti meminta persetujuan.
“Itu adalah nama yang bagus, kami semua tidak terpikir untuk
memberi nama itu,” ucap salah satu warga.
“Ya saya setuju.”
“Saya juga.” Semua warga saling bersautan, mengatakan kalau mereka
setuju.
Dan mulai saat itu desa tersebut resmi diberi nama Desa Bulus atau
Dusun Bulus.
“Assalamualaikum Abdullah. Ini adalah tujuanmu, desa daerah Gunung
Merapi yang sekarang kau beri nama Desa Bulus,” ucap Guru Besar.
“Walaikumsalam Guru Besar,” balas Abdullah sedikit kaget karena
tiba-tiba Guru Besarnya itu muncul.
“Jadi kau adalah Abdullah yang berasal dari daerah Selatan.
Perkenalkan saya adalah ketua desa di sini. Maaf kamu mendapat kesan pertama
yang buruk di sini,” ucap ketua desa yang bernama Sardjo.
“Tidak masalah,” balas Abdullah
Abdullah disambut dengan baik. Semua orang langsung suka
terhadapnya. Hal itu membuatnya mudah dalam berdakwah.
-TAMAT-
Nama saya Fanni Rachma
Salsa, bisa panggil di Fanni atau Salsa.
Saya lahir di Tangerang ,22 Juni 2003, saat ini saya sedang mencari ilmu
di SMAN 1 PAKEM, kelas X MIPA 3. Saya suka menulis tapi tidak bisa menulis atau
lebih tepatnya tidak jago. Cita-cita saya menjadi seorang Dokter, Pengusaha,
dan Penulis. Mempunyai impian untuk membangun Rumah Sakit dan menerbitkan
sebuah buku novel. Sangat suka dengan minuman matcha tea dan tidak suka dengan
coklat. Sangat menyukai bakso J.
Sumber :
Nama : Sarju
Alamat : Dusun Bulus Lor, Candibingangun, Pakem, Sleman,
Yogyakarta.
Asal-Usul Turi
Dahulu kala ada seorang gadis
cantik bernama Ningsih, ia jatuh cinta dengan seorang pedagang yang gagah bernama Tirto. Pada suatu saat karena
mereka saling jatuh cinta Tirto berniat untuk melamar Ningsih, namun ningsih
melarang karena ia tahu bahwa ayahnya tidak akan setuju karena ia seorang
pedagang. Sedangkan ayahnya adalah kepala desa terhormat di daerah itu. Walaupun
sudah diperingatkan oleh Ningsih, Tirto dengan hati yang kuat tetap ingin
melamar Ningsih hari berikutnya.
“
Assalamualaikum” salam Tirto dari luar rumah Ningsih.
“Walaikumsalam, Siapa kamu? “ jawab ayah Ningsih sambil membuka
pintu.
“Saya Tirto ,saya ingin melamar anak bapak “ sahut Tirto
“Apa..,melamar anak saya kamu itu siapa mau melamar anak kepala
desa ini?” jawab ayah Ningsih
“Saya seorang pedagang di pasar. “ jawab Tirto
“ Apa seorang pedagang, sudah pergi saja kamu dari sini.” Bentak
ayah ningsih
Akhirnya Tirto
pergi dari tempat itu dengan perasaan agak kecewa karena ia tidak dihargai
karena cuma seorang pedagang biasa,ia juga menyesal karena tidak mendengarkan
nasehat Ningsih kemarin. Ketika dalam perjalanan ia bertemu dengan Ningsih yang
pulang dari sawah.Ia menceritakan kepada Ningsih bahwa ia sudah bertemu dengan
ayahnya dan seperti dugaan Ningsih bahwa ia ditolak oleh ayahnya.
Suatu hari
ayah Ningsih ingin menjodohkan dia dengan seorang anak orang kaya namanya
Dirjo, pada waktu ia diperkenalkan pada Dirjo, Dirjo sudah jatuh cinta pada
pandangan pertama karena begitu cantiknya Ningsih, tetapi Ningsih tidak suka kepada
Dirjo yang keliahatannya sangat sombong dan ia juga sudah jatuh cinta pada Tirto
dan berjanji kepadanya akan menikahinya. Ayah Ningsih marah karena ia tidak mau
menerima jodoh yang sudah dipilihkan olehnya ,akhirnya Dirjo disuruh pulang
dulu, jika Ningsih sudah mau menerima keputusan ayahnya itu Dirjo akan diperkenankan
melamar Ningsih, namun Ningsih tetap tidak mau menuruti kemauan ayahnya itu.
Karena
NIngsih tetap tidak mau menuruti perintahnya, ia mencarikan jodoh lain yaitu
Tarno seorang pemuda yang sangat tampan dan tubuhnya yang kekar yang bisa
membuat para wanita jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Namun ketika
diperkenalkan kepadanya Ningsih tetap tidak mau .
“ Ningsih, perkenalkan ini Nak Tarno dari desa sebelah” kata
ayahnya Ningsih
“Kenapa sih Pak selalu
menjodohkan aku ,aku kan sukanya sama Tirto” jawab Ningsih
“Siapa itu Tirto?” sela Tarno
“Dia itu cuma pedagang kecil di pasar “ jawab ayahnya Ningsih
“ Oh.. cuma pedagang kecil .Kenapa kamu tidak mau sama aku, aku
kan tampan dan gagah. “ sombong Tarno
“ Iya kamu tampan tapi tak sebaik Tirto” jawab Ningsih sambil
meninggalkan mereka
Karena
Ningsih meninggalkan mereka, ayahnya menyuruh Tarno untuk pulang dulu. Suatu
saat di siang hari Ningsih bertemu dengan Tirto di sawah, ketika sedang
berbicara mengenai hubungan mereka tiba-tiba ayahnya Ningsih itu mendekati
mereka dan marah marah. Ayah Ningsih tidak setuju jika anaknya dekat dengan Tirto.
“ Hei kau jangan berani dekati anakku lagi” bentak ayah Ningsih
Karena juga
tidak suka sifat ayahnya ningsih Tirto akhirnya menjauhi Ningsih hingga ayahnya
memperbolehkan. Suatu ketika ayahnya Ningsih itu ingin memiliki seorang cucu, namun
anaknya, Ningsih belum juga memiliki pasangan,walaupun umurnya sudah mencapai
25 tahun. Akhirnya ia menjodohkan Ningsih dengan pemuda- pemuda yang ada di
desanya itu ,namun Ningsih tetap menolak semua perjodohan itu.
Karena putus
asa ayah Ningsih pergi menemui kakek ningsih dan meminta nasehat, kakek Ningsih
memberi saran supaya ia mengadakan suatu sayembara untuk mendapatkan putrinya
tersebut. Akhirnya ia kembali ke desa dan memberi tahu kepada warga tentang
sayembaranya.
“ Saya mengadakan sayembara bagi
siapapun pemuda yang dapat melewati rintangan yang saya berikan ,akan saya
nikahkan pada anak saya Ningsih “ kata ayahnya ningsih
Mendengar seyembara itu Dirjo, Tarno,
dan Tirto juga mengikuti sayembara tersebut dengan pemuda-pemuda di daerah
sekitar tempat itu. Rintangan pertama yaitu mereka hadapi yaitu mereka harus
menagkap 10 ikan besar di sungai yang deras. Setelah selesai menghadapi
tantangan itu ternyata yang tersisa hanya 10 orang dan diantara mereka ketiga
orang itu juga berhasil melewatinya.
Akhirnya tantangan kedua dimulai
yaitu mereka harus berburu di hutan dan membawa hasil buruan yang besar dalam 3
hari. Tantangan akhirnya dimulai mereka segera berburu masuk ke hutan. Selang
tiga hari mereka keluar namun hanya 8 orang yang berhasil selamat,ketika
dipilih 3 orang yang berhasil dan akan menuju rintangan terakhir setelah
dipilih ternyata Dirjo, Tarno dan Tirto berhasil semua.
Setelah
mendapat 3 peserta terakhir ayah ningsih memberi rintangan terakhir yaitu
mereka harus tidur di atas duri pohon salak yang ditumpuk 3 lapis dan sangat
lebar. Mereka bertiga siap menghadapi tantangan tidur di atas duri selama satu
hari satu malam. Akhirnya mereka memulai tantangan itu. Tetapi pada 8 jam
setelah dimulai ternyata Dirjo sudah merasa kesakitan,setelah itu 8 jam
kemudian Tarno orang gagah itu juga tidak kuat untuk tertusuk duri di seluruh
tubuhnya.
Setelah satu
hari ternyata yang berhasil menyelesaikan tantangan itu adalah Tirto, sehingga
yang akan menikahi Ningsih adalah Tirto. Melihat itu ayahnya Ningsih
mempercayai bahwa Tirto memang benar-benar mencintai Ningsih dengan membuktikan
perjuangan itu.
“Saya menyatakan bahwa yang akan menikahi Ningsih yaitu Tirto”
pernyataan ayah Ningsih
Setelah
pengumuman itu akhirnya Tirto dan Ningsih
menikah. Karena desa itu belum memiliki nama maka kepala desa disitu
menamai desa tersebut dengan nama TURI dari kata “TUru
ning dhuwur eRI” yang artinya tidur
diatas duri.
“ASAL MULA NAMA DUSUN MUDAL”
Alkisah pada zaman dahulu ada suatu
wilayah yang dinamakan Tegalgundul, alasannya karena wilayahnya yang gundul dan
gersang. Selain gundul karena kurangnya tanaman di wilayah tersebut, ditambah
lagi dengan wilayah tersebut yang sangat gersang.
Wilayah tersebut dipimpin oleh seorang
lelaki yang bernama Joko Susilo. Joko Susilo sendiri adalah seorang anak
tunggal dari keluarga petani miskin yang hidup sebatang kara. Namun, sudah lama
orang tua Joko Susilo meninggal karena sakit keras. Joko Susilo bisa dipilih
menjadi seorang pemimpin wilayah tersebut karena dia paling bijaksana diantara warga
di wilayah tersebut.
Karena wilayah tersebut yang gersang,
warga tidak bisa mengambil hasil dari pertanian maupun perkebunan. Oleh karena
itu, warga di wilayah tersebut mengandalkan hasil peternakan atau perdagangan
untuk bertahan hidup. Karena sudah lama wilayah tersebut tidak diguyur hujan,
wilayah tersebut menjadi semakin gersang. Tidak hanya itu, wilayah tersebut
juga sudah lama tidak diguyur hujan.
Salah satu warga yang bernama Mardi,
merasa sangat sulit untuk minum karena dirinya yang sangat kekurangan air.
Akhirnya Mardi mengajak para warga lain untuk melakukan protes kepada Joko
Susilo.
Pada suatu hari, warga memutuskan untuk
melakukan protes. Setelah sampai di rumah Joko Susilo, mereka kemudian
memanggil-manggil meneriakkan nama Joko Susilo. Karena merasa ada yang berisik
di luar rumahnya, Joko Susilo bergegas untuk keluar. Dia merasa terkejut karena
ada banyak warga di sekitar rumahnya.
“Hei Joko, kedatangan kita kemari untuk
meminta pertanggungjawabanmu atas masalah kekuarangan air yang terjadi di
wilayah ini karena kau pemimpinnya.” Kata Mardi pemimpin protes tersebut.
“Sudah sudah tenang. Mardi! Kau tak bisa langsung menghakimiku tentang masalah
ini, karena ini bukan sepenuhnya salahku. Ini sudah kehendak dari Yang Maha
Kuasa.” Jawab Joko Susilo dengan tenang.
Para warga lainnya mulai berbisik-bisik
dengan jawaban Joko Susilo. Salah satu warga kemudian menyahut, “Memang benar
kata Joko Mar, ini semua jelas bukan salah dia. Dia tidak bisa kan membuat air.
Semua itu benar atas kehendak Tuhan. Kita hanya bisa berdoa agar Dia menurunkan
hujan untuk kita.” Warga tersebut menjawab dengan tatapan mengintimidasinya
yang ditujukan untuk Mardi.
Namun Mardi tidak mau kalah, dia tetap
berdebat mempertahankan pendapatnya. Akhirnya Joko Susilo membuat sebuah
keputusan yang sangat menggembirakan untuk para warganya. “Kita semua tidak
bisa menyalahkan siapapun atas masalah ini. Aku memutuskan agar kita semua
menggali di tempat yang sudah diprediksi sebelumnya akan adanya sumber air
untuk menyelesaikan masalah ini. Hanya ini satu-satunya cara yang bisa aku
usahakan untuk saat ini dan semoga saja berhasil.”
Para warga bersorak ria mendengar jawaban itu.
Kemudian, mereka membagi tugas. Keesokan harinya, mereka berpencar dan menggali
di tempat yang sudah ditentukan sebelumnya. Joko Susilo pun turut membantu
dalam penggalian tersebut. Dia terlihat senang karena warganya yang mau
bekerjasama untuk menyelesaikan suatu masalah. Tetapi, setelah memakan waktu
yang cukup lama, sumber air belum juga ditemukan. Joko Susilo pun memerintahkan
warga untuk istirahat terlebih dahulu.
“Bagaimana ini, sudah cukup lama kita
menggali tapi belum ada juga sumber air. Bagaimana kita akan hidup jika tidak
air?!” Mardi berbicara dengan nada keputusasaan. “Tenanglah Mar, kita ini baru
beberapa jam menggali kau sudah menyerah. Bagaimana kau mau maju jika hidupmu
mudah putus asa!” Warga lain membalas ucapan Mardi dengan nada yang keras.
“Sudah-sudah, betul kata dia Mar, kita ini baru beberapa jam menggali. Tidak
mungkinkan langsung menemukan sumber air. Aneh-aneh saja kau ini.” Kata Joko
Susilo melerai keduanya. Setelah cukup beristirahat, mereka akhirnya
melanjutkan menggali untuk mencari sumber air.
Tepat di bagian selatan, beberapa warga
kaget sekaligus terharu karena berhasil menemukan sumber air. Walaupun sumber
itu tidak terlalu bersar, tetapi mereka sudah kelihatan sangat senang. Kemudian
mereka memanggil warga lainnya untuk mendekat dan juga Joko Susilo. Melihat hal
itu para warga merasa sangat senang. Mereka ramai-ramai memperbesar lubang itu
agar air yang keluar semakin banyak.
Di bagian selatan agak ke barat dan bagian
barat, para warga juga berhasil menemukan sumber air. Tetapi sumber yang
menghasilkan air paling besar adalah sumber yang berada di sebelah
selatan-barat. Jadi, mereka berhasil menemukan 3 sumber air di wilayah
tersebut.
Semua warga menyambut gembira akan adanya
3 sumber air tersebut. Mereka semua bersyukur kepada Tuhan atas berkat yang
diberikan kepada mereka lewat sumber air ini. Joko Susilo yang pada kala itu
sebagai pemimpin wilayah Tegalgundul tersebut mengadakan kendhuri untuk
memperingati adanya sumber air ini.
“Sebagai ungkapan rasa syukur kita
terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa atas adanya sumber air ini, kita disini
mengadakan kendhuri. Semoga saja sumber air itu bisa bermanfaat banyak bagi
kita. Karena sumber air membuat kebahagian terpancar dari wajah kita semua,
maka aku sepakat memberi nama terhadap ketiga sumber air tersebut. Sumber air
yang pertama dekat dengan tanaman awar-awar yang besar, maka aku namai sumber
ini menjadi Kali Awar-Awar. Sumber air yang kedua aku namai Kali Sendang. Dan
sumber ketiga dekat dengan pohon beringin yang besar, maka aku namai sumber ini
menjadi Kali Ringin. Dan untuk wilayah ini yang semula Tegalgundul, karena
sekarang sudah tidak gundul atau gersang lagi, maka aku ganti namanya menjadi
Desa Medal.”
-TAMAT-
Begitulah sejarah penamaan Dusun Medal.
Karena sulitnya menyebut kata medal, maka kemudian secara tidak sengaja nama
dusun ini menjadi Dusun Mudal. Ketiga sumber air tadi juga masih ada di Dusun
Mudal, tetapi untuk tanaman awar-awar dan pohon beringin nya sudah tidak ada
lagi. Saat ini juga, kali atau sungai tersebut sudah diperbaiki atau direka
ulang dengan dibangun tembok-tembok beton. Untuk kali Ringin, masyarakat
sekarang menyebutnya dengan sebutan Kali Mbah Sarwo karena letak kali tersebut
berada dekat di rumah Mbah Sarwo. Dan untuk kali Sendang, sumber airnya atau
umbul sudah tidak sebesar dulu karena para warga sekarang percaya, umbul
tersebut sudah diperkecil oleh orang pintar karena jika terlalu besar bisa
membahayakan warga disekitarnya. Ketiga sungai tersebut juga masih digunakan
untuk mandi dan mencuci baju.
Namaku
Gaulistani Nurafitri, biasa dipanggil gaul atau lista. Lahir di Sleman, 6
September 2003. Tinggal di salah satu dusun paling timur di Kecamatan
Cangkringan yaitu Dusun Mudal. Saat ini aku sedang duduk di bangku Sekolah
Menengah Atas Negeri 1 Pakem, tepatnya kelas X MIPA 3. Asal kalian tahu, aku
adalah seorang kpopers atau penyuka music genre korea selatan beserta boygrup
dan budaya- budayanya. Jika kalian ingin tahu lebih banyak tentang aku, bisa
follow akun instragam @gaulistanf__ dan akun twitter @gaulistanf. Terimakasih:v
“ASAL-USUL NAMA
KALIURANG”
Pada zaman dahulu di Daerah Istimewa
Yogyakarta hiduplah seorang Putra Raja
dari Keraton Mataram yang bernama Raden Mas Aryoseno. Beliau adalah sosok yang
sangat religius. Sejak kecil, Beliau sudah bisa membaca kitab suci dengan
fasih. Dari waktu ke waktu, ia semakin bertumbuh menjadi remaja idaman para
wanita kala itu. Menginjak usia remaja sifat religiusnya tidak hilang, justru
semakin bertambah. Ia selalu sholat malam, sholat duha, ibadah 5 waktu tidak
lupa, bersedekah, dan tak lupa berbakti kepada kedua orangtunnya. Kedua
orangtuanya pun sangat kagum melihat sifat Raden Mas Aryoseno yang sangat baik,
mereka bersyukur mempunyai anak yang sangat soleh dan taat seperti Raden Mas
Aryoseno.
Suatu ketika Raden Mas Aryoseno [hh1] bertanya keapda ayahnya
“Wahai Ayahku, bagaimana caranya ayah bia memiliki banyak senjata untuk
melindungi rumah dan warga-warga disini.” Ayah Raden Mas Aryoseno menjawab “Wahai
putraku, jika kau ingin mendapat senjata-sejata seperti ayah kau harus
melakukan perjalanan panjang dan diselingi dengan bertapa.” Raden Mas Aryoseno
pun berpikir bahwa ia harus bisa seperti ayahnya. “Ayah, aku ingin seperti
ayah.” Kata Raden Mas Aryoseno kepada ayahnya. “Raden Mas Aryoseno, tapi kamu
kan belum cukup umur ,Nak, untuk melakukan hal seperti yang Ayah lakukan”Jawab
ayah dengan sabar. “Ayah, aku pasti bisa percaya Ayah, percayaa!” seru Raden
Mas Aryoseno meyakinkan ayahnya. Ayah sejenak terdiam, ia berpikir sejenak. Setelah
berpikir lama, akhirnya ayah mengijinkan Raden Mas Aryoseno untuk pergi bertapa
mencari senjata. Ayah memberi saran kepada Raden Mas Aryoseno agar berangkat
pada hari kamis atau malam jumat karena saat malam jumat diyakini bahwa senjata
akan bisa didapat dengan mudah. Raden
Mas Aryoseno pun bersiap-siap dengan membawa peralatan lengkap, sedangkan
ibunya menyapkan bekal untuk makanya,ayah Raden Mas Aryoseno menyiapkan senjata-senjata
yang harus dibawa Raden Mas Aryoseno dan mana yang harus dipakai saat terancam bahaya tertentu. Sebenarnya ibu Raden Mas Aryoseno masih
khawatir karena usia Raden Mas Aryoseno yang masih belia. Namun ayah Raden Mas
Aryoseno meyakinkan ibu Raden Mas Aryoseno, bahwa anak semata wayagnya pasti
bisa melakukan hal itu. Malam hari pun tiba ayah Raden Mas Aryoseno mulai menceritakan
tentang pengalamannya bertapa menjelajah kesan kemari bertapa mencari senjata. Raden Mas Aryoseno
pun semangat menyimaknya, agar dia tak keliru saat ia melakukan perjalanannya
nanti. Lalu Ayah Raden Mas Aryoseno memberi wasiat kepada Raden Mas Aryoseno
agar dia berjalan menyisir wilayah utara Kota Yogyakarta. Lalu Raden Mas
Aryoseno bertanya, “Ada apa ayah di sisi utara kota yogyakarta?” Tanya Raden
Mas Aryoseno dengan polos. “Disana terdapat sungai-sungai nak dan banyak
senjata disana kamu harus mendapatkan salah satunya.” Jawab ayah Raden Mas
Aryoseno.
Suara ayam berkokok terdengar,
menandakan hari sudah berganti. Raden
Mas Aryoseno bergegas melaksanakan ibadah, lalu ia bersiap siap untuk melakukan
perjalanan panjangnya. Matahari sudah mulai tampak dan menunjukkan sinarnya
secara perlahan. Raden Mas Aryoseno mulai pamit kepada ayah dan ibunya, “Ayah,
Ibu, Raden bernagkat dulu, doakan yang terbaik untuk Raden ,ya” Ucap Raden Mas
Aryoseno sambil mencium tangan kedua orangtuannya. Ayahnya berkata, “hati-hati
dijalan nak, selalu ingat pesan ayah dan jangan mudah panik jika ada sesuatu”
pesan ayah kepada Raden Mas Aryoseno. “Jaga kondisi ya le.” Tambah ibu Raden
Mas Aryoseno. Setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya Raden Mas Aryoseno
pun beranjak meninggalkan rumah, untuk mencari senjata seperti yang ayah Raden
Mas Aryoseno lakukan.
Ia berjalan menuju ke utara, mengikuti alat
yang diberikan oleh ayahnya semalam. Ia terus berjalan, sesekali ia berhenti
untuk beristirahat sejenak. Setelah dirasa cukup Raden Mas Aryoseno melanjutkan
perjalananya menuju ke arah utara, menuju ke kaki Gunung Merapi. Matahari sudah
di atas kepala Raden Mas Aryoseno, ia berusaha mencari sumber sungai untuk
diminumnnya karena cuaca saat itu sangatlah panas sehingga membuat Raden Mas
Aryoseno harus sering berhenti untuk beristirahat. Ia tak kenal menyerah seperti yang ayah
katakan kepada Raden Mas Aryoseno. Jika kita ingin berhasil, maka kita tidak
boleh menyerah dan putus asa dengan mudah. Berkat kata-kata ayah itu Raden Mas
Aryosenopn terus bersemangat untuk bertapa didaerah utara Kota Yogyakarta. Ia
terus berjalan ke arah utara sambil berdoa ditengah perjalanannya, tak henti
hetinya ia berdoa agar diberi keselamatan.
Lama Raden Mas Aryoseno berjalan, akhirnya sampai juga didaerah utara
yang diceritakan oleh ayahnya semalam. Daerah di Lereng Gunung Merapi yang
terdapat banyak sungai. Ia menaruh semua barang bawaannya di tepian sungai, ia
membuat api dengan menggesekan dua batu untuk menghangatkan tubuhnya. Malam Jumat,
adalah malam yang diyakini sangat tepat
untuk bertapa dan mendapat senjata. Raden Mas Aryosenopun mulai bertapa di
pinggir sungai. Di sebuah batu yang besar dan tampak berpenghuni. Ia melantukan
ayat ayat yang diyakini akan membuat senjata itu keluar dari alamnnya. Lama ia
bertapa, namun senjata belum juga didapatkannya. Ia tetap sabar menunggu sampai
dia dapat.
Pagi hari menjelang fajar muncul suatu senjatapun keluar dari batu itu.
Hati Raden Mas Aryosenopun sangat senang dan dia sangat bersyukur karena
ayahnya pasti akan bangga dengan dirinya. Ia mengambil senjata itu, lalu ia
simpan di tas yang sengaja dibawakan ayahnya untuk menaruh senjata yang ia
dapat. Ia berniat untuk rehat sejenak di pagi hari, untuk mengembalikan
energinya agar siap untuk berjalan kembali.
Saat Raden Mas Aryoseno hampir
tertidur, tiba tiba ia mendengar suara tangisan. Tangisan itu seperti sura
tangisan wanita. Raden Mas Aryosenopun terbangun. Ia bergegas menyusuri sungai
untuk mencari sumber dari suara tangisan itu. Tak disangka, teryata disana ada
seorang putri yang sedang mencuci selendangnya, namun tak sengaja ia tergigit
oleh udang disungai itu. Ia bertaya kepada putri yang sednag mencuci itu. “Ada
apa wahai putri?” tanya Raden Mas Aryoseno sambil menundukkan badannya.”Tolong
akuuuu naak, aku tergigit udanggg” jawab putri itu sambil merengek kesakitan. Raden
Mas Aryoseno lalu berusaha menolong putri itu dengan sekuat tenagannya untuk
melepaskan seekor udang yang mengigit kaki sang Putri. Ia tidak tahu apa yang
bisa membuat udang bisa melepaskan gigitannya karena tidak mungkin jika ia
langsung menarik udang itu, pasti putri akan keasakitan. Cara demi cara ia
lakukan, ternyata yang membuat udang melepaskan gigitannya adalah air dari
sungai itu sendri dengan tidak segaja ia mencipratkan air ke kaki putri dan
secara tiba tiba udang itu melepaskan gigitannya dair kaki putri itu. Raden Mas
Aryosenopun bersumpah di sungai itu juga, “Aku bersumpah menjadikan daerah ini
bernama Kaliurang” Raden Mas Aryoseno menamakan daerah tersebut karena sejak
semalam ia bertapa ia melihat banyak udang udang yag berkeliaran di sungai
sungai sekitar ia bertapa dan paginya ada putri yang menjadim korban gigitan
banyaknya udang disungai tersebut. Jadi ia bersumpah bahwa daerah itu menjadi
bernama “KALIURANG”.
Assalamualaikum
Hai, nama saya
Hafizh Salma Ramadhan. Saya lahir pada tanggal 3 Desember tahun 2002. Saya
sekrang duduk dibangku kelas XMIPA 3, tepatnya dabsen 16, di SMA NEGERI 1 PAKEM.
Hobi saya sebenernya bukan menulis, cuman saya sedikit suka membaca-baca dan
suka bahasa-bahasa yang indah. Jadi saya belajar untuk menulis dikit-dikit.
Agar bisa menulis yang keren- keren. Saya berasal dari Kaliurang, jadi saya
ingin mengangkat daerah saya sendiri karena saya bangga terhadap daerah saya
yaitu Kaliurang yang sealu sejukk dan dingin. Sekian dari saya terimakasih.
HIKAYAT
DESA GARONGAN
Dahulu kala di suatu desa hiduplah seorang laki-laki yang gagah
perkasa bernama Jaka. Dia tinggal di situ bersama keluarganya, bapak dan ibunya
termasuk keluarga yang miskin, Dia memiliki dua orang kakak perempuan yang
bernama Siti dan Juminten. Kedua kakaknya sangat sayang pada Jaka, mereka
sangat lemah lembut tidak hanya dengan Jaka saja tetapi juga dengan warga di
sekitar mereka. Bapak mereka adalah
seorang yang memiliki kesaktian dan tidak memiliki agama sedangkan Ibu mereka
adalah seorang dukun beranak yang membantu warga sekitar yang akan melahirkan, bayarnya
pun tidak seberapa, tetapi Ibu Jaka orangnya sangat baik yang menurunkan sifat
baiknya itu kepada kedua gadisnya. Dibalik sifat kedua kakak Jaka yang terkenal
sangat baik sangatlah berbeda dengan sifat yang dimiliki oleh Jaka, dia orangnya
sama seperti bapaknya yang sangat keras dan ingin semaunya sendiri.
Sampai di suatu hari ia melihat seekor ayam yang berlarian di
depan rumah Jaka, ia terus memperhatikan ayam itu, ia berpikir untuk
mengambilnya, menyembelihnya, dan memakannya karena ia tahu keluarganya
pas-pasan dan jarang untuk makan secuil ayam. Akhirnya ia melakukan hal itu, ia
dengan lahap memakan ayam itu tanpa memikirkan akibatnya jika yang punya ayam
yang ia makan itu tau kalau ayamnya sudah mati di makan oleh Jaka. Orang tua
dan kakak Jaka tidak tahu jika jaka telah mencuri ayam itu, karena Jaka mengaku
kepada keluaganya bahwa ayam itu diberi oleh tetangga.
Di lain hari ia melihat lagi seekor anjing di jalan, Ia ingin
melakukannya sama seperti yang dilakukan pada ayam kemarin, akhirnya ia melakukannya lagi karena
tidak ada yang mengetahuinya.
Setelah makan bersama di malam hari, Bapak Jaka ingin bicara
padanya, takut pembicaraannya di dengar oleh yang lain Bapak Jaka langsung
menarik tangan Jaka untuk masuk ke kamar Jaka. Dikamar Bapak Jaka yang memulai
pembicaraan, ternyata Bapak Jaka tahu perbuatan Jaka selama ini karena Bapak Jaka
memiliki kesaktian yang sangat luar bisa, Jaka hanya bisa terdiam saat
mendengar bahwa bapaknya tahu soal tindakan pencuriannya. Jaka bertanya kepada
bapaknya bagaimana bisa bapaknya bisa tahu apa yang Jaka lakukan dan bapaknya
bahwa karena kesaktiannyalah bapaknya dapat mengetahui apa yang Jaka lakukan,
bapaknya dapat kesaktiannya itu dari kakek Jaka yang sekarang sudah meninggal
dan hanya kakek Jakalah yang dapat memberikan kesaktian itu, tetapi Jaka juga
ingin memiliki kesaktian tersebut. Bapak Jaka belum tahu caranya bagaimana agar
Jaka anak lelaki satu-satunya itu dapat memiliki kesaktian sama seperti yang
dimiliki oleh dirinya.
Akhirnya Bapak Jaka tahu setelah berapa lama caranya agar Jaka bisa
memiliki kesaktian seperti dirinya, yaitu dengan cara Ia harus membunuh orang
sebayak-banyaknya agar dapat memiliki kesaktian dan dapat terus bertambah
kesaktian itu. Akhirnya demi memiliki kesaktian itu Jaka bersedia melakukan hal
itu.
Suatu pagi Jaka melihat anak kecil yang sedang berjalan sendiri,
Jaka menculik anak itu dan langsung membunuhnya tanpa berpikir panjang lagi, ia
membuang mayat itu di sebuah sungai(di bawah jembatan Pules) yang agak jauh
dari tempat tinggal Jaka. Sesampainya di desa semua orang sudah meributkan
tentang hilangnya anak itu, Jaka pura-pura tidak tahu orang-orang pun tidak
curiga pada Jaka.
Karena semua perbuatan yang dilakukan Jaka tidak pernah
mendatangkan kecurigaan kepadanya, maka Jaka semakin berani melakukan kejahatan
lain. Dia kerap mengganggu panen tetangga –tetangganya, diantaranya memanen
padi di sawah tetangga, memetik jagung, memetik sayuran, dan lain sebagainya. Semakin
hari Jaka semakin berani melakukan kejahatan.
Sampai pada suatu hari Jaka berpikir untuk mendapatkan hasil yang
lebih banyak, karena ia tidak mau hanya mendapatkan hasil yang tidak bisa untuk
bersenang-senang bersama dengan teman-temannya.Timbul alam pikirannya untuk
merampok yang pada saat itu dikenal dengan garong.
Pada waktu itu seseorang yang berani menjadi garong adalah orang
yang terkenal sakti dan tidak kenal takut dengan apa pun, maka sejak saat itu
Jaka berguru pada seorang guru yang mempunyai ilmu kesaktian yang sangat
tinggi. Jaka menginginkan dirinya tidak terkalahkan oleh apa pun dan oleh siapa
pun. Dia tekun berguru dengan gurunya, apa pun yang diperintahkan gurunya
selalu dilaksanakannya. Sampai akhirnya gurunya mengatakan bahwa dia suah cukup
banyak menapatkan ilmu dari Sang Guru.
Karena hati Jaka yang sudah dipenuhi keinginan jahat, maka setelah
Jaka merasa dirinya menjadi orang yang sakti, dia semakin berani melakukan
kejahatan. Dia masuk ke rumah orang lain, dan berusaha mengambil barang-barang
milik tetangganya. Perbuatan ini tidak pernah diketahui oleh tentangganya, sehingga
para tetangga tidak pernah mencurigai bahwa Jaka adalah pelakunya. Semakin
sombonglah Jaka, maka ia menginginkan hasil yang lebih banyak. Maka dia merencanakan
sesuatu, dia akhirnya berencana merampas harta orang yang melintas di jalan.
Dia selalu bersembunyi di pinggir jalan, tempat yang gelap yang
selalu dia pilih sebelum dia melakukan aksinya. Semakin lama semakin terkenal
keganasan Jaka, dia menjadi semakin sombong karena merasa tidak ada yang berani
dengannya. Hasil yang dia dapatkan selama ini dia gunakan untuk bersenang-senang
bersama dengan teman-teman dan perempuan.
Sampailah hari yang naas bagi Jaka, dia kembali beraksi di jalan, dia
tidak pernah berpikir bahwa ada orang lain yang lebih sakti dari dirinya. Dia
berusaha merampas seseorang yang melintas di jalan, tapi naas bagi Jaka, ternyata
orang itu adalah kakak seperguruan Jaka. Ilmu dan kemampuan orang tersebut ternyata
lebih tinggi dari Jaka, sehingga Jaka sangat kewalahan, karena korban
memberikan perlawanan yang sangat hebat, Semakin lama Jaka menjadi semakin
terdesak, sampai akhirnya dia tidak bisa melakukan perlawanan lagi. Saat itu
dia baru menyadari bahwa yang dia lawan adalah kakak seperguruannya yang
menjadi seorang pedagang yang cukup berhasil, sehingga menjadi seorang kaya
raya.
Sampai akhirnya banyak orang berkumpul dan menyaksikan peristiwa
itu, mereka ikut meringkus Jaka. Masyarakat sangat geram mengetahui bahwa orang
yang membuat keonaran selama ini ternyata adalah Jaka karena setiap kali mereka
mencurigai Jaka,mereka tidak bisa membuktikan kecurigaan mereka. Sampai
akhirnya Jaka diarak menuju lapangan sebagai pesakitan.Para warga bersepakat
untuk menghukum gantung Jaka.
Maka sejak saat itu desa itu disebut Garongan karena Jaka Garong
berasal dari desa tersebut dan setelah itu mayatnya dia dikubur di desa itu
juga.
Nama
narasumber : Elisabeth Rina U, S.farm,Apt.
Alamat narasumber : Daren Lor, Donokerto, Turi, Sleman
Haaiiiiii, namaku Imelda Maharani Eka Timur, sering dipanggil imel
tapi temen-temenku sering melesetkan namaku menjadi Eka Barat. Aku lahir di
Sleman, 11 Mei 2003, aku memiliki zodiak taurus. Alamatku di Daren Lor, Donokrto, Turi, Sleman
rumahku paling utara dari desa itu. Aku sekarang bersekolah di SMA Negeri 1
Pakem kelas X MIPA 3 absen 17.
ASAL
USUL DUSUN JETISBARAN
Jetisbaran terletak di daerah
Sleman yang tergolong wilayah Lereng Merapi. Tempat yang sejuk, hijau dengan
tanaman berbagai pertanian seperti polowijo, padi, sayuran membuat tempat ini
serasa subur dan sejuk dipandang mata. Jauh dari kebisingan kota, namun tidak
terlalu sepi karena perkembangan wilayah kampung yang dihuni oleh
pendatang-pendatang yang selalu menggairahkan suasana tempat ini. Jetisbaran
tepatnya di Kelurahan Sardonoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, 10 KM
dari arah Kota Yogyakarta ke utara. Kampung ini sedikit berbeda karena sejarah
telah mencatat nama ini menjadi sedikit dikenal oleh beberapa kalangan karena
menyimpan cerita yang sangat menarik dan menjadi kenangan yang tidak
terlupakan.
Cerita Jetisbaran berawal dari
Perang Paragrek yang terjadi sekitar tahun 1401 sampai tahun 1406. Perang
Paragrek yaitu perang saudara yang terjadi dalam lingkungan Keraton Majapahit.
Perang saudara “tunggal sedulur” yang memperebutkan kekuasaan untuk menduduki
kekuasaan tertinggi di Keraton Majapahit. Sebelum perang itu terjadi, Kerajaan
Majapahit masih dalam pimpinan Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajahmada. Namun
tiba-tiba Raja Hayam Wuruk terkena penyakit yang sangat parah, yang membuat
dirinya tidak bisa memimpin Kerajaan Majapahit dengan baik. Walaupun demikian,
Raja Hayam Wuruk menyatakan masih sanggup memimpin kerajaannya. Tak lama
kemudian, penyakit yang menjangkit tubuh Raja Hayam Wuruk semakin menjadi-jadi.
Raja Hayam Wuruk pun menghembuskan nafas terakhirnya. Sebelum wafat beliau
berpesan agar Patih Gajahmada menggantikan posisinya sebagai pemimpin Kerajaan
Majapahit.
Kerajaan Majapahit berkembang
cukup pesat berada dibawah pimpinan Patih Gajahmada. Wilayah kekuasaannya
semakin meluas setiap harinya. Dan pada suatu hari Patih Gajahmada bertemu
dengan seorang putri yang sangat ayu. Dia bernama Putri Sekar Ayu.
Lama-kelamaan Patih Gajahmada jatuh cinta kepada Putri Sekar Ayu. Mereka pun
memutuskan untuk segera menikah. Beberapa bulan setelah menikah, Putri Sekar Ayu
merasa sangat mual, tetapi dia merasa sedang tidak sakit. Rupanya Putri Sekar
Ayu sedang mengandung. Patih Gajahmada dan Putri Sekar Ayu merasa sangat senang
karena akhirnya mereka diberi momongan juga. Setelah menunggu beberapa bulan,
hari persalinan pun tiba. Ternyata selama ini Putri mengandung anak kembar yang
samasama gagah dan tampan. Kedua putra mereka diberi nama Wirabumi dan Wikramawardhana.
Namun tidak lama setelah kelahiran kedua putranya, Patih Gajahmada terserang
penyakit yang sama dengan penyakit yang menyerang Alm. Raja Hayam Wuruk. Patih
Gajahmada pun wafat meninggalkan seorang istri dan dua orang anak laki-lakinya
yang saat itu masih menginjak usia 6 bulan.
Hari demi hari berlalu. Bulan
demi bulan terlewati. Dan tahun demi tahun sudah ditempuh oleh Pangeran
Wirabumi dan Pangeran Wikramawardhana. Beberapa tahun ini Kerajaan Majapahit
tidak memiliki seorang raja, sehingga kerajaan kondisinya sangat parah. Mereka
berdua sama-sama ingin memimpin kerajaan itu. Namun mereka berdua sama-sama tidak
ingin mengalah. Sampai pada suatu hari Pangeran Wirabumi sedang duduk di
pinggir sungai, tiba-tiba terbesit sebuah rencana jahat pada pikiran Pangeran
Wirabumi. Dia berencana untuk membunuh saudara kembarnya sendiri, agar dia bisa
diangkat menjadi pemimpin Kerajaan Majapahit. Namun ternyata Pangeran
Wikramawardhana mengetahui niat buruk saudara kembarnya. Dia pun marah kepada
Pangeran Wirabumi. Berhari-hari mereka saling manjauh dan saling membenci.
Setelah sekian lama, kebencian di hati mereka tak kunjung padam. Bahkan mereka
malah semakin membenci, seakan tak ingat bahwa mereka adalah saudara kembar.
Mereka berdua akhirnya terbawa oleh emosi dan memutuskan untuk berperang.
Barang siapa berhasil saling membunuh satu sama lain, maka dialah yang berhak menjadi
pemimpin Kerajaan Majapahit menggantikan posisi almarhum ayahnya yang sudah
lama mengalami kekosongan.
Pada suatu malam, Pangeran
Wikramawardhana sedang sibuk mondar-mandir di dekat jendela kamarnya. Dia
terlihat sedang berpikir keras untuk membuat strategi perang melawan saudaranya
sendiri. Dia bingung harus menggunakan strategi yang seperti apa. Dengan
pikiran yang kacau, akhirnya dia berhasil merencanakan sebuah strategi yang
entah sudah terstruktur atau belum.
Di tempat lain, Pangeran
Wirabumi juga tengah merencanakan sebuah rencana yang rupanya sudah
dipikirkannya sejak beberapa hari yang lalu. Rencana yang dibuat oleh Pangeran
Wirabumi kelihatannya sudah sangat matang. Dia juga sudah menyiapkan pasukan
untuk melawan pasukan milik suadara kembarnya. Padahal saudara kembarnya malah
belum menyiapkan pasukan sama sekali.
Keesokan harinya Pangeran
Wirabumi bangun lebih cepat dari biasanya. Dia berniat untuk melatih pasukan
perangnya. Pukul 6 pagi pasukan sudah berbaris dengan rapi di lapangan sebelah
barat Keraton Majapahit. Diam-diam Pangeran Wikramawardhana mengintip latihan
perang tersebut. Saat itu juga Pangeran Wikramawardhana mengumpulkan semua
pasukannya. Mereka dipaksa untuk segera berlatih mempersiapkan perang esok
hari. Mereka merasa tersiksa dengan cara Pangeran Wikramawardhana dalam melatih
mereka. Mereka pun kelelahan dan banyak diantara mereka yang sakit. Sedangkan
perang tidak bisa diundur lagi.
Hari yang dinanti pun tiba.
Setelah adzan subuh, kedua pasukan telah bersiap untuk berperang. Mereka sudah
berbaris menyiapkan senjata dan mental untukberperang. Walaupun mereka
kelelahan, mereka tetap semangat untuk berperang. Perang dimulai pukul 6 pagi pada
hari pertama tahun 1401. Ribuan pasukan saling menyerang dan saling membunuh
satu sama lain. Ratusan korban berjatuhan. Namun perang tetap berlanjut sangat
lama, karena kedua pasukan samasama kuat. Warga yang tinggal di dekat Keraton
Majapahit banyak yang menjadi korban. Padahal mereka sama sekali tidak
mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Mereka sangat bingung dengan keadaan
yang sangat kacau. Banyak diantara mereka yang kehilangan anggota keluarganya.
Banyak pula anak-anak yang kehilangan orang tuanya, dan akhirnya terlantar
begitu saja. Perang tersebut membawa kehancuran dimana-mana. Warga di daerah
tersebut banyak yang meninggalkan tempat tinggal mereka untuk mencari tempat
yang lebih aman. Ada yang berlari ke arah timur hingga ke Madura, pantai utara
sampai Demak, Kudus. Ada juga yang menentukan nasib untuk ke arah barat lereng
Merapi dan sekitarnya. Mencari tempat yang lebih tentram dan damai untuk
melanjutkan hidup mereka.
Salah satu sentana yang masih
bagian dari trah darah biru, yaitu putra sentana yang bernama Gusti Kanjeng
Pangeran Arya (KGPA) Tjempo dengan seorang abdi yang selalu setia yang bernama
Ki Joko Umbaran, salah satu abdi yang pandai dalam ulah kanuragan juga terkenal
dalam peperangan selalu mengikuti kemana Tjempo pergi. Dengan menaiki kuda
kesayangan yaitu Ki Cindheamoh, mereka pergi dari Keraton Majapahit untuk mencari
ketenangan hati, lepas dari kebisingan dan keonaran lingkungan keraton, serta
melepaskan diri dari perang saudara yang susah untuk dikendalikan.
Tjempo berusaha mencari
ketentraman hati, perasaan, dan memilih jalan hidup sebagai seorang rakyat
jelata, menyatu dalam masyarakat, menyamar menjadi juru dakwah dari desa ke
desa, kampung ke kampung melalui jalan setapak, hutan belantara hingga
persawahan. Kemana pun Tjempo pergi, ia selalu diikuti oleh abdi yang
betul-betul tulus serta penuh dengan keluhuran budinya. Selain ingin mencari
ketentraman hidup, mereka berdua ingin lebih mendekatkan diri kepada Zat yang
paling perkasa di muka bumi ini untuk mencari kedamaian hati dan perasaan untuk
selalu bersujud kepada-Nya.
KGPA Tjempo sudah terkenal dan
berdakwah ke berbagai tempat. Beliau memberikan pertolongan dan memberi banyak
ilmu pada masyarakat bawah kapanpun dan dimanapun. Beliau masuk melalui
persawahan, hutan, dan perkampungan dengan penuh senyuman dan keikhlasan.
Tjempo terkenal sebagai orang yang sangat sederhana, baik hati, dan prasojo
dengan penuh kewibawaan. Penampilan yang gagah dengan perawakan yang tinggi,
serta dengan dibalut jubah berwarna putih membuat KGPA Tjempo sangat disegani
banyak orang.
KGPA Tjempo sangat bersemangat
dalam berdakwah. Semua tempat di wilayah kekuasaan Majapahit dan sekitarnya
sudah pernah beliau datangi untuk menyebarkan agama islam. Beliau berdakwah
tanpa pernah mengatakan hal bohong sedikitpun. Perjalanan KGPA Tjempo ke arah
barat sampai di lereng Merapi dan ke selatan melalui hutan dan kampung dan
tidak akan berhenti sampai mendapat petunjuk dari Sang Maha Kuasa Allah SWT.
Setelah sampai di suau tempat,
KGPA Tjempo merasa kelelahan bahkan jatuh sakit sehingga tidak bisa meneruskan
perjalanannya. Namun Joko Umbaran tetap setia menemani dan mendampingi KGPA
Tjempo dalam suka maupun duka. Tempat yang teduh dan nyaman, penuh dengan
pepohonan dekat dengan sungai kecil, Sungai Trasi, dan Sungai Gajah Wong. Kuda
sembrani yang dinaiki dalam setiap perjalanan dan paling disayangi ternyata
juga kelelahan dan akhirnya mati. Kuda itu dikubur di tempat tersebut. Hati KGPA
Tjempo dan Joko Umbaran sangat gelisah dan kecewa. Tjempo semakin parah
sakitnya. Akhirnya beliau wafat dan semua diurus oleh Joko Umbaran yang begitu
setia padanya. Sebelum wafat beliau mewanti-wanti Joko Umbaran dalam bahasa
jawa “sesuk yen ana rejaning jaman, papan
iki jenengana Umbaran katitis ing wektu saiki.” Perintah itu sebagai
pengingat rasa hormat dan cintanya,
serta dedikasi Joko Umbaran terhadap Gusti Kanjeng Pangeran Arya Tjempo. Joko
Umbaran sangat sedih mengetahui apa yang dilihatnya, bahwa KGPA Tjempo telah mendahuluinya mengahadap
Allah SWT. Joko Umbaran dibantu warga setempat untuk memakamkan KGPA Tjempo.
Tak begitu lama, Joko Umbaran juga menghembuskan nafas terakhirnya dan
dimakamkan sangat dekat dengan makam Almarhum Tjempo, yaitu disisinya.
Tempat ini kemudian dinamakan
Dusun Jetisbaran. Hal ini seperti apa yang disampaikan oleh Pangeran Tjempo
karena perjuangan, dedikasi, dan loyalitanya terhadap beliau yang saat itu
Tjempo sampaikan kepadanya, “sesuk yen
ana rejaning jaman, papan iki jenengana Umbaran katitis wektu iki.” Akhirnya
menjadi nama Jetisbaran.
Sumber
: Sigit Triana. 2017. Warta Sardonoharjo
Haiiii, perkenalkan namaku Inas
Salsabila, atau biasa dipanggil Inas. Aku lahir di
Kota Fosil di Indonesia, 03 November 2002. SMA N 1 Pakem adalah tempatku
menuntut ilmu saat ini. Hobiku sederhana dan pasti semua orang mampu
melakukannya, yaitu menyanyi. Selain hobi menyanyi, aku juga memiliki hobi lain
yang bisa dibilang bukan hobi yang cocok untuk seorang wanita. Dari kecil aku
sering bermain sepak bola, sejak itu aku hobi melakukannya. Warna biru adalah
warma kesukaanku, karena biru adalah warna utama dari tim sepak bola
kebangganku.
Asal-Usul Upacara Adat Ngrowot
Menurut cerita turun-temurun
dari para leluhur, Ngrowot merupakan akronim dari sebuah kalimat berbahasa Jawa
“Ngleluri (mempertahankan) Ombyaking Warga (kebiasaan atau
kegiatan) Hametri (membuat situasi lebih baik) Koncara (hal – hal
baik yang menonjol atau terkenal) Desa” yang bermakna “mempertahankan
kebiasaan / kegiatan yang membuat situasi lebih baik dan hal – hal baik yang
menonjol / terkenal”.
Ngrowot sebuah upacara adat turun-temurun sejak dahulu sebagai
ungkapan rasa syukur warga masyarakat Desa Girikerto kepada Tuhan Yang Maha
Kuasa atas segala anugerah yang telah diterima seperti hasil panen yang
melimpah, terhindar dari segala musibah serta mara bahaya, dan sebagainya
selama setahun, juga untuk melestarikan adat atau tradisi turun temurun dari
para leluhur. Warga masyarakat setempat sering juga menyebutnya dengan Saparan
karena upacara tersebut dilaksanakan di bulan Sapar(kalender Jawa) / bulan Shafar
atau banyak warga yang menyebutnya dengan Merti Desa.
Menurut cerita, Upacara adat
Ngrowhod mengacu pada kebiasaan baik nenek moyang yang mengurangi kesenangan
dan kenikmatan duniawi dengan cara berpuasa ngrowot. Puasa ngrowot
merupakan cara berpuasa dengan hanya memakan jenis makanan yang disebut krowotan,
di mana semua makanan tersebut berupa pala kependhem (umbi – umbian /
buah) yang terpendam di dalam tanah.
Jalannya Upacara Ngrowot
tersebut, masing-masing padukuhan yang berjumlah 13 mengirimkan sepasang dimas
dan diajeng atau pager ayu sebagai
simbol masyarakat satu padukuhan.
Sepasang muda-mudi berbusana tani dan alat pertanian sebagai aksesorisnya
sebagai simbol mata pencaharian masyarakat Desa Girikerto yang sebagian besar
penduduknya sebagai petani. Masing-masing dusun juga mengirimkan hasil bumi berupa
buah-buahan, palawija, umbi-umbian, pala kependhem, pala kesimpar, dan padi
yang dikemas dalam bentuk Gunungan Krowotan. Jika semua utusan dari tiap
padukuhan telah siap, sesepuh adat yang diperankan oleh kepala desa
memerintahkan pasangan dimas dan diajeng untuk berangkat ke Sendang panguripan
menghadap Sang juru kunci dan memohon izin untuk mengambil air penghidupan di
sendang sebanyak satu kendhi untuk dibawa ke masing-masing dusun sebagai simbol
kemakmuran dan kesejahteraan, karena air sebagai simbol kehidupan seluruh
makhluk hidup. Para dimas dan diajeng dalam perjalanannya mengambil air ke
Sendang Panguripan dikawal oleh pasukan Bergodo, Perangkat Desa serta tokoh
masyarakat yang dipimpin oleh cucuk lampah yang menunggangi kuda serta Arjuna
(diperankan oleh warga sekitar).
Setelah dimas dan diajeng sampai kembali di Desa Girikerto air
dari Sendang Panguripan dan Gunungan hasil bumi serta nasi tumpeng urap dibawa
kirab mengelilingi wilayah Desa Girikerto menggunakan mobil pick-up yang
diiringi kepala desa, perangkat desa dan lembaga Desa Girikerto serta bergada
(pasukan) prajurit dan kelompok seni dari ke-13 padukuhan di Desa Girikerto. Di
perjalanan sebagian isi dari Gunungan Krowotan diberikan kepada para penduduk
yang melihat dari jalanan dengan cara dilemparkan, yaitu sebagai simbol bentuk
rasa syukur dan kesukacitaan pada sesama.
Setelah kirab usai, semua
peserta kirab kembali dan berkumpul di aula Desa Girikerto untuk melaksanakan
pesta rakyat atau makan nasi gudangan (urap) bersama, dan gunungan hasil bumi
diperebutkan oleh seluruh orang yang hadir saat itu. Itu juga sebagai simbol
bentuk syukur para penduduk kepada Tuhan.
Tak hanya itu, cerita yang
diangkat dalam upacara adat Ngrowhod adalah timbulnya sebuah Sendang Panguripan
di Dusun Nangsri, Girikerto yang diejawantahkan dengan simbol-simbol dalam
kehidupan sehari-hari.
Dahulu kala menurut cerita para
leluhur, Desa Girikerto dilanda kekeringan yang amat parah. Saat itu ada
seorang Petapa yang oleh para penduduk dianggap bahkan diyakini bahwa petapa
itu adalah Kyai Sapu Jagad.
Kyai Sapu Jagad tinggal di sebuah pendopo di dalam hutan bersama
prajuritnya. Pada suatu hari, Kyai Sapu Jagad melakukan perjalanan.
“Wahai prajurit-prajuritku. Hari ini aku akan berkelana mencari
tempat untuk bersemedi.” ucap Kyai Sapu Jagad.
“Baik Kyai, kami akan menjaga pendopo ini,” jawab Wonolelo salah
satu prajuritnya. “Aku akan berkelana sendiri dan cukup lama, tolong jaga
pendopo ini dengan baik wahai para prajuritku!” Kyai Sapu Jagad kembali berkata
“Baik Kyai,” jawab prajurit serentak
Kyai Sapu Jagad mulai berkelana membawa sebuah tongkat saktinya
dan mencari tempat yang tepat untuk bersemedi hingga akhirnya sampai di sebuah
dusun dibawah kaki Merapi. Saat itu sedang terjadi kemarau panjang, dusun itu
sangat gersang. “Dusun ini sangat gersang, aku akan bersemedi di sini saja,”
ucap Kyai Sapu Jagad. Kemudian Kyai Sapu Jagad melakukan persemedian di dusun
tanpa nama tersebut selama beberapa hari. Di akhir persemediannya, Kyai Sapu
Jagad menancapkan sebuah tongkat di tempat semedinya itu sambil mengucap
“Bismillahirahmanirahim.” Tak lama
kemudian tongkat itu dicabut. “Tongkat ini akan ku cabut, semoga ada sumber air
di bekas tancapan ini,” kata Kyai Sapu Jagad. Dicabutlah tongkat sakti Kyai sapu Jagad dan timbullah
sebuah mata air kecil di bekas tancapan tongkat tersebut. “Aku namai dusun ini
Dusun Nangsri / Dusun Ngumbul. Saat itu juga, ada dua orang warga yang
mengintipnya.
”Yo,
lihat itu ada mata air kecil,” ucap Parto
“Iya To. Eh lihat itu ada Kyai. Siapa ya itu?” tanya Karyo
“Nggak tahu aku Yo, mungkin Kyai Sapu Jagad, ayo Man kesana” jawab
Parto
Karena sangat penasaran, Parto dan Karyo memberanikan diri menemui Kyai Sapu Jagad.
“Siapa kalian?” tanya Kyai
“Saya Parto dan ini Karyo,
Kyai warga penduduk dusun ini” jawab Parto
“Sedang apa Kyai di sini?” tanya Karyo
“Saya habis bersemedi di tempat ini. Di sini ada mata air muncul
di bekas tancapan tongkat ini, karena dusun ini belum bernama, saya beri nama
Dusun Nangsri / Dusun Ngumbul” ucap Kyai
“Matur sembah nuwun Kyai, akan saya sampaikan ke penduduk di
sini.” Ucap Parto
Setelah itu, Kyai Sapu Jagad pergi meninggalkan tempat
persemediannya di Dusun Nangsri. “Aku harus segera pergi dari tempat ini, dan
kembali ke pendopo,” ucap Kyai Sapu Jagad. Dan setelah Kyai pergi, Karyo dan Parto mengumumkan kepada penduduk
dusun ini sekarang bernama Dusun Nangsri dan ada sebuah mata air kecil.
Kian hari, mata air kecil
tersebut semakin bertambah besar bahkan sampai muncul beberapa ekor ikan yang
menyerupai ikan laut berjenis keper. Penduduk setempat merasa khawatir kalau
tempat itu akan berubah menjadi laut.
Suatu hari, beberapa warga
berkumpul di mata air itu berada.
“Bagaimana ini, mata air semakin besar Mbah?” ucap Karto
“Bagaimana kalau dusun kita menjadi laut Mbah, ini banyak ikan
bermunculan dan air semakin besar,” tambah Paimin
“Sudah-sudah tenang! Besok kita adakan selamatan saja” jawab Mbah
Noto, sesepuh dusun itu
Maka keesokan harinya penduduk setempat yang diprakarsai oleh
Sesepuh Dusun mengadakan selamatan dan menutup mata air yang bertambah besar
tersebut dengan kepala kambing dan dandang serta kenceng (alat
masak yang terbuat dari tembaga).
“Cepat ambil dandang kenceng dan kepala kambingnya, kita tutup
mata air ini agar tidak bertambah besar lagi!” ucap Mbah Noto
“Baik, Mbah.” Jawab Paimin
Sejak saat itu mata air tersebut tidak lagi bertambah besar,
tetapi stabil dan tetap mengalir hingga saat ini meskipun kemarau panjang
melanda.
“Syukurlah, sudah ada air. Kita bisa mengolah sawah kita Jo,” kata
Barji
“Iya Jo, kita bisa panen banyak,” jawab Barji
“Kita juga bisa minum air bersih,” ucap Sri
“Iya budhe, kita juga bisa mandi air bersih berkat sendang ini,”
tambah Yanti
Mata air tersebut oleh penduduk setempat juga disebut Sendang
Panguripan, hingga saat ini dijaga oleh sesepuh dusun yang ditunjuk dan
diangkat sebagai juru kunci. Sendang
Panguripan itu juga yang digunakan sebagai acuan dan prosesi awal jalannya
Upacara Adat Ngrowot Desa Girikerto.
Sendang Panguripan tersebut bagi
para penduduk sangat penting, karena dapat menyediakan kebutuhan air untuk
kehidupan sehari – hari serta untuk kebutuhan pengairan persawahan
disekitarnya.
Sumber
:
Bapak Sudiharja (47 tahun)
Pekerjaan : Perangkat desa
Alamat : Sorowangsan,Girikerto,Turi

Sekarang aku duduk di bangku SMA, yaitu di SMA N 1 PAKEM atau
SMAPA kelas X MIPA 3. Aku tinggal
bersama kedua orang tuaku juga adik laki-lakiku di sebuah dusun dibawah kaki
Merapi, yaitu di Dusun Sorowangsan, Girikerto, Turi, Sleman. Aku memiliki motto
hidup yaitu “Terus Berlari Mengejar Mimpi, Yakin Aku Pasti Bisa Meraihnya dan
SuksesJ”
Sambirejo(Candibinangun,
Pakem, Sleman, Yogyakarta)
Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang pemuda rajin nan elok
parasnya yang kerap disapa Bayan. Keluarga Bayan termasuk keluarga yang
terpandang. Simbok dan bapaknya mempunyai banyak tanah yang luas. Bayan tinggal
di sebuah desa kecil dan asri bernama Samberembe. Desa yang banyak ditumbuhi
pepohonan ini menjadi tempat favoritnya karena di tempat inilah Bayan lahir.
Setiap hari Bayan bercocok tanam di tanah milik orang tuanya bersama para buruh
yang dipekerjakan oleh orang tua Bayan. Tanah tersebut letaknya lumayan jauh.
Setiap hari Bayan harus menapakkan kakinya di jalan berbatu bersama dengan para
buruh lainnya. Banyak dari buruh tani tersebut berasal dari daerah lain bernama
Bulus.
Bayan pernah bertanya kepada salah satu buruh yang dekat dengannya
tentang asal-usul desanya yang bernama Samberembe itu. Menurut buruh itu,
dahulu kala sebelum Bayan lahir para buruh yang mengerjakan lahan orang tua
Bayan selalu menyempatkan diri menancapkan tunas berbagai macam pohon di daerah
yang sekarang dikenal dengan sebutan Samberembe itu. Maka dari cerita tersebut,
dinamakanlah desa yang ditinggali Bayan tadi dengan sebutan Samberembe yang
berasal dari kata sambe dan rembe. Sambe berasal dari kata sambi yang
berarti melakukan pekerjaan lain di samping pekerjaan pokok yang dilakukan,
sedangkan rembe berasal dari kata rembes yang berarti menancapkan. Hal
itu membuat Bayan mengerti mengapa di wilayah tempat tinggalnya terdapat banyak
sekali pohon.
Selepas matahari menyembunyikan sinarnya di ufuk barat, Bayan dan
para buruh kembali ke rumah mereka masing-masing. Setiap pulang dari lahan
bertani, Bayan langsun mandi dan pergi berangkat menuju surau. Sampai di surau,
Bayan segera membuka buku mengajinya dan mulai mengaji bersama teman-temannya
yang sebaya. Lepas mengaji, Bayan pulang ke rumah untuk beristirahat. Sebelum
beristirahat, orang tua Bayan sering bertanya pada Bayan terkait dengan alasan
Bayan membantu para buruh untuk bercocok tanam di lahan keluarganya. Orang tua
Bayan kadang merasa kurang setuju melihat anaknya pergi bertani bersama para
buruh.
Bayan merupakan pemuda yang disegani di wilayah Samberembe itu.
Walaupun keluarga Bayan adalah keluarga yang terpandang, hal itu tidak
menjadikan Bayan menjadi besar kepala. Justru sebaliknya, Bayan adalah pemuda
yang sopan dan selalu menghormati orang yang lebih tua tanpa memandang jabatan
yang dimiliki orang tersebut. Oleh karena sikapnya itu, maka tidak sedikit juga
orang yang menghormati Bayan di desa itu. Bayan merasa nyaman dan senang di
desa itu.
Hari ini Bayan melakukan rutinitasnya seperti biasa. Bayan pergi
bercocok tanam dengan para buruh di pagi hari. Menapaki jalan setapak yang
berbatu tanpa alas kaki juga merupakan kebiasaanya. Namun, hari ini tidak sama
seperti hari lainnya. Hari ini adalah hari yang membahagiakan untuknya.
Mengapa? Hal itu karena Bayan dapat bertemu dengan pujaan hatinya. Gadis
tersebut bernama Binah. Bayan ingin sekali membantu Binah membawakan pakaian
yang hendak dicucinya, tetapi apalah daya Bayan, ia hanya bisa melihat Binah
dari kejauhan, menatap parasnya nan elok di pagi hari ini. Bayan telah lama
mengagumi Binah dalam diam. Sebenarnya, Binah tak jauh berbeda dengan Bayan,
Binah juga mengagumi Bayan. Namun cinta mereka terlarang.
Menurut keluarga Binah, Bayan tidak pantas menjadi suami Binah
karena ilmu agama Bayan kurang kuat. Keluarga Binah juga tidak menyukai Bayan
karena mereka merasa bahwa Bayan adalah anak orang kaya sehingga mereka
berfikir bahwa Bayan adalah manusia yang besar kepala dan tidak mau berbaur
dengan sesama. Namun, menurut keluarga Bayan, Binah lebih tidak pantas untuk
Bayan karena kekayaan keluarga Binah tidak sebanding dengan keluarga Bayan.
Walaupun cinta mereka terlarang, tetapi namanya juga jodoh, selalu punya cara
untuk kembali bersama.
Sampai pada suatu hari, melihat cinta Bayan dan Binah yang begitu
besar, orang tua mereka pun bersepakat. Bayan dapat menikahi Binah, tetapi dia
harus memperdalam ilmu agamanya. Persyaratan yang lainnya adalah Binah dan
Bayan harus keluar dari kampung kesayangannya yang bernama Samberembe. Orang
tua mereka berharap dengan syarat yang berat itu, mereka berpikir untuk tidak
melangsungkan pernikahan mereka. Namun, jawaban Bayan sungguh mengejutkan.
Bayan menerima kedua persyaratan tersebut. Bayan berjanji akan mempersunting Binah
jika Bayan sudah memenuhi persyaratan tersebut.
Maka pergilah Bayan ke sebuah desa. Seperti biasa, hari ini Bayan
pergi menapaki jalan berbatu tanpa alas kaki seolah telapak kakinya sudah kebal
dengan batu kerikil tajam. Hari ini Bayan membawa banyak bekal untuk beberapa
bulan ke depan. Desa yang akan Bayan singgahi adalah tempat biasanya ia
bercocok tanam bersama para buruh tani orang tuanya. Di desa itu ia akan
belajar bersama seseorang yang menurut Bayan tinggi ilmu agamanya. Tempat itu
adalah tempat yang tenang, sejuk, dan damai sehingga sangat cocok sebagai
tempat untuk memperdalam ilmu keagamaan.
Bayan tinggal di rumah Kyai Hamzah. Kyai Hamzah sudah kenal dekat
dengan Bayan. Mereka selalu bertemu setiap hari ketika Bayan bercocok tanam.
Melihat kebaikan budi Bayan, maka Kyai Hamzah mengizinkan Bayan untuk tinggal
di rumahnya selama ia memperdalam ilmu agamanya. Kyai Hamzah juga berjanji akan
mengajarkan semua ilmu agama yang dimilikinya kepada Bayan. Bayan juga akan
diajari sedikit ilmu bela diri silat sehingga Bayan dapat menjaga dirinya di
mana saja.
Setelah berminggu-minggu Bayan belajar ilmu agama, kini saatnya
Bayan belajar ilmu bela diri. Pertama Bayan belajar untuk bermeditasi,
menenangkan diri, dan berkonsentrasi. Di desa yang sekarang ditinggali oleh
Bayan banyak di dapati batu yang sungguh besar. Maka Bayan memutuskan untuk
bermeditasi di atas salah satu batu yang terbesar. Ketika Bermeditasi, Bayan
merasa ia mendapatkan kekuatan baru, ia merasa kekuatannya menjadi
berlipat-lipat ganda. Hari berikutnya Bayan belajar ilmu bela diri yang
lainnya, tetapi dia tetap menyempatkan diri untuk bermeditasi sebelum berlatih.
Selama berada di desa tersebut, Bayan telah mempersiapkan dirinya
untuk masa depannya bersama Binah. Setiap ada waktu luang, Bayan menyempatkan
diri untuk membangun “gubug” sebagai tempat tinggalnya bersama Binah setelah
Bayan mempersunting Binah. Membangun rumah itu bukanlah pekerjaan pokok Bayan.
Dia melakukannya hanya sebagai pekerjaan sampingan. Rumah yang dibangunnya
tidaklah megah dan indah. Rumah itu memang besar, tetapi tidaklah seindah rumah
milik kedua orang tuanya. Rumah dengan gaya adat Yogyakarta yang cukup kental
ini dipastikan dapat ditempati oleh Bayan selepas ia menikah.
Setelah berbulan-bulan lamanya, Bayan memutuskan untuk kembali ke
Samberembe untuk mempersunting Binah. Binah sangat senang karena mendengar
kabar bahwa orang yang dikasihinya telah kembali dan tidak melupakan janjinya
untuk menikahinya. Orang tua Binah juga telah merestui Binah dengan Bayan.
Begitu juga sebaliknya, orang tua Bayan telah merestui mereka berdua untuk
menikah. Maka, menikahlah mereka hari itu juga. Ramailah rumah kedua mempelai
setelah satu desa mendengar hal itu.
Selepas pernikahan mereka, orang tua Bayan dan Binah mengatakan
bahwa mereka tidak perlu untuk pergi dari desa. Orang tua mereka menyuruh Binah
dan Bayan untuk tetap tinggal di Samberembe. Namun, Bayan menolaknya. Bukan
karena sakit hatinya terhadap orang tuanya, melainkan ia telah mempersiapkan
rumah untuknya dan untuk istrinya. Rumah tersebut berada di sebuah desa yang
selalu menerima apapun kekuranga dan kelebihannya.
Desa itu tidak bernama. Maka atas seizin para penduduk dan Tuhan
Yang Maha Esa, maka diberi namalah desa itu dengan sebutan Sambirejo. Sambi
yang berarti mengerjakan suatu pekerjaan disamping pekerjaan pokok. Rejo
berarti subur. Bayan mengharapkan agar desa ini menjadi desa yang subur dan
makmur.
Sumber:
Bapak Sumardjo selaku cicit dari Mbah Bayan dan sebagai penduduk asli Desa Candirejo
Alamat:
Candirejo 01/11, Candibinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta

HIKAYAT
DUSUN BALONG WETAN
Dahulu kala terdapat sebuah kerajaan laut
bernama Kerajaan Banyu Adem. Kerajaan tersebut merupakan kerajaan duyung yang
berada di bawah laut. Tepatnya di daerah pantai selatan Pulau Jawa. Rakyat di
dalam kerajaan tersebut sangat makmur karena sumber daya laut yang sangat
melimpah. Terdapat rumput laut yang rimbun dan ikan-ikan yang sangat banyak,
sehingga dapat diolah dan dimanfaatkan oleh rakyat duyung Kerajaan Banyu Adem.
Kerajaan Banyu Adem dipimpin oleh sepasang raja
dan ratu. Raja dan ratu tersebut bernama Raja Tunggara dan Ratu Innara. Mereka
memiliki lima putri duyung dan seorang putra duyung. Kelima putri duyung
tersebut bernama Nayla,Fatin,Cipa,Safu, dan Sida. Dan putra duyung bernama
Arwana.
Kelima putri duyung tersebut sangatlah baik
terhadap siapa pun. Mereka juga sangat cantik. Namun, diantara kebaikan itu
mereka memiliki kelebihan masing-masing. Putri Nayla yang merupakan putri
sulung sangatlah enak menjadi teman curhat. Putri Fatin, dia sangatlah jahil terhadap
duyung-duyung yang dekat dengannya. Putri Cipa dia adalah yang paling cantik
dari semua putri, namun dia suka berkelahi. Putri Safu, dia suka membersihkan
dan merapikan istananya. Sedangkan Putri Sida memiliki kelebihan yang berbeda
dari yang lain yaitu tangannya dapat menghasilkan energi listrik.
Berbeda dengan kelima putri duyung yang
cantik cantik dan baik hati, putra duyung yang bernama Arwana sangat nakal dan
manja. Mungkin karena Putra Arwana merupakan putra bungsu di dalam Kerajaan
Banyu Adem.
Walaupun sangat nakal dan manja Putra Duyung
sangat menyayangi ibunya. Hal tersebut terbukti saat ia membantu menyelesaikan
pekerjaan rumah tangga, seperti memasak kerang, dan pekerjaan lainnya. Putra
Duyung juga tak pernah lupa mengucapkan selamat tidur kepada Raja Turangga dan
Ratu Innara.
Suatu hari, Putra Duyung dan teman-teman
duyungnya mengadakan kompetisi berburu kuda laut. Siapa yang mendapatkan kuda
laut paling banyak ialah yang menjadi pemenang. Dari kompetisi tersebut, siapa
yang kalah akan menuruti permintaan si pemenang selama tujuh hari. Karena
terlalu bersemangat dan optimis menang, Putra Duyung berburu menggunakan panah,
padahal teman-temannya berburu menggunakan jaring. Karena kesalahan teknis
tersebut, panah yang meluncur tak mengenai kuda laut tetapi terkena bebatuan
karang, yang mengakibatkan karang tersebut runtuh dan menimpa ibunya yang
kebetulan melintas saat itu.
Karena tertimpa batu karang, Ratu Innara
tergeletak. Dalam sekejap rambutnya berubah menjadi warna biru. Saat itu juga
Putra Arwana berteriak dan berlari menuju kepada ibunya. Dengan penuh rasa
panik, ia langsung membawa ibunya menuju kamar kerajaan. Sesampainya di kamar,
Ratu Innara belum juga sadar
Raja Turangga dan kelima putrinya segera
tahu akan hal yang terjadi. Putri Nayla, Fatin, Cipa, Safu, dan Sida sangat
sedih setelah tahu bahwa ibunya tertimpa musibah. Mereka juga terus menyalahkan
Putra Arwana.
Raja Turangga berusaha mencari tahu bagaimana
cara menyembuhkan sang ratu. Sampailah ia bertemu kepada seekor ikan hiu dan
menceritakan hal tersebut kepadanya. Ikan hiu tersebut mengatakan bahwa sang
Ratu Innara terkena bakteri dari batu karang yang menyebabkan rambutnya membiru
dan dia tidur lama atau tidak tersadarkan diri. Satu-satunya cara untuk
menyembuhkannya adalah menempelkan bunga melati ajaib di atas rambutnya yang
membiru. Namun, bunga melati tersebut hanya tumbuh di dalam kawah Gunung
Merapi.
Putra Arwana merasa bersalah terhadap hal
yang telah menimpa ibunya itu. Kemudian muncul ide untuk mengambil bunga melati
ajaib yang ia dengar dari Ikan Hiu saat ia membuntuti ayahnya. Ia pun
bersiap-siap dengan penuh semangat untuk pergi menuju daratan.
Sebelum pergi ke daratan, Putra Arwana
meminta bantuan Putri Sida agar mengubahnya menjadi manusia menggunakan
kekuatan listriknya. Karena ingin ibunya sembuh, Putri Sida memberikan bantuan
kepada adiknya tersebut. Namun ada satu ketentuan, yaitu apabila Putra Arwana
jatuh hati kepada seorang wanita maka ia akan berubah menjadi bentuk aslinya.
Setelah berubah menjadi manusia, Putra
Arwana segera bergegas dan memberanikan diri untuk menginjakkan kakinya ke
daratan. Ternyata daratan telah mengantarnya pada seorang wanita bernama Saras.
Saras adalah seorang gadis yang berasal dari daerah lereng Gunung Merapi yang
saat itu sedang menghibur diri di pantai dan tak sengaja bertemu Putra Arwana.
Seperti telah lama kenal, Putra Arwana dan
Saras tampaknya akrab. Lama-lama mengobrol, Putra Arwana menceritakan tentang
dirinya dan tujuannya ke daratan. Walaupun Saras kaget dan awalnya tak percaya,
namun karena suatu rasa entah itu apa dia pun percaya terhadap Putra Arwana.
Saras pun bersedia membantu Putra Arwana. Sebenarnya selain gagah Putra Arwana
memanglah tampan.
Putra Arwana dan Saras segera memulai
perjalanannya menuju Puncak Gunung Merapi. Sambil bercanda gurau, Saras
mengenalkan makanan manusia kepada Putra Arwana. Ternyata diantara
makanan-makanan yang dikenalkan Putra Arwana suka dengan makanan bernama jadah.
Ia mengatakan bahwa jadah rasanya mirip dengan rumput laut goreng.
Sampailah Putra Arwana di Puncak Gunung
Merapi. Dengan penuh semangat yang membara Putra Arwana langsung memetik
sekuntum bunga melati ajaib itu dengan hati-hati. Setelah berhasil memetik
sekuntum bunga melati tersebut, kemudian Putra Arwana memasukkannya ke dalam
keranjang kecil. Putra Arwana mengajak Saras duduk sebentar di sebelah timur
kawah tersebut untuk menikmati pemandangan sejenak.
Tanpa Putra Arwana sadari ia telah jatuh
hati kepada Saras yang telah setia membantunya. Hal tersebut membuat Putra
Arwana berubah menjadi wujud aslinya yaitu seorang Putra Duyung. Saat itu juga Saras langsung panik karena
tidak ada air di kawah tersebut. Putra Arwana langsung memeluk Saras dan
mengatakan bahwa ia telah jatuh hati kepadanya. Saras juga berkata akan hal
yang sama. Namun takdir berkata lain, Putra Arwana tak mampu bertahan tanpa
air, kemudian tubuhnya berubah menjadi tulang kering yang abadi di sebelah timur
lereng Gunung Merapi.
Saras sangat sayang kepada Putra Arwana.
Kemudian ia teringat ketika di perjalanan menuju puncak, Putra Arwana
memberikan sebutir kuaci yang apabila ia memakannya maka ia akan berubah
menjadi putri duyung. Ia juga ingat bahwa Putra Arwna mengatakan apabila
umurnya tak panjang nantinya ia meminta tolong Saras untuk mengantarkan bunga
melati ajaib kepada ibunya.
Saras bergegas menuju pantai selatan dengan
membawa bunga melati ajaib yang ada di keranjang. Setelah sampai, ia memakan
sebutir kuaci tersebut. Saras mencari keberadaan Kerajaan Banyu Adem dan
akhirnya ia sampai. Saras memberikan bunga melati ajaib tersebut kepada Ratu
Innara. Ratu Innara telah terbangun dari tidur panjangnya. Ratu Innara menanyakan
keberadaan Putra Arwana, karena tak ada diantara kerumunan orang yang
melingkarinya. Kemudian Saras menceritakan semuanya kepada seluruh keluarga
duyung Kerajaan Banyu Adem. Mereka sangat tercengang terutama Raja Turangga dan
Ratu Innara. Setelah itu Saras berpamitan untuk kembali ke daratan. Melihat
kebaikan Saras yang sangat tulus, Raja Turangga memberikan sekotak emas kepada
Saras.
Kemudian Saras kembali ke desanya yang berada
di daerah lereng Gunung Merapi dengan membawa sekotak emas yang telah diberikan
oleh Raja Turangga kepadanya. Sekotak
emas itu kemudian ia gunakan untuk memajukan dan membangun desanya menjadi
lebih baik. Untuk mengenang Putra Arwana dan semua hal yang telah terjadi, ia
mengganti nama desanya menjadi Balong Wetan. Balong Wetan memiliki makna balung
yang berarti tulangnya Putra Arwana dan wetan berarti letak tulang tersebut
berada di sebelah timur Gunung Merapi.
Sumbernya:
Karangan saya sendiri (Madafa Tirta Fathina)
TENTANG
PENULIS
Hai ! Namaku Madafa
Tirta Fathina. Aku lahir di Sleman, 15 November 2002. Saat ini aku bersekolah
di Sma N 1 Pakem. Aku berada di kelas X MIPA 3. Motivasi menulis hikayat diatas
adalah saya ingin mendapatkan nilai yang memuaskan.
Asal Usul Gunung Merapi
Alkisah, Pulau Jawa adalah satu dari lima pulau terbesar di Nusantara. Konon, pulau ini pada masa lampau letaknya tidak rata atau miring. Oleh karena itu, para dewa di Kahyangan bermaksud untuk membuat pulau tersebut tidak miring. Dalam sebuah pertemuan, mereka kemudian memutuskan untuk mendirikan sebuah gunung yang besar dan tinggi di tengah-tengah Pulau Jawa sebagai penyeimbang. Maka disepakatilah untuk memindahkan Gunung Jamurdipa yang berada di Laut Selatan ke sebuah daerah tanah datar yang terletak di perbatasan Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kabupaten Magelang, Boyolali, serta Klaten Provinsi Jawa Tengah.
Sementara itu, di daerah di mana Gunung Jamurdipa akan ditempatkan terdapat dua orang empu yang sedang membuat keris sakti. Mereka adalah Empu Rama dan Empu Pamadi yang memiliki kesaktian yang tinggi. Oleh karena itu, para dewa terlebih dahulu akan menasehati kedua empu tersebut agar segera pindah ke tempat lain sehingga tidak tertindih oleh gunung yang akan ditempatkan di daerah itu. Raja para dewa, Batara Guru pun segera mengutus Batara Narada dan Dewa Penyarikan beserta sejumlah pengawal dari istana Kahyangan untuk membujuk kedua empu tersebut.
Setiba di tempat itu, utusan para dewa langsung menghampiri kedua empu tersebut yang sedang sibuk menempa sebatang besi yang dicampur dengan bermacam-macam logam. Betapa terkejutnya Batara Narada dan Dewa Penyarikan saat menyaksikan cara Empu Rama dan Empu Pamadi membuat keris. Kedua Empu tersebut menempa batangan besi membara tanpa menggunakan palu dan landasan logam, tetapi dengan tangan dan paha mereka. Kepalan tangan mereka bagaikan palu baja yang sangat keras. Setiap kali kepalan tangan mereka pukulkan pada batangan besi membara itu terlihat percikan cahaya yang memancar.
“Maaf, Empu! Kami utusan para dewa ingin berbicara dengan Empu berdua” sapa Dewa Penyarikan.
Kedua empu tersebut segera menghentikan pekerjaannya dan kemudian mempersilakan kedua utusan para dewa itu untuk duduk.
“Ada apa gerangan, pukulun? Ada yang dapat hamba bantu?” tanya Empu Rama.
“Kedatangan kami kemari untuk menyampaikan permintaan para dewa kepada Empu.” Jawab Batara Narada.
“Apakah permintaan itu?” tanya Empu Pamadi penasaran, ”Semoga permintaan itu dapat kami penuhi.”
Batara Narada pun menjelaskan permintaan para dewa kepada kedua empu tersebut. Setelah mendengar penjelasan itu, keduanya hanya tertegun. Mereka merasa permintaan para dewa itu sangatlah berat.
“Maafkan hamba, Pukulun! Hamba bukannya bermaksud untuk menolak permintaan para dewa. Tapi, perlu Pukulun ketahui bahwa membuat keris sakti tidak boleh dilakukan sembarangan, termasuk berpindah-pindah tempat,” jelas Empu Rama.
“Tapi Empu, keadaan ini sudah sangat mendesak. Jika Empu berdua tidak segera pindah dari sini Pulau Jawa ini semakin lama akan bertambah miring” kata Dewa Penyarikan.
“Benar kata Dewa Penyarikan, Empu. Kami pun bersedia mencarikan tempat yang lebih baik untuk Empu berdua” bujuk Empu Narada.
Meskipun telah dijanjikan tempat yang lebih baik, kedua empu tersebut tetap tidak mau pindah dari tempat itu.
“Maaf, Pukulun! Kami belum dapat memenuhi permintaan itu. Kalau kami berpindah tempat, sementara pekerjaan ini belum selesai, maka keris yang sedang kami buat ini tidak sebagus yang diharapkan. Lagi pula, masih banyak tanah datar yang lebih bagus untuk menempatkan Gunung Jamurdipa itu” kata Empu Pamadi.
Melihat keteguhan hati kedua empu tersebut, Empu Narada dan Dewa Penyaringan mulai kehilangan kesabaran. Oleh karena mengemban amanat Batara Guru, mereka terpaksa mengancam kedua empu tersebut agar segera pindah dari tempat itu.
“Wahai, Empu Rama dan Empu Pamadi! Jangan memaksa kami untuk mengusir kalian dari tempat ini” ujar Batara Narada.
Kedua empu tersebut tidak takut dengan acaman itu karena mereka merasa juga sedang mengemban tugas yang harus diselesaikan. Oleh karena kedua belah pihak tetap teguh pada pendirian masing-masing, akhirnya terjadilah perselisihan di antara mereka. Kedua empu tersebut tetap tidak gentar meskipun yang mereka hadapi adalah utusan para dewa. Dengan kesaktian yang dimiliki, mereka siap bertarung demi mempertahankan tempat itu. Tak ayal, pertarungan sengit pun tak terhindarkan. Meskipun dikeroyok oleh dua dewa beserta balatentaranya, kedua empu tersebut berhasil memenangkan pertarungan itu.
Batara Narada dan Dewa Penyarikan yang kalah dalam pertarungan itu segera terbang ke Kahyangan untuk melapor kepada Batara Guru.
“Ampun, Batara Guru! Kami gagal membujuk kedua empu itu. Mereka sangat sakti mandraguna” lapor Batara Narada.
Mendengar laporan itu Batara Guru menjadi murka.
“Dasar memang keras kepala kedua empu itu. Mereka harus diberi pelajaran” ujar Batara Guru.
“Dewa Bayu, segeralah kamu tiup Gunung Jamurdipa itu!” seru Batara Guru.
Dengan kesaktiannya, Dewa Bayu segera meniup gunung itu. Tiupan Dewa Bayu yang bagaikan angin topan berhasil menerbangkan Jamurdipa hingga melayang-layang di angkasa dan kemudian jatuh tepat di perapian kedua empu tersebut. Kedua empu yang berada di tempat itu pun ikut tertindih oleh Gunung Jamurdipa hingga tewas seketika. Menurut cerita, roh kedua empu tersebut kemudian menjadi penunggu gunung itu. Sementara itu, perapian tempat keduanya membuat keris sakti berubah menjadi kawah. Oleh karena kawah itu pada mulanya adalah sebuah perapian, maka para dewa mengganti nama gunung itu menjadi Gunung Merapi.
(sumber: https://histori.id/legenda-asal-usul-gunung-merapi/)
Diunduh pada tanggal 29 Juli 2018 pukul 11.25
Namaku Meisya Anggita Putri, biasa
dipanggil Icha. Lahir pada tanggal 29 Mei 2003. Hobiku membaca novel dan
wattpad. Warna kesukaaanku pink. Saat ini aku kelas X MIPA 3 di SMAN 1 Pakem.
Asal Usul Budaya di Yogyakarta
Pada
zaman dahulu terdapat sebuah kerajaan kecil di lereng selatan Gunung Merapi .
Kerajaan itu bernama Kerajaan Tulunggeni yang dikenal dengan ketajamannya yang
damai,subur,dan makmur. Seluruh anggota kerjaan memiliki pedoman yaitu untuk
selalu membuat seluruh rakyat tetap hidup berkecukupan dan berbahagia .
Kerajaan Tulunggeni dipimpin oleh Raja Brawiyata yang dikenal karena kemurahan
hatinya untuk selalu membuat rakyat bahagia . Sebagian besar rakyat di Kerajaan
Tulunggeni bekerja sebagai petani , karena tanah di lereng Gunung Merapi itu subur dan banyak sungai tak heran jika
setiap musim panen hasilnya selalu melimpah yang membuat Kerajaan Tulunggeni
makin makmur.
Setiap
musim panen , seluruh rakyat dan anggota kerajaan akan merayakannya dengan
pawai petani yang diiringi permainan gamelan yang dimainkan dengan lembut .
Suatu ketika saat musim panen tiba , seperti biasa Raja Brawijaya duduk di
singgasana nya di pinggir jalan utama desa , disampingnya terdapat sebuah
panggung tempat untuk gamelan dan pemainnya . Sementara itu para petani yang
selesai panen akan berjalan menuju rumahnya masing masing melewati jalan utama
desa . Mereka meletakkan hasil panen mereka di gerobak yang ditarik sapi.
Ketika melewati singgasana raja para petani akan memperlihatkan hasil panen
mereka dengan wajah bangga mereka yang diikuti senyuman Sang Raja . Pawai
petani itu diiringi permainan gamelan yang lembut dan santai.
Empat
tahun berlalu dan pada setiap musim panen Kerajaan Tulunggeni selalu melakukan
tradisi yang sama . Ternyata raja mulai bosan dengan satu satunya tradisi
budaya di kerajaannya itu . Raja Brawijaya ingin pesta perayaan musim panen itu
dibuat lebih meriah dan heboh . Kemudian raja pada awal musim kemarau ini
mengumpulkan seluruh warganya dan memerintahkan agar seluruh warga ikut
berpartisipasi memeriahkan acara pesta musim panen . Setelah itu warga
kebingungan , bagaimana caranya agar seluruh warga termasuk ibu ibu dan anak
kecil ikut memeriahkan pesta musim panen . Saat itu semua warga berkumpul untuk
bermusyawarah . Seorang pemuda desa
bernama Jaka Podhang memiliki usulan, dia menyarankan agar ibu ibu dan anak
kecil mengiringi gerobak, tak hanya berjalan mengiringi tetapi mereka juga
harus menari dan bernyanyi dengan kompak . Pemain gampangnya juga dibuat lebih
cepat dan bertenaga . Setelah Jaka Podhang selesai dengan pendapatnya para
warga yang hadir langsung menyetujuinya .
Sekarang
sudah awal musim penghujan , jadi musim panen sebentar lagi akan tiba . Berita
tentang para warga telah siap membuat pesta panen menjadi lebih meriah telah
didengar raja dan Raja Brawijaya juga tak sabar untuk segera menyaksikannya .
Musim panen telah tiba dan raja telah siap di singgasana di pinggir jalan utama
. Dari kejauhan telah terlihat banyak sekali warga yang berarak-arakan. Ketika
sebuah gerobak mulai melewati raja, musik gamelan mulai dimainkan diiringi
nyanyian ibu-ibu dan tarian dari ibu-ibu yang lain dan para analnya. Mereka menari
sambil berjalan mengiringi gerobak yang membawa hasil panen. Musik gamelan
menjadi lebih bersemangat dan membuat seluruh warga juga bersemangat. Senyum
raja menjadi lebih lebar, ia mengucapkan terimakasih kepada seluruh warga desa.
Karena telah melakukan perintahnya dengan baik. Ternyata raja menjadi mendapat
ide untuk membuat kerajaannya memiliki lebih banyak kebudayaan. Raja kemudian
mengadakan sebuah sayembara. Ia memerintahkan prajuritnya untuk mengumpulkan
semua warga di halaman istana, raja pun memulai pidatonya,
“Seluruh
wargaku, aku mengadakan sebuah sayembara, buatlah kelompok-kelompok dan buatlah
pentas seni yang dapat kita saksikan bersama, kelompok yang berhasil membuat
pentas seni yang bisa menghibur seluruh warga, kelompok itulah yang berhasil
dan akan ku beri hadiah, ku beri waktu dua bulan untuk kalian membuatnya” ucap
raja.
Raja
juga memberikan satu set alat musik gamelan untuk dimanfaatkan warga desa.
Dengan segera para penduduk desa mulai berkelompok dan berdiskusi. Setelah
sepakat dengan kelompoknya masing-masing, mereka mulai berlatih. Ternyata semua
kelompok membutuhkan gamelan untuk pentas seninya. Namun raja hanya memberi
satu set gamelan, sementara warga yang berpartisipasi telah membuat empat
kelompok. Karena jiwa sosial warga yang kuat, mereka bisa tetap berlatih dengan
satu set gamelan itu. Setiap malam mereka bergantian berlatih di rumah kelompok
mereka masing-masing.
Dua
bulan telah berlalu dan raja telah siap menunggu di singgasana yang diletakkan
di halaman istana yang luas. Di halaman istana terdapat panggung dan tanah
kosong yang diberi pagar yang disiapkan sendiri oleh para anggota kelompok.
Semua warga yang tak membuat kelimpok juga berkumpul untuk menyaksikan pentas
seni apa yang dibuat oleh kelompok-kelompok itu. Mereka semua menghadap ke
panggung yang telah disiapkan. Pertunjukkan itu dimulai pada pertengahan hari.
Keempat kelompok telah mendaftar pada sekretaris raja.
Kelompok
pertama tampil, mereka terdiri dari ibu-ibu dan bapak-bapak penyanyi dan para
pemain gamelan. Para penyanyi mulai menyanyi diiringi gamelan. Lagu yang
dinyanyikan bercerita tentang kemakmuran kerajaan mereka. Semua warga termasuk
raja belum pernah mendengar nyanyian seperti itu. Tepuk tangan meriah menyambut
berakhirnya pertunjukkan nyanyian itu. Kelompok selanjutnya tampil dan mereka
melakukan pertunjukkan nyanyian yang diiringi gamelan. Raja berpikir jika seni
kelompok ini sama dengan kelompok yang maju pertama, tetapi setelah itu para
penyanyi yang terdiri dari bapak-bapak,pemuda,dan ibu-ibuberhenti menyanyi dan
mulai melakukan adegan drama. Drama itu menceritakan kisah cinta di desa tempat
mereka tinggal.
Hari
mulai beranjak sore, cahaya jingga terpancar dari ufuk barat, pencahayaan
istana mulai dinyalakan. Kelompok selanjutnya pun tampil, kelompok itu terdiri
dari para penari, penyanyi, pemain gamelan, dan seorang pawang. Semua penari
itu membawa anyaman bambu pipih yang lebar dan berbentuk menyerupai kida.
Gamelan mulai dimainkan dengan pelan, para penari menari dengan pelan dan lama
kelamaan gamelan bermain lebih cepat, penyanyi juga memberi suara iringan yang
lebih heboh yang memberi aura mistis. Para penari mulai menari tak beraturan,
sebelum para penari menuju penonton para pawang telah menenangkan para penari.
Para penari kemudian menari lagi dengan pelan dan pertunjukkan pun selesai.
Tepuk tangan dan ekspresi keheranan terpampang di wajah warga termasuk raja.
Pertunjukan
itu berlangsung lama, kelompok terakhir pun tampil pada malam harinya. Ketika
kelompok terakhir akan tampil anggota menggelar sebuah layar berwarna putih
yang sebuah layar berwarna putih yang disatu sisi diberi pencahayaan
menggunakan semacam lampu minyak. Di sisi itu juga terdapat semacam boneka
pipih yang memiliki tongkat sebagai penggerak. Pertunjukan pun dimulai, semua
warga diam melihat bayangan boneka pipih yang seolah-olah boneka itu yang
berbicara, diiringi gamelan dan nyanyian para penyanyi. Pertunjukkan telah
selesai dan semua warga bertepuk tangan dengan sangat meriah. Raja berdiri
berbicara,
“Marilah
kita dambut, kebudayaan baru kerajaan kita!” ucap raja diikuti tepuk tangan
meriah para warga
“Inilah
kebudayaan kita bersama yang harus kita lestarikan dan ajarkan kepada generasi
sesudah kita, karena kehebatan keempat kelompok ini memukau penonton dengan
pertunjukkan yang belum pernah ada, maka keempat kelompok ini mendapatkan
hadiah dariku, ” ucap raja.
Setiap
kelompok mendapat sekantung koin yang terbuat dari emas yang langsung mereka
bagi sama rata. Ternyata koin emas itu jumlahnya lebih dari cukup sehingga setiap
kelompok membaginya kepada para warga. Sehingga semua mendapat satu koin emas.
Ternyata raja sudah merencanakan ini, dia melebihi kepingan emasnya dan ingin
melihat apa yang akan dilakukan keempat kelompok itu kepada koin emas berlebih
tersebut. Raja Brawijaya bangga dengan jiwa sosial warganya. Dia yakin masa
depan wilayah kerajaannya kelak pasti tetap akan makmur.
Budaya
yang dibuat oleh keempat kelompok itu masih bertahan hingga sekarang. Tarian
dengan anyaman berbentuk kuda itupun dinamakan Jathilan. Nyanyian yang diiringi
gamelan disebut lagu macapat. Drama yang akhirnya disebut ketoprak, dan boneka
pipih yang akhirnya disebut wayang kulit, karena bahannya berasal dari kulit
lembu. Dan wilayah kerajaan Tulunggeni yang terletak di lereng selatan Gunung
Merapi yang subur itu sekarang menjadi Kabupaten Sleman.
TENTANG
PENULIS
Namaku
Muhammad Annas Alfiansyah yang akrab dipanggil Annas. Aku lahir pada 5 April di
Kabupaten Sleman. Aku suka dengan semua tentang alam dan senang menjelajahi
alam. Aku suka merenung sendiri di hutan. Tempat tinggal saya di lereng Merapi
sebelah selatan, itulah alasan saya menulis kisah tentang lereng Merapi.
Misteri Sungai
Dara
Al kisah, berdirilah sebuah dusun yang diberi nama Dusun Blekik. Di
Dusun Blekik terdapat pemandangan alam berupa sawah, sungai, kebun, dll. Sungai-sungai
yang ada di Dusun Blekik sangatlah jernih. Sungai-sungai itu diberi nama Sungai
Boyong, Sungai Sumber, Sungai Dara, dan Sungai Mantras. Selain sungainya yang
jernih, ternyata sungai-sungai di Dusun Blekik memiliki kisah misterinya
masing-masing, salah satunya Sungai Dara.
Sungai Dara adalah sungai yang sangat bermanfaat bagi kehidupan
masyarakat. Di Sungai Dara terdapat banyak pohon yang sangat rimbun, antara
lain pohon bambu, pohon ketapang, dan lain-lain. Selain itu, di Sungai Dara terdapat
bebatuan yang besar, pasir, dan lain-lain. Seorang nenek yang bernama Mbah Tuki,
salah seorang warga Dusun Blekik, mengatakan bahwa Sungai Dara adalah salah
satu cabang dari Sungai Boyong.
Sungai Dara dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk mencuci, irigasi,
mandi, dan lain-lain. Sungai Dara merupakan salah satu sungai yang selalu
dipenuhi oleh air yang jernih dan menyejukkan. Disaat air di sungai-sungai Blekik
mulai surut, hanya Sungai Daralah yang airnya tidak pernah surut. Meski pernah sedikit
surut, air di Sungai Dara akan kembali terisi seperti semula saat malam hari
atau keesokan harinya.
Selain banyak manfaat untuk
masyarakat sekitar, Sungai Dara memiliki kisah misteri yang sudah tidak asing
lagi bagi masyarakat sekitar. Banyak kejadian yang dialami bahkan pernah
dilakukan oleh beberapa masyarakat baik dari Dusun Blekik maupun dari dusun-dusun
lainnya. Kejadian yang pernah didengar bahkan dilakukan oleh beberapa
masyarakat, seperti pernah suatu ketika terjadi pembuangan bayi. Pembuangan
bayi ini, dilakukan oleh salah seorang warga di Dusun Blekik karena kehadiran
bayi itu tidak diinginkan oleh orangtuanya atau dengan kata lain diperoleh dari
hubungan yang terlarang.
Selain itu, pembuangan mayat pernah
dilakukan oleh masyarakat zaman dahulu. Hal ini dikarenakan salah satu warga
itu pernah membunuh seseorang. Kemudian, sang pelaku membuang korban ke Sungai
Dara dengan tujuan menghilangkan jejak sang korban. Banyak orang yang melakukan
pesugihan di Sungai Dara dengan cara menyembah serta memberikan sesaji untuk penunggu
sungai itu, biasanya mereka meletakkannya di batu yang paling besar.
Selain kejadian yang dilakukan oleh
masyarakat, ada juga kejadian yang pernah dialami ataupun didengar oleh
masyarakat sekitar. Banyak makhluk gaib yang sering menampakkan dirinya bahkan
pernah dilihat sendiri oleh beberapa masyarakat. Pernah juga salah satu dari
warga Dusun Blekik yang diperlihatkan penampakan ular jadi-jadian atau ular jelmaan
yang berukuran besar. Selain itu, ada seorang kakek yang bernama Ki Soka, pernah
melihat makhluk tak kasat mata di sungai itu. Beliau pernah mendengar suara,
“krincinggg…krincinggg...krincing…”, yang berasal dari makhluk gaib. Ki Soka
mengatakan bahwa makhluk gaib ini adalah makhluk yang memakai banyak perhiasan
berupa emas.
Ada satu benda tak kalah menyeramkan
yang terdapat di Sungai Dara dan memiliki kisah misterinya tersendiri. Benda
ini berupa batu kembar yang berukuran besar. Batu ini dikatakan oleh masyarakat
setempat sebagai batu kembar karena bentuk dan ukurannya sama. Selain bentuk
dan ukurannya yang sama, uniknya batu kembar ini saling berhimpitan satu sama
lain. Mbah Tuki, warga Dusun Blekik mengatakan bahwa batu itu berasal dari
Gunung Merapi. Batu kembar ini dahulunya terbawa oleh lahar dingin saat Merapi
meletus dengan dahsyatnya sekian tahun lamanya. Dengan kejadian ini, kemudian
batu kembar itu terhenti dan menempel pada daerah yang ada di Sungai Dara.
Di batu kembar ini, ada beberapa
masyarakat yang pernah melakukan semedi untuk pesugihan. Selain itu, ada juga
yang meminta agar dirinya dapat memiliki dan menggunakan kekuatan yang besar
dari makhluk gaib. Kebanyakan masyarakat yang melakukan hal itu adalah
masyarakat dari luar Dusun Blekik. Mereka diberi tahu oleh salah satu orang
pintar di Dusun Blekik yang bernama Ki Soka.
Suatu ketika, banyak masyarakat
sekitar Sungai Dara yang sering membuang sampah di sungai itu sehingga sang
penunggu sungai menjadi terganggu. Sebagai tanda untuk memberitahukan kepada masyarakat
sekitar untuk membersihkan Sungai Dara, sang penunggu itu memasuki raga salah
satu warga Dusun Blekik yang bernama Mbah Tuki, warga Dusun Blekik. Saat itu,
Mbah Tuki sedang melewati jembatan di sungai itu dalam keadaan banyak pikiran
serta melamun. Kemudian, sang penunggu itu memasuki raga Mbah Tuki.
Setelah kejadian itu, Mbah Tuki merasa
lemas dan mengalami sakit kurang lebih seminggu. Ia sudah dibawa ke rumah sakit
untuk mendapatkan pengobatan, tetapi tidak kunjung sembuh. Akhirnya, Mbah Tuki
dibawa pulang ke rumah oleh keluarganya karena masalah keuangan. Setelah
beberapa hari, ia pun sembuh dari penyakitnya. Namun, setelah tiga hari sembuh
dari penyakitnya, ia pun kembali sakit. Saat sakit, Mbah Tuki hanya melamun
saja, ia tidak banyak bicara seperti biasanya.
Kemudian, pihak keluarga pun
memanggil orang pintar, dari nasihat tetangganya. Kata orang pintar itu, di dalam
raga Mbah Tuki dimasuki oleh makhluk gaib, makhluk gaib ini bernama Kliwon.
Namun, makhluk itu mengatakan kepada orang pintar untuk segera membersihkan
tempat tinggalnya yang sudah dirusak oleh manusia, saat sebelum keluar dari
tubuh Mbah Tuki. Lalu, orang pintar itu pun mengikuti keinginan makhluk gaib
itu. Setelah beberapa jam orang pintar itu menyembuhkan Mbah Tuki, akhirnya makhluk
gaib itu pun keluar dari tubuh Mbah Tuki dan pergi ke tempat asalnya.
Dengan kejadian itu, masyarakat yang
melewati Sungai Dara harus membunyikan klaksonnya saat melewati jembatan di
sungai itu. Pembunyian klakson bertujuan sebagai ucapan atau pertanda permisi
bagi manusia dengan makhluk gaib di sungai itu. Selain itu, setiap orang yang
melewati Sungai Dara harus senantiasa
berdoa. Hal itu dilakukan agar kita senantiasa dilindungi
oleh Alah SWT dan terhindar dari
perbuatan yang tidak diinginkan.
Hai, namaku Mutiara Adzani
Putri, aku biasa dipanggil Muti. Aku lahir tanggal 21 September 2002. Sekarang
umurku 16 tahun. Alamat rumahku di Jakal KM.13 , di Dusun Blekik RT 01 RW 25,
Sardonoharjo Ngaglik Sleman, Yogyakarta. Zodiakku adalah virgo. Warna
kesukaanku adalah pink. Hobiku menggambar dan bersepeda. Sekarang aku duduk di
kelas 10 MIPA 3 di SMA N 1 PAKEM.
ASAL MULA GUNUNG KIDUL
Asal mula Gunung Kidul terjadi pada masa berdirinya Kesultanan Yogyakarta. Kala itu yang menjadi raja adalah Sultan Hamengku Buwono I. Pada waktu pemerintahannya, daerah Selatan masuk ke dalam wilayah Kesultanan Yogyakarta. Namun, pada waktu itu namanya bukan Gunung Kidul, tetapi Sumengkar. Karena wilayahnya sangat luas, daerah Sumengkar dipimpin oleh seorang adipati.
Pada suatu hari, di Kadipaten Sumengkar saat semua sedang sibuk, tiba-tiba ada pemberitahuan mendadak akan adanya pertemuan penting dengan Adipati. Pertemuan itu dipimpin oleh Adipati Sumengkar sendiri, yaitu Adipati Wironegoro. Sang Adipati mengundang orang-orang kepercayaannya, dan para punggawa Kadipaten Sumengkar lainnya dalam pertemuan tersebut. Semua orang yang diundang langsung menuju ke tempat pertemuan saat itu juga. Saat sudah banyak yang hadir pertemuan langsung dimulai. Seluruh punggawa dan orang orang kepercayaan Adipati yang hadir dalam pertemuan tersebut langsung mendekati Adipati Wironegoro. Lalu salah satu punggawa bertanya kepada Adipati “Adipati ada perlu apa memanggil kami ke mari ?” tanya Patih Prajasena. “Aku mengundang kalian semua dalam pertemuan ini karena ada hal penting yang akan aku beritakan. Aku ingin memberitakan titah Kanjeng Sultan Yogyakarta Hadininingrat. Tetapi sebelum kuberitakan apakah ada yang belum hadir di sini?” tanya Adipati.
Puspowilogo yang mendengarkan pertanyaan Adipati langsung menjawab “Ada Adipati, Wonoprawiro belum hadir, karena masih harus menyelesikan suatu pekerjaan “Baiklah, kita tunggu sebentar sampai Wonoprawiro datang. Kalau tidak datang, kita tinggal saja dia,” jawab Adipati. Mendengar Adipati, Prajawirangga bertanya “Bolehkah saya menjemput dan membawa Wonoprawiro ke sini agar kita bisa memulai pertemuan?” Adipati menjawab “Cepatlah, karena ini sangat penting!”
Segeralah Prajawirangga keluar dari tempat itu dan menjemput Wonoprawiro. Punggawa yang ada di tempat pertemuan bersama Adipati terus menunggu dan menunggu. Hampir 1 jam berlalu, akhirnya Prajawirangga kembali ke tempat pertemuan sendirian. Bertanyalah Adipati kepada Prajawirangga “Di mana Wonoprawiro? Mengapa kau ke sini seorang diri”. Jawab Prajawirangga sambil kelelahan “Mohon maaf Adipati saya sudah mencari ke seluruh tempat, tetapi saya tidak bisa menemukan Wonoprawiro”. “Ya sudah, kita lanjutkan saja.” Adipati menjawab dengan nada sedikit marah
Adipati Wironegoro segera menyampaikan titah Sultan Hamengku Buwono kepada segenap punggawa yang hadir. Isi pokok dari titah Sultan Yogyakarta itu adalah agar ibu kota Kadipaten Sumengkar dipindahkan ke hutan topan. Alasan perpindahan ibu kota itu atas dasar petunjuk yang diterima Kanjeng Sultan ketika sedang meditasi. Jika ibu kota Kadipaten Sumengkar tidak dipindahkan, maka akan menyebabkan bencana. Bukan hanya Kadipaten Sumengkar, melainkan Kesultanan Yogyakarta keseluruhan.
Salah satu harus ada yang menjalankan perintah ke tempat yang berbahaya itu. Mengingat ancaman malapetaka yang bakal menimpa, Kanjeng Sultan Yogyakarta memerintahkan Adipati Wironegoro untuk secepat mungkin melaksanakan perintahnya.
“Perintah Kanjeng Sultan cukup jelas. Sekarang siapa di antara kalian yang akan berangkat melaksanakan tugas negara ini, mengambil alih hutan topan” tanya Adipati Wironegoro.
Semua yang hadir hanya bisa terdiam mendengar perintah itu. Mereka semua perlu bertanya lagi, karena memasuki hutan Topan karena risikonya sangat besar. Semua yang hadir dalam pertemuan itu tidak ada yang mampu melaksanakan tugas tersebut. Akhirnya Adipati memberikan waktu 1 hari kepada para punggawa. Lalu rapat dibubarkan dan semua punggawa diminta pulang.
Beberapa jam setelah pertemuan dibubarkan, Adipati Wironegoro tiba-tiba mendengar kabar bahwa Wonoprawiro dan adiknya berangkat menuju hutan topan untuk melaksanakan tugas negara itu. Sebelum berangkat, Wono prawiro meninggalkan sepucuk surat untuk Adipati, yang berbunyi “Adipati, saya memohon maaf atas ketidakhadiran saya dalam pertemuan penting. Maka dari itu saya akan melaksanakan tugas negara yang berbahaya itu”
Setelah membaca surat itu Adipati merasa senang karena ada yang mau melaksanakan tugas negara itu. Lalu Sang Adipati pun berjanji, jika Wonoprawiro itu berhasil menjalankan tugas negara, maka anugerah yang besar akan diberikan kepadanya.
Ternyata ada salah satu warga yang tau bahwa Adipati akan memberikan penghargaan kepada Wonoprawiro jika tugasnya berhasil. Warga itu langsung memberitahu para punggawa yang lain. Mendengar kabar tersebut tanpa berpikir panjang para punggawa bersiap siap pergi ke hutan topan yang berbahaya itu. Kabarnya, penghargaan yang akan diberikan sangat berharga dan sangat sulit diperoleh.
Di lain tempat, Adipati sedang mendatangi kediaman Wonoprawiro “Kamu telah melakukan hal mulia. Sekarang bersiaplah dan berangkatlah. Kami di sini mendoakanmu,” kata Adipati tanpa mengetahui apa yang sedang para punggawa lakukan.
Akhirnya, Wonoprawiro berangkat menjalankan tugas. Sebelum memasuki kawasan hutan topan yang berbahaya itu, Wonopawiro telah merecanakan untuk singgah di kediaman Ki Nitisari, saudaranya, yang tahu banyak informasi tentang hutan topan.
“Dimas, bukan sebuah pekerjaan yang mudah untuk mengambil alihhutan topan. Jika ada salah sedikit nyawa sebagai taruhannya,” kata Ki Nitisari mengingatkan saudaranya.
“Lalu apa yang harus saya lakukan agar bisa mengambil alih hutan topan?”
“Nanti tepat tengah malam, aku akan menemani Dimas untuk bertemu dengan penguasa hutan topan” jawab Ki Nitisari.
Tepat tengah malam, dua bersaudara itu nekat menerobos tengah malam dan bahaya hutan topan itu. Seperti namanya, di hutan itu angin berhembus sangat kencang. Sesekali mereka berdua mencari tempat menghindar dari angin topan, jika angin tidak terlalu kencang kedua saudara itu terus melanjutkan langkah mereka tanpa mempedulikan godaan dan serangan para jin penunggu hutan itu di sepanjang perjalanan.
Di sisi lain para punggawa lain berangkat ke hutan topan bersama sama tanpa sepengetahuan Adipati. Mereka mencari jalan pintas agar dapat lebih cepat sampai ke tujuan. Pada kenyataannya ada beberapa halangan di perjalanan beberapa tidak mampu melalui itu dan tidak melanjutkan perjalanan. Semakin dekat dengan hutan malah semakin banyak halangan sehingga hanya dua punggawa yang masih kuat melanjutkan perjalanan yaitu Puspowilogo dan Wirenggana. Mereka melanjutkan perjalanan dengan pantang menyerah, sehingga mereka dapat sampai di hutan. Saat mulai memasuki hutan angin bertambah kencang, mereka beberapa kali mencari tempat agar terhindar dari angin kencang. Setelah kembali melanjutkan perjalanan banyak serangan dari jin penunggu hutan. Awalnya mereka bisa menahan para jin, tetapi lama kelamaan mereka tidak kuat dan tergeletak di bawah sutu pohon.
Saat Wonoprawiro dan adiknya sampai di suatu gubuk,tiba-tiba mereka mendengar suara meminta tolong yang tak jauh dari situ yaitu suara dari Puspowilogo. Wonoprawiro langsung menghampiri sumber suara, menolong kedua punggawa, dan bertanya apa yang terjadi. Setelah itu Wonoprawiro mencarikan kedua punggawa itu tempat yang aman dan meminta agar mereka berdua segera kembali ke Sumengkar melewati jalan yang diberitahu oleh Wonoprawiro. Kedua punggawa itu beristirahat dan beberapa lama kemudian mereka kembali ke Sumengkar. Wonoprawiro dan adiknya melanjutkan apa yang sedang mereka kerjakan, kedua saudara itu bertapa dan meminta pertolongan kepada Yang Maha kuasa agar dimudahkan. Empat puluh hari empat puluh tahun lamanya kedua saudara itu bertapa. Selama itu pula, keduanya tetap sabar menghadapi banyak serangan dari para jin penghuni hutan. Namun, akhirnya para jin penghuni hutan itu lari meninggalkan hutan karena tak kuat menghadapi kesaktian kedua saudara itu. Kedua saudara itu juga dapat meredakan angin topan di hutan itu. Setelah mengetahui para jin kabur Ratu Laut Kidul sebagai penguasa bagian selatan,mengutus Nyai Melati untuk menemui kedua saudara itu.
Melalui utusannya itu, penguasa wilayah selatan dan juga yang berkuasa pula atas hutan topan memberi dan merelakan hutan di bawah kekuasaannya itu dijadikan daerah kadipaten menggantikan Kadipaten Sumengkar karena kesaktian dua saudara tersebut.
Sedangkan di Sumengkar, Adipati sangat murka karena sikap para punggawa yang hanya menginginkan penghargaan. Para punggawa yang melakukan perjalanan itu diberi hukuman berat oleh Adipati dan mereka harus menaatinya. Saat itu pula Adipati menemui Wonoprawiro dengan rasa senang dan berterimakasih. Adipati menjadikan Wonoprawiro menjadi orang kepercayaannya dan menjadikan Ki Nitisari sebagai salah satu orang penting di kadipaten.
Namun, ada suatu perjanjian oleh penguasa hutan topan yaitu jika ada penguasa baru hutan topan harus mengganti nama daerah yang baru itu menggunakan “Kidul” yang artinya selatan. Sehingga Adipati bersama dengan orang kepercayaannya sepakat menggunakan nama “Gunung Kidul” karena tempat itu berada di daerah pegunungan.
Sumber: http://kekunaan.blogspot.com

Hikayat Desa Panggang
Konon,
Terjadi sebuah letusan Gunung Merapi yang dahsyat, letusan ini
memporak-porandakan daerah sekitar lereng dan
membuat tanaman-tanaman mati. Tanah diselimuti oleh batuan keras
sehingga tidak bisa ditanami lagi. Hal ini membuat sebagian warga meninggalkan
Lereng Merapi dan mencari tempat tinggal baru.
Beberapa bulan
kemudian seorang pemuda bernama Joko
Thole pergi mengembara ke lereng Gunung Merapi untuk mengabdi pada masyarakat
dan mencari jodohnya.
Setelah
berhari hari mengembara Joko Thole kehabisan bekalnya. Dia berhenti di sebuah
pemukiman kecil dan membeli makanan. Dia tertarik dengan lingkungan sekitar
akhirnya Joko Thole pun bertanya pada seorang penduduk
“Apakah saya bisa tinggal di sini?” Tanya Joko Thole,
“Anda bisa tinggal di sini,
asalkan Anda sudah mendapat izin dari tetua kami” jawab penduduk tersebut.
“ Lalu di mana tempat aku
bisa bertemu tetua mu?” Tanya Joko Thole lagi.
Penduduk itu menjawab
“Biasanya beliau sedang duduk di taman di tepi jurang saat sore hari begini.”
Joko Thole bergegas menuju taman untuk mencari
tetua. Dia bertemu seorang pria tua yang sedang duduk di sebuah batu mengamati
sekumpulan orang yang sedang membawa air dari sebuah sungai.
“Wahai pak
tua , apakah kau adalah tetua dari warga yang di sana?” tanya Joko Thole. “Ya
benar, Saya adalah Purwa Sanjaya,.Ada apa anda mencari saya?” jawab pria itu.
” Saya ingin memohon ijin untuk tinggal di wilayah anda untuk
sementara.“ Pinta Joko Thole.
“ Saya mengijinkan siapa
pun tinggal di sini asalkan dia tak pernah membuat kekacauan di wilayah ini”
kata tetua wilayah, “ Kau bisa tinggal di rumah di dekat Pohon itu.”
“ Terima kasih atas kebaikanmu, saya pasti akan membalasnya esok”
kata Joko Thole sambil pergi mengemasi barangnya dan pergi kerumah yang
dimaksud.
Keesokan
harinya Joko Thole melihat pria tua yaitu Purwa Sanjaya duduk di taman yang
sama saat mereka bertemu pertama kalinya. Begitu juga dengan hari berikutnya,
Joko Thole pun bertanya pada Purwa Sanjaya apa yang selalu pria tua itu lakukan
setiap hari, Purwa Sanjaya menjawab bahwa dia memikirkan cara untuk mendapat
air lebih mudah, karena setelah bencana gunung meletus bendungan yang dibuat
rusak dan mengering. Warga mencoba membuat sebuah jalur air dari sungai ke wilayahnya
namun gagal karena air kering di tengah jalur sebab terlalu jauh. Joko Thole
mengusulkan untuk menggali tanah untuk
membuat sumur. Meski sudah
mencoba menggali di beberapa tempat semuanya gagal, tidak ada air yang muncul.
Pada malam
hari, saat Joko Thole tidur. Dia bermimpi agar dia menaruh sesajen berupa
ingkung panggang di bawah sebuah benda yang dianggap keramat oleh penduduk
sekitar dan bertapa di sebelahnya.
Keesokan paginya,
Joko Thole bertanya pada Purwa Sanjaya tentang benda yang di anggap keramat di
sekitar sini. Purwa Sanjaya menjawab bahwa benda yang dianggap keramat
disekitar sini adalah sebuah pohon randu tua yang besar di dekat hutan. Joko
Thole langsung menyiapkan semua perlengkapan sesaji dan pergi ke dekat hutan sendiri pada sore
hari.
Joko Thole
bertapa selama tiga hari tanpa makan dan minum, di malam terakhir Joko Thole
mendapat bayangan seekor gagak hitam yang membawa sebuah ayam panggang
diparuhnya. Gagak itu berkata bahwa di wilayah ini hanya ada sumber air yang
memang akan mengering di musim kemarau, namun kalian akan mendapat banyak
berkah dari pasir yang melimpah. Joko Thole pun bangun dari bertapanya karena
suara kepakan sayap yang keras dari atas pohon randu. Dia melihat seekor gagak
sama persis seperti di dalam bayangannya
saat bertapa tadi. Gagak itu mengangguk dan menjatuhkan ayam panggang di atas
pohon randu tersebut.
Joko Thole
pun pulang dan memberi tau kepada warga bahwa tanah yang kita gali akan muncul
air hanya saat musim penghujan. Karena
melihat usaha keras nya mencari air para warga dan Purwa Sanjaya terkesima.
Purwa Sanjaya menawarkan Joko Thole menjadi tetua wilayah, namun Joko Thole
menolak karena ia hanya semata mata membalas kebaikan Purwa Sanjaya dan para
warga.
“Jika kau membutuhkan sesuatu,katakanlah pada
kami. Kami tak kan ragu membantumu.” kata Purwa Sanjaya.
“ Tentu saja
.“ Jawab Joko Thole.
Dimalam hari
saat, Joko Thole teringat tujuannya mengembara juga untuk mencari jodohnya. Dia
pun kembali bertapa sambil menaruh sesaji lagi ditempat yang sama dengan niat
untuk memohon petunjuk tentang jodohnya. Dalam bayangannya dia melihat sosok
gagak yang sama dan juga membawa ayam panggang seperti sebelumnya. Gagak itu
menyampaikan bahwa jodoh Joko Thole berada jauh di arah barat,maka Joko Thole
harus kembali mengembara seperti dulu. Joko Thole terbangun karena kepakan yang
sama seperti sebelumnya dan melihat gagak yang sama di atas pohon
Joko Thole
pun pulang dan berpamitan dengan semua warga.
Para warga dikumpulkan. Joko Thole berkata “Saya harus pergi
mengembara lagi untuk mencari jodohku.
Untuk semua warga, saya mempunyai sebuah pesan, apabila wilayah ini menjadi
besar dan menjadi sebuah desa namakan wilayah ini dengan nama “Randu Panggang”
.” selanjutnya Joko Thole melanjutkan pengembaraannya ke arah barat.
Seiring waktu
sumur yang dibuat itu benar benar muncul air saat penghujan dan mengering saat
kemarau. Wilayah itu pun semakin besar. Purwa Sanjaya teringat pesan Joko Thole
dan akhirnya menamakan wilayah itu Randu Panggang atau lebih dikenal sebagai
Desa Panggang.
Sumber : Marjo Sumanto

Hei....Namaku Rizky
Gustiantoro, kalian bisa memanggilku Rizky atau Gusti. Aku Lahir 9 jam sebelum
hari ulang tahun Republik Indonesia di tahun 2003. Lahir di Bulan Agustus bukan
berarti aku segalak Leo lho guys, aku malah lebih seperti kucing yang imut dan
lucu hehehe...
ASAL- USUL GUNUNG MERAPI
Konon, Pulau Jawa memiliki tanah yang miring dan tidak rata. Oleh karena hal tersebut, para dewa di
kahyangan ingin menyeimbangkan Pulau Jawa. Para dewa ingin meletakkan sebuah batu besar di tengah Pulau
Jawa agar tanah di Pulau Jawa tidak miring dan menjadi lebih rata. Para dewa
memutuskan untuk memindahkan Batu Jamurdipa. Batu tersebut berada di Pantai
Selatan dan akan dipindahkan ke daerah sekitar perbatasan Kabuate Sleman,
Boyolali, dan Klaten. Para dewa akan
mengutus Dewa Bayu untuk memindahkan batu tersebut.
Di tempat akan diletakkannya Batu Jamurdipa, tinggallah dua orang
empu sakti. Kedua empu tersebut merupakan pembuat keris bernama Empu Rama dan
Empu Pamadi. Kedua empu tersebut merupakan pembuat keris yang sangat ahli.
Dalam membuat keris, kedua empu tersebut tidak pernah menempa besi menggunakan
palu atau landasan logam. Kedua empu tersebut menggunkaan tangan dan paha
sebagai alasnya. Mereka menggunakan
kesaktiannya untuk membuat keris yang sangat hebat dan berkualitas sangat
tinggi.
Mengetahui di tempat akan diletakkannya Batu Jamurdipa tersebut
terdapat dua orang empu sakti, para dewa berunding. Mereka kemudian mengutus
Batara Narada dan Dewa Penyarikan untuk menemui kedua empu tersebut. Batara
Narada dan Dewa Penyarikan meminta kedua empu untuk pindah dari tempat itu agar
tidak tertindih Batu Jamurdipa.
Kedua
utusan kahyangan tersebut turun ke bumi. Mereka menyampaikan pesan para dewa
kepada Empu Pamadi dan Empu Rama.
“Maaf,
Empu! Kami utusan para dewa ingin berbicara dengan Empu berdua,” sapa Dewa
Penyarikan.
Kedua
empu tersebut segera menghentikan pekerjaannya dan kemudian mempersilakan kedua
utusan para dewa itu untuk duduk.
“Ada
apa gerangan? Ada yang dapat hamba bantu?” tanya Empu Rama.
“Kedatangan
kami kemari untuk menyampaikan permintaan para dewa kepada Empu,” jawab Batara
Narada.
“Apakah
permintaan itu?” tanya Empu Pamadi penasaran, ”Semoga permintaan itu dapat kami
penuhi.”
Mereka mengatakan bahwa Pulau Jawa memiliki tanah yang miring dan
tidak rata. Maka dari itu, para dewa ingin meletakkan sebuah batu besar yang
akan diletakkan di tempat kedua empu tersebut tinggal. Namun, kedua empu
tersebut menolak.
"Terima
kasih atas kedatangan kalian, tetapi mohon maaf, kami tidak bisa pindah dari
sini. Jika kami berpindah-pindah itu tidak baik bagi kualitas keris buatan
kami," jawab Empu Rama.
Batara
Narada dan Dewa Penyarikan mencoba kembali menasihati Empu Rama dan Empu
Pamadi. Sekali lagi kedua empu tersebut tetap bertahan kepada pendiriannya dan
tidak akan pindah dari tempat tersebut.
"Namun,
jika hal ini tidak dilakukan, maka Pulau Jawa akan semakin miring, "
Batara Narada menasihati. Kedua empu tetap tidak mau pindah dari tempat
tinggalnya.
Dahulu, ketika terjadi badai di tempat kedua empu tersebut
tinggal, mereka memutuskan untuk mencari tempat yang lebih aman supaya mereka
tetap bisa membuat keris. Di tempat yang baru tersebut mereka terus berusaha
untuk tetap membuat keris. Namun, keris yang dihasilkan kualitasnya lebih buruk
dari keris yang yang mereka buat di tempat tinggal meraka yang asli.
Ketika
badai sudah reda, mereka memutuskan untuk pindah ke tempat tinggal semula. Kedua
empu tetap membuat keris dan keris yang dihasilkan pun kualitasnya jauh lebih
baik. Sejak saat itu, mereka memutuskan untuk tidak akan pernah meninggalkan
tempat tersebut apapun yang terjadi.
Batara
Narada marah karena kedua empu tersebut tidak mau pindah. Akhirnya terjadilah
pertengkaran yang dilanjutkan dengan pertarungan diantara kedua empu dengan
Batara Narada dan Dewa Penyarikan. Empu Rama dan Empu Pamadi menggunakan
kesaktiannya untuk melawan mereka. Kesaktian yang dimiliki kedua empu lebih
tinggi, meraka berhasil memukul mundur Batara Narada dan Dewa Penyarikan.
Batara Narada dan Dewa Penyarikan kembalu ke kahyangan. Dewa-dewi
di kahyangan murka ketika mengetahui mereka tidak berhasil mengusir Empu Rama
dan Empu Pamadi.
"Kedua
empu tersebut memang keras kepala! Lihat saja apa yang akan terjadi, "
kata Batara Guru.
Hari
selanjutnya, para dewa akhirnya ikut turun ke bumi. Mereka bertemu dengan kedua
empu dan berusaha memberikan nasihat kepada kedua empu untuk kesekian kalinya
dan untuk kesekian kalinya pula kedua empu menolak untuk pergi.
Kedua
empu tersebut membuat para dewa murka. Akhirnya, terjadilah pertempuran antara
kedua empu dengan para dewa dari kahyangan. Kedua empu berusaha melawan para
dewa dengan kesaktian yang mereka miliki.
Pertempuran tersebut terjadi selama satu hari satu malam.
Akhirnya, para dewa dapat dipukul mundur oleh kedua empu. Para dewa kembali ke
kahyangan dengan perasaan malu sekaligus kecewa karena mereka tidak bisa
memukul mundur kedua empu untuk pergi dari tempat tersebut. Para dewa pun
murka.
"Kedua
empu tersebut sulit sekali dikalahkan, jumlah kita bahkan lebih banyak dari
mereka berdua, tetapi tetap saja kita tidak bisa mengusir mereka, " kata
salah satu dewa.
"
Kalau dengan diberi nasihat tidak bisa, maka kita tidak akan memperhitungakan
mereka lagi, " sahut dewa yang lain.
"
Segera tiupkan Batu Jamurdipa sekarang juga!" perintah Batara Guru.
Dewa Bayu lalu meniupkan Batu Jamurdipa sehingga terhempas dan
jatuh tepat di atas perapian kedua empu tersebut membuat keris. Empu Rama dan
Empu Pamadi pun tewas tertindih Batu Jamurdipa tersebut.
Perapian
tempat Empu Rama dan Empu Pamadi membuat keris kemudian menjadi sebuah kawah.
Akhirnya, batu berkawah tersebut diberi nama dengan Gunung Merapi, karena
letaknya persis di lokasi perapian kedua empu tersebut membuat keris.
Sumber:
https://dongengceritarakyat.com/cerita-rakyat-dari-yogyakarta-asal-mula-gunung-merapi/
BIODATA PENULIS
Titis
Anggita Wazni, lahir di Sleman, 9 Mei 2003. Dia adalah siswi SMA Negeri 1
Pakem. Sekarang dia duduk di bangku kelas X SMA. Dia tinggal di Jetis,
Argomulyo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Dia merupakan anak kedua dari dua
bersaudara. Dia senang sekali membaca cerita terutama novel. Saat ini, ia
berusia 15 tahun. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya dan seorang kakak
laki-laki.
Asal-Usul Ngaglik
Alkisah di desa Plosorejo hiduplah seorang
anak yang bernama Ki Jaka Nganu. Orang tua nya pergi meninggalkannya sejak ia
menginjak umur 4 tahun. Kemudian diasuh lah ia dengan pria tengah baya yang
namanya tak diketahui oleh siapa pun. Namun, ia sangat dikenal sebagai Maha Guru di tempat tersebut
karena ia bisa melakukan hal-hal yang tidak wajar, seperti terbang,
menyembuhkan penyakit hanya dengan sentuhan, dan lain-lain. Karena orang-orang
di desa itu begitu kagum dengannya, akhirnya tidak
sedikit dari mereka yang ingin berguru kepadanya. Dalam hitungan hari Maha Guru
tersebut memiliki banyak murid, ia mengajarkan kepada muridnya tentang arti
hidup, dan ilmu-ilmu yang tak wajar.
Singkat cerita Ki
jaka Nganu pun tumbuh menjadi remaja dan menjadi murid Maha Guru. Karena Ki Jaka Nganu adalah murid yang
pintar, rajin, terampil, dan berbakat, maka ia menjadi murid terbaik Maha Guru. Pada suatu hari, di tempat biasanya Maha Guru membagi ilmu
kepada murid-muridnya, yaitu di rumahnya sendiri. Ki Jaka Nganu benar-benar penasaran tentang
nama gurunya tersebut, ia ingin tahu kenapa beliau menyembunyikan identitasnya
padahal beliau adalah Maha Guru yang disegani. Kemudian Ki Jaka Nganu bertanya
tentang namanya. “Guru....Mengapa selama
ini guru tidak ingin seorangpun tahu tentang nama guru?” Tanya Ki Jaka Nganu
dengan penuh penasaran. “Aku menyembunyikan namaku karena alasan tertentu,
masih lama waktu mu untuk mengetahuinya muridku, jalanmu masih panjang, suatu
saat nanti kamu juga akan mengerti.” Jawab Maha Guru, Ki Jaka Nganu pun
terdiam.
Hari
itu sinar mentari begitu terang membuat suasana desa itu damai, angin menari ke sana ke mari. Tepat di
depan rumah, Maha Guru sedang bersama muridnya . Mereka duduk dan berbincang -
bincang tentang ilmu yang akan dipelajari Ki Jaka Nganu, kemudian di tengah
perbincangan itu tiba-tiba langit menjadi gelap, hujan pun turun dengan lebat.
Suara gemuruh di langit pun cukup untuk merusak gendang telinga. Mereka berdua
bergegas masuk ke dalam rumah sambil menutup telinga mereka dengan sangat erat.
Tak lama setelah itu petir menyambar di mana-mana. ” GLEGARRRR!!!” Petir itu menyambar rumah Maha Guru. Tak disangka ternyata Maha Guru lah
yang terkena petir tersebut. Terbentuklah lobang di atap tepat di atas Maha Guru
tergeletak. Seketika langit cerah kembali, cuaca menjadi terkendali, hujan
badai pun terhenti. Ki Jaka Nganu pun terkejut melihat hal itu. Hati nya terasa
seperti kertas yang dirobek. Sambil meneteskan air mata ia bergegas berlari
menuju tempat Maha Guru tergeletak, rupanya Maha Guru masih setengah sadar.
Ketika Ki Jaka Nganu ingin memanggil bantuan, Maha Guru memegang tangan Ki Jaka
Nganu dengan erat. “Tak perlu muridku... waktuku sudah tak bisa dihitung
menit..” Kata Maha Guru
dengan lirih. “Tapi guru??!!!” Ki Jaka Nganu berteriak. “Mungkin Tuhan murka
padaku, padahal selama ini aku ingin membangun sebuah padepokan di dekat Gunung
Blego, ada yang berkata bahwa disana nyaman dan damai, tapi sepertinya aku
tidak bisa mendapatkannya.” Jelas Maha Guru. “Baiklah Guru, biar saya yang akan mewujudkan mimpi Guru!” Seru Ki Jaka Nganu dengan menahan
tangisnya. “Tidak....kau... tidak... seharusnya... me.... ... “ Kalimat terakhir Maha Guru pun terucap. Kedua
mata Maha Guru tertutup rapat. Hidup
seorang Maha Guru yang disegani di desa tersebut. Tanpa menghiraukan kalimat
terakhir Maha Guru, Ki Jaka Nganu
bertekad untuk mewujudkan mimpi Beliau dan menjadi Maha Guru.
Seperti biasanya Desa Plosorejo terlihat sangat damai, penuh
senyuman dan tawa. Namun kini ada sesuatu yang berbeda, seseorang yang dulunya adalah anak yang ditinggal oleh orang
tuanya yang kemudian diasuh oleh seseorang sudah tumbuh dewasa. Ki Jaka Nganu
terlihat gagah dan tampan, sangat berbeda ketika ia masih remaja. Bahkan banyak
wanita di desa yang tertarik padanya. Namun Ki Jaka Nganu tidak tertarik pada
hal seperti itu, ia lebih menyukai kepada ilmu-ilmu yang ia pelajari dari Maha
Guru3. Ia terus
mempelajari dan mendalami ilmu
tersebut. Sampai-sampai ia merasa bahwa ia sudah setara dengan Maha Guru. Semua
orang di desa pun mengakui itu, disamping, itu dia sangat ramah dan baik kepada orang-orang di desa nya.
Mengingat mimpi Maha Guru nya tersebut, ia
mengajak Sangkutarub murid terbaiknya nya itu untuk memeriksa tempat yang
dimaksud Maha Guru. Ia adalah seorang gadis yang berasal dari keluarga miskin.
“kita akan pergi ke mana wahai guru?” Tanya Sangkatarub sambil menyiapkan
barang-barang yang akan dibawanya. “Kita akan memeriksa sebuah tempat di dekat
Gunung Blego, dan aku berencana membangun sebuah padepokan di sana.”Jelas Ki Jaka Nganu. Mendengar itu, Sangkutarub terkejut. “Tapi guru, bukankah itu adalah tempat yang berbahaya?
Saya pernah membaca bahwa di sekitar Gunung Blego dipenuhi dengan aura yang
tidak bersahabat, jika kita melakukan hal yang tidak wajar atau senonoh di sana, maka hal yang tidak terduga pun bisa
terjadi.” Jelas Sangkutarub
dengan penuh was-was. “Kita tidak akan tahu kalau belum mencoba, kamu sendiri
mengenal diriku kan? Aku sudah mempelajari bahkan menguasai semua ilmu
tersebut, jadi hal seperti itu bukan apa-apa bagiku.” jelas Ki Jaka Nganu
dengan sedikit sombong. “Wah guru benar benar hebat, baiklah saya akan percaya pada guru!” Seru
Sangkutarub dengan penuh semangat.
Tak
lama kemudian, langit terlihat begitu biru ditemani awan-awan putih yang
bertebaran. Angin yang berhembusan membuat tanaman menari-nari, mencerminkan
kedamaian di desa tersebut. Sangkutarub kemudian beranjak dari rumahnya, ia
mencium tangan kedua orang tuanya. Dengan penuh semangat Sangkutarub berjalan
menuju tempat yang akan menjadi titik awal perjalanan menuju ke Gunung Blego.
Sesampainya di sana Ki Jaka Nganu sudah duduk manis menunggu kehadirannya. Melihat tempat
yang akan dilaluinya adalah hutan, mereka jadi terbayang akan hal-hal aneh.
“Guru, kenapa jalannya
mengerikan seperti ini?” Tanya Sangkutarub. “Janganlah takut muridku, kita akan baik-baik saja.” Kemudian Ki Jaka Nganu
menamakan tempat mereka memulai perjalanan dengan nama Gemawang.
Di
tengah jalan menuju Gunung Blero mereka sedikit berbincang-bincang. “Guru, konon katanya dalam perjalanan menuju ke
Gunung Blego kita akan
menemui sebuah pohon yang amat besar dan kuat. Pohon itu berdiri tegak di tepi sungai yang arusnya sangat
deras yang mengalir panjang menutupi jalan menuju Gunung Blego.” Jelas
Sangkutarub. “Kamu tahu banyak ya muridku, aku bangga mengangkat kamu menjadi
murid terbaikku, ini membuktikan kalau aku tidak salah pilih. Hahahaha.” Puji Ki Jaka Nganu. “Ahahahha, guru terlalu
berlebihan.” Muka Sangkutarub
memerah.
Tiba-tiba mereka melihat sebuah akar yang merambat
di tanah. Diikutilah akar itu, terkejutlah mereka melihat pohon yang amat besar
dan rindang. Benar kata Sangktutarub, bahwa ada sungai deras yang mengalir di
dekat pohon. “Whoaaa... ternyata semua ini nyata..” Ungkap Sangkatarub dengan kagum. Melihat
derasnya aliran sungai, Ki Jaka Nganu menjadi kebingungan. “Kalau seperti ini bagaimana bisa melewatinya?”
Berkali-kali ia mencoba beberapa cara untuk menyeberang sungai itu, bahkan ia hampir terbawa arus bersama Sangkutarub.
Akhirnya Ki Jaka Nganu menyerah lalu duduk dan berteduh di bawah Pohon besar bersama muridnya itu.
Ia
memperhatikan pohon besar itu, ia melihat daun-daun hijau yang menari-nari
karena hembusan angin, diikuti beberapa burung yang lewat. Seketika ia teringat
dengan mimpi Maha Guru. Ia pun menjadi kesal karena tidak bisa mewujudkan itu.
Karena kesal dan depresi, ia pun memukul dan pohon besar itu sambil berkata
yang tidak semestinya. Sangkutarub terkejut namun ia hanya diam saja, setelah
itu ia merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Tak lama kemudian langit
menjadi gelap, awan-awan gelap
menutupi langit, hujan deras pun tiba tiba turun, angin pun bertiup sangat kencang. Suasananya hampir sama ketika
Ki Jaka Nganu bersama Maha Guru di rumahnya.
Ki
Jaka Nganu panik, ia pun bergegas menyelamatkan diri dan mengajak Sangkutarub
untuk berlari. Angin semakin kencang, bahkan pohon yang kuat dan besar itu pun
bergoyang-goyang. Mereka berdua takjub melihat hal itu. Dengan ilmu yang
dipelajarinya, Ki Jaka Nganu berusaha mengehentikan cuaca yang ekstrem itu namun gagal. Ki Jaka Nganu pun terbawa angin lalu
terbawa arus sungai dan hanyut. Melihat itu Sangkutarub tak bisa apa-apa selain
lari dan menjauh dari tempat tersebut.
Tidak
lama setelah Ki Jaka Nganu hanyut, langit menjadi terang benderang, cahaya
mentari menyinari sekitar. Awan hitam pun berpindah semua, sehingga langit
terlihat biru dan indah. “Indahnya tempat ini....” Dari keajdian itu Sangkutarub belajar bahwa jangan
meremehkan hal sekecil apapun. Beberapa tahun kemudian, Sangkutarub satu-satunya gadis yang mampu menguasai ilmu yang
diwariskan oleh Ki Jaka Nganu, bahkan ia mampu melampui Maha Guru. Sangkutarub tiba-tiba
teringat tragedi yang terjadi Ki Jaka Nganu yang merupakan gurunya. Kemudian ia
menamakan tempat itu dengan nama Ngaglik. Diambil dari nama gurunya Ki Jaka
Nganu dan disaat pohon nya bergoyang-goyang atau dengan bahasa Jawa oglak-aglik.
Sumber : www.soendoel,blogspot.com
Biografi

Asal
Mula Tlogo Putri, Kaliurang
Konon, dahulu di Kaliurang
berdirilah sebuah kerajaan atau orang Jawa menyebutnya sebagai keraton, keraton
tersebut dipimpin oleh raja yang bijaksana dan adil kepada setiap rakyatnya
sehingga beliau begitu disegani. Raja tersebut bernama Raden Mas Dwipura, anak
tunggal dari Raden Dwipura dan Ajeng Anjani. Sebagai anak tunggal, Raden Mas
Dwipura dilimpahkan seluruh kekuasaan milik kedua orangtuanya sebagai penerus
kerajaan yang sebelumnya dipimpin oleh ayahnya sebagai seorang raja.
Sebelum memiliki seorang
permaisuri sebagai pendampingnya, Raden Mas Dwipura telah mendapat mandat dari
ayahnya menjadi seorang raja, karena ayahnya sudah tidak memungkinkan menjadi
seorang pemimpin lebih lama lagi karena faktor dari usia yang sudah lanjut. Raden
Mas Dwipura tetap menerima perintah dari ayahnya demi kesejahteraan rakyatnya
dan demi ayahnya yang telah banyak berkorban.
Selama ia memimpin kerajaan,
pernah beberapa kali adanya pertemuan antara kerajaan untuk mendiskusikan
beberapa persoalan dan ada juga yang membawa serta putrinya untuk dikenalkan
kepada Raden Mas sebagai permaisuri namun ia tolak dengan tegas, bukan karena
tidak menawan namun ia merasa kurang cocok.
Dengan kesibukannya menjadi
seorang pemimpin kerajaan, membuatnya lupa akan dirinya sendiri. Ia terlalu
fokus pada rakyatnya entah dari segi kesejahteraan kehidupannya, mata
pencahariannya sampai dari segi keamanannya. Semuanya ia pikirkan, rakyatnya
begitu beruntung memiliki pemimpin yang berjiwa besar.
Dengan suasananya yang sejuk dan
asri dengan adanya banyak pohon yang rindang membuat sang raja berpikir untuk
membuat adanya telaga di dekat keraton untuk tempat pemandian karena suasananya
begitu mendukung. Dengan begitu sang raja mengatakan hal tersebut kepada sang
ayah “Ayahanda, bagaimana jika di dekat pohon dengan cucuran air yang menetes
tersebut kita buat telaga untuk pemandian? Dengan keadaanya yang dingin serta
dikelilingi pohon membuatnya semakin sejuk”
Dengan wajah yang sudah semakin
tirus dengan kulitnya yang sudah banyak keriput ditambah sebagian rambutnya
memutih sebagai tanda penuaan tak dapat terelakkan, bibir yang memucat pun
berucap
“Lakukanlah jika itu keinginanmu tanpa
merugikan orang lain, namun janganlah kau berbuat jika menyengsarakan orang
lain” Namun dengan penambahan usia tersebut, tetap tidak menyurutkan betapa
berwibawanya ayah dari Raden Mas tersebut.
Tak berselang lama dari
perizinan tersebut, raja segera membuat telaga di dekat mata air tersebut
bersama beberapa orang yang ia minta. Pembangunan
bertahap tersebut telah mencapai setengah dari sempurna, namun perkataan
ayahnya setelah meminta izin dari pembuatan telaga membuatnya tak dapat ia
singkirkan begitu saja, dengan mata yang sayu serta sisi kerapuhan dari
bagaimana cara ia berucap dan juga permintaan dari ibunya yang sependapatpun
semakin membuatnya lebih merasa bersalah telah membuatnya menunggu lama.
Mungkin memang ini saatnya ia
mencari permaisuri sebagai pendamping dalam memimpin keraton. Ia akan meminang
putri dari Ratu Ambarsari yang telah lama ia kenal karena keakraban dari kedua
keraton, putrinya bernama Dewi Putrisari, memiliki wajah menawan serta usia
lebih muda dua tahun dari Raden Mas tidak membuatnya memiliki sifat
kekanak-kanakan, ia memiliki sifat lebih dewasa dari usianya. Itulah alasan
Raden Mas memilihnya menjadi permaisuri.
Setelah peresmian dari hubungan
Raden Mas dan Dewi Putrisari menjadi sepasang suami istri telah terdengar
sampai ke telinga rakyat masing-masing keraton, semuanya bersyukur akhirnya
sang raja mendapatkan istri idamannya. Dan untuk pembuatan telaga yang
diharapkan oleh raja telah selesai. Telaga itupun telah terisi sepenuhnya oleh
air yang bersumber dari mata air alami di kawasan Tlogo Muncar.
Setelah beberapa tahun mereka
menikah, mereka dikaruniai dua anak kembar yang bernama Putri Nara Dwipura dan
Putri Dewi Dwipura. Kehadiran mereka disambut bahagia oleh warga keraton dan
rakyatnya, namun belum sempat Raden Dwipura melihat cucu pertamanya lahir,
beliau telah lebih dulu meninggal dunia. Kebahagiaan dan kesedihan disaat yang
bersamaan menyelimuti keduanya.
Saat usia kedua putri raja
menginjak belasan tahun mereka berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk
bermain air di telaga, mereka terlalu bahagia dan bersemangat untuk saling
menyipratkan airnya satu sama lain. Setiap harinya sepulang dari telaga
tersebut mereka selalu membawa kebahagiaan serta senyuman untuk ditularkan
kepada semua penghuni keraton sehingga tak ada yang menegur untuk berhati-hati,
seolah tersihir dengan tawanya.
Berhari-hari mereka lalui dengan
bermain di telaga hingga suatu sore telah menjelang, mereka tidak kunjung
pulang. Seluruh anggota kerajaan segera menyari kedua putri raja tersebut ke
seluruh tempat kerajaan barang kali mereka sedang bermain di kerajaan sampai
lupa waktu untuk segera pulang, awalnya memang mereka berpikir seperti itu.
Namun, setelah ditemukannya jasad keduanya di dalam telaga yang sering mereka
datangi, pikiran tersebut langsung menguap begitu saja digantikan dengan
linangan air mata sebagai bentuk dari kesedihan bahwa keduanya telah meninggal
karena diperkirakan diterkam sekumpulan monyet berukuran besar yang berada di
kawasan Tlogo Muncar yang sedang mencari persediaan makanan.
Dan untuk mengenang kedua putri
raja maka telaga tersebut dinamai menjadi Telaga Putri atau yang kita kenal
sebagai Tlogo Putri yang berada di Kaliurang, Hargobinangun, Pakem, Sleman,
Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sumber:
http://teamtouring.net
Widya Yustika. Atau yang lebih
akrab dipanggil Widya ini lahir di Sleman, 19 April lima belas tahun yang lalu.
Pecinta aksara sejak pertama kali meresapinya, dia memang bisu namun memiliki
sejuta makna saat bersama rentetan kata yang lain, memang sesederhana itu. Awal
menyukai aksara yaitu saat membaca novel
berjudul Perfect Mate, berlanjut
dengan membaca novel yang lainnya serta membaca banyak cerita di aplikasi
wattpad dan berakhir menjadi candu tersendiri. Penyuka warna biru ini sekarang
sedang menimba ilmu di SMA Negeri 1 Pakem di kelas X MIPA 3.
LEGENDA SUNGAI PROGO
Yogi Pratama Hidayat
X MIPA 3/30
Sungai Progo adalah sungai terpanjang di Propinsi Yogyakarta . Sungai ini merupakan batas dari tiga kabupaten di DIY yaitu Kabupaten Bantul , Sleman , dan Kulon Progo . Keberadaan sungai ini sangat bermanfaat untuk warga di sekitar sungai . Manfaatnya antara lain sarana MCK , pertambangan pasir,pencarian ikan , irigasi , bahkan pariwisata yaitu di pintu air Sungai Progo yang terletak di Dlingo , Kulon Progo atau sering disebut ancolnya Yogyakarta. Selain manfaatnya , ternyata ada legenda di balik SungainProgo . Mitos – mitos dari keberadaan Sungai Progo pun berbagai macam karena sungai ini melewati beberapa daerah , sehingga sering terjadi perbedaan pendapat . Salah satu mitos , dan sejarah Sungai Progo yaitu di Dusun Bakal Pokok , Sedayu, Bantul yang konon menurut sesepuh desa Sungai Progo berkaitan dengan Pangeran Diponegoro , dan Nyi Rara Kidul .
Pangeran Diponogoro ternyata masih keturunan Kesultanan Yogyakarta . Beliau di lahirkan di Yogyakarta , 11 November 1785 , putra dari Pangeran Adipati Anom ( Sultan Hamengkubuwono III). Pada waktu kecil beliau di juluki Raden Mas Ontowiryo karena sangat akrab dengan rakyat kecil . Selain itu Pangeran Diponegoro sangat benci dengan Belanda yang merendahkan harkat martabat raja-raja , dan rakyat . Pada waktu Sultan Hamengkubuwono V berkuasa , Pangeran Diponegoro merasa kecewa dengan keadaan istana , dan beliau memilih meninggalkan istana . Beliau tinggal di Desa Tegalrejo untuk memusatkan perhatiannya di bidang agama , adat , dan kerohanian . Sementara itu Belanda , dan Patih Danureja memasang patok di atas makam leluhur Pangeran Diponegoro untuk dijadikan rel kereta api. Tanpa sepengetahuan mereka ternyata Pangeran Diponegoro mengintip.
“ Hei Patih , aku tak percaya ternyata kau bekerjasama dengan dia si Belanda , cepat cabut kembali patok itu ! . “ Kata Pangeran Diponegoro .
“ Tidak aku akan tetap membantu Belanda membangun rel kereta api disini , karena Belanda lebih bisa memakmurkan rakyat . “ Kata Patih Danureja .
“ Benaraku bisa memakmurkan kamu dan rakyat kamu .” Kata Belanda .
“ Tidak,tidak mulai sekarang aku menyatakan perang dengan mu, cepat pergi dari sini ! “ . Kata Pangeran Diponegoro.
Belanda ,dan Patih Danureja langsung meninggalkan tempat itu ,dan pangeran mencabuti patok –patok itu . Setelah itu Pangeran Diponegoro langsung meninggalkan tempat itu , menuju tempat persembunyianya yang baru bersama para prajuritnya .
Pangeran Diponegoro , dan para prajuritnya akhirnya memilih Dusun Bakal Pokok sebagai tempat persembunyian sementara . Beliau membangun keraton kecil di sana ,dan beliau mengajarkan pendidikan agama Islam kepada masyarakat setempat . Tetapi Belanda mengetahui keberadaan beliau sehingga beliau dengan sigap untuk bergerilya ke Bukit Selarong. Sebelum singgah beliau berpesan kepada satu prajuritnya yang di amanahkan untuk tetap berada di desa itu .
“Wahai prajuritku , aku yakin kau dapat menjaga warga desa ini . Saat aku singgah ke Selarong kuberikan kau keris pustaka ku “ . Kata Pangeran Diponegoro .
“Terimakasih pangeran,pangeran telah memberikan hamba amanah , dan kepercayaan untuk menjaga desa ini .” Kata prajurit itu .
“ Gunakan kerisku dengan baik ,jangan sampai keris ini dipangku oleh seorang wanita karena jika terjadi akan fatal akibatnya .” Kata pangeran .
Setelah berpamitan kepada warga beliau dan beberapa prajuritnya langsung berkelana kuda menuju Selarong .
Prajurit abdi itu lalai akan amanah pangeran . Dia menitipkan keris itu kepada istrinya . Tak disangka saat istrinya memangku keris itu terjadilah keajaiban . Wanita itu langsung hamil , dan tanpa menunggu sembilan bulan sepuluh hari dia ingin melahirkan yang akan di bantu oleh dukun beranak.
“ Aku merasa anak mu tak wajar .” Kata dukun .
“Sakit mbah , sakit mas .” Kata wanita itu sambil berteriak .
“ Astaga anakmu ular , anakmu ular .” Kata dukun terbelanga .
“ Tidak mungkin .......... !, ohiya ini kutukan . Aku lupa akan amanah pangeran untuk menjaga keris itu agar tak sampai kr tangan wanita . Maafkan aku istriki .”Kata prajurit itu .
“ Ibu , ayah aku anak kalian , aku bukan kutukan “. Ujar si ular itu yang bisa berbicara .
“Pergi sana , jangan kembali lagi ! , dasar kutukan “ . Kata prajurit itu .
“Baiklah jika itu keputusan kalian , aku akan membalas perbuatan kalian dengan tirta melimpah .” Ujar si ular .
Si ular berkelana menuju penunggu laut selatan Nyi Rara Kidul untuk meminta pertolongan .
“ Wahai Ratu yang cantik jelita , bantu aku untuk membalas perbuatan kedua orang tuaku yang semena-mena terhadapku .” Ujar si ular .
“ Siapa dirimu nak ?” . Kata Ratu .
“Aku tak punya nama ratu .” Ujar si ular .
“ Aku berinama kau Progo sesuai tekad mu yang besar . Aku akan membantumu melatalah sampai gunung di sana , maka akan datang tirta melimpah . “ Kata Ratu .
“ Terimakasih ratu .” Kata ular .
Ular itu terus melata sampai ke gunung . Tak terduga terjadilah badai dahsyat yang langsung mengguyur desa dimana orangtua ular itu tinggal . Tirta yang sangat melimpah itu menutup beberapa kawasan hingga menjadi sungai yang di beri nama Sungai Progo .Dalam cerita ini kita tidak boleh mencelakai orangtua kita walaupun setragis apapun, dan sebagai orangtua jangan menelantarkan anaknya.
Asal
Usul Tambak Kali
Konon, ada sebuah kraton di Surokarto. Kraton itu memiliki wilayah
yang luas dan asri. Sangat indah untuk dipandang mata. Penduduk di sini
sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, sangat jarang yang bekerja
sebagai pedagang. Hanya sedikit saja mereka yang menjadi pedagang besar.
Sisanya, pedagang kecil-kecilan yang menjual hasil alam dari panenan sawah dan perkebunan
mereka yang terbatas. Kraton itu sudah sejak lama berdirinya. Dengan hasil
pertanian yang melimpah dan raja yang bijakasana dalam mengatur jalannya
pemerintahan, maka wilayah ini menjadi sangatlah makmur. Sungai-sungai yang
mengular dari hulu ke hilir memiliki cukup banyak air sehingga penduduk bisa
memanfaatkannya.
Raja yang memerintah kraton itu bernama Airlangga Jayawarsa. Ia
memiliki banyak putra dan putri dari para selirnya. Raja menyayangi semua putra
dan putrinya dengan kasih sayang yang sama. Ia tidak membeda-bedakan satu anak
dengan yang lain. Sebab itulah kerajaan ini sangat makmur dan sejahtera. Mereka
memiliki raja yang bijaksana. Wilayah kerajaan begitu luas, sehingga Raja
Airlangga memiliki beberapa orang yang dipercaya untuk menjaga wilayah
masing-masing.
Ki Ageng Kameswara diberi mandat untuk menjaga wilayah selatan. Di
wilayah ini terdiri atas bukit-bukit kecil yang menjulang. Sayangnya, wilayah
ini tidak memiliki banyak tumbuhan yang dapat hidup di atasnya karena memiliki
tanah kapur yang sulit ditanami tumbuhan. Air tanah juga sulit didapatkan
sehingga wilayah ini hanya memiliki sedikit penduduk.
Wilayah timur dijaga oleh Patih Jayanaga. Ia merupakan keturunan
dari panglima perang kraton di masa lampau. Oleh karena itu, ia diminta oleh
raja untuk menjaga wilayah timur karena wilayah tersebut menjadi sasaran
kerajaan lain untuk meruntuhkan kraton. Tak banyak penduduk yang tinggal di situ
karena sering terjadi penyerangan.
Patih Darmaja menjaga wilayah barat yang merupakan wilayah utama
atau pusat kerajaan ini. Ia menjaga wilayah kerajaan dengan sebaik-baiknya
terutama penyerangan dari kerajaan yang berada di barat. Tidak lebih sulit dari
kerajaan sebelah timur Jawa karena daerah timur memiliki persenjataan lengkap,
prajurit yang banyak, dan strategi yang baik. Tetapi, tetap saja Patih Darmaja
harus menjaga keutuhan wilayah dengan segenap jiwa raganya.
Wilayah utara dijaga oleh Patih Jayaningrat, seorang punggawa Kraton
Surokarto. Ia merupakan abdi raja yang setia dan berbakti pada perintah raja.
Ketika itu pasukan Belanda telah memasuki wilayah Jawa. Awal
kedatangan mereka hanya untuk berdagang. Akan tetapi, lama-kelamaan Belanda
mencampuri urusan pemerintahan kraton dan memonopolinya. Raja Airlangga tak
menyukai hal tersebut sehingga ia mengusir Belanda dari wilayah Surokarto.
Suatu saat, raja mendengar kabar bahwa Tomenggolo, seorang
punggawa kraton, bersekutu dengan Belanda. Raja sangat marah dan mengutus Patih
Jayaningrat untuk membunuh Tomenggolo karena dianggap mengkhianati kraton. Patih
Jayaningrat pergi barat untuk mencari Tomenggolo dan pengikutnya.
Ternyata, Tomenggolo dan pengikutnya lari ke barat untuk
bersembunyi. Patih Jayaningrat yang mengetahui hal tersebut segera melakukan
perjalanan ke arah barat. Setelah berhari-hari melakukan pencarian terhadap
Tomenggolo, Patih Jayaningrat akhirnya bertemu dengan Tomenggolo di lereng
Merapi sisi selatan.
“Hai, engkau Tomenggolo. Mengapa kau lari setelah melakukan
persekutuan dengan Belanda?” Patih Jayaningrat mulai mengeluarkan kata-kata.
“Aku tidak bersembunyi darimu. Aku tidak takut padamu!”
“Apakah kau ingin merebut takhta raja dengan bersekutu dengan
Belanda?” Tanya Patih Jayaningrat.
Tomenggolo menjadi geram. Ia tidak suka dengan Patih Jayaningrat.
Lalu, tomenggolo mengeluarkan jurus saktinya dan menyerang Patih Jayaningrat.
Akan tetapi, Patih Jayaningrat segera menghindar dan juga memberi serangan
balik kepada Tomenggolo. Ketika lengan atas Tomenggolo tergores karena serangan
Patih Jayaningrat, ia membalas serangan dan mengenai paha Sang Patih.
Mereka berdua bertarung dengan sangat sengit. Saling melawan dan
menghindar dari serangan. Mereka berdua sama-sama sakti, sehingga perang
terjadi berhari-hari lamanya. Sampai-sampai mereka berpindah tempat dalam
beberapa hari itu. Hingga tibalah Tomenggolo dan Patih Jayaningrat di lereng
Gunung Merapi yang sekarang dinamai Tuk Mbebeng Glagaharjo.
Mereka masih berperang satu sama lain. Tidak ingin mengalami
kekalahan. Patih Jayaningrat ingin menyelesaikan tugasnya kepada raja dan
Tomenggolo ingin merebut takhta raja. Akhirnya, Tomenggolo dapat dibunuh di
lereng Gunung Merapi. Jasadnya dibuang di Tuk Mbebeng Glagaharjo.
Tetapi, sebelum menghembuskan napas terakhirnya, Tomenggolo
berucap, “Ketahuilah Jayaningrat, bahwa sepeninggal saya, saya tetap tidak akan
terima sampai kapan pun. Sampai kamu dikuburkan pun, dimana pun tempatnya. Saya
akan aliri dengan lahar panas Gunung Merapi.”
Patih Jayaningrat tak mengindahkan perkataannya. Ia senang telah berhasil melaksanakan tugas dari
raja walaupun membutuhkan waktu yang banyak. Ia dan pengikutnya bersiap kembali
ke kraton untuk menghadap raja. Mereka akan umumkan berita gembira bahwa
Tomenggolo sudah mati.
Tetapi ketika perjalanan pulang, Patih Jayaningrat dibunuh oleh
pengikut Tomenggolo. Ia dibunuh secara licik dengan tombak yang dilemparkan
dari belakang. Lalu oleh pengikutnya, ia dimakamkan di Dusun Gadingan,
Argomulyo, Cangkringan yang merupakan bantaran Sungai Gendol.
Hingga saat ini setiap tahun pemerintah desa bersama masyarakat
memperingati legenda tersebut dengan “Gelar Budaya Tambak Kali”. Konon katanya,
ketika Gunung Merapi meletus akan dialiri lahar panas Gunung Merapi di Sungai
Gendol.
Sumber : sdin.slemankab.go.id
Biodata
Diri
Hai,
perkenalkan nama saya Zahra Salsabila. Sebenarnya saya memiliki nama pena,
tetapi tidak usah saya pakai saja. Saya duduk di bangku SMA kelas 10 di salah
satu sekolah negeri di Yogyakarta. Saya lahir pada bulan Januari sehingga saya
berzodiak Aquarius. Umur saya menginjak 15 tahun lebih 6 bulan.
Saya
hobby membaca dan mendengarkan lagu. Bacaan yang saya senangi yaitu fiksi.
Penulis favorit saya ada banyak, antara lain J.K. Rowling, Akiyoshi Rikako
sensei, Gu Man, Kiera Cass, Victoria Aveyard, Stephanie Meyer, dan Brandon
Sanderson. Untuk saat ini, buku favorit saya yang teratas adalah Harry Potter
series. Selain itu, ada Holy Mother by Akiyoshi Rikako, The Sellection series
by Kiera Cass, dan Love O2O by Gu Man. Lalu, penyanyi dan band favorit saya,
antara lain One Direction, Zayn Malik, Billie Eilish, Sleeping At Last, Finding
Hope, Oh Wonder, dan Khalid.
Sekian
sedikit perkenalan dari saya. Terimakasih!









