Kamis, 11 Oktober 2018


Asal Usul Pogung

            Dahulu kala, ada seorang putri bernama Campa yang diusir rakyat karena sang raja jatuh cinta padanya. Pengusiran ini dilakukan karena adanya peraturan kerajaan yang melarang Raja menikah dengan orang asing,” Maafkan aku putri, kita harus berpisah di sini ,” ucap sang raja. “ Ini bukan salah Baginda, mungkin memang ditakdirkan kita tidak hidup bersama,”kata sang Putri sambil menangis. ”Sudahlah, tak usah kau tangisi , Putri. Ki Dalang akan menemani dan menjagamu ketika kau pergi,” ucap sang Raja sambil mengusap air mata di pipi Putri Campa. Putri Campa dan Ki Dalang lalu pergi .
                Dalam perjalanan, mereka beberapa kali berhenti untuk istirahat. Kadang mereka tinggal sementara di desa yang mereka lewati. Mereka membayar jasa-jasa orang desa setempat tersebut menggunakan sejumlah uang atau emas yang raja berikan pada mereka untuk bekal perjalanan ketika mereka berpisah kala itu. Mereka juga mengajarkan bagaimana cara menanam padi dan membajak sawah dengan benar supaya hasilnya baik. Masyarakat setempat juga menerima mereka dengan senang hati karena sifat mereka yang sangat baik pada masyarakat sekitar.  Ketika akan melanjutkan perjalanan, masyarakat setempat memberikan bekal yang cukup banyak untuk Putri Campa dan Ki Dalang sebagai rasa terima kasih mereka.
                Sampai suatu saat mereka melewati hutan belantara. Mereka sudah dua hari terjebak di hutan itu.” Kita sudah dua hari terjebak di hutan ini Ki Dalang, kira kira kapan kita keluar dari sini ?, bekal kita semakin lama semakin sedikit,” ucap Putri Campa.” Memang sudah dua hari kita terjebak di sini, Putri. Tapi aku yakin, kita sebentar lagi akan keluar dari hutan ini karena sudah tampak cahaya matahari di ujung sana,” jawab Ki Dalang. “ Aku harap juga begitu ,”sahut Putri Campa.
                Di tengah perjalanan, Putri Campa sangat kelelahan. Ki Dalang yang sadar akan hal itu langsung menawarkan bantuan.” Biarkan saya menggendong Tuan Putri, Tuan Putri tampak kelelahan,” kata Ki Dalang. “ Oh terima kasih Ki Dalang, perbuatanmu sangat membantuku.” Jawab Putri Campa sambil naik ke gendongan Ki Dalang. Dan dari situ, Ki Dalang tiba tiba jatuh cinta pada sang putri.
Di Kerajaan, raja terlihat lelah dan membutuhkan pendamping hidup. Utusan raja sudah berkali kali disuruh mencarikan wanita yang tepat untuk sang Raja. Tetapi, sang raja tidak merasa cocok dengan wanita wanita yang utusannya tawarkan ke dia. Teringat wajah sang Putri yang cantik dan baik hatinya di kepala sang raja. Dia semakin rindu dengan Putri Campa. Dia tidak dapat menemukan pengganti yang tepat seperti Putri Campa.
Sampai suatu saat raja di tawarkan oleh utusan nya adik perempuan dari kerajaan di Pulau Seberang. Dia sangat antusias. Dia dan adik raja kerajaan seberang di pertemukan dan tinggal bersama. Tetapi tidak sampai seminggu, dia sudah bosan dengan perempuan itu karena perilakunya yang merendahkan orang-orang istana.” Sepertinya, sudah tidak ada seorang wanita yang sifatnya seperti Putri Campa,” ucap sang Raja.
Dua tahun kemudian, Raja jatuh sakit akibat merindukan putri, rakyat pun sadar dan meminta para pasukan istana untuk berpencar mencari keberadaan sang putri. “ Aku harap kau berhasil menemukan Campa dan membawa dia pulang ke istana,” harap sang raja pada salah satu  pemimpin pasukannya.” Hamba berjanji akan membawakan Putri Campa pulang dengan selamat sampai di pangkuan Baginda” jawab pemimpin pasukan itu. Pasukan dibagi menjadi empat kelompok. Mereka masing masing pergi ke Selatan, Barat,Timur, dan Utara.
Sehari setelah pencarian putri, istana mendapatkan kabar bahwa tidak ada jejak Putri Campa atau Ki Dalang di Selatan. Esoknya ada kabar lagi bahwa di Barat tidak ada tanda tanda kehadiran Putri Campa. Begitu juga di Timur. Dua hari kemudian pasukan yang menuju Utara sampai ke sebuah desa yang sangat subur. Mereka dengan hati hati masuk ke desa tersebut. Tidak lupa mereka izin dengan pemimpin setempat. Dan akhirnya, mereka menemukan Putri Campa dan Ki Dalang di desa tersebut. Tetapi mereka sangat kaget karena hal yang tak terduga terjadi.
Di Kerajaan, Raja masih menunggu kabar pasukan yang di utusnya untuk pergi ke Utara. Beberapa saat kemudian, datang pemimpin pasukan Raja dengan nafas yang terengah engah. “ Maafkan saya Baginda, hal buruk sedang terjadi “ kata pemimpin pasukan itu. “ Apa maksudmu, apa yang telah terjadi ? “ Tanya raja dengan suara yang keras. “ Putri Campa telah menikah dan mempunyai anak dari Ki Dalang, Baginda” jawab pemimpin pasukan itu. Seketika itu tuuh raja lemas tak berdaya. Ia tak menyangka bahwa Ki Dalang yang ia percayakan selama ini mengkhianatinya.
Seminggu kemudian, raja meninggal dunia. Rakyat sangat sedih atas kepergian sang raja. Mereka juga tidak menyangka Ki Dalang utusan terbaik raja malah mengkhianati raja karena yang mereka tahu, Ki Dalang adalah tangan kanan raja yang raja tugaskan untuk membantu rakyat dan mengajarkan rakyat cara bercocok tanam. Mereka juga tidak menyangka jika ternyata Ki Dalang mencintai Putri Campa dengan tulus.

Rakyat pun murka dan menuduh Putri Campa lah yang menyebabkan semua ini terjadi, termasuk meninggalnya sang raja. Rakyat meminta seluruh pasukan raja untuk mencari Putri Campa dan membunuhnya. Para pemimpin pasukan juga setuju akan hal itu karena menurut mereka, Putri Campa harus dihukum mati akibat perbuatannya pada sang Raja. Lalu mereka bersiap siap untuk pergi mencari dan membunuh Putri Campa.

Ki Dalang akhirnya mendengar kabar bahwa raja telah meninggal, ia juga turut sedih. Ia tahu jika ini mungkin juga salahnya karena mencintai Putri Campa. Sampai akhirnya dia mendengar bahwa pasukan istana sedang mencari Putri Campa dan akan membunuhnya. “ Campa, pergilah dari sini, pasukan kerajaan sedang kemari dan ingin merenggut nyawamu “ ucap Ki Dalang. “ baik Ki, aku akan pergi. Jagalah anak kita, rawatlah dia supaya dia menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Lalu Putri Campa pergi berlari tanpa arah dan tujuan.
Putri Campa melarikan diri dan di kejar oleh pasukan raja hingga pantai selatan. Seluruh pesisir pantai sudah di penuhi oleh ribuan pasukan raja. Tanpa Putri Campa sadari, ia semakin berlari ke tengah lautan dan akhirnya ditelan samudra akibat ombak besar. Dalam kesedihan, Ki Dalang kembali ke Utara setelah semuanya hancur akibat cinta segitiga ini. Kerajaan sudah hancur lebur. Ia mengajak orang orang yang tersisa kembali ke Utara. Karena wilayahnya sempit, Ki Dalang memutuskan untuk membangun desa supaya lebih makmur
Pembangunan diiringi oleh suara ‘Pong’ dan ‘Gung’ berulang ulang dari alat musik yang dimainkan oleh Ki Dalang. Setelah desa berdiri, mereka namai dengan “Pogung” yang berasal dari ‘pong gung’ yang menyemangati mereka saat membangun desa. Ki Dalang membagi desa menjadi empat dusun : Pogung Dalangan, yaitu tempat tinggal Ki Dalang. Pogung Rejo, dusun subur dekat Kali Code. Pogung Kidul di selatan dan Pogung Lor di utara.



Namaku Ahza Pratama, biasa di pangil Ahza. Aku  lahir di Mataram 07 Agustus 2002. Aku sekarang bersekolah di SMAN I Pakem. Aku anak pertama dari tiga bersaudara dengan dua adik perempuan. Hobiku olahraga seperti basket atau sepak bola.  menulis memang bukan hobiku sih,aku bisa dibilang tidak suka menulis, apalagi mengembangkan cerita rakyat seperti ini. Karena ini tugas, yaa aku berusaha mengerjakannya dengan ikhlas dan ternyata menulis bisa menjadi sesuatu yang mengasyikkan. Tidak seperti yang kukira menulis itu membosankan dan melelahkan. Saat tugas ini dikumpulkan, aku harap Bu Mamik senang membacanya. Amin

Asal-Usul Dusun Ponggol
(Ponggol, Hargobinangun, Pakem, Sleman , D.I. Yogyakarta)
 Di pinggir hutan yang sangat subur, terdapatlah sebuah keluarga kecil yang hidup rukun dan sederhana. Keluarga itu dikenal mencintai alam dan memiliki sebuah kekuatan yang dapat berhubungan dengan alam, seperti tumbuhan dan hewan. Di dalam sebuah keluarga tersebut terdapatlah seorang pemuda yang baik hati dan tampan parasnya. Pemuda itu bernama Wayan. Wayan sangat menyukai alam beserta isinya. Tiada hari dia tidak pergi ke hutan. Dia sangat suka dengan kehidupan di hutan, dia merasa senang dan tenang.
Suatu hari saat pergi ke tengah hutan, dia melihat sebuah perkelahian antara dua ekor harimau. Wayan tidak tinggal diam, dia langsung mengambil kayu untuk berjaga-jaga jika mereka menyerang Wayan, kemudian Wayan mendekat untuk berbicara dengan mereka. Wayan berteriak, “Hei kalian! Para harimau yang gagah dan berani, hentikan perbuatan bodoh kalian itu!” Kemudian kedua harimau tersebut terkaget dan langsung menghentikan perkelahian. “Ada apa kalian bertarung seperti itu? Kalian adalah saudara satu jenis yang seharusnya damai dan rukun.” Tanya Wayan kepada kedua harimau itu. “Ampun tuan muda Wayan, kami bertarung karena merebutkan harimau betina yang baik dan cantik parasnya, kami berdua sangat mencintainya dan ingin memiliki dia.” Jawab mereka dengan sopan kepada Wayan. Kata Wayan dengan bijaksana kepada mereka berdua “ Wahai kalian, memanglah harimau betina itu baik dan cantik parasnya, tetapi apakah di dunia yang besar dan megah ini hanya terdapat satu harimau betina ? apakah kalian yakin bahwa dia adalah yang terbaik untuk kalian ? maka berdamailah, kalian adalah satu jenis yang harunya saling mencintai.” “Maafkan kami Tuan Wayan kami akui bahwa kami salah, kami berjanji akan menjadi harimau yang baik dan akan menjaga hutan ini dengan sepenuh ketangguhan kami.” Kemudian kedua harimau itu pergi bersama danterlihat bahagia kedua harimau itu. Wayan pun merasa lega dan membuang kayu tadi dan melanjutkan perjalanan.
Di tengah hutan terdapat sebuah tempat yang sangat sunyi, damai, dan nyaman. Di sekitarnya terdapat dua air terjun yang indah dari dua mata air yang berbeda. Burung-burung pun bernyayi bak paduan suara dengan indahnya. Ikan-ikan berenang ke sana dan ke mari dengan riang hati. Jangkrik-jangkrik pun bersuara melengkapi indahnya suasana di tempat itu. Di pinggir air terjun itu terdapat sebuah batu besar yang memiliki bagian datar pada permukaan atasnya. Wayan pun duduk di situ menyilakan kakiknya dan mulai fokus untuk bermeditasi. Saat akan selesai meditasi dia berdoa kepada Sang Maha Pencipta. “Tuhan Yang Maha Pencipta akan seluruh isi dimuka bumi ini, kami bersyukur atas semua pemberianmu yang baik adanya, tolonglah kami para makhluk di bumi ini untuk bisa menjaga bumi dan alam sekitar ini agar bisa berguna bagi penerus-penerus kami.” Sesudah Wayan bermeditasi dan berdoa Wayan pun pulang ke rumah dan membantu ayahnya untuk memeras santan kelapa yang akan dibuat menjadi masakan yang enak oleh ibunya. Itulah kegiatan rutin Wayan disetiap harinya.
                Seiringnya zaman Wayan pun menjadi tua dan kedua orang tuanya sudah dipanggil Yang Maha Kuasa. Dia hidup sendiri di pinggir hutan tersebut. Ki Wayan masih sering melakukan meditasi di tempat tersebut hingga masa tuanya. Suatu hari saat dia bermeditasi datanglah tujuh dewi yang cantik rupanya dan halus perkataannya. Dewi itu berkata “Ki Wayan, engkau adalah pria tangguh yang sangat mencintai bumi ini, sekarang pergilah ke suatu tempat yang memiliki tanah yang teramat subur, namun belum ada satupun manusia yang mengolah tempat itu.” Setelah dewi itu berkata, lalu pergilah mereka. Ki Wayan pun langsung tersadar dan segera pulang untuk menyiapkan pengembaraanya. Karena Ki Wayan sangat sederhana dia hanya membawa tongkat dan bekal makan dan minum seadanya. Berangkat lah dia dengan berpasarah kepada Tuhan.
                Jarak pengembaraannya lumayan jauh, Ki Wayan tetap bersemangat walaupun merasa kelelahan. Saat mengembara sampailah dia pada sebuah perkampungan. Dia mendengar bahwa kampung ini sering diserang oleh sekumpulan monyet yang turun dari pegunungan. Ki Wayan singgah di sebuah rumah milik nenek tua yang tidak memiliki keluarga. Dia mengikuti kegiatan bertani nenek itu setiap harinya. Ki Wayan sangat suka berada di alam sehingga dia menikmati kegiatan bertani itu. Nenek itu menamam berbagai tanaman, seperti cabai, tomat, dan tumbuhan lompong.
                Suatu hari saat Ki Wayan dan nenek bertani kampung mereka diserang oleh sekumpulan monyet nakal. Monyet-monyet itu merusak rumah warga dan kebun mereka. Ki Wayan tidak tinggal diam. Dia mengambil tongkatnya dan berteriak, “Hei kalian para monyet! Pergilah dari tempat ini dan carilah tempat lain!” Monyet-monyet itu berhenti sejenak, tetapi tetap saja merusak permukiman tersebut. Warga ketakutan dan berhamburan keluar kampung. Ki wayan merasa kasihan kepada warga desa dan marah kepada monyet-monyet itu. Ki Wayan pun megambil tongkatnya dan megibas-kibaskan ke arah monyet-monyet itu. Monyet-monyet itu pun ketakutan dan menghentikan perbuatan mereka. “Ampun Tuanku, hamba dan kawan-kawan mengaku bersalah telah merusak permukiman ini, kami hanya mecari makan, hutan tempat tinggal kami dari kecil telah mengalami kerusakan karena telah dilahap si jago merah. Kami berjanji tiak akan kembali ke sini untuk mengganggu kawasan ini.” Ucap Raja Monyet. “Baiklah, sekarang pergilah dari sini.” Perintah Wayan kepada monyet-monyet itu, lalu mereka  pergi meninggalkan kawasan itu.
                Setelah kejadian itu warga desa sangat bahagia. Mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Ki Wayan pun merasa untuk segera melanjutkan pengembaraannya. Sebelum pergi nenek tadi member Ki Wayan bibit tanaman bonggol yang diharapkan akan berguna untuk Ki Wayan. Ki Wayan berterimakasih kepada warga sekitar, tetapi sebelum pergi  Ki Wayan berpesan “ Wahai para warga, sebelum aku pergi aku berpesan kepada kalian. Jagalah bumi ini engan sepenuh hati karena bumi ini adalah anugerah dari Tuhan untuk kita yang amat besar dan megah. Jika kita merusak bumi ini maka kita akan menerima akibatnya sendiri.” “Baik Ki Wayan,” jawab mereka dengan serentak dan semangat.
                Akhirnya sampai lah Ki Wayan ke tempat yang dia tuju. Dia melihat bahwa tempat ini sangat subur, banyak sekali bonggol-bonggol yang subur. Ki Wayan pun mulai membangun rumah kecil untuk tinggal sementara. Lalu dia mulai berpikir bagaimana cara mengolah tempat ini. Saat berpikir Ki Wayan teringat bahwa dia memiliki bibit lompong dari warga. Ki Wayan pun mengambil bibit itu dan menanamnya dengan penuh perasaan. Setiap hari Ki Wayan merawatnya, hingga akhirnya tumbuh subur dan tinggi. Orang-orang baru pun mulai berdatangan membangun permukiman. Mereka juga suka bertani, setiap hari mereka bergotong royong yang dipimpin oleh Ki Wayan. Hidup mereka aman dan damai dan karena banyak tumbuhan lompong yang subur dan banyak sekali ditemukan bonggol, maka tempat itu dijuluki Ponggol (lompong dan bonggol). Hingga sekarang warga-warga hidup rukun dan damai. Setiap hari libur mereka begotong royong bersama tanpa melihat latar belakang masing-masing.


Sumber:
Bapak Drs. Belariantata,
 umur 55 tahun
lahir pada 1 Februari 1963
 selaku tokoh masyarakat
Alamat: Ponggol, Hargobinangun, Pakem, Sleman, D.I. Yogyakarta


 









Halo…perkenalkan namaku Albertus Magnus Yudha Pratama. Bisa dipanggil Yudha atau Albert. Aku sangat suka memainkan bola basket yang berbentuk bulat seperti perutku, hahahaha. Aku sekarang masih menjadi siswa di SMA Negri 1 Pakem, bagian dari keluarga kecil di X MIPA 3.

Salam kenal yaa…..
Raksasa Penjaga Gunung Merapi

                Alkisah, puluhan tahun lalu terdapat dua pemuda yang gagah berani hendak mendaftarkan diri mereka untuk menjadi seorang abdi dalem Keraton Yogyakarta. Kedua pemuda itu bersahabat sejak kecil. Namanya, yaitu Abisatya dan Dewangkara. Sebelum mendaftarkan diri menjadi abdi dalem keraton, mereka lebih dulu barlatih dengan paman dari Dewangkara yang bernama Kyai Giandra.
                Abisatya dan Dewangkara dilatih selama kurang lebih dua bulan oleh Kyai Giandra. Mereka dilatih ilmu bela diri, ilmu agama, ilmu perang, dan masih banyak lagi. Setiap berlatih bela diri, mereka harus saling melawan satu sama lain, tetapi tidak pernah sekali pun Abisatya dan Dewangkara berkelahi dengan amarah. Kyai Giandra yang melihatnya pun ikut senang karena keponakannya dan sahabatnya tersebut tidak pernah berkelahi. Selama meelatih Abisatya dan Dewangkara, Kyai Giandra mengamati bahwa Abisatya lebih unggul dibidang apa pun, tetapi ia tidak pernah mengatakan seperti itu. Kyai Giandra selalu mengatakan bahwa mereka berdua sama kuatnya, hal itu dilakukan agar diantara mereka tidak terjadi permusuhan.
                Pada suatu hari ketika matahari belum menampakkan dirinya dan hanya ada kabut yang menyelimuti halaman rumah, Kyai Giandra membangunkan kedua pemuda itu untuk berlatih menombak kendi. Dewangkara yang mendengar panggilan pamannya sekaligus gurunya itu terlihat malas-malasan karena ia merasa ia tidak perlu takut dengan Kyai Giandra karena ia adalah pamannya sendiri. Berbeda dengan Abisatya yang bergegas cuci muka dan langsung menyusul Kyai Giandra menuju halaman rumah. Tidak lama kemudia mereka bertiga sudah ada di depan rumah untuk berlatih menombak. Angin pagi yang dingin menusuk jiwa, membuat siapapun enggan beraktivitas termasuk Dewangkara, ia terlihat malas untuk melakukan latihan hari ini. Beberapa hari terakhir ini ia terlihat malas-malasan karena ia menganggap bahwa ia lebih pandai dari Abisatya.
                Untuk latihan pagi ini, Kyai Giandra telah menyiapkan banyak kendi di halaman rumah untuk berlatih. Kyai Giandra mulai mencontohkan apa yang harus dilakukan kedua pemuda itu pagi ini. Mereka harus menembakkan tombak dengan jarak kurang lebih seratus meter. Dengan cepat dan tepat tombak yang dilemparkan Kyai Giandra mengenai kendi di hadapannya dan langsuh pecah. “Kalian harus melakukannya seperti yang aku contohkan tadi,” kata Kyai Giandra. “Baik, Kyai, ini akan mudah dilakukan,” dengan sombong Dewangkara menjawab sambil mengambil tombak yang telah disiapkan. Kyai Giandra berjalan menuju ke obor dekat kendi dan mematikannya. “Kalian harus mengenai kendi ini tanpa cahaya obor,” kata Kyai Giandra. “Tetapi paman, bagaimana kita bisa mengenai kendi tersebt jika tidak ada cahaya, ini juga masih petang, matahari belum muncul,” kata Dewangkara dengan nada sedikit jengkel. “Kalian harus konsentrasi dan selebihnya, itu ada di tangan kalian,” jawab Kyai Giandra santai. Mendengar perkataan pamannya Dewangkara menghela nafas kesal. Berbeda dengan Dewangkara, Abisatya dengan mantap mengambil tombaknya.
                Pertama kali percobaan, keduanya gagal, tombak Dewangkara meleset jauh di atas kendi. Tombak Abisatya juga belum mengenai kendi hanya hampir mengenai, tombaknya berada kurang lebih satu jengkal di atas kendi. Dewangkara yang merasa kesal ia terus menggerutu karena selama lima kali ia mencoba melempar tidak sekali pun tombaknya mengenai sasaran, sedangkan dalam lima kali percobaan tombak Abisatya telah mengenai kendi dua kali. Kyai Giandra yang melihat hal tersebut spontan langsung memuji Abisatya dan sekaligus membuat Dewangkara iri dan makin kesal. “Kerja bagus Abistya, tingkatkan lagi,” puji Kyai Giandra. “Terima Kasih, Kyai, ini berkat ajaran dari Kyai,” jawab Abisatya merendah. “Kau memang suka merendah, Abistya, ini bukanlah karenaku, tetapi ini karena kemampuanmu,” jawab Kyai Giandra memuji Abisatya yang membuat telinga Dewangkara semakin panas mendengar pamannya memuji Abisatya bukannya dirinya.
                Waktu mereka berlatih telah habis dan ini saatnya Abisatya dan Dewangkara untuk mendaftarkan diri menjadi seorang abdi keraton.  Untuk menjadi seorang abdi dalem, seseorang tersebut harus melewati serangkaian tes untuk membuktikan bahwa dirinya layak menjadi abdi keraton. Setelah melakukan serangkaian tes ternyata mereka berdua diterima menjadi seorang abdi dalem. Selama bertahun-tahun mereka mengabsikan dirinya kepada Keraton Ngayogyokarto. Dewangkara diangkat menjadi seorang pemimpin para abdi lain karena Sri Sultan ingin balas budi kepada Kyai Giandra yang telah menyelamatkan nyawa Sri Sultan saat berburu, karena tidak memungkinkan mengangkat Kyai Giandra sebagai pemimpin abdi dalem mengingat usia Kyai Giandra yang sudah terlalu tua. Sri Sultan mengangkat Dewangkara menjadi pemimpin abdi dalem karena ia merupakan keponakan dari Kyai Giandra.
                Selama menjabat sebagai pemimpin atau kepala abdi dalem, Dewangkara merasa sombong dan berpikir jika semua abdi keraton tidak boleh berani menentang perintahnya. Termasuk Abisatya sekali pun. Bahkan, Abisatya pernah disuruh-suruh seperti seorang pembantu pribadinya saat ia menjalankan tugas di luar Yogyakarta. Namun, karena kebaikan Abisatya, ia tidak pernah sekali pun mengeluh ataupun merasa jengkel dengan perlakuan Dewangkara kepadanya. Dewangkara memerintah Abisatya seakan hubungan persabatan diantara meraka tidak pernah ada.
                Pada suatu hari, Sri Sultan membentuk sebuah pasukan untuk mengusir para pemberontak di suatu wilayah. Abisatya termasuk dalam pasukan tersebut. Beberapa strategi telah dilakukan, tetapi hasilnya nihil, tidak ada strategi yang bisa mengusir para pemberontak itu. Abisatya yang pernah mempelajari strategi perang dengan Kyai Giandra, mencoba mengusulkan strategi tersebut kepada pimpinan pasukannya yang bernama Adibrata. Awalnya, ia dianggap remeh oleh pimpinan pasukan, pimpinannya tersebut hanya menganggap Abisatya sebagai abdi biasa. Namun, pimpinannya tersebut tetap memberikannya kesempatan untuk mengemukakan strateginya. “Permisi, Tuan, jika diperkenankan, saya hendak menyampaikan strategi yang pernah saya pelajari,” izin Abisatya kepada pimpinannya. Mendengar hal itu, pimpinannya meremehkan apa yang dibicarakan Abisatya bahkan hampir melarangnya, “Memangnya kau bisa apa? Dan dari mana kau mempelajari sebuah strategi?” Tanya pimpinannya tersebut. “Saya mempelajari strategi perang dari Kyai Giandra sebelum saya mendaftarkan diri menjadi seorang abdi, Tuan,” jawab Abisatya penuh hormat meskipun pimpinannya telah meremehkannya tadi. Mendengar nama Kyai Giandra disebut, Pimpinannya tersebut langsung memperkenankan Abisatya berbicara. Setelah membicarakan strateginya tersebut, keesokan harinya mereka semua langsung melaksanakan strategi tersebut. Perlawanannya tersebut terlaksana seperti yang diharapkan, pihak pemberontak dapat dikalahkan dengan mudah berkat strategi dari Abisatya. Melihat hal itu pemimpin pasukan menghadap Sri Sultan.
                Pimpinan pasukan tersebut menghadap Sri Sultan sehari setelah ia dan pasukannya kembali ke keraton. Pimpinan pasukan tersebut menceritakan secara detail apa yang terjadi selama melawan pemberontakan itu. “Yang Mulia, hamba sungguh tidak percaya seorang abdi yang terlihat biasa-biasa saja ternyata menguasai strategi perang dan sangat lihai dalam menggunakan alat perang, seperti pedang, tombak, panah, dan lainnya,” jelas Adibrata. “Itu berita yang bagus, kepala pemimpin prajurit sudah sangat tua dan tidak memungkinkan baginya untuk memimpin peperangan, kau umumkan kepada seluruh warga jika aku mengangkat Abisatya sebagai pemimpin prajurit yang baru,” ucap Sri Sultan dengan gembira.
                Berita pengangkatan Abisatya menjadi pemimpin prajurit atau seorang jendral telah sampai ke telinga Dewangkara. Ia yang mendengar hal tersebut, merasa iri karena jabatan Abisatya menjadi lebih tinggi daripada dia. Semalaman ia tidak bisa tidur semenjak mendapat kabar tersebut. Dengan akal liciknya, ia berpikir bagaimana caranya untuk melengserkan Abisatya dari jabatannya itu. Setelah semalaman suntuk ia berpikir, ia akhirnya menemukan ide untuk memfitnah Abisatya.
                Keesokan harinya sebelum fajar menampakkan diri, Dewangkara telah sampai di kamar Abisatya dan mengambil sebuah gelang yang diberikan Sri Sultan saat pengangkatannya sebagai pemimpin prajurit. Dewangkara bersama pasukannya yang jahat mengacak-acak, mencuri, dan membakar gudang pangan keraton saat pagi-pagi buta. Agar Abistya yang dikira melakukan pemberontakan, Dewangkara meninggalkan gelang Abisatya di gudang tersebut.
                Sri Sultan yang mendengar kabar pemberontakan tersebut menyuruh para abdi lainnya untuk menyelidiki siapa dalang dari pemberontakan tersebut. Setelah diselidiki, abdi dalem menyampaikan kepada Sri sultan bahwa ia menemukan gelang Abisatya. Sri Sultan yang mendengar hal tersebut hanya tersenyum, bagaimana tidak, sejak tadi pagi Sri Sultan mengajak Abisatya mengobrol di kamarnya. Sri Sultan pun menyuruh abdi tersebut untuk mencari bukti lain. Beberapa waktu kemudian, para abdi menemukan sebuah kalung Dewangkara yang terjatuh tanpa ia sadari. Sementara Dewangkara yang belum sadar jika kalungnya terjatuh, ia merasa berhasil dan tinggal menunggu Abisatya diturunkan dari jabatan tersebut. Dewangkara dan pasukannya merayakan kemenangannya sambil minum-minum di kamar Dewangkara.
                Tiba-tiba, pintu kamar Dewangkara terdengar seperti ditendang dari luar. Dewangkara dan teman-temannya tersebut kaget melihat Sri Sultan ada di luar bersama Abisatya. “Keluar kau Dewangkara!” perintah Sri Sultan.  Dewangkara tidak bisa menjawab dan hanya bisa berjalan dalam diam menuju Sri Sultan. “Kamu berani sekali memfitnah sahabatmu ini yang tidak pernah sekali pun berbuat jahat padamu,” kata Sri Sultan menaikkan nada berbicaranya. Sri Sultan akhirnya menghukum Dewangkara dengan mengutuknya menjadi raksasa besar dengan tugas menjaga merapi bagian selatan agar letusan merapi tidak bisa ke arah selatan mengenai Keraton Yogyakarta.
Sumber : Ibu Suratilah
Usia : 80 tahun
Alamat : Ngebo, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman
Namaku Annissa Sekar Azzahra, aku biasa dipanggil Annissa atau Nisa. Aku lahir di Sleman, 02 November 2003. Aku adalah anak tunggal dari kedua orang tuaku. Hobiku mendengar musik menggambar dan terkadang aku suka membaca buku. Aku tinggal bersama kedua orang tuaku di Desa Ngebo, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman. Sebelumnya aku bersekolah di SDIT Luqman AL-Hakim, melanjutkan sekolah ke SMPN 4 Pakem. Sekarang, aku duduk dibangku SMA lebih tepatnya kelas X MIPA 3 SMAN 1 Pakem.



Asal Usul Dusun Sawungan
Suatu hari di suatu daerah yang cukup banyak penduduknya, ada dua orang yang mempunyai ayam jago yang spesial. Mereka adalah Ki Jaka Sawung dan Ki Mangun Saka. Ki Jaka Sawung adalah orang yang pendiam dan dia dikenal sebagai orang gila di daerahnya, dia memiliki ayam jago yang biasa-biasa saja, sedangkan Ki Mangun Saka adalah orang yang pemalas tetapi suka berkelana dia memiliki ayam jago yang mempunyai kekuatan spesial. Mereka bertemu di suatu persimpangan saat Ki Jaka Sawung bermain-main dengan ayam jagonya dan mengajaknya berbicara, Ki Mangun Saka pun kebingungan dan berfikir bahwa Ki Jaka Sawung adalah orang gila. Dia pun menyapa Ki Jaka Sawung dan berkenalan, lantas dia pun bertanya mengapa Ki Jaka Sawung berbicara dengan ayam peliharaannya. Ki Jaka Sawung menjelaskan bahwa ayam jagonya adalah ayam yang spesial baginya, dia merasa bahwa ayamnya bisa mengerti apa yang diucapkannya. Ki Mangun Saka lalu berbicara “Aku juga punya ayam yang spesial, mungkin lebih spesial dari milikmu karena dia kuat.” Tak lama kemudian Ki Mangun Saka menceritakan kekuatan ayam jagonya, Ki Jaka Sawung hanya mendengarkan dan memperhatikannya tanpa komentar apa pun. Setelah Ki Mangun Saka selesai bercerita dia pun berpamitan dengan Ki Jaka Sawung dan mengajaknya untuk mengadu ayam mereka suatu hari nanti. Tiga hari kemudian mereka bertemu dan memutuskan untuk mengadu ayam mereka.  Mereka mencari lapangan yang sesuai dengan yang mereka kehendaki untuk mengadu kekuatan ayam jago mereka. Setelah menemukan lapangan, mereka pun memulai untuk mengadu ayam jago mereka. Pada hari itu Ki Jaka Sawung yang memenangkan pertandingan itu. Kesal dengan kekalahannya Ki Mangun Saka mengejek bahwa Ki Jaka Sawung menang karena keberuntungannya bukan karena kekuatan ayam jago yang ia miliki. Dia pun mengajak Ki Jaka Sawung untuk melakukan pertandingan adu ayam lagi di tempat yang sama.
Selang beberapa hari ada beberapa orang yang mengetahui tentang pertandingan itu dan menyebarkannya di daerah mereka, hampir semua orang di daerah itu ingin mengetahui kekuatan ayam spesial mereka. Mereka mendesak Ki Jaka Sawung dan Ki Mangun Saka untuk bertanding lagi, seperti rencana Ki Mangun Saka mereka pun melakukan pertandingan lagi. Tetapi tetap saja kemenangan tetap diraih oleh Ki Jaka Sawung, Ki Mangun Saka masih belum menyerah dan ingin mengalahkan ayam milik Ki Jaka Sawung. Ia menantang Ki Jaka Sawung untuk melawan ayam milik warga yang lain. Ki Jaka menerima tantangan itu, namun dia tidak bisa bertanding untuk hari ini karena dia ingin bermain-main dengan ayam kesayangannya itu. Lantas seluruh warga yang berkumpul disitu tertawa terbahak-bahak dan mengolok-olok Ki Jaka Sawung yang mereka anggap gila. Setelah itu mereka meninggalkan lapangan dan kembali menuju rumah mereka masing-masing dan menyiapkan ayam jago mereka untuk mengikuti pertandingan mengalahkan Ki Jaka Sawung dan ayam jagonya. Setelah beberapa hari mereka menyiapkan ayamnya mereka pun mendatangi rumah Ki Jaka Sawung, sesampainya di sana mereka tertawa terbahak-bahak mendengarkan Ki Jaka Sawung yang sedang berbicara dengan ayamnya, ada seseorang yang bertanya sekaligus mengejeknya “Kamu udah gila ya bicara sama ayam, atau mungkin kamu ga punya temen? Hahaha.” Ki Jaka Sawung hanya diam dan berjalan mengajak ayamnya dan warga untuk pergi ke lapangan. Satu persatu warga menantang dan menjamin mereka akan mengalahkan Ki Jaka Sawung dan ayamnya. Sebaliknya, banyak ayam warga yang mati karena kalah dengan ayam Ki Jaka Sawung, para warga menyerah dengan Ki Jaka Sawung dan mereka mengakui bahwa ayam jago Ki Jaka Sawung adalah ayam yang spesial.
Ki Mangun Saka yang ada di sana pun geram dan menantangnya sekali lagi dan jika Ki Mangun Saka memenangkan pertandingan itu maka Ki Jaka Sawung harus pergi dari daerah itu dan menjadikan daerah itu sebagai miliknya. Ki Jaka Sawung yang ditantang pun hanya diam saja dan mengiyakan tantangan dari Ki Mangun Saka. Para warga yang berada di lapangan tidak setuju jika Ki Mangun Saka mengambil daerah milik mereka dan mereka mendesak Ki Jaka Sawung untuk memenangkan pertandingannya. Mereka berjanji akan memberikan daerah itu kepada Ki Jaka Sawung jika ia memenangkan pertandingannya, Ki Jaka Sawung mengiyakan dan berbicara kepada ayamnya untuk berjuang dan tetap semangat supaya tidak kalah dengan ayam milik Ki Mangun Saka. Kebiasaan Ki Jaka Sawung berbicara dengan ayamnya pun dianggap lazim oleh warga dan mereka menyemangati Ki Jaka Sawung supaya memenangkan pertandingan. Tak ingin membuang waktunya Ki Mangun Saka mendesak Ki Jaka Sawung untuk segera bertanding. Pertandingan pun dimulai, para warga yang menonton mulai panik dan berharap Ki Mangun Saka dan ayamnya mengalami kekalahan. Ayam milik Ki Mangun Saka berhasil memukul mundur ayam milik Ki Jaka Sawung, namun pertandingan itu belum selesai. Ayam milik Ki Jaka Sawung tampak kelelahan karena sudah bertanding dengan banyak ayam milik warga. Walaupun kelelahan, ayam itu nampak bersemangat untuk mengalahkan lawannya. Setelah beberapa lama, kedua ayam nampak kelelahan dan tidak bisa melanjutkaan pertandingan tetapi ayam milik Ki Jaka Sawung tiba-tiba mengeluarkan jurus pamungkasnya yang belum diketahui oleh semua orang. Ayam milik Ki Mangun Saka pun mati karenanya, Ki Mangun Saka dengan geram meninggalkan lapangan. Lantas warga yang menyaksikan kaget dan senang karena Ki Jaka Sawung memenangkan pertandingan itu mereka sangat berterima kasih kepada Ki Jaka Sawung.
Cerita tentang kekalahan Ki Mangun Saka tersebar ke berbagai daerah, orang yang mendengarkan cerita itu kaget, lantas ingin mengetahui siapa yang telah mengalahkan Ki Mangun Saka. Banyak orang yang mendatangi daerah Ki Jaka Sawung dan bertanya siapa yang telah mengalahkan Ki Mangun Saka. Setelah diceritakan oleh warga, orang-orang yang mendatangi pun ingin mengajak bertanding dengan ayam jago milik Ki Jaka Sawung yang telah mengalahkan  ayam jago spesial milik Ki Mangun Saka. Mereka tidak percaya bahwa ayam jago yang biasa-biasa saja bisa mengalahkan ayam jago yang berkekuatan spesial milik Ki Mangun Saka. Tanpa basa-basi mereka mendatangi rumah Ki Jaka Sawung untuk bertanding, mereka pun tertawa dan mengolok-olok seperti warga sekitar yang dahulu pernah melihat Ki Jaka berbicara dengan ayamnya. Warga di sekitar situ memperingatkan bahwa jangan pernah menertawakan dan mengejek orang lain, tetapi mereka meremehkan peringatan warga. Mereka pun dengan bangganya mengajak Ki Jaka Sawung untuk bertanding dan berpikir bahwa mereka dapat mengalahkan Ki Jaka Sawung dan ayamnya yang biasa-biasa saja. Setelah pertandingan selesai, tidak ada satu pun ayam yang tersisa dari lawan Ki Jaka Sawung, mereka terkejut karena ayam jago yang mereka anggap berkekuatan itu kalah dengan ayam jago yang biasa saja milik Ki Jaka Sawung.
Lantas salah seorang warga dari daerah lain mengadakan tantangan bagi warga yang bisa mengalahkan ayam jago milik Ki Jaka Sawung maka akan dihadiahi hadiah spesial berupa uang dan segala macam kebutuhan olehnya. Tantangan itu menyebar ke banyak daerah, sampai suatu hari daerah Ki Jaka Sawung didatangi oleh penantang beserta ayam jago yang mereka anggap spesial ingin mengalahkan Ki Jaka Sawung. Tidak seperti sebelumnya, mereka menganggap ayam jago milik Ki Jaka Sawung mempunyai kekuatan spesial karena telah berhasil mengalahkan penantangnya yang memiliki ayam yang sangat spesial. Pertandingan ayam jago pun dimulai, lagi-lagi tidak ada ayam milik penantang yang berhasil mengalahkan ayam milik Ki Jaka Sawung, mereka pun mengaku kalah, sudah tidak sanggup melawan ayam milik Ki Jaka Sawung. Warga sekitar sepakat untuk memberi nama daerah mereka dengan apa yang disarankan oleh Ki Jaka Sawung. Ia pun berkata “Sawungan” yang berarti tempat yang digunakan untuk mengadu ayam jago. Daerah tersebut dinamakan “Dusun Sawungan”, daerah tersebut semakin terkenal karena ayam jago, bahkan ada banyak orang yang mendatangi Dusun Sawungan untuk mengadu ayam jago mereka. Kebiasaan mereka terus berlanjut, namun untuk beberapa tahun terakhir sudah tidak ada warga yang mengadu ayam jagonya, hanya tersisa ayam jago yang mereka jadikan hewan peliharaan yang mereka sayangi.
Sumber: Tutik Rahayu, beliau adalah seorang warga yang lahir dan tinggal di Dusun Sawungan. Beliau berprofesi sebagai guru dan ibu rumah  tangga.
Namaku Arrahman Catur Atmaja, biasa dipanggil Rahman. Aku lahir di Sleman, 22 Juni 2003. Aku suka mendengarkan musik, bermain komputer dan mengimajinasikan sesuatu yang kadang tidak masuk akal. Kadang aku membaca buku novel dan buku mengenai teknologi terutama komputer. Cita-citaku adalah menjadi seorang editor video dan menjadi photographer.

TAMBAK KALI GENDOL
ASAL MUASAL DESA CANGKRINGAN


                Tambak Kali Gendol, salah satu legenda sejarah budaya di daerah Argomulyo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Yang ada kaitannya dengan erupsi Gunung Merapi. Ceritanya demikian :

Tersebutlah bahwa sang raja  dari Keraton Surakarta bernama Raja Mangkunegara yang akan memberikan tahta jabatan adipati kepada salah satu diantara kedua putranya yaitu Ki Demang Tomenggolo ataukah Pangeran Jayaningrat. Singkat cerita Pangeran Jayaningratlah yang dipilih oleh Raja Mangkunegara dan dinobatkan menjadi adipati. Konon ceritanya Ki Demang Tomenggolo tidak terima dengan keputusan itu.
“Wahai Jayaningrat adikku! Mengapa harus engkaulah yang menjadi adipati? Mengapa tidak aku saja, yang jelas-jelas lebih tua dari engkau!”seru Ki Demang tak terima.
“Maafkanlah daku kakangmas, ini semua bukan maksud dari hatiku. Namun, bukankah ini  semua keputusan dari Ayahanda?”Tanya pangeran kepada Ki Demang Tomenggolo.
“Ya aku tahu, tapi keputusan ini tak adil. Aku tidak bisa menerimanya.” Kata Ki Demang Tomenggolo.
“Kan kutanyakan semua ini pada Ayahanda!” Kata Ki Demang Tomenggolo yang bersungut-sungut tak terima dengan keputusan itu. Ki Demang Tomenggolo pun menemui raja, lalu menanyakan haknya menjadi adipati.
“Ayahandaku mengapa Engkau tak memilihku menjadi adipati, mengapa engkau justru memilih Pangeran Jayaningrat? Bukankah aku ini kakangmasnya yang jelas-jelas lebih pantas menjadi adipati?” Tanya Ki Demang yang keheranan dengan keputusan Ayahandanya.
“Oh, soal aku memilih adikmu untuk menjadi adipati karena aku tau adikmu lebih siap, dan lebih baik dalam menjalankan kekuasaan. Kau harus lebih banyak belajar dari adikmu. Maafkan Ayahanda dengan keputusan ini, tapi  ini semua juga demi kebaikan bersama.” Raja Mangkunegara menjelaskan.
“Jadi maksud Ayahanda aku ini tidak pantas? Tidak siap? Tidak baik dalam menjalankan kekuasaan? Baiklah jika Ayahanda lebih memilih Pangeran. Aku akan pergi dari sini!” Seru Ki Demang Tomenggolo dengan disertai luapan amarahnya.
“Jangan nekat kau!” Perintah Raja Mangkunegara.

 Ki Demang Tomenggolo tak menggubris perintah Ayahandanya dan langsung pergi menunggangi kuda meninggalkan Keraton Surakarta beserta pengikut setianya. Berhari-hari Ki Demang dan para pengikutnya berkelana keluar masuk hutan untuk pergi menjauh dari wilayah Keraton Surakarta. Hingga akhirnya rombongan Ki Demang Tomenggolo sampailah di tepian Sungai Gendol dan mereka pun membangun tempat tinggal dan menetap di sana.
Sementara itu, di Keraton Surakarta sedang geger mencari keberadaan Ki Demang Tomenggolo. Dikerahkannya seluruh prajurit keraton untuk menemukan keberadaan Ki Demang Tomenggolo tapi tak berhasil juga. Hingga akhirnya Raja Mangkunegara menyuruh Pangeran Jayaningrat untuk turun langsung mencari Ki Demang Tomenggolo hingga berhasil.
“Seluruh prajurit telah dikerahkan namun urung juga Ki Demang Tomenggolo ditemukan. Kali ini kau kuperintah untuk mencari keberadaan kakangmu hingga kau berhasil menemukannya. Kupercayakan sepenuhnya kepadamu, karena kuyakin engkau pasti bisa menemukannya.”kata sang raja.
“Baik Ayahandaku dengan sekuat tenaga akan kucari kakangmas Ki  Demang hingga berhasil ditemukan. Mohon doanya ayahanda.”kata Pangeran Jayaningrat.
 “Doaku selalu menyertaimu putraku. Segeralah bertindak!” Perintah Raja Mangkunegara.
“Siap bertindak.” Balas pangeran.
 Dengan secepat kilat pangeran beserta prajurit-prajuritnya segera melesat meninggalkan keraton. Beberapa detik kemudian telah menghilang dari wilayah kraton dengan kuda-kuda mereka. Berhari-hari pangeran dan prajurit-prajuritnya berkelana menyusuri sungai, keluar masuk hutan, naik turun perbukitan  namun Ki Demang Tomenggolo urung juga ditemukan. Namun, Pangeran Jayaningrat pantang menyerah dan terus berjuang tanpa lelah mencari kakangnya.
 “Tuanku Pangeran, bagaimana jika kita beristirahat sejenak? Beberapa dari kami sudah letih dengan perjalanan menemukan Ki Demang Tomenggolo yang tak kunjung ditemukan ini.” Celetuk salah seorang prajurit di tengah perjalanan.
“Hushh… Lain kali jangan asal bicara kau ya. Aku yakin kakang Ki Demang akan segera ditemukan.” Jawab pangeran yang sedikit kaget dengan ucapan prajuritnya.
“Maafkan hamba tuanku Pangeran, hamba tak bermaksud seperti itu.” Kata salah seorang prajurit tadi.
 “Baiklah tak apa tak masalah. Untuk sekarang segeralah kalian beristirahat! Perjalanan akan segera berlanjut.” Perintah Pangeran Jayaningrat.
 “Siap tuanku Pangeran!” Jawaban serentak dari para prajurit.
Mereka rehat sejenak mengusir letih setelah itu melanjutkan perjalanan kembali. Baru setengah perjalanan dari tempat mereka beristirahat Pangeran Jayaningrat melihat beberapa ekor kuda yang salah satu kuda itu ia kenali.
“Tunggu sebentar. Sepertinya aku mengenal kuda warna hitam belang putih yang sedang diikat di pohon itu.” Kata Pangeran Jayaningrat sambil menunjuk dengan jari telunjuknya arah kuda itu berasal.
“Ituu….ituuu…ituuuu kuda milik Ki Demang Tomenggolo. Tak salah lagi memang benar.” Kata salah satu prajurit.
“Baiklah kita cek dahulu untuk memastikan kebenarannya.” Kata sang pangeran.
Rombongan Pangeran Jayaningratpun segera menuju kearah kuda yang diikat dengan pohon itu. Tak jauh dari tempat kuda itu berdiri terdapat sebuah gubuk luas dengan penuh harapan pangeran pun mendatangi gubuk itu lalu mengetuk-ketuk pintu gubuk.
“Permisi…Apakah ada orang di dalam?” sempat tak ada jawaban dari gubuk itu. Seketika harapan pangeran bertemu kakangnya sirna mengetahui tak ada sahutan dari dalam gubuk.
Namun, beberapa detik saat Pangeran Jayaningrat dua langkah meninggalkan gubuk itu samar-samar seseorang laki-laki keluar dari balik daun pintu.
 “Ya ada penghuni di gubuk ini. Anda ini siapa ya? Dan ada keperluan apa datang kemari?” Kata sosok lelaki itu.
Firasat Pangeran Jayaningrat itu tadi seperti suara laki-laki yang sering ia dengar tapi siapa. Baru saja Pangeran menolehkan kepalanya ia langsung sedikit kaget dan tak percaya bahwa itu adalah Ki Demang Tomenggolo yang tak salah lagi kakangmasnya.
“Kakangmas Demang!! Ini aku adik engkau Jayaningrat. Akhirnya setelah sekian lama dicari-cari engkau kujumpai juga. Bagaimana kabarmu kakang?” Jelas pangeran.
“Eeengkau Jayaningrat? Kenapa engkau datang kemari hah? Apa hanya sekedar menanyakan kabar hah? Apa peduli engkau padaku?” Bentak Ki Demang Tomenggolo.
 “Jangan begitu kakang, kami semua mencari kakang, Ayahanda khawatir pada kakangmas, marilah kita pulang bersama-sama ke keraton. Keluarga keraton merindukan kakangmas.” Pangeran berusaha mendamaikan suasana.
 “Tak semudah itu untuk kembali ke keraton. Aku sudah tak menginginkan kehidupan di sana, dan aku ingin menetap di sini saja. Jika engkau ingin pulang pulanglah saja aku tak kan pernah mau lagi menginjakkan kakiku di keraton itu.” Pangeran Jayaningrat bingung harus bagaimana mengajak kakangmasnya agar mau diajak kembali ke keraton, ia berpikir keras dan terus berpikir hingga akhirnya dia memiliki ide.
“Kakangmasku, sebenarnya aku juga tak menginginkan jabatan dan tahtaku menjadi seorang adipati. Maka dari itu, aku akan menyerahkan jabatanku ini kepadamu. Bagaimana jika kita bermain cangkriman? Jika kakang dapat menebaknya dengan tepat maka jabatan ini menjadi milik kakang, tetapi………..” Belum selesai pangeran berbicara sudah dipotong oleh Ki Demang Tomenggolo
“Jika aku dapat menebak cangkriman darimu akulah yang akan menjadi adipati, tetapi jika aku tak berhasil menebaknya aku bersumpah aku akan mati menceburkan diri di gunung itu. Hahaha… hanya menebak cangkriman saja itu hal yang mudah.” Kata Ki Demang Tomenggolo dengan sombongnya.
Akhirnya Pangeran Jayaningrat dan Ki Demang Tomenggolo sepakat dengan perjanjian itu. Sebelum memulai bermain cangkriman Pangeran Jayaningrat berpikir, jika dia memberikan sebuah cangkriman yang susah pasti Ki Demang Tomenggolo akan mati menceburkan dirinya di gunung. Tapi jika pangeran memberikan sebuah cangkriman yang mudah pasti Ki Demang Tomenggolo dapat menjawabnya dan dia mau kembali lagi ke keraton lagi. Akhirnya Pangeran Jayaningrat memutuskan untuk memberikan sebuah cangkriman yang mudah. Hingga tibalah saatnya Pangeran Jayaningrat memberikan sebuah cangkriman pada Ki Demang Tomenggolo.  Disaksikan para prajurit di kedua pihak antara pihak Ki Demang Tomenggolo ataukah pihak Pangeran Jayaningrat.
“Wahai Jayaningrat adikku! Manakah cangkriman yang akan kutebak dengan mudahnya? Hahaha….” Tanya Ki Demang Tomenggolo dengan sombongnya.
“Bersiap-siaplah wahai kakangmasku sebentar lagi kau kan menjadi adipati karena ini merupakan cangkriman yang mudah.” Kata pangeran.
“Ya tentu saja sebentar lagi aku akan menjadi adipati. Hahahaha…” Lanjut Ki Demang dengan kesombongannya.
 “ANA TULISAN ARAB MACANE SAKA NGENDI?” Tanya sang pangeran.
“Jawabannya ya SEKO TENGEN lah. Dasar pangeran tak becus! Cangkriman macam apa ini? Tak ada yang lebih mudah lagi?hahaha…” Kata Ki Demang melecehkan Pangeran Jayaningrat. 
“SALAH!!! Jawabannya adalah SEKO ALAS.” Kata pangeran tegas. Pangeran mencoba untuk sabar dan terus bersabar.

Rupanya Ki Demang tak terima karena dia mengakui bahwa jawabannya itu benar. Singkat cerita terjadilah pergulatan kecil di antara keduanya. Tapi pergulatan itu dapat dilerai oleh para prajurit.
“Manakah janjimu yang akan menceburkan diri ke gunung? Apakah engkau takut ya?”Tanya pangeran yang sudah terbawa amarahnya.
“Tentu saja tidak.” Tanpa rasa takut Ki Demang yang jiwanya telah diliputi amarah akhirnya dia menceburkan dirinya ke gunung berapi, sebelum itu ia bersumpah “Jayaningrat! ketahuilah, sepeninggalku aku tetap takkan terima sampai kapan pun. Sampai kamu dikubur pun akanku aliri dengan lahar panas gunung ini beserta anak keturunanmu kelak.”

 Namun, oleh para pengikut Ki Demang Tomenggolo Pangeran Jayaningrat dibunuh dengan cara yang licik yakni ditombak dari belakang. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya Pangeran Jayaningrat berwasiat agar ia dimakamkan di tepi sungai agar semoga aliran laharnya tidak meluap hingga ke Keraton Surakarta. Oleh pengikut setia Pangeran Jayaningrat beliaupun dimakamkan di tepi sungai tersebut. (di Sungai Gendol di dusun Gadingan, Argomulyo, Cangkringan.)   

***** TAMAT*****

Dari suatu perjanjian dalam permainan cangkriman hingga sekarang menjadi nama Kecamatan Cangkringan. Oleh sebagian masyarakat, ketika terjadi erupsi Gunung Merapi ada kaitannya dengan cerita di atas. Oleh pemerintah desa legenda tersebut diperingati tiap tahunnya dengan nama “gelar budaya tambak kali” dan hingga kini tradisi itu masih dilestarikan.


Sumber :  internet            = https//Sdin.slemankab.go.id
Narasumber   = Agus Purwanto [42tahun](Jiwan, RT 03/RW 40, Cangkringan, Sleman)




BIOGRAFI PENULIS
  
Gadis berkerudung  dengan motto hidupnya yang berbunyi “Man Jadda Wajada” ini lahir di Sleman, 28 Januari 2003 berzodiak Aquarius. Yang  berhabitat di Jiwan, Argomulyo, Cangkringan, Sleman. Buah pasangan dari orangtuanya Agus Purwanto dan Soni Hidayati. Anak sulung dari 2 bersaudara. Bergolongan darah O. Yang memiliki banyak sekali hobby, salah satu dari hobbynya adalah membaca buku, entah buku novel ataupun buku esiklopedia pengetahuan umum. Hingga kini gadis berkerudung itu duduk di bangku kelas 10 Mipa 3 di SMA N 1 PAKEM. ia menyukai pelajaran Bahasa inggris, waktu jenjang SMP dulu ia berhasil mendapatkan juara 2 di ajang kejuaraan story telling club. Ia juga senang berorganisasi. Cita-citanya kelak adalah bersekolah di sekolah kedinasan STAN atau di STIS dalam bidang perpajakan. Doakan semoga ia dapat mencapai cita-citanya yaaa… AMINNN….

ASAL USUL DUSUN TANEN
(Tanen, Hargobinangun, Pakem, Sleman, DIY)
                Dahulu kala, hiduplah seorang penjual batu yang bernama Kyai Selo. Ia tinggal di suatu tempat yang berada di kaki Gunung Merapi yang berjarak 9 kilometer dari gunung tersebut. Dia tinggal bersama istri dan anak-anaknya. Istri Kyai Selo bernama Nyai Rejo, sedangkan anak pertamanya bernama Anom dan anak keduanya bernama Roro. Dia hidup bersama keluarganya di tengah hutan yang sangat lebat yang disekitarnya terdapat banyak hewan dan tumbuhan liar. Sehari-hari Kyai Selo sekeluarga hidup dari alam sekitar dengan mengolah tumbuhan dan hewan menjadi makanan pokok mereka. Mereka hidup rukun dan saling membantu satu dengan yang lain. Kyai Selo berangkat pagi pulang malam untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dengan mengumpulkan batu-batu untuk dijual. Batu-batu tersebut dikumpulkan di sekitar rumahnya.
                Pada suatu hari, Kyai Selo mencari batu di hutan. Setelah beberapa lama berjalan, ia melihat sebuah batu yang sangat besar. Dihampirinya batu tersebut, kemudian diamati. Ternyata, batu tersebut berbeda dengan batu yang biasa ditemuinya. Dalam hati ia berkata bahwa batu ini mempunyai nilai jual yang sangat besar sehingga dapat mencukupi kebutuhan keluarganya.
                Tiba-tiba terdengarlah suara dari dalam batu. Batu itu berkata, “Bawalah aku pulang ke rumahmu dan ukirlah aku menjadi sebuah patung raja yang gagah dan perkasa.” Maka, dengan kesaktiannya, didoronglah batu itu menuju ke rumahnya. Setelah sampai di rumah, mulailah ia mengukir batu itu menjadi patung yang memiliki wajah serupa dengan sultan penguasa Keraton Yogyakarta saat itu.
Hatta beberapa waktu berjalan, proses pembuatan membutuhkan ketelitian dan alat-alat pahat yang baik karena batu tersebut lebih keras daripada batu biasanya sehingga seringkali harus mencari alat pahat di kota. Syahdan, mulailah Kyai Selo menawarkan patung tersebut kepada orang-orang maupun kerabat yang ditemuinya. Menawarkan patung tidaklah semudah dan secepat yang Kyai Selo bayangkan. Kyai Selo, istri, dan anak-anaknya selau berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberikan kemudahan dalam mencari rezeki terutama dalam usahanya menjual patung yang sudah dibuatnya itu.
Setelah lama menunggu, tiba-tiba datanglah beberapa orang yang katanya merupakan utusan dari Keraton Yogyakarta. Mereka mendengar bahwa ada patung yang mirip dengan sultan pada waktu itu. Orang-orang utusan tersebut kemudian mendatangi rumah Kyai Selo dan melihat patung tersebut. Begitu takjublah mereka saat melihat patung yang begitu besar yang sangat mirip dengan raja mereka. Maka, terjadilah tawar menawar antara mereka. Kyai Selo menawarkan dengan harga yang sangat tinggi karena proses pembuatannya tidak mudah dan memerlukan biaya yang banyak untuk membeli alat-alatnya serta membutuhkan keterampilan, ketelitian, dan kesabaran. Setelah terjadi tawar-menawar yang cukup panjang, muncullah kesepakatan harga penjualan yang menurut Kyai Selo sudah laku cukup tinggi. Hasil penjualan tersebut digunakan Kyai Selo sebagian untuk memajukan daerah tempat tinggalnya. Waktu berjalan terus, Kyai Selo dan istrinya semakin lama semakin tua dan tidak produktif lagi. Tibalah suatu saat Kyai Selo dan Nyai Rejo meninggal. Maka, oleh anak-anaknya dan oleh warga sekitar, daerah tempat tinggal mereka diberi nama Selorejo untuk menghormati Kyai Selo dan Nyai Rejo yang telah memakmurkan dan memajukan desa ini. Setelah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, Anom dan Roro hidup dengan uang sisa penjualan patung yang diberikan oleh Almarhum Kyai Selo.  Anak-anak Almarhum Kyai Selo dan Almarhumah Nyai Rejo diangkat oleh warga sekitar menjadi tokoh dan pemuka masyarakat Dusun Selorejo.
Saat menjadi tokoh masyarakat, Anom bersikap semena-mena terhadap rakyatnya sehingga rakyat sengsara. Ia meminta pajak kepada rakyatnya dengan nilai yang sangat tinggi. Pada suatu hari, Anom bertemu dengan rakyatnya yang tua dan hidup sebatang kara, yang mana dia tidak mempunyai apa-apa di dalam rumahnya. Tanpa rasa kasihan, Anom membentak kakek tesebut, katanya, “Heiiiii, kakek tua, mana uang pajak yang wajib kau berikan padaku?”. Lalu, kakek tersebut bersujud dan menyembah Anom seraya berkata, “Maafkan saya, Tuan, saya benar-benar tidak mempunyai uang sepeser pun, untuk makan pun saya tidak sanggup membelinya.” Pada saat melihat kakek itu, Anom teringat akan pesan dari kedua orang tuanya. Syahdan, munculah rasa iba terhadap kakek tersebut dan membawanya pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, ia menyuruh Roro untuk membawakan makanan dan minuman kepada kakek tersebut. Melihat wajah kakek yang sangat senang, Anom merasa bersalah karena sudah membentak kakek tersebut saat meminta uang pajak. “Kek, maafkan saya atas perbuatan saya selama ini, saya benar-benar menyesal dan saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” kata Anom. “Ini ada sedikit rezeki untuk kakek dari Anom, semoga dapat membantu biaya hidup kakek. Jika kakek butuh bantuan, datanglah ke sini saja dan akan saya bantu,” lanjutnya. Melihat itu semua, kakek merasa terharu sampai meneteskan air mata. Kemudian ia berkata, “Terima kasih Tuan, engkau telah memberiku makanan dan minuman ini. Engkau juga telah memberiku rezeki yang sangat banyak.” Setelah kejadian itu, Anom sangat memperhatikan rakyatnya. Ketika ada yang membutuhkan bantuan, ia langsung datang membantu tanpa memperhitungkan biaya yang akan dikeluarkannya.
Hatta waktu berjalan sangat lama, berpuluh-puluh tahun kemudian warga mulai beralih pekerjaan dari pencari batu menjadi petani. Di dukung letak Dusun Selorejo yang diapit sungai besar dan tanah yang cukup subur, maka lama kelamaan warga Dusun Selorejo memilih menekuni bidang pertanian. Kebanyakan dari mereka menanam padi, jagung, dan palawija untuk mencukupi kebutuhan hidupnya yang semakin besar. Ada juga warga yang menjadi petani cengkeh, petani kopi, dan petani cokelat. Setiap rumah diwajibkan menanam tanaman cengkeh, kopi, dan cokelat. Semakin lama hampir semua penduduk Dusun Selorejo bekerja di bidang pertanian.
Dengan bantuan pemerintah, pada tahun 1970 dusun tersebut bisa meningkatkan pertanian dengan penyaluran pupuk dari pemerintah dan pembangunan dusun dengan bekerja sama melaksanakan program padat karya pembuatan dan pengerasan jalan. Program padat karya dibantu oleh para ABRI masuk desa. Selain program padat karya, warga Dusun Selorejo juga mengikuti banyak perlombaan dalam bidang pertanian yang mendorong perkembangan pertanian semakin pesat.  Dalam mengikuti perlombaan-perlombaan tersebut, sering memperoleh kejuaraan, baik tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional. Maka, Dusun Selorejo menjadi terkenal di bidang pertanian di seluruh Indonesia pada waktu itu. Hasil pertanian yang terus meningkat, menjadikan kemakmuran bagi warga Dusun Selorejo. Tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan sendiri, tetapi sebagian bisa di jual ke daerah lain. Berdasarkan kesepakatan warga, nama Dusun Selorejo diganti menjadi Dusun Tanen karena warga masyarakat sekitar sebagian besar bekerja sebagai petani.  
Aku Aurelia Grandia Venia Agusta. Aku lahir di Sleman, 30 September 2002. Dari bulannya aja dah tau kan kalau zodiakku Libra. Rumahku di Tanen, RT 01/RW 25, Hargobinangun, Pakem, Sleman, DIY. Aku mempunyai hobi menyanyi dan membaca. Aku sekarang sekolah di SMA Negeri 1 Pakem kelas X MIPA 3.


Sumber: Sademi, Agus. 2018. Asal Usul Dusun Tanen.


Legenda kaliwanglu

Sebagai salah satu dusun yang terleetak di Desa Harjobinangun, Kaliwanglu merupakan dusun yang dekat perbatasan dengan Kecamatan Ngemplak. Berhimpit dengan Kali Dadap kemudian sungai yang memisahkan antara Kecamatan Pakem dan Kecamatan Ngemplak.
Kata Kaliwanglu secara harfiah adalah Kali Cawang Telu (sungai cabang tiga). Dan memang di desa Saya, pas tengah desa ada sungai yang bercabang tiga. Satu ke barat yang mengairi dusun, satu lurus ke tengah mengairi desa bagian tengah, dan 1 ke timur mengairi dusun bagian timur. Desa Saya tidak pernah kekeringan walaupun musim kemarau, sungai itu memiliki sumber mata air di atas cabang sungai dan tidak pernah kering. Perekonomian dan perternakan sangat bergantung pada sungai itu. Itulah nilai yang terkandung dari nama desa Saya, yaitu Desa Kaliwanglu.
Secara historis desa Kaliwanglu didirikan oleh Kyai Gendrang Serang, arti gendrang adalah memukul sedangkan serang adalah menyerang. Kyai Gendrag Serang memiliki kekuatan yaitu berupa sebuah tongkat. Tongkat itu adalah tongkat yang sakti, yang ia dapatkan di kaki Gnung Merapi.
Dengan hikayat sebagai berikut, pada waktu itu Kyai Gendrang Serang bertapa di kaki gunung Merapi. Beiau bertapa untuk mencari kedamaian hidup. Selain itu beliau juga bertapa untuk mencari ketenangan. Setelah beberapa lama bertapa, ada bisikan ysng terdenagr di telinganya agar beiau mengakhiri pertapaannya. Setelah beliau mendengar bisikan itu, beliau langsung mebakhiri pertapaannya dan segera turun gunung. Selain mendapatkan bisikan bahwa ia harus turun gunung, Kyai Gendrang Serang juga mendpatkan petunjuk bahwa ia nanti harus berhenti di mana.
Ia menuruni gunung Merapi menuju arah selatan. Kyai Gendrag Serang melewati hutan-hutan yang sangat gelap tanpa ada rasa takut. Sesampainya di suatu tempat Kyai gendrang serang merasa capai dan haus. Saat itu ada cobaan yang diberikan ke padanya yaitu beliau tidak menemukan dusun atau sungai di situ. Pada situasi itu beliau langsung mengambil keoutusan bahwa beliau harus mencari sumber mata air. Beliau mencari sumber mata air dengan memukul tongkatnya ke arah barat tetapi tidak muncul, walau begitu beliau tidak menyerah. Beliau mengganti arah berlawanan yaitu ke arah timur, beliau pukulkan tongkat ke arah timur, ternyata air juga tidak keluar.
Tak lama kemuadian muncul banyak kelabang/kaki seribu di sekitar kakinya, dalam keadaan itu beliau langsung mengibaskan tongkatnya membunuh kelabang itu. Kelabang itu pun berjatuhan dan mati. Tinggal satu kelihatannya Sang Patih pas di tengah arah selatan. Dengan sekuat tenaga dipukulnya kelabang itu sangat kencang sehinga membuat kelabang tersebut mati. Tak disangka pukulan itu membuat air mengucur dari dalam tanah. Air yang mengucur dalam tanah tersebut sampai membentuk sungai dan teryata, bekas pukulan yang di arah barat dan timur juga ikut mengucurkan air. Kyai pun akhirnya meminum air itu dan beristirahat di tempat itu. Dan beliau menamakan dusun itu Kaliwanglu.
Bagi Kyai Gendrang Serang tempat ini menjadi tanda bahwa beliau harus menetap. Beliau juga berfikir bahwa beliau harus beranakpinak di Dusun Kaliwanglu.
Kyai Gendrang Serang selain pandai olah kanuragun beliau juga sakti. Mengapa sungai di kaliwanglu tetap mengalir? Ternyaa Kyai Gendrang Serang mempunyai sahabat jin yang mengawasi sugai itu.
Jin itu tinggal di pohon berigin yang ada di dekat sumber mata air sungai. Sang penunggu sungai tersebut di beri nama Kebo Landoh. Kebo Landoh berwujut kebo/kerbau. Dia memiliki tugas yaiitu mengusir secara halus orang-orang yang memiliki niatan jahat merusak sungai di Kaliwangu ini, bukan cuma itu tugas dari kebo landoh melainkan juga menjaga mata air di desa ini.
Saat ini sang pejaga sungai dan mata air yang di sebut kebo landoh ini bersemayam di sebuah keris yang di simpan oleh sesepuh desa dan yang menyimpan pusaka keris itu merawat dan memandikan pusaka keris itu setiap malam satu Suro.
Itulah legenda dan hikayat dari desa kaliwanglu yang saya catat dan rekam dari sesepuh desa. Sesepuh desa itu tidak lain dan tidak bukan adalah simbah penulis yang bernama Mbah Karjo Suwiryo. Semoga bias bermanfaat bagi kita semuanya.
sumber :
hasil wawancara sesepuh di Kaliwanglu.
Nara sumber :
Mbah Karjo Suwiryo

Perkenalkan nama lengkap saya Bernofani Radithya Medyana, biasanya teman teman memanggil saya Medy. Kata mama saya Bernofani berasal dari kata Berno dan fani. Berno berasal dari nama seorang pembalap dari Italia yaitu Feansisco Bernolly, dan fani berasal dari kedua nama orang tua saya yaitu ayah saya yang bernama Fajar, dan ibu saya yang bernama Ninuk. Sedangkan Radithya berasal dari Bahasa sanskerta yang berarti dini hari karena kata mama saya, saya di lahirkan pada dini hari.  Saya lhir di sleman pada 20 Oktober 2002. Saya di lahirkan dengan normal tanpa kekurangan apapun. Mungkin teman teman saya sudah tau bahwa hobby saya bermain basket, namun tiak anyak orang yang tau bahwa selain hobby basket saya juga memiiki hoby bernyanyi.

 HIKAYAT DESA PANDANPURO

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang pengembara tampan bernama Parta Pemadi. Ia tak sendiri melainkan ditemani oleh pengikut setianya Basupati yang telah ia anggap sebagai adik sendiri. Parta Pemadi adalah salah satu kesatria hebat pada zamannya. Tujuan mengembaranya bukan untuk mencari kesaktian namun ia ingin mencari cintanya. Ia terlalu sibuk di medan perang sehingga ia menyadari bahwa ia belum memiliki seorang pendamping.
Dalam perjalanan ia dan pengikutnya beristirahat sejenak di bawah pohon jambu yang besar. Buah jambunya pun banyak hingga Basupati pun memutuskan memanjat dan memetik jambu tersebut. Saat sudah sampai di atas ia pun terkejut melihat sebuah keris yang tertancap di batang pohon. Diambilnya keris itu kemudian diberikan pada Parta Pemadi. Parta Pemadi bingung bagaimana bisa keris seindah ini tertancap pada batang pohon. Keris cantik yang terdapat ukiran indah di bagian bilahnya.
Kemudian Parta Pemadi merasakan ada kekuatan dari dalam keris itu yang akan menutunnya menuju tujuannya. Dibawalah keris itu pada Mpu Gandring, seorang pandai besi yang terkenal sakti dan mampu menghasilkan keris dengan ukiran rumit yang cantik. Mpu Gandring membenarkan bahwa keris itu adalah buatannya yang telah lama hilang karena terlalu sakti. Kemudian Mpu Gandring menyimpan keris itu dan mempersilakan mereka berdua untuk duduk dan berbincang-bincang . “Anakku, bawakan air minum untuk dua pemuda ini !” Perintah Mpu Gandring. Muncullah sesosok wanita cantik juga anggun membawa air minum untuk kedua pemuda tersebut. Parta Pemadi kagum melihat pesona yang terpancar darinya. Ia adalah Rukmawati anak dari Mpu Gandring yang dikenal santun dan cantik.
Tanpa disadari Parta Pemadi terus memandangi wanita itu hingga Rukmawati salah tingkah dibuatnya. “Tinggalah di sini untuk beberapa hari, lagipula kalian pasti butuh tempat untuk bermalam.” Pinta Mpu Gandring. Kedua pemuda tersebut berpikir dan akhirnya menerima penawaran Mpu Gandring. Dua hari berlalu dengan cepat, tanpa pikir panjang Parta Pemadi mengungkapkan perasaannya pada Rukmawati. “Rukmawati, saat pertama kali aku bertemu dirimu aku merasa bahwa kaulah yang selama ini aku cari. Ternyata cinta pada pandangan pertama itu adalah kenyataan. Aku sudah menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Karena itu maukah kau menjadi istriku ?” Ungkap Parta Pemadi. Rukmawati terkejut akan kata-kata yang terucap dari pemuda itu. Ia bingung dan merasa bahwa ini terlalu terburu-buru.
“Apakah ini tidak terlalu terburu-buru. Kita baru dua hari bertemu, haruskah secepat ini ?” Rukmawati mencoba memastikan. “Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Menurutku waktu dua hari saja sudah cukup bagiku untuk bisa mengenalmu. Jadi bagaimana ?” Parta Pemadi mencoba memastikan. “Ya aku menerimanya. Tapi,” air matanya menetes, “aku tidak bisa memberimu anak.” Ungkap Rukmawati. Parta Pemadi kemudian mengusap air mata wanita itu dan berkata, “Tidak apa-apa aku menerimamu apa adanya, urusan itu kita cari jalan keluarnya bersama-sama.”
Beberapa waktu kemudian, pernikahan telah dilaksanakan dan mereka terus berusaha dan memohon kepada Sang Pencipta agar diberi momongan. Akhirnya karena usaha dan doa Rukmawati pun hamil. Setelah lahir anak itu diberi nama Arya Jayastu, yang artinya agar anak tersebut menjadi bangsawan yang berjaya kelak. Namun tak berapa lama kemudian, Arya Jayastu sakit. Tabib yang memeriksa anak itu mengatakan bahwa ia menderita penyakit yang hanya bisa disembuhkan dengan air rebusan daun pandan. Daun pandan tersebut hanya mampu didapatkan di hutan Pandandeni yang dijaga oleh raksasa.
Karena begitu sayang pada anaknya Parta Pemadi memutuskan pergi ke hutan Pandandeni bersama pengikut setianya Basupati. Perjalan tersebut harus menempuh waktu tiga hari tiga malam untuk sampai ke hutan tersebut. Di tengah perjalanan mereka mampir ke sebuah desa kecil. Dari kejauhan mereka melihat ada seorang perempuan yang diganggu oleh beberapa pemuda yang mabuk. Segera mereka menyelamatkan wanita tersebut dan menghajar para pemuda itu. 
Wanita itu bernama Gayatri, sesosok perempuan cantik yang berasal dari keluarga miskin. Wanita tersebut menawarkan tempat tinggal pada Parta Pemadi dan Basupati yang akhirnya diterima. Benih cinta mulai muncul di hati Gayatri pada Parta Pemadi. Ketampanan dan kebaikan hati pemuda itulah yang membuat Gayatri terpikat. Tanpa disadari ada sesosok pemuda lain yang sudah memandang Gayatri. Ia adalah Basupati, walau ia tahu bahwa Gayatri sudah menyukai Parta Pemadi. Gayatri yang tidak tahu bahwa pemuda yang ia cintai telah memiliki istri. Gayatri mengungkapkan cintanya, tapi ditolak oleh Parta Pemadi. “Maafkan aku, aku telah memiliki istri dan anak, pengembaraanku ini bertujuan mencari obat untuk anakku yang sedang sakit.” Ungkap Parta Pemadi. Wanita itu hanya diam dan terkejut, merasa ada sesuatu yang terluka namun kenapa tidak ada darah yang keluar. Perasaannya sudah hancur berkeping-keping. 
Gayatri kemudian pergi meninggalkan pemuda itu. Air matanya sudah tidak mampu dibendung lagi. Basupati yang melihat itu pun datang dan mencoba untuk menenangkan. Kemudian Basupati membawa Gayatri ke dalam dekapannya agar ia menjadi tenang. Disitulah Gayatri merasakan bahwa ada cinta untuknya dari Basupati. Keduanya pun semakin dekat. Beberapa hari kemudian Parta Pemadi dan Basupati melanjutkan perjalanan. “Gayatri, aku akan segera kembali agar kita bisa melangsungkan pernikahan. Jaga dirimu untukku. Jika aku tak mampu bertemu dirimu lagi, aku ingin kau tahu bahwa aku begitu mencintaimu.” Ucapan perpisahan dari Basupati. “Cepatlah pulang, aku menunggumu di sini.” Ucap Gayatri.
Kedua pemuda itu pun melanjutkan perjalanan mereka. Sampailah pada hutan pandan yang sangat hijau dan indah. Wangi khas pandan pun semerbak. Hutan ini diberi nama
Pandandeni karena orang yang ingin masuk atau hanya sekedar lewat saja sudah takut melihatnya. Bukan karena hutannya yang mengerikan, justru hutannya lah yang membuat mereka terpikat ingin masuk. Yang mereka takutkan adalah Jurumeya, raksasa buruk rupa yang tak segan-segan melukai siapa pun yang berani masuk ke dalam hutan tersebut. Dan benar saja kedatangan Parta Pemadi beserta pengikutnya telah disambut oleh Jurumeya. Pertarungan pun dimulai. Parta Pemadi mengeluarkan keris sakti yang telah sengaja dibuat Mpu Gandring untuk melawan raksasa itu. Kedua pemuda itu bertarung dengan mengeluarkan seluruh kekuatan mereka.
Jurumeya pun tak mau kalah, ia juga mengeluarkan kesaktiannya. Luka di sekujur tubuh Parta Pemadi pun ia hiraukan karena begitu sayangnya ia pada anaknya. Basupati pun membantu melawan menggunakan panah saktinya. Pertarungan sengit itu pun membuat Jurumeya jatuh tak berdaya. Parta Pemadi pun telah mengeluarkan seluruh tenaganya demi mengalahkan raksasa itu. Tanpa disadari Jurumeya masih memiliki sedikit kekuatan yang akan digunakan untuk mengenai Parta Pemadi. 
Parta Pemadi yang tidak mengira bahwa Jurumeya masih memiliki sedikit kekuatan berdiri membelakangi raksasa itu. Basupati yang menyadari bahwa raksasa itu akan melepaskan kekuatannya pada Parta Pemadi kemudian mendorong pemuda itu agar menghindar. “Kakaaaaaaaaaaaak….” Teriak Basupati. Namun sayang, kekuatan itu mengenai Basupati. Parta Pemadi yang melihat Basupati terkena serangan menangis. “Kenapa … kau menyelamatkan aku.” Tangis Parta Pemadi pecah seketika. Basupati yang telah bersamanya sejak lama, mati karena menyelamatkannya. “Ma-afkan a-ku kakak, se-moga kau baha-gia.” Ucap Basupati sebagai kata-kata terakhirnya.
Kemudian ia menguburkan Basupati diantara pohon-pohon pandan. Tak lupa ia kembali dan membawa beberapa lembar daun pandan muda. Perasaannya bercampur aduk, antara senang bahwa ia telah berhasil mendapatkan daun pandan untuk kesembuhan anaknya atau bersedih karena pengikut yang sudah ia anggap adiknya sendiri rela mati berkorban untuk dirinya. Ia bingung bagaimana cara mengatakan ini kepada Gayatri. “Gayatri, maafkan aku, Basupati telah mengorbankan jiwanya untukku. Ia telah menyelamatkanku dari serangan Jurumeya, namun ia malah terkena serangannya. Sekarang ia telah aku kuburkan di sana, maafkan aku.” Ucap Parta Pemadi. Gayatri patah hati untuk kedua kalinya. Cinta yang selama ini ia nanti kepulangannya telah berpulang bukan pada dirinya tapi pada Sang Pencipta.
Parta Pemadi meninggalkan Gayatri yang sedang dalam keadaan berkabung. Ia segera pulang dan memberikan daun pandannya pada tabib. Direbuslah daun pandan tersebut dan diminumkan kepada Arya Jayastu. Beberapa lama kemudian, Arya Jayastu pun sembuh dan kembali sehat. Akhirnya keluarga kecil itu mengajak Gayatri untuk pindah dan menetap di Pandandeni. Agar mereka selalu mengingat akan pengorbanan Basupati. “Akan aku ubah nama tempat ini bukan lagi Pandandeni tapi menjadi Pandanpuro. Agar orang yang masuk merasa disambut dan terlindugi dari segala macam bahaya.”
-TAMAT-
Hai namaku Bopa Noverina Rahmadhaningtyas. Aku lahir pada tanggal 27 November 2002. Banyak yang merasa aneh dengan namaku, ya aku pun juga begitu haha. Namaku adalah akronim dari hari dimana aku lahir. Rebo pahing haha pasti kalian sudah mengerti tanpa harus aku jelaskan lebih rinci. Yaa bisa dibilang orang tuaku itu kreatif wkwkwk. Cukup untuk masalah nama, sekarang tentang kegemaranku. Aku sangat suka dengan sesuatu yang berhubungan dengan Korea Selatan. Entah dari makanannya, grup idolnya, drama-dramanya, juga orang-orangnya yang super tampan dan cantik. Tidak cuma Korea Selatan, aku juga menggilai anime Jepang. Walau sekarang aku sudah duduk di bangku kelas 10 SMA N 1 PAKEM. Aku masih menyukai hal-hal yang berhubungan dengan serial animasi Jepang. Sudah dulu deh perkenalanku, nanti malah makin panjang dan nggak ada habisnya hehehe.

Sumber : Bapak Tukimun dan Khairani Intan
                   Alamat : Pandanpuro, RT/RW 05/22, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Yk.





Hikayat Kali Boyong
Konon, ada seorang pemuda bernama Aji Kusno yang berasal dari Jawa Tengah. Ia suka menjelajahi tempat-tempat yang terpencil dan tidak banyak diketahui oleh khalayak. Oleh karena itu, ia punya banyak cerita tentang suku, budaya, dan legenda yang berasal dari tempat yang berbeda-beda . Petualangannya sering ia ceritakan saat ia kembali ke desa tempat tinggalnya.
Suatu hari, ia sampai di sebuah gunung. Gunung itu adalah Gunung Merapi. Ia sudah banyak dengar tentang mitos kerajaan yang ada di Merapi, tetapi ia tidak tau tentang apa yang ada di sisi lain Merapi. Rasa keingintahuan itulah yang mendorongnya untuk berpetualang ke sana.
Aji Kusno berjalan ke selatan menuruni Gunung Merapi dengan berjalan. Diperjalanannya, ia melihat sebuah sungai yang mengarah ke selatan. Ia memutuskan untuk berjalan mengikuti jalur sungai tersebut.
Matahari mulai tenggelam dan malam Jumat Kliwon datang menyambut. Karena ia tidak membawa sumber cahaya apa pun yang bisa ia gunakan untuk menerangi jalur sungai itu, Ia berjalan di kegelapan. Ia hanya mendengar suara langkah kakinya dan suara gemericik air sungai yang mengalir.
Tak lama kemudian, ia melihat ada sumber cahaya dari kejauhan. Rupanya ada desa kecil di pinggir sungai itu. Dengan segera ia berlari mendatangi salah satu rumah kecil yang ada di pinggir desa itu.
Aji Kusno mengetuk pintu rumah tersebut. Seorang kakek tua membuka dengan hati-hati dan mengintip dengan waspada. Saat melihat Aji Kusno, kakek itu langsung membuka pintu dan segera mengajaknya untuk masuk dengan bahasa tubuh yang sepertinya panik. Ia dipersilahkan untuk duduk di kursi ruang tamu yang diterangi oleh sebuah lilin.
Aji Kusno duduk sambil melihat sekeliling ruangan itu. Di ruang tamu terdapat sebuah meja kayu kecil yang sekelilingnya terdapat empat dingklik kayu ditempatkan berhadap-hadapan. Dapurnya hanya ada di sebelah ruang tamu, dari situ Aji Kusno bisa melihat si kakek menghidupkan api untuk merebus air. Dengan suasana yang sunyi dalam ruangan yang redup itu, Aji Kusno tiba-tiba merasa dingin.
Monggo Mas mau minum apa?” Tanya kakek yang sedang mengeluarkan gelas dan teko. Aji Kusno yang masih sedikit bingung dengan tingkah laku kakek itu saat membukakan pintu menjawab,
“Apa saja boleh, Mbah.”
“Namamu sapa, Le? Ngapain kamu kok bisa sampai kesini?” Tanya kakek itu.
“Nama saya Aji Kusno Mbah. Saya ke sini untuk berjelajah.” Jawab Aji Kusno. Kakek itu datang membawa segelas teh dan teko kecil ke meja ruang tamu sambil duduk di depan Aji Kusno. Kakek itu berjalan mendekati cahaya dan untuk pertama kalinya, Aji Kusno bisa melihat wajah kakek itu. Wajahnya banyak kerutannya dan saat dilihat, kakek itu sepertinya orang yang lembut. Tetapi dimatanya, ia menyimpan kesedihan yang tidak diketahui oleh Aji Kusno.
“Panggil saya ‘Kung Arga’ atau ‘Kakung’ saja tidak apa-apa. Cucu saya dulu sering memanggil saya seperti itu. Ya… jika mereka masih di sini, mereka pasti seumuran denganmu,” kata kung Arga. Aji Kusno yang penasaran pun bertanya,
“Keluarganya Kung Arga kemana? Kung Arga tinggal sendiri?”
“Iya, keluarga saya-“
Entah dari mana Aji Kusno tiba-tiba mendengar bunyi gemerincing dan derap kaki kuda dari luar rumah. Kung Arga tiba-tiba berdiri dan mematikan api yang digunakan untuk merebus air yang ada di dapur. Lalu ia secepatnya kembali ke ruang tamu untuk meniup lilin.
Aji Kusno yang terkejut dan bingung bertanya dengan panik, “Kenapa? Ada apa?”
“Shh..” desus Kung Arga sambil meletakkan jari telunjuk di depan mulutnya. Bunyi gemerincing dan derap kaki kuda dari luar rumah itu masih terdengar. Tanpa peringatan, Aji Kusno tersentak kaget oleh suara jeritan seorang wanita dari luar rumah.
Aji Kusno terdiam, jantungnya berdebar dan nafasnya bertambah cepat. Sambil mendengarkan bunyi gemerincing dan derap kaki kuda yang ada di luar lama-lama menghilang, dengan hati-hati ia mengintip keluar melalui celah jendela yang tertutup. Ia melihat ada kereta kuda berjalan yang disusul dengan khalayak yang berbaris rapi, mirip seperti pasukan berbaris.
 Setelah beberapa saat, mereka menghilang. Aji Kusno yang mengintip  keluar, menutup mata dan mengatur nafasnya. Saat matanya terbuka, ia berdiri dan dengan pelan mengikuti kung Arga yang membuka pintu dan keluar. Ia melihat warga desa berkumpul mengelilingi satu titik di sungai. Aji Kusno yang menyusul, mencoba untuk masuk ke dalam lingkaran penduduk.
Apa yang ia lihat selanjutnya akan menghantuinya seumur hidupnya. Mayat seorang wanita yang tergeletak lemas di tanah, seperti tengkorak yang berkulit. Kulit wanita itu berwarna kelabu dan wajahnya menghilang.
Melihat hal itu, Aji Kusno merasa mual. Bau busuknya pun tak meredakan rasa mualnya itu. Tiba-tiba tubuhnya lemas dan yang dia lihat selanjutnya adalah kegelapan.
Malam Jumat Kliwon sudah lewat, matahari sudah lama terbit, dan Aji Kusno terbangun dari tidurnya. Ia melihat sekelilingnya, ia tertidur di lantai ruang tamunya kung Arga. Kebingungan, ia mencoba untuk mengingat-ingat apa yang terjadi.
Ingatannya lekas datang kembali, perasaan mual saat melihat mayat wanita itu juga terasa kembali. Disaat itu pula kung Arga masuk rumah. Saat melihat Aji Kusno, kung Arga berkata,
“Sudah bangun, Le? Kamu tertidur cukup lama. Ya… wajar saja, setelah apa yang kamu lihat.” Aji Kusno yang penasaran mulai bertanya,
“Kung, apa yang terjadi? Kenapa semalam ada mayat wanita itu? Bunyi-bunyi apa itu semalam?” Banyak pertanyaan yang keluar dari mulut Aji Kusno yang tercengang akan kejadian-kejadian semalam.
“Pelan-pelan saja bicaranya, saya akan jawab satu-satu.” Kata kung Arga sambil membawakan segelas air untuk Aji Kusno. Selagi Aji Kusno minum, kung Arga mulai bercerita,
“Kejadian semalam itu dinamakan Lampor. Jika saya pikir, kejadian itu sudah lama tak terjadi. Kejadian di mana Ratu Pantai Selatan dengan kereta kuda dan pasukannya mengunjungi Gunung Merapi melalui jalur sungai ini. Keluargaku pergi meninggalkanku di sini karena ketakutan dengan adanya kejadian ini.”
“Kenapa Kung Arga tidak ikut saja dengan mereka?” Tanya Aji Kusno.
“Saya lahir disini, saya juga akan mati di sini. Disinilah satu-satunya tanah yang ku miliki,” jawab kung Arga dengan nada lembut. Kung Arga melanjutkan,
“Mayat yang kamu lihat di sungai, hal yang sama terjadi pada istriku. Nyawanya diambil oleh pasukan Ratu Pantai Selatan dan dijadikan oleh mereka anggota pasukan baru. Itulah yang terjadi jika pasukan Ratu Pantai Selatan melihatmu.”
Aji Kusno merasa bulunya berdiri, karena ia mengintip melalui jendela rumah, ia berharap pasukan itu tak melihatnya saat ia mengintip.
“Ya… karena itu sungai ini disebut Kali Boyong. Sungai ini sering mboyong nyawa yang kemudian dijadikan anggota pasukan ratu.” Lanjut kung Arga.
Aji Kusno yang merasakan kengerian Kali Boyong yang sesungguhnya, segera pamit untuk melanjutkan perjalanannya. Ia menghabiskan air minum yang diberikan kepadanya dan berterima kasih kepada kung Arga.
Kung Arga yang mengerti akan alasan Aji Kusno terburu-buru untuk pergi, berterima kasih kepada Aji Kusno karena telah menjadi teman bicaranya.
Matur nuwun Le… sudah menemaniku, walaupun hanya sebentar.” Kata kung Arga.
Nggih, sami-sami. Terima kasih juga sudah memperbolehkan saya untuk menginap.” Kata Aji Kusno dengan senang hati. Dengan begitu Aji Kusno melanjutkan perjalanannya untuk kembali pulang.
Beberapa hari kemudian, mayat Aji Kusno ditemukan hanyut kembali ke desa itu. Rupanya ia meninggal di jalan karena sebuah penyakit yang tak diketahui. Saat bercerita, kung Arga lupa menyampaikan satu hal. Jika seseorang melihat kereta kuda dan pasukan Ratu Pantai Selatan lewat, maka mereka akan terkena penyakit yang mengakibatkan kematian. Begitulah akhir dari Aji Kusno.

-Tamat-

Hallooooo… Namaku Cut Nabila Olga Maulida, biasa dipanggil Olga. Saya lahir di Yogyakarta pada tanggal 17 Mei 2003. Sekarang saya adalah siswa SMA Negeri 1 Pakem dan saya duduk di kelas X MIPA 3. Saya adalah pecinta anime dan BTS. Hobiku mendengarkan music dan menggambar. Sejak aku lahir 15 tahun yang lalu, ini adalah pertamakalinya aku menulis sebuah cerita. Saat aku menulis cerita ini, ternyata lumayan asyik prosesnya. Maka, karena itu saya berterimakasih kepada pembaca karena telah membaca hikayat ini.



Sumber : https://chirpstory.com/li/393935


Hikayat Tegaltelan (Dukuhsari)
Dahulu kala di sebuah kerajaan bagian utara yang dipimpin oleh raja yang sangat bijak,  dermawan, dan ramah, beliau mempunyai dua orang putra. Putra sulung bernama Raden Tunggal. Dia memiliki sifat yang yang mirip dengan ayahnya dan selalu tersenyum dengan siapa saja. Putra bungsu bernama Raden  Kaleh, dia masih kecil. Sifatnya pun juga sama dengan kakaknya. Mereka selalu berkeliling di sekitar kerajaan untuk menyapa dan membantu rakyatnya.
Suatu hari saat Raden Tunggal dan adiknya sedang berjalan-jalan. Mereka memilki seorang paman yang baik. Namun ternyata paman mereka baik hanya didepan mereka saja.  Tiba-tiba paman mereka melakukan pemberontakan. Dia behasil membunuh sang raja, dan dia ingin juga membunuh kedua putra sang raja. Panglima sang raja yang saat itu terluka pergi menemui kedua putra sang raja. Dia berhasil menemukan mereka dan menyuruh mereka  untuk lari dari kerajaan ini. Dia menceritakan bahwa paman mereka telah melakukan pemberontakan dan membunuh ayah mereka. Raden Tunggal dan Raden Kaleh sedih saat mengetahui ayah mereka meninggal di tangan paman mereka sendiri, Akhirnya mereka pun kabur sambil membawa batang pohon singkong yang diberikan oleh seorang kakek-kakek.
Saat mereka sampai di sebuah gubuk kosong. Mereka pun beristirahat disana sambil memikirkan tentang kerajaan mereka saat ini.
”Kak, bagaimana nasib rakyat kita kanda?” tanya sang adik.
”Aku tidak tahu dinda, yang penting sekarang kita bersembunyi dari para pemberontak itu agar kita bisa menyelamatkan kerajaan.”  Jawab sang kakak dengan bijak.
Raden Kaleh menyetujuinya dan mereka melanjutkan perjalanan ke tempat yang aman.
Di kerajaan, paman mereka, Ki Suyut memikirkan cara agar kedua keponakannya dapat dibunuh. Ki Suyut memerintahkan seluruh pengikutnya untuk melakukan pencarian besar-besaran. Barang siapa yang menemukan mereka akan mendapat imbalan yang besar. Mereka pun mulai untuk mencari kedua pangeran tersebut.
Raden Tunggal dan  adiknya, Raden Kaleh sampai di sebuah kampung pedalaman. Mereka berjalan diantara para warga setempat yang melihat mereka dengan tatapan aneh.Ada seorang warga yang menghampiri mereka dan bertanya,
”Wahai pemuda, ada apa kalian? Kenapa kalian terlihat was-was dan darimana asal kalian?”
Raden Tunggal pun menjawab , “Kami dari kerajaan bagian utara paman, kerajaan kami dikhianati paman kami sendiri dan pengikutnya. Mereka telah membunuh ayahanda dan sekarang mereka mengincar kami. Jadi kami lari dari mereka. Oh iya, paman apakah kami boleh tinggal dan menyamar sementara di tempat ini?”
”Ya kalian boleh melakukannya asal kalian izin dulu pada kepala desa”, orang itu pun memperbolehkan. Raden Tunggal dan adiknya pun mengikuti orang tadi.
Mereka sampai di rumah kepala desa. Mereka meminta izin dan diperbolehkan. Mereka pun disuruh tinggal di rumah kepala desa untuk sementara, karena mereka bilang bahwa mereka adalah pangeran  kerajaan bagian utara.
Pengikut Ki Suyut masih belum menemukan kedua pangeran itu.
”Sialan, kenapa belum ketemu juga.  Dasar kalian tidak becus, cepat cari mereka dengan benar!!”  marah Ki Suyut.
Para prajurit pun mencari mereka lagi dan mereka mendapat info bahwa kedua pangeran tersebut berada di sebuah kampung.
Raden Tunggal sedang membantu warga bercocok tanam, dia mencangkul tanah agar tanahnya gembur. Sedangkan adiknya, Raden Kaleh sedang membantu memanen hasil panen di kampung itu. Para warga merasa senang dengan sifat mereka yang sangat suka membantu orang lain. Saat kedua pangeran itu sedang membantu para warga, tiba-tiba ada gerombolan bandit yang datang ke kampung tersebut. Mereka mengobrak-abrik dan mengambil benda-benda berharga milik warga yang ada dikampung tersebut. Para warga resah dan kabar itu pun sampai di telinga Raden Tunggal dan Raden Kaleh. Mereka langsung menuju lokasi kejadian. Saat mereka telah sampai, mereka melihat ada anak yang ditawan oleh bandit itu.
”HEY! Lepaskan anak itu!” seru Raden Tunggal
”Kau inging anak ini selamat? Serahkan semua barang-barang berharga kalian semua jika ingin anak ini selamat!” perintah si Bandit.
Raden Tunggal pun maju untuk menyelamatkan anak tersebut. Dia langsung melawan mereka dengan mudahnya karena dia dulu berlatih bela diri dengan giat. Hasilnya para bandit itu langsung kabur saat melihat dua pemuda tersebut mengalahkan mereka dengan mudahnya. Para warga bersorak gembira dan mengucapkan terima kasih kepada Raden Tunggal. Raden Kaleh sangat senang dan bangga kepada kakaknya itu.
Di saat yang bersamaan, saat para bandit itu kabur. Mereka melewati para prajurit kerajaan yang sedang mencari Raden Tunggal dan Raden Kaleh. Prajurit-prajurit itu menghentikan para bandit itu dan bertanya dari mana mereka dan kenapa mereka bisa babak belur.Salah seorang bandit menjawab,
 “Kami di kalahkan oleh dua pemuda di kampung itu”
 Sambil menunjuk kampung yang dimaksud. Prajurit itu langsung menuju kampung itu dan mereka melihat ada dua pemuda yang sedang membantu para warga. Prajurit-prajurit itu tidak mengenali dua pangeran itu karena saat ini Raden Tunggal dan Raden Kaleh sedang menyamar. Prajurit-prajurit itupun masuk ke kampung itu dan mereka langsung menghampiri dua pemuda itu. Raden Tunggal kaget saat ada prajurit dari kerajaannya telah menemukannya dan adiknya. Dia langsung menyuruh adiknya untuk ikut bersamanya dan bersembunyi. Mereka bersembunyi di salah satu rumah warga.
Salah satu prajurit masuk ke rumah yang saat itu juga Raden Kaleh ada di situ. Prajurit itu mengobrak-abrik rumah itu dan berhasil menemukan Raden Kaleh, dia langsung menyeret Raden Kaleh untuk ikut dengannya. Raden Tunggal mengetahui itu dan langsung menghentikan prajurit itu. Tiba-tiba saja pandangan Raden Tunggal menggelap dan dia pingsan karena tengkuknya dipukul oleh prajurit itu. Raden Kaleh menangis dan dia hendak mendatangi kakaknya namun dia juga dibuat pingsan oleh prajurit-prajurit kerajaan itu menggunakan sapu tangan yang diberi ramuan.
Raden Tunggal terbangun dan dia sangat bingung karena dia tiba-tiba berada di penjara bawah tanah kerajaannya. Dia teringat akan adiknya yang juga dibawa prajurit kerajaannya. Dia langsung berteriak
“Hey, dimana adikku?!”
Salah satu prajurit yang berjaga di penjara itu menjawab bahwa adiknya saat ini berada di penjara lain. Raden Tunggal langsung berpikir dan dia mendapakan sebuah ide. Dia pernah diajari oleh seseorang bagaimana cara membuat racun ringan dari ketela. Ternyata di sakunya sudah ada racun yang dia buat saat dia berada di kampung itu. Dia langsung membekap prajurit itu dan prajurit itu pingsan seketika. Raden Tunggal mengambil kuncinya dan keluar dari penjara itu.
Raden Kaleh saat itu sudah berada di ambang kematian karena dia telah disiksa oleh pamannya sendiri. Dia sudah tidak kuat, namun tiba-tiba kakaknya datang dan langsung membunuh pamannya dari belakang. Raden Kaleh melihatnya dan dia senang pamannya yang jahat itu telah berhasil dikalahkan. Raden Tunggal menghampiri adiknya
“A-apa kamu tidak apa-apa dinda?” tanya Raden Tunggal khawatir
“A a aku ti-dak a-pa  a-pa kanda,” jawab Raden Kaleh dengan nada yang sangat lemah.
Raden Tunggal yang mengetahui itu langsung membawa adiknya ke tabib,namun nyawa adiknya tidak terselamatkan.  Dia menangis dan dia langsung membawa jasad adiknya di sebuah tanah yang kosong nan gersang dan menguburkannya di situ, karena jasad ayahnya dulu juga dikurburkan di situ. Dia menancapkan sebuah batang singkong yang dulu pernah diberikan seorang kakek-kakek. Dia menatapi kedua makam itu dengan rasa yang sangat sedih, karena dia tidak memiliki keluarga lagi. Ibunya meninggal setelah melahirkan Raden Kaleh.  Tiba-tiba saja makam adiknya yang ditancapi batang pohon singkong itu tumbuh dan menjadi sebuah pohon singkong yang sangat besar. Dan pohon itu menyebar hingga menutupi seluruh tanah kosong nan kering  tersebut. Raden Tunggal kaget dengan apa yang telah terjadi.
Bersamaan dengan kejadian ajaib itu,kerajaan tiba-tiba saja mengalami kebakaran dan para warga bingung harus ke mana mereka. Raden Tunggal yang mengetahui itu langsung memerintah rakyatnya untuk pindah di tempat yang mulanya makam keluarganya, dan kini telah menjadi tempat yang penuh akan pohon singkong. Raden Tunggal langsung menyuruh warganya untuk tinggal di situ dan membuat kampung. Raden Tunggal-lah yang menjadi kepala desa.Dia membuat tempat makam ayah dan adiknya menjadi sebuah tugu peringatan. Dia akhirnya menamai tempat kosong itu yang saat ini telah menjadi sebuah kampung dengan nama “Tegaltelan”. Tegal yang berarti kebun dan Telan yang berarti singkong. Dia melakukan itu untuk menghormati keluarganya dan akhirnya kampung Tegaltelan pun terbentuk dan menjadi sebuah dusun sampai saat ini.
Menjadi nama Dukuhsari karena diganti oleh pemerintah dan telah menjadi nama dusun yang resmi.
Sumber : Supriyadi, S. Pd

Hallo guys
Namaku Defi Rahmadani, panggilannya Defi atau kalo mau manggil Dani juga boleh :v.  Aku lahir setelah ibu melahirkanku pada tanggal 16 Desember 2002. NAH! itulah yang mejadi arti namaku yaitu DE = Desember dan FI = Fitri. Aku tinggal di rumah(iyalah masa di kolong jembatan -_-) tepatnya di dusun Dukuhsari, Wonokerto, Turi. Hobi aku tuh ndengerin musik(kata Bu Mamik aku orangnya gk pernah susah,padahal mikir buat biodata aja susah :v), band favorit aku tuh ONE OK ROCK & BTS hehehe(band asal jepang sama boyband asal korea), suka nonton anime,gambar,bikin kreasi setelah lihat postingan @5.min.craft :v, dan hobi yang paling penting......Tidur 😊. Aku suka ceplos spoiler jadi hati” aja. Aku tuh pengen jadi seorang arsitek , tapi kadang juga pengen jadi animator :v. Aku orangnya juga suka nyengir dalam keadaan apapun :v. Dan sekarang aku sekolah di SMA Negeri 1 Pakem.
Ok guys,itulah sekilas tentang diri saya yang sangat absurd ini :v sekian dan terima kasih.

ASAL USUL PENAMAAN DUSUN BULUS
Dahulu kala ada seorang santri bernama Abdullah yang ditugaskan oleh Guru Besarnya untuk berdakwah di daerah dekat Gunung Merapi. Perjalanan yang harus ditempuh oleh Abdullah menghabiskan waktu yang cukup panjang.
Abdullah hanya boleh membawa sepotong roti dan sedikit air minum serta perlengkapan untuk sholat. Jika Abdullah kekurangan makanan maka ia diwajibkan untuk mendapatkannya dari alam. Selasa Kliwon adalah awal perjalanan Abdullah. Ia pergi dengan cara berjalan kaki. Ternyata, perjalanan yang harus dilalui Abdullah tidak semudah yang dibayangkan. Pada malam hari tibalah Abdullah di hutan antah-berantah. Di dalam hutan ia kesulitan untuk melihat jalan karena sangat gelap. Akhirnya dia memutuskan untuk membuat pencahayaan dari api.
Dengan pencahayaan yang hanya datang dari bulan, ia mulai mencari dua batu berukuran sedang serta beberapa ranting pohon untuk bahan membuat api. Setelah menemukan bahan-bahan yang dibutuhkan, ia mulai membuat api. Abdullah menggesekan dua batu tersebut sampai keluar percikan api. Akhirnya api itu menyala, setelah beberapa kali digesekan. Abdullah melanjutkan perjalanan dengan penerangan dari api yang ia buat tadi. Suasana di dalam hutan sangat hening dan mengerikan. Hanya ada suara burung hantu dan daun yang bergesekan. Untuk menghilangkan keheningan Abdullah bersholawat.
Hari menjelang subuh, Abdullah mencari sebuah tempat untuk ibadah sholat subuh, setelah sholat subuh ia memakan secuil roti yang ia bawa serta meminum setenggak air, Abdullah harus melakukan hal tersebut agar makanannya cukup. Abdullah melanjutkan perjalanan setelah selesai sarapan. Ia terus berjalan sampai menemukan sebuah sungai yang membatasi antara hutan dengan sebuah desa. Tak jauh dari sebrang sungai terdapat  gubuk kecil. Air sungai tidak mengalir begitu deras, cenderung tenang. Hal itu menandakan bahwa di dalam air ada seekor buaya.
“Jika saya tidak menyebrangi sungai ini maka saya harus memutar jalan yang membutuhkan waktu banyak,” ujar Abdullah
Abdullah menutup matanya lalu berkata,”Saya harus menggunakan cara ini.”
Abdullah melangkahkan kakinya ke belakang . Dia membuka matanya dan menatap lurus ke  arah sungai. Benar, di dalam sungai itu ada seekor buaya putih yang sedang menatap lapar ke arah Abdullah. Abdullah mulai menfokuskan pikiran, mengatur napas nya dan bersiap untuk lari…
“Allahuakbar!” seru Abdullah sambil berlari. Saat ia sudah dekat dengan sungai, ia mengangkat kakinya ke udara. Melompat tinggi, menyebrangi sungai yang cukup luas. Pada saat itu pula si buaya putih mengangkat moncongnya dan bersiap untuk memakan Abdullah tetapi gerakan Abdullah lebih cepat dari buaya putih itu.
“Alhamdullilah, saya selamat,” ucap syukur Abdullah
Abdullah sangat kelelahan, apalagi tadi malam ia memutuskan untuk tidak tidur. Ada sebuah gubuk kecil dan ia memutuskan untuk mampir sebentar.
“Assalamualaikum, apa ada orang di dalam? Bolehkan saya istirahat di sini sebentar?”  Abdullah mengetok-ngetok pintu.
“Assalamualaikum,”ucapnya lagi.
Lalu pintu terbuka, keluarlah  seorang nenek tua dengan tongkatnya yang ia pakai untuk berjalan. “Wahai anak muda darimana kau berasal?” Tanya nenek itu.
“Saya Abdullah berasal dari daerah selatan. Saya ditugaskan oleh guru saya untuk pergi ke daerah gunung merapi tetapi saat sini saya sangat lelah. Bolehkah saya istirahat sebentar di sini?” ucap Abdullah.
Nenek itu diam sebentar, lalu pada akhirnya ia mempersilakan Abdullah masuk.
“Duduklah,” ucap nenek itu sambil menunjuk sebuah kursi yang terbuat dari bambu yang sudah reyot.
“Terima kasih,” balas Abdullah.
Lalu nenek itu masuk ke dalam ruangan kecil yang diyakini adalah sebuah dapur.
Abdullah mengecek persediaan makananan yang ternyata tinggal sedikit. Hanya tersisa secuil roti dan setetes air. Nenek itu keluar dari ruangan kecil dan membawa segelas air.
“Ini minumlah, kau pasti haus,” nenek itu menyerahkan gelas tersebut kepada     Abdullah. Abdullah menerima gelas itu, lalu berdoa sebelum meminum itu.
“Bagaimana kau bisa selamat dari buaya yang ada di sungai itu?”Tanya Nenek.
“Nenek tau jika ada buaya di sungai itu?” Abdullah balik bertanya.
“Buaya itu sudah lama berada di sungai itu. Buaya itu juga yang sudah membunuh suami dan anak saya,” jelas nenek.
“Maafkan saya,” Abdullah merasa bersalah karena membuat nenek sedih. “Saya melewati sungai itu dengan cara melompat, saya bergerak lebih cepat dari buaya itu.”
Nenek tersenyum,”Tidurlah, nenek akan membangunkan mu saat dzuhur.”
“Terima Kasih,” Abdullah tersenyum.
Abdullah bangun saat waktu dzuhur, ia sholat terlebih dahulu kemudian pamitan kepada nenek.
“Nenek saya ingin melanjutkan perjalanan dulu. Terima kasih atas segalanya,” pamit Abdullah
Nenek menyodorkan sebuah kantong, “Ini untuk bekal kamu nanti. Perjalananmu ke daerah Gunung Merapi masih sekitar 20 km. Satu lagi, tak jauh dari sini sedang ada keributan antar desa kamu harus berhati-hati.”
“Baik, Nek. Terima kasih. Saya pamit dulu. Assalamualikum,” Abdullah mencium punggung tangan nenek.
Abdullah melanjutkan perjalanannya. Suasana di daerah itu sangat sepi dan sejuk tetapi tidak seram seperti di hutan tadi. Abdullah berjalan sambil bersenandung kecil. Apa yang dikatakan nenek tadi benar. Dua ratus meter di depan Abdullah  sedang ada keributan antara kelompok yang satu dengan yang lain. Mereka saling menyerang dengan menggunakan berbagai senjata. Abdullah prihatin melihat itu semua. Ia berjalan mendekati kerumunan. Kemudian ia membaca ayat Al-Quran dengan suara yang lantang dan merdu. Semua orang yang tadinya ribut menjadi diam. Kemudian, Abdullah membacakan arti dari ayat yang ia baca tadi. Semua langsung tertunduk diam.
“Saling memaafkanlah jika kalian tidak ingin di azab oleh Allah,” ucap Abdullah. Kemudian mereka semua saling memaafkan. Abdullah tersenyum, setelah mengucapkan salam Abdullah melanjutkan perjalanannya. Waktu Ashar telah tiba Abdullah segera mencari tempat yang nyaman untuk sholat. Ia memutuskan untuk sholat di pinggir sungai. Air tidak begitu deras tetapi tidak setenang sungai sebelumnya. Setelah selesai sholat Abdullah untuk mencuci kakinya di sungai tersebut. Saat sedang mencuci kakinya, Abdullah melihat segerombolan bulus (kura-kura)yang masih kecil. Karena tertarik Abdullah menghampiri segerombolan bulus itu. Ada sekitar tiga puluh anak bulus yang sedang berjalan menuju daratan. Abdullah melihat satu anak bulus yang kesulitan melewati batu. Kemudian ia mengambil anak bulus itu dan membantunya.
“Hati-hati,” ucap Abdullah pada bulus yang ia bantu tadi.
Setelah itu Abdullah melanjutkan perjalanannya. Ia amat terkejut karena anak bulus yang ia tolong tadi mengikutinya. “Kembalilah ke teman-temanmu,” ucap Abdullah tetapi anak bulus itu tetap mengikutinya. Abdullah melihat sekumpulan bulus dewasa, kemudian dia mengangkat anak bulus yang mengikutinya dan meletakkannya di dekat sekumpulan bulus. Anak bulus itu tetap mengikutinya, akhirnya Abdullah menyerah dan membiarkan anak bulus itu mengikutinya. Tak jauh dari sungai, ternyata ada sebuah desa. Terdengar suara ribut-ribut yang berasal dari sebuah sawung. Abdullah berjalan menuju sawung itu dan bertanya mengapa ada keributan di situ.
Salah satu warga menjawab, “kami sedang mencari nama yang tepat untuk desa ini.”
“Kami semua bingung ingin memberikan nama apa, banyak yang mengusulkan dan banyak juga yang tidak setuju,” tambah warga yang lain.
Abdullah berpikir sejenak. Setelah melihat anak bulus ia menjadi punya ide.
“Kalian tahu, di sungai dekat desa ini terdapat bulus yang sangat banyak?”tanya  Abdullah.
“Ya kami tahu, kami sering menangkapnya untuk dijual atau dipelihara,” balas warga.
“Lantas kenapa desa ini tidak dinamakan desa bulus?” tanya Abdullah lagi.
Warga yang ada disitu saling berbisik. Menatap satu sama lain seperti meminta persetujuan.
“Itu adalah nama yang bagus, kami semua tidak terpikir untuk memberi nama itu,” ucap salah satu warga.
“Ya saya setuju.”
“Saya juga.” Semua warga saling bersautan, mengatakan kalau mereka setuju.
Dan mulai saat itu desa tersebut resmi diberi nama Desa Bulus atau Dusun Bulus.
“Assalamualaikum Abdullah. Ini adalah tujuanmu, desa daerah Gunung Merapi yang sekarang kau beri nama Desa Bulus,” ucap Guru Besar.
“Walaikumsalam Guru Besar,” balas Abdullah sedikit kaget karena tiba-tiba Guru Besarnya itu muncul.
“Jadi kau adalah Abdullah yang berasal dari daerah Selatan. Perkenalkan saya adalah ketua desa di sini. Maaf kamu mendapat kesan pertama yang buruk di sini,” ucap ketua desa yang bernama Sardjo.
“Tidak masalah,” balas Abdullah
Abdullah disambut dengan baik. Semua orang langsung suka terhadapnya. Hal itu membuatnya mudah dalam berdakwah.
     -TAMAT-






Nama saya  Fanni Rachma Salsa, bisa panggil di Fanni atau Salsa.  Saya lahir di Tangerang ,22 Juni 2003, saat ini saya sedang mencari ilmu di SMAN 1 PAKEM, kelas X MIPA 3. Saya suka menulis tapi tidak bisa menulis atau lebih tepatnya tidak jago. Cita-cita saya menjadi seorang Dokter, Pengusaha, dan Penulis. Mempunyai impian untuk membangun Rumah Sakit dan menerbitkan sebuah buku novel. Sangat suka dengan minuman matcha tea dan tidak suka dengan coklat. Sangat menyukai bakso J.

Sumber :
Nama : Sarju
Alamat : Dusun Bulus Lor, Candibingangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta.




Asal-Usul Turi
                Dahulu kala ada seorang gadis cantik bernama Ningsih, ia jatuh cinta dengan seorang pedagang yang  gagah bernama Tirto. Pada suatu saat karena mereka saling jatuh cinta Tirto berniat untuk melamar Ningsih, namun ningsih melarang karena ia tahu bahwa ayahnya tidak akan setuju karena ia seorang pedagang. Sedangkan ayahnya adalah kepala desa terhormat di daerah itu. Walaupun sudah diperingatkan oleh Ningsih, Tirto dengan hati yang kuat tetap ingin melamar Ningsih hari berikutnya.
“ Assalamualaikum” salam Tirto dari luar rumah Ningsih.
“Walaikumsalam, Siapa kamu? “ jawab ayah Ningsih sambil membuka pintu.
“Saya Tirto ,saya ingin melamar anak bapak “ sahut Tirto
“Apa..,melamar anak saya kamu itu siapa mau melamar anak kepala desa ini?” jawab ayah Ningsih
“Saya seorang pedagang di pasar. “ jawab Tirto
“ Apa seorang pedagang, sudah pergi saja kamu dari sini.” Bentak ayah ningsih
                Akhirnya Tirto pergi dari tempat itu dengan perasaan agak kecewa karena ia tidak dihargai karena cuma seorang pedagang biasa,ia juga menyesal karena tidak mendengarkan nasehat Ningsih kemarin. Ketika dalam perjalanan ia bertemu dengan Ningsih yang pulang dari sawah.Ia menceritakan kepada Ningsih bahwa ia sudah bertemu dengan ayahnya dan seperti dugaan Ningsih bahwa ia ditolak oleh ayahnya.
                Suatu hari ayah Ningsih ingin menjodohkan dia dengan seorang anak orang kaya namanya Dirjo, pada waktu ia diperkenalkan pada Dirjo, Dirjo sudah jatuh cinta pada pandangan pertama karena begitu cantiknya Ningsih, tetapi Ningsih tidak suka kepada Dirjo yang keliahatannya sangat sombong dan ia juga sudah jatuh cinta pada Tirto dan berjanji kepadanya akan menikahinya. Ayah Ningsih marah karena ia tidak mau menerima jodoh yang sudah dipilihkan olehnya ,akhirnya Dirjo disuruh pulang dulu, jika Ningsih sudah mau menerima keputusan ayahnya itu Dirjo akan diperkenankan melamar Ningsih, namun Ningsih tetap tidak mau menuruti kemauan ayahnya itu.
                Karena NIngsih tetap tidak mau menuruti perintahnya, ia mencarikan jodoh lain yaitu Tarno seorang pemuda yang sangat tampan dan tubuhnya yang kekar yang bisa membuat para wanita jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Namun ketika diperkenalkan kepadanya Ningsih tetap tidak mau .
“ Ningsih, perkenalkan ini Nak Tarno dari desa sebelah” kata ayahnya Ningsih
“Kenapa  sih Pak selalu menjodohkan aku ,aku kan sukanya sama Tirto” jawab Ningsih
“Siapa itu Tirto?” sela Tarno
“Dia itu cuma pedagang kecil di pasar “ jawab ayahnya Ningsih
“ Oh.. cuma pedagang kecil .Kenapa kamu tidak mau sama aku, aku kan tampan dan gagah. “ sombong Tarno
“ Iya kamu tampan tapi tak sebaik Tirto” jawab Ningsih sambil meninggalkan mereka
                Karena Ningsih meninggalkan mereka, ayahnya menyuruh Tarno untuk pulang dulu. Suatu saat di siang hari Ningsih bertemu dengan Tirto di sawah, ketika sedang berbicara mengenai hubungan mereka tiba-tiba ayahnya Ningsih itu mendekati mereka dan marah marah. Ayah Ningsih tidak setuju jika anaknya dekat dengan Tirto.
“ Hei kau jangan berani dekati anakku lagi” bentak ayah Ningsih
                Karena juga tidak suka sifat ayahnya ningsih Tirto akhirnya menjauhi Ningsih hingga ayahnya memperbolehkan. Suatu ketika ayahnya Ningsih itu ingin memiliki seorang cucu, namun anaknya, Ningsih belum juga memiliki pasangan,walaupun umurnya sudah mencapai 25 tahun. Akhirnya ia menjodohkan Ningsih dengan pemuda- pemuda yang ada di desanya itu ,namun Ningsih tetap menolak semua perjodohan itu.
                Karena putus asa ayah Ningsih pergi menemui kakek ningsih dan meminta nasehat, kakek Ningsih memberi saran supaya ia mengadakan suatu sayembara untuk mendapatkan putrinya tersebut. Akhirnya ia kembali ke desa dan memberi tahu kepada warga tentang sayembaranya.
“ Saya mengadakan sayembara bagi siapapun pemuda yang dapat melewati rintangan yang saya berikan ,akan saya nikahkan pada anak saya Ningsih “ kata ayahnya ningsih
                Mendengar seyembara itu Dirjo, Tarno, dan Tirto juga mengikuti sayembara tersebut dengan pemuda-pemuda di daerah sekitar tempat itu. Rintangan pertama yaitu mereka hadapi yaitu mereka harus menagkap 10 ikan besar di sungai yang deras. Setelah selesai menghadapi tantangan itu ternyata yang tersisa hanya 10 orang dan diantara mereka ketiga orang itu juga berhasil melewatinya.
                Akhirnya tantangan kedua dimulai yaitu mereka harus berburu di hutan dan membawa hasil buruan yang besar dalam 3 hari. Tantangan akhirnya dimulai mereka segera berburu masuk ke hutan. Selang tiga hari mereka keluar namun hanya 8 orang yang berhasil selamat,ketika dipilih 3 orang yang berhasil dan akan menuju rintangan terakhir setelah dipilih ternyata Dirjo, Tarno dan Tirto berhasil semua.
                Setelah mendapat 3 peserta terakhir ayah ningsih memberi rintangan terakhir yaitu mereka harus tidur di atas duri pohon salak yang ditumpuk 3 lapis dan sangat lebar. Mereka bertiga siap menghadapi tantangan tidur di atas duri selama satu hari satu malam. Akhirnya mereka memulai tantangan itu. Tetapi pada 8 jam setelah dimulai ternyata Dirjo sudah merasa kesakitan,setelah itu 8 jam kemudian Tarno orang gagah itu juga tidak kuat untuk tertusuk duri di seluruh tubuhnya.
                Setelah satu hari ternyata yang berhasil menyelesaikan tantangan itu adalah Tirto, sehingga yang akan menikahi Ningsih adalah Tirto. Melihat itu ayahnya Ningsih mempercayai bahwa Tirto memang benar-benar mencintai Ningsih dengan membuktikan perjuangan itu.
“Saya menyatakan bahwa yang akan menikahi Ningsih yaitu Tirto” pernyataan ayah Ningsih
                Setelah pengumuman itu akhirnya Tirto dan Ningsih  menikah. Karena desa itu belum memiliki nama maka kepala desa disitu menamai desa tersebut dengan nama TURI dari kata      TUru ning dhuwur eRI” yang artinya tidur diatas duri.


                       Perkenalkan saya FX yoga saputra saya biasa dipanggil yoga ,saya tinggal di nglempong girikerto ,turi. Hobi saya membaca buku novel,memancing ,main game.Saya suka membaca novel bergenre fantasy. Saya siswa kelas X MIPA 3 di SMA N 1 PAKEM . Saya bercita-cita menjadi seorang akutan.



“ASAL MULA NAMA DUSUN MUDAL”

Alkisah pada zaman dahulu ada suatu wilayah yang dinamakan Tegalgundul, alasannya karena wilayahnya yang gundul dan gersang. Selain gundul karena kurangnya tanaman di wilayah tersebut, ditambah lagi dengan wilayah tersebut yang sangat gersang.
Wilayah tersebut dipimpin oleh seorang lelaki yang bernama Joko Susilo. Joko Susilo sendiri adalah seorang anak tunggal dari keluarga petani miskin yang hidup sebatang kara. Namun, sudah lama orang tua Joko Susilo meninggal karena sakit keras. Joko Susilo bisa dipilih menjadi seorang pemimpin wilayah tersebut karena dia paling bijaksana diantara warga di wilayah tersebut.
Karena wilayah tersebut yang gersang, warga tidak bisa mengambil hasil dari pertanian maupun perkebunan. Oleh karena itu, warga di wilayah tersebut mengandalkan hasil peternakan atau perdagangan untuk bertahan hidup. Karena sudah lama wilayah tersebut tidak diguyur hujan, wilayah tersebut menjadi semakin gersang. Tidak hanya itu, wilayah tersebut juga sudah lama tidak diguyur hujan.
Salah satu warga yang bernama Mardi, merasa sangat sulit untuk minum karena dirinya yang sangat kekurangan air. Akhirnya Mardi mengajak para warga lain untuk melakukan protes kepada Joko Susilo.
Pada suatu hari, warga memutuskan untuk melakukan protes. Setelah sampai di rumah Joko Susilo, mereka kemudian memanggil-manggil meneriakkan nama Joko Susilo. Karena merasa ada yang berisik di luar rumahnya, Joko Susilo bergegas untuk keluar. Dia merasa terkejut karena ada banyak warga di sekitar rumahnya.
“Hei Joko, kedatangan kita kemari untuk meminta pertanggungjawabanmu atas masalah kekuarangan air yang terjadi di wilayah ini karena kau pemimpinnya.” Kata Mardi pemimpin protes tersebut. “Sudah sudah tenang. Mardi! Kau tak bisa langsung menghakimiku tentang masalah ini, karena ini bukan sepenuhnya salahku. Ini sudah kehendak dari Yang Maha Kuasa.” Jawab Joko Susilo dengan tenang.
Para warga lainnya mulai berbisik-bisik dengan jawaban Joko Susilo. Salah satu warga kemudian menyahut, “Memang benar kata Joko Mar, ini semua jelas bukan salah dia. Dia tidak bisa kan membuat air. Semua itu benar atas kehendak Tuhan. Kita hanya bisa berdoa agar Dia menurunkan hujan untuk kita.” Warga tersebut menjawab dengan tatapan mengintimidasinya yang ditujukan untuk Mardi.
Namun Mardi tidak mau kalah, dia tetap berdebat mempertahankan pendapatnya. Akhirnya Joko Susilo membuat sebuah keputusan yang sangat menggembirakan untuk para warganya. “Kita semua tidak bisa menyalahkan siapapun atas masalah ini. Aku memutuskan agar kita semua menggali di tempat yang sudah diprediksi sebelumnya akan adanya sumber air untuk menyelesaikan masalah ini. Hanya ini satu-satunya cara yang bisa aku usahakan untuk saat ini dan semoga saja berhasil.”
Para warga bersorak ria mendengar jawaban itu. Kemudian, mereka membagi tugas. Keesokan harinya, mereka berpencar dan menggali di tempat yang sudah ditentukan sebelumnya. Joko Susilo pun turut membantu dalam penggalian tersebut. Dia terlihat senang karena warganya yang mau bekerjasama untuk menyelesaikan suatu masalah. Tetapi, setelah memakan waktu yang cukup lama, sumber air belum juga ditemukan. Joko Susilo pun memerintahkan warga untuk istirahat terlebih dahulu.
“Bagaimana ini, sudah cukup lama kita menggali tapi belum ada juga sumber air. Bagaimana kita akan hidup jika tidak air?!” Mardi berbicara dengan nada keputusasaan. “Tenanglah Mar, kita ini baru beberapa jam menggali kau sudah menyerah. Bagaimana kau mau maju jika hidupmu mudah putus asa!” Warga lain membalas ucapan Mardi dengan nada yang keras. “Sudah-sudah, betul kata dia Mar, kita ini baru beberapa jam menggali. Tidak mungkinkan langsung menemukan sumber air. Aneh-aneh saja kau ini.” Kata Joko Susilo melerai keduanya. Setelah cukup beristirahat, mereka akhirnya melanjutkan menggali untuk mencari sumber air.
Tepat di bagian selatan, beberapa warga kaget sekaligus terharu karena berhasil menemukan sumber air. Walaupun sumber itu tidak terlalu bersar, tetapi mereka sudah kelihatan sangat senang. Kemudian mereka memanggil warga lainnya untuk mendekat dan juga Joko Susilo. Melihat hal itu para warga merasa sangat senang. Mereka ramai-ramai memperbesar lubang itu agar air yang keluar semakin banyak.
Di bagian selatan agak ke barat dan bagian barat, para warga juga berhasil menemukan sumber air. Tetapi sumber yang menghasilkan air paling besar adalah sumber yang berada di sebelah selatan-barat. Jadi, mereka berhasil menemukan 3 sumber air di wilayah tersebut.
Semua warga menyambut gembira akan adanya 3 sumber air tersebut. Mereka semua bersyukur kepada Tuhan atas berkat yang diberikan kepada mereka lewat sumber air ini. Joko Susilo yang pada kala itu sebagai pemimpin wilayah Tegalgundul tersebut mengadakan kendhuri untuk memperingati adanya sumber air ini.
“Sebagai ungkapan rasa syukur kita terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa atas adanya sumber air ini, kita disini mengadakan kendhuri. Semoga saja sumber air itu bisa bermanfaat banyak bagi kita. Karena sumber air membuat kebahagian terpancar dari wajah kita semua, maka aku sepakat memberi nama terhadap ketiga sumber air tersebut. Sumber air yang pertama dekat dengan tanaman awar-awar yang besar, maka aku namai sumber ini menjadi Kali Awar-Awar. Sumber air yang kedua aku namai Kali Sendang. Dan sumber ketiga dekat dengan pohon beringin yang besar, maka aku namai sumber ini menjadi Kali Ringin. Dan untuk wilayah ini yang semula Tegalgundul, karena sekarang sudah tidak gundul atau gersang lagi, maka aku ganti namanya menjadi Desa Medal.”
-TAMAT-

Begitulah sejarah penamaan Dusun Medal. Karena sulitnya menyebut kata medal, maka kemudian secara tidak sengaja nama dusun ini menjadi Dusun Mudal. Ketiga sumber air tadi juga masih ada di Dusun Mudal, tetapi untuk tanaman awar-awar dan pohon beringin nya sudah tidak ada lagi. Saat ini juga, kali atau sungai tersebut sudah diperbaiki atau direka ulang dengan dibangun tembok-tembok beton. Untuk kali Ringin, masyarakat sekarang menyebutnya dengan sebutan Kali Mbah Sarwo karena letak kali tersebut berada dekat di rumah Mbah Sarwo. Dan untuk kali Sendang, sumber airnya atau umbul sudah tidak sebesar dulu karena para warga sekarang percaya, umbul tersebut sudah diperkecil oleh orang pintar karena jika terlalu besar bisa membahayakan warga disekitarnya. Ketiga sungai tersebut juga masih digunakan untuk mandi dan mencuci baju.


Namaku Gaulistani Nurafitri, biasa dipanggil gaul atau lista. Lahir di Sleman, 6 September 2003. Tinggal di salah satu dusun paling timur di Kecamatan Cangkringan yaitu Dusun Mudal. Saat ini aku sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Pakem, tepatnya kelas X MIPA 3. Asal kalian tahu, aku adalah seorang kpopers atau penyuka music genre korea selatan beserta boygrup dan budaya- budayanya. Jika kalian ingin tahu lebih banyak tentang aku, bisa follow akun instragam @gaulistanf__ dan akun twitter @gaulistanf. Terimakasih:v


                             “ASAL-USUL NAMA KALIURANG”
                            
               Pada zaman dahulu di Daerah Istimewa Yogyakarta hiduplah seorang  Putra Raja dari Keraton Mataram yang bernama Raden Mas Aryoseno. Beliau adalah sosok yang sangat religius. Sejak kecil, Beliau sudah bisa membaca kitab suci dengan fasih. Dari waktu ke waktu, ia semakin bertumbuh menjadi remaja idaman para wanita kala itu. Menginjak usia remaja sifat religiusnya tidak hilang, justru semakin bertambah. Ia selalu sholat malam, sholat duha, ibadah 5 waktu tidak lupa, bersedekah, dan tak lupa berbakti kepada kedua orangtunnya. Kedua orangtuanya pun sangat kagum melihat sifat Raden Mas Aryoseno yang sangat baik, mereka bersyukur mempunyai anak yang sangat soleh dan taat seperti Raden Mas Aryoseno.
           Suatu ketika Raden Mas Aryoseno [hh1] bertanya keapda ayahnya  “Wahai Ayahku, bagaimana caranya ayah bia memiliki banyak senjata untuk melindungi rumah dan warga-warga disini.” Ayah Raden Mas Aryoseno menjawab “Wahai putraku, jika kau ingin mendapat senjata-sejata seperti ayah kau harus melakukan perjalanan panjang dan diselingi dengan bertapa.” Raden Mas Aryoseno pun berpikir bahwa ia harus bisa seperti ayahnya. “Ayah, aku ingin seperti ayah.” Kata Raden Mas Aryoseno kepada ayahnya. “Raden Mas Aryoseno, tapi kamu kan belum cukup umur ,Nak, untuk melakukan hal seperti yang Ayah lakukan”Jawab ayah dengan sabar. “Ayah, aku pasti bisa percaya Ayah, percayaa!” seru Raden Mas Aryoseno meyakinkan ayahnya. Ayah sejenak terdiam, ia berpikir sejenak. Setelah berpikir lama, akhirnya ayah mengijinkan Raden Mas Aryoseno untuk pergi bertapa mencari senjata. Ayah memberi saran kepada Raden Mas Aryoseno agar berangkat pada hari kamis atau malam jumat karena saat malam jumat diyakini bahwa senjata akan bisa didapat dengan mudah.  Raden Mas Aryoseno pun bersiap-siap dengan membawa peralatan lengkap, sedangkan ibunya menyapkan bekal untuk makanya,ayah Raden Mas Aryoseno menyiapkan senjata-senjata yang harus dibawa Raden Mas Aryoseno dan mana yang harus dipakai saat  terancam bahaya tertentu.  Sebenarnya ibu Raden Mas Aryoseno masih khawatir karena usia Raden Mas Aryoseno yang masih belia. Namun ayah Raden Mas Aryoseno meyakinkan ibu Raden Mas Aryoseno, bahwa anak semata wayagnya pasti bisa melakukan hal itu. Malam hari pun tiba ayah Raden Mas Aryoseno mulai menceritakan tentang pengalamannya bertapa menjelajah kesan kemari    bertapa mencari senjata. Raden Mas Aryoseno pun semangat menyimaknya, agar dia tak keliru saat ia melakukan perjalanannya nanti. Lalu Ayah Raden Mas Aryoseno memberi wasiat kepada Raden Mas Aryoseno agar dia berjalan menyisir wilayah utara Kota Yogyakarta. Lalu Raden Mas Aryoseno bertanya, “Ada apa ayah di sisi utara kota yogyakarta?” Tanya Raden Mas Aryoseno dengan polos. “Disana terdapat sungai-sungai nak dan banyak senjata disana kamu harus mendapatkan salah satunya.” Jawab ayah Raden Mas Aryoseno.
                Suara ayam berkokok terdengar, menandakan hari sudah berganti.  Raden Mas Aryoseno bergegas melaksanakan ibadah, lalu ia bersiap siap untuk melakukan perjalanan panjangnya. Matahari sudah mulai tampak dan menunjukkan sinarnya secara perlahan. Raden Mas Aryoseno mulai pamit kepada ayah dan ibunya, “Ayah, Ibu, Raden bernagkat dulu, doakan yang terbaik untuk Raden ,ya” Ucap Raden Mas Aryoseno sambil mencium tangan kedua orangtuannya. Ayahnya berkata, “hati-hati dijalan nak, selalu ingat pesan ayah dan jangan mudah panik jika ada sesuatu” pesan ayah kepada Raden Mas Aryoseno. “Jaga kondisi ya le.” Tambah ibu Raden Mas Aryoseno. Setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya Raden Mas Aryoseno pun beranjak meninggalkan rumah, untuk mencari senjata seperti yang ayah Raden Mas Aryoseno lakukan.
             Ia berjalan menuju ke utara, mengikuti alat yang diberikan oleh ayahnya semalam. Ia terus berjalan, sesekali ia berhenti untuk beristirahat sejenak. Setelah dirasa cukup Raden Mas Aryoseno melanjutkan perjalananya menuju ke arah utara, menuju ke kaki Gunung Merapi. Matahari sudah di atas kepala Raden Mas Aryoseno, ia berusaha mencari sumber sungai untuk diminumnnya karena cuaca saat itu sangatlah panas sehingga membuat Raden Mas Aryoseno harus sering berhenti untuk beristirahat.  Ia tak kenal menyerah seperti yang ayah katakan kepada Raden Mas Aryoseno. Jika kita ingin berhasil, maka kita tidak boleh menyerah dan putus asa dengan mudah. Berkat kata-kata ayah itu Raden Mas Aryosenopn terus bersemangat untuk bertapa didaerah utara Kota Yogyakarta. Ia terus berjalan ke arah utara sambil berdoa ditengah perjalanannya, tak henti hetinya ia berdoa agar diberi keselamatan.
              Lama Raden Mas Aryoseno berjalan, akhirnya sampai juga didaerah utara yang diceritakan oleh ayahnya semalam. Daerah di Lereng Gunung Merapi yang terdapat banyak sungai. Ia menaruh semua barang bawaannya di tepian sungai, ia membuat api dengan menggesekan dua batu untuk menghangatkan tubuhnya. Malam Jumat,  adalah malam yang diyakini sangat tepat untuk bertapa dan mendapat senjata. Raden Mas Aryosenopun mulai bertapa di pinggir sungai. Di sebuah batu yang besar dan tampak berpenghuni. Ia melantukan ayat ayat yang diyakini akan membuat senjata itu keluar dari alamnnya. Lama ia bertapa, namun senjata belum juga didapatkannya. Ia tetap sabar menunggu sampai dia dapat.
              Pagi hari menjelang fajar muncul suatu senjatapun keluar dari batu itu. Hati Raden Mas Aryosenopun sangat senang dan dia sangat bersyukur karena ayahnya pasti akan bangga dengan dirinya. Ia mengambil senjata itu, lalu ia simpan di tas yang sengaja dibawakan ayahnya untuk menaruh senjata yang ia dapat. Ia berniat untuk rehat sejenak di pagi hari, untuk mengembalikan energinya agar siap untuk berjalan kembali.
               Saat Raden Mas Aryoseno hampir tertidur, tiba tiba ia mendengar suara tangisan. Tangisan itu seperti sura tangisan wanita. Raden Mas Aryosenopun terbangun. Ia bergegas menyusuri sungai untuk mencari sumber dari suara tangisan itu. Tak disangka, teryata disana ada seorang putri yang sedang mencuci selendangnya, namun tak sengaja ia tergigit oleh udang disungai itu. Ia bertaya kepada putri yang sednag mencuci itu. “Ada apa wahai putri?” tanya Raden Mas Aryoseno sambil menundukkan badannya.”Tolong akuuuu naak, aku tergigit udanggg” jawab putri itu sambil merengek kesakitan. Raden Mas Aryoseno lalu berusaha menolong putri itu dengan sekuat tenagannya untuk melepaskan seekor udang yang mengigit kaki sang Putri. Ia tidak tahu apa yang bisa membuat udang bisa melepaskan gigitannya karena tidak mungkin jika ia langsung menarik udang itu, pasti putri akan keasakitan. Cara demi cara ia lakukan, ternyata yang membuat udang melepaskan gigitannya adalah air dari sungai itu sendri dengan tidak segaja ia mencipratkan air ke kaki putri dan secara tiba tiba udang itu melepaskan gigitannya dair kaki putri itu. Raden Mas Aryosenopun bersumpah di sungai itu juga, “Aku bersumpah menjadikan daerah ini bernama Kaliurang” Raden Mas Aryoseno menamakan daerah tersebut karena sejak semalam ia bertapa ia melihat banyak udang udang yag berkeliaran di sungai sungai sekitar ia bertapa dan paginya ada putri yang menjadim korban gigitan banyaknya udang disungai tersebut. Jadi ia bersumpah bahwa daerah itu menjadi bernama “KALIURANG”.




 






Assalamualaikum

Hai, nama saya Hafizh Salma Ramadhan. Saya lahir pada tanggal 3 Desember tahun 2002. Saya sekrang duduk dibangku kelas XMIPA 3, tepatnya dabsen 16, di SMA NEGERI 1 PAKEM. Hobi saya sebenernya bukan menulis, cuman saya sedikit suka membaca-baca dan suka bahasa-bahasa yang indah. Jadi saya belajar untuk menulis dikit-dikit. Agar bisa menulis yang keren- keren. Saya berasal dari Kaliurang, jadi saya ingin mengangkat daerah saya sendiri karena saya bangga terhadap daerah saya yaitu Kaliurang yang sealu sejukk dan dingin. Sekian dari saya terimakasih.
HIKAYAT DESA GARONGAN
Dahulu kala di suatu desa hiduplah seorang laki-laki yang gagah perkasa bernama Jaka. Dia tinggal di situ bersama keluarganya, bapak dan ibunya termasuk keluarga yang miskin, Dia memiliki dua orang kakak perempuan yang bernama Siti dan Juminten. Kedua kakaknya sangat sayang pada Jaka, mereka sangat lemah lembut tidak hanya dengan Jaka saja tetapi juga dengan warga di sekitar mereka. Bapak  mereka adalah seorang yang memiliki kesaktian dan tidak memiliki agama sedangkan Ibu mereka adalah seorang dukun beranak yang membantu warga sekitar yang akan melahirkan, bayarnya pun tidak seberapa, tetapi Ibu Jaka orangnya sangat baik yang menurunkan sifat baiknya itu kepada kedua gadisnya. Dibalik sifat kedua kakak Jaka yang terkenal sangat baik sangatlah berbeda dengan sifat yang dimiliki oleh Jaka, dia orangnya sama seperti bapaknya yang sangat keras dan ingin semaunya sendiri.
Sampai di suatu hari ia melihat seekor ayam yang berlarian di depan rumah Jaka, ia terus memperhatikan ayam itu, ia berpikir untuk mengambilnya, menyembelihnya, dan memakannya karena ia tahu keluarganya pas-pasan dan jarang untuk makan secuil ayam. Akhirnya ia melakukan hal itu, ia dengan lahap memakan ayam itu tanpa memikirkan akibatnya jika yang punya ayam yang ia makan itu tau kalau ayamnya sudah mati di makan oleh Jaka. Orang tua dan kakak Jaka tidak tahu jika jaka telah mencuri ayam itu, karena Jaka mengaku kepada keluaganya bahwa ayam itu diberi oleh tetangga.
Di lain hari ia melihat lagi seekor anjing di jalan, Ia ingin melakukannya sama seperti yang dilakukan pada ayam  kemarin, akhirnya ia melakukannya lagi karena tidak ada yang mengetahuinya.
Setelah makan bersama di malam hari, Bapak Jaka ingin bicara padanya, takut pembicaraannya di dengar oleh yang lain Bapak Jaka langsung menarik tangan Jaka untuk masuk ke kamar Jaka. Dikamar Bapak Jaka yang memulai pembicaraan, ternyata Bapak Jaka tahu perbuatan Jaka selama ini karena Bapak Jaka memiliki kesaktian yang sangat luar bisa, Jaka hanya bisa terdiam saat mendengar bahwa bapaknya tahu soal tindakan pencuriannya. Jaka bertanya kepada bapaknya bagaimana bisa bapaknya bisa tahu apa yang Jaka lakukan dan bapaknya bahwa karena kesaktiannyalah bapaknya dapat mengetahui apa yang Jaka lakukan, bapaknya dapat kesaktiannya itu dari kakek Jaka yang sekarang sudah meninggal dan hanya kakek Jakalah yang dapat memberikan kesaktian itu, tetapi Jaka juga ingin memiliki kesaktian tersebut. Bapak Jaka belum tahu caranya bagaimana agar Jaka anak lelaki satu-satunya itu dapat memiliki kesaktian sama seperti yang dimiliki oleh dirinya.
Akhirnya Bapak Jaka tahu setelah berapa lama caranya agar Jaka bisa memiliki kesaktian seperti dirinya, yaitu dengan cara Ia harus membunuh orang sebayak-banyaknya agar dapat memiliki kesaktian dan dapat terus bertambah kesaktian itu. Akhirnya demi memiliki kesaktian itu Jaka bersedia melakukan hal itu.
Suatu pagi Jaka melihat anak kecil yang sedang berjalan sendiri, Jaka menculik anak itu dan langsung membunuhnya tanpa berpikir panjang lagi, ia membuang mayat itu di sebuah sungai(di bawah jembatan Pules) yang agak jauh dari tempat tinggal Jaka. Sesampainya di desa semua orang sudah meributkan tentang hilangnya anak itu, Jaka pura-pura tidak tahu orang-orang pun tidak curiga pada Jaka.
Karena semua perbuatan yang dilakukan Jaka tidak pernah mendatangkan kecurigaan kepadanya, maka Jaka semakin berani melakukan kejahatan lain. Dia kerap mengganggu panen tetangga –tetangganya, diantaranya memanen padi di sawah tetangga, memetik jagung, memetik sayuran, dan lain sebagainya. Semakin hari Jaka semakin berani melakukan kejahatan.
Sampai pada suatu hari Jaka berpikir untuk mendapatkan hasil yang lebih banyak, karena ia tidak mau hanya mendapatkan hasil yang tidak bisa untuk bersenang-senang bersama dengan teman-temannya.Timbul alam pikirannya untuk merampok yang pada saat itu dikenal dengan garong.
Pada waktu itu seseorang yang berani menjadi garong adalah orang yang terkenal sakti dan tidak kenal takut dengan apa pun, maka sejak saat itu Jaka berguru pada seorang guru yang mempunyai ilmu kesaktian yang sangat tinggi. Jaka menginginkan dirinya tidak terkalahkan oleh apa pun dan oleh siapa pun. Dia tekun berguru dengan gurunya, apa pun yang diperintahkan gurunya selalu dilaksanakannya. Sampai akhirnya gurunya mengatakan bahwa dia suah cukup banyak menapatkan ilmu dari Sang Guru.
Karena hati Jaka yang sudah dipenuhi keinginan jahat, maka setelah Jaka merasa dirinya menjadi orang yang sakti, dia semakin berani melakukan kejahatan. Dia masuk ke rumah orang lain, dan berusaha mengambil barang-barang milik tetangganya. Perbuatan ini tidak pernah diketahui oleh tentangganya, sehingga para tetangga tidak pernah mencurigai bahwa Jaka adalah pelakunya. Semakin sombonglah Jaka, maka ia menginginkan hasil yang lebih banyak. Maka dia merencanakan sesuatu, dia akhirnya berencana merampas harta orang yang melintas di jalan.
Dia selalu bersembunyi di pinggir jalan, tempat yang gelap yang selalu dia pilih sebelum dia melakukan aksinya. Semakin lama semakin terkenal keganasan Jaka, dia menjadi semakin sombong karena merasa tidak ada yang berani dengannya. Hasil yang dia dapatkan selama ini dia gunakan untuk bersenang-senang bersama dengan teman-teman dan perempuan.
Sampailah hari yang naas bagi Jaka, dia kembali beraksi di jalan, dia tidak pernah berpikir bahwa ada orang lain yang lebih sakti dari dirinya. Dia berusaha merampas seseorang yang melintas di jalan, tapi naas bagi Jaka, ternyata orang itu adalah kakak seperguruan Jaka. Ilmu dan kemampuan orang tersebut ternyata lebih tinggi dari Jaka, sehingga Jaka sangat kewalahan, karena korban memberikan perlawanan yang sangat hebat, Semakin lama Jaka menjadi semakin terdesak, sampai akhirnya dia tidak bisa melakukan perlawanan lagi. Saat itu dia baru menyadari bahwa yang dia lawan adalah kakak seperguruannya yang menjadi seorang pedagang yang cukup berhasil, sehingga menjadi seorang kaya raya.
Sampai akhirnya banyak orang berkumpul dan menyaksikan peristiwa itu, mereka ikut meringkus Jaka. Masyarakat sangat geram mengetahui bahwa orang yang membuat keonaran selama ini ternyata adalah Jaka karena setiap kali mereka mencurigai Jaka,mereka tidak bisa membuktikan kecurigaan mereka. Sampai akhirnya Jaka diarak menuju lapangan sebagai pesakitan.Para warga bersepakat untuk menghukum gantung Jaka.
Maka sejak saat itu desa itu disebut Garongan karena Jaka Garong berasal dari desa tersebut dan setelah itu mayatnya dia dikubur di desa itu juga.
        Nama narasumber : Elisabeth Rina U, S.farm,Apt.
Alamat narasumber : Daren Lor, Donokerto, Turi, Sleman



Haaiiiiii, namaku Imelda Maharani Eka Timur, sering dipanggil imel tapi temen-temenku sering melesetkan namaku menjadi Eka Barat. Aku lahir di Sleman, 11 Mei 2003, aku memiliki zodiak taurus. Alamatku di Daren Lor, Donokrto, Turi, Sleman rumahku paling utara dari desa itu. Aku sekarang bersekolah di SMA Negeri 1 Pakem kelas X MIPA 3 absen 17.




ASAL USUL DUSUN JETISBARAN
                Jetisbaran terletak di daerah Sleman yang tergolong wilayah Lereng Merapi. Tempat yang sejuk, hijau dengan tanaman berbagai pertanian seperti polowijo, padi, sayuran membuat tempat ini serasa subur dan sejuk dipandang mata. Jauh dari kebisingan kota, namun tidak terlalu sepi karena perkembangan wilayah kampung yang dihuni oleh pendatang-pendatang yang selalu menggairahkan suasana tempat ini. Jetisbaran tepatnya di Kelurahan Sardonoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, 10 KM dari arah Kota Yogyakarta ke utara. Kampung ini sedikit berbeda karena sejarah telah mencatat nama ini menjadi sedikit dikenal oleh beberapa kalangan karena menyimpan cerita yang sangat menarik dan menjadi kenangan yang tidak terlupakan.
                Cerita Jetisbaran berawal dari Perang Paragrek yang terjadi sekitar tahun 1401 sampai tahun 1406. Perang Paragrek yaitu perang saudara yang terjadi dalam lingkungan Keraton Majapahit. Perang saudara “tunggal sedulur” yang memperebutkan kekuasaan untuk menduduki kekuasaan tertinggi di Keraton Majapahit. Sebelum perang itu terjadi, Kerajaan Majapahit masih dalam pimpinan Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajahmada. Namun tiba-tiba Raja Hayam Wuruk terkena penyakit yang sangat parah, yang membuat dirinya tidak bisa memimpin Kerajaan Majapahit dengan baik. Walaupun demikian, Raja Hayam Wuruk menyatakan masih sanggup memimpin kerajaannya. Tak lama kemudian, penyakit yang menjangkit tubuh Raja Hayam Wuruk semakin menjadi-jadi. Raja Hayam Wuruk pun menghembuskan nafas terakhirnya. Sebelum wafat beliau berpesan agar Patih Gajahmada menggantikan posisinya sebagai pemimpin Kerajaan Majapahit.
                Kerajaan Majapahit berkembang cukup pesat berada dibawah pimpinan Patih Gajahmada. Wilayah kekuasaannya semakin meluas setiap harinya. Dan pada suatu hari Patih Gajahmada bertemu dengan seorang putri yang sangat ayu. Dia bernama Putri Sekar Ayu. Lama-kelamaan Patih Gajahmada jatuh cinta kepada Putri Sekar Ayu. Mereka pun memutuskan untuk segera menikah. Beberapa bulan setelah menikah, Putri Sekar Ayu merasa sangat mual, tetapi dia merasa sedang tidak sakit. Rupanya Putri Sekar Ayu sedang mengandung. Patih Gajahmada dan Putri Sekar Ayu merasa sangat senang karena akhirnya mereka diberi momongan juga. Setelah menunggu beberapa bulan, hari persalinan pun tiba. Ternyata selama ini Putri mengandung anak kembar yang samasama gagah dan tampan. Kedua putra mereka diberi nama Wirabumi dan Wikramawardhana. Namun tidak lama setelah kelahiran kedua putranya, Patih Gajahmada terserang penyakit yang sama dengan penyakit yang menyerang Alm. Raja Hayam Wuruk. Patih Gajahmada pun wafat meninggalkan seorang istri dan dua orang anak laki-lakinya yang saat itu masih menginjak usia 6 bulan.
                Hari demi hari berlalu. Bulan demi bulan terlewati. Dan tahun demi tahun sudah ditempuh oleh Pangeran Wirabumi dan Pangeran Wikramawardhana. Beberapa tahun ini Kerajaan Majapahit tidak memiliki seorang raja, sehingga kerajaan kondisinya sangat parah. Mereka berdua sama-sama ingin memimpin kerajaan itu. Namun mereka berdua sama-sama tidak ingin mengalah. Sampai pada suatu hari Pangeran Wirabumi sedang duduk di pinggir sungai, tiba-tiba terbesit sebuah rencana jahat pada pikiran Pangeran Wirabumi. Dia berencana untuk membunuh saudara kembarnya sendiri, agar dia bisa diangkat menjadi pemimpin Kerajaan Majapahit. Namun ternyata Pangeran Wikramawardhana mengetahui niat buruk saudara kembarnya. Dia pun marah kepada Pangeran Wirabumi. Berhari-hari mereka saling manjauh dan saling membenci. Setelah sekian lama, kebencian di hati mereka tak kunjung padam. Bahkan mereka malah semakin membenci, seakan tak ingat bahwa mereka adalah saudara kembar. Mereka berdua akhirnya terbawa oleh emosi dan memutuskan untuk berperang. Barang siapa berhasil saling membunuh satu sama lain, maka dialah yang berhak menjadi pemimpin Kerajaan Majapahit menggantikan posisi almarhum ayahnya yang sudah lama mengalami kekosongan.
                Pada suatu malam, Pangeran Wikramawardhana sedang sibuk mondar-mandir di dekat jendela kamarnya. Dia terlihat sedang berpikir keras untuk membuat strategi perang melawan saudaranya sendiri. Dia bingung harus menggunakan strategi yang seperti apa. Dengan pikiran yang kacau, akhirnya dia berhasil merencanakan sebuah strategi yang entah sudah terstruktur atau belum.
                Di tempat lain, Pangeran Wirabumi juga tengah merencanakan sebuah rencana yang rupanya sudah dipikirkannya sejak beberapa hari yang lalu. Rencana yang dibuat oleh Pangeran Wirabumi kelihatannya sudah sangat matang. Dia juga sudah menyiapkan pasukan untuk melawan pasukan milik suadara kembarnya. Padahal saudara kembarnya malah belum menyiapkan pasukan sama sekali.
                Keesokan harinya Pangeran Wirabumi bangun lebih cepat dari biasanya. Dia berniat untuk melatih pasukan perangnya. Pukul 6 pagi pasukan sudah berbaris dengan rapi di lapangan sebelah barat Keraton Majapahit. Diam-diam Pangeran Wikramawardhana mengintip latihan perang tersebut. Saat itu juga Pangeran Wikramawardhana mengumpulkan semua pasukannya. Mereka dipaksa untuk segera berlatih mempersiapkan perang esok hari. Mereka merasa tersiksa dengan cara Pangeran Wikramawardhana dalam melatih mereka. Mereka pun kelelahan dan banyak diantara mereka yang sakit. Sedangkan perang tidak bisa diundur lagi.
                Hari yang dinanti pun tiba. Setelah adzan subuh, kedua pasukan telah bersiap untuk berperang. Mereka sudah berbaris menyiapkan senjata dan mental untukberperang. Walaupun mereka kelelahan, mereka tetap semangat untuk berperang. Perang dimulai pukul 6 pagi pada hari pertama tahun 1401. Ribuan pasukan saling menyerang dan saling membunuh satu sama lain. Ratusan korban berjatuhan. Namun perang tetap berlanjut sangat lama, karena kedua pasukan samasama kuat. Warga yang tinggal di dekat Keraton Majapahit banyak yang menjadi korban. Padahal mereka sama sekali tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Mereka sangat bingung dengan keadaan yang sangat kacau. Banyak diantara mereka yang kehilangan anggota keluarganya. Banyak pula anak-anak yang kehilangan orang tuanya, dan akhirnya terlantar begitu saja. Perang tersebut membawa kehancuran dimana-mana. Warga di daerah tersebut banyak yang meninggalkan tempat tinggal mereka untuk mencari tempat yang lebih aman. Ada yang berlari ke arah timur hingga ke Madura, pantai utara sampai Demak, Kudus. Ada juga yang menentukan nasib untuk ke arah barat lereng Merapi dan sekitarnya. Mencari tempat yang lebih tentram dan damai untuk melanjutkan hidup mereka.
                Salah satu sentana yang masih bagian dari trah darah biru, yaitu putra sentana yang bernama Gusti Kanjeng Pangeran Arya (KGPA) Tjempo dengan seorang abdi yang selalu setia yang bernama Ki Joko Umbaran, salah satu abdi yang pandai dalam ulah kanuragan juga terkenal dalam peperangan selalu mengikuti kemana Tjempo pergi. Dengan menaiki kuda kesayangan yaitu Ki Cindheamoh, mereka pergi dari Keraton Majapahit untuk mencari ketenangan hati, lepas dari kebisingan dan keonaran lingkungan keraton, serta melepaskan diri dari perang saudara yang susah untuk dikendalikan.
                Tjempo berusaha mencari ketentraman hati, perasaan, dan memilih jalan hidup sebagai seorang rakyat jelata, menyatu dalam masyarakat, menyamar menjadi juru dakwah dari desa ke desa, kampung ke kampung melalui jalan setapak, hutan belantara hingga persawahan. Kemana pun Tjempo pergi, ia selalu diikuti oleh abdi yang betul-betul tulus serta penuh dengan keluhuran budinya. Selain ingin mencari ketentraman hidup, mereka berdua ingin lebih mendekatkan diri kepada Zat yang paling perkasa di muka bumi ini untuk mencari kedamaian hati dan perasaan untuk selalu bersujud kepada-Nya.
                KGPA Tjempo sudah terkenal dan berdakwah ke berbagai tempat. Beliau memberikan pertolongan dan memberi banyak ilmu pada masyarakat bawah kapanpun dan dimanapun. Beliau masuk melalui persawahan, hutan, dan perkampungan dengan penuh senyuman dan keikhlasan. Tjempo terkenal sebagai orang yang sangat sederhana, baik hati, dan prasojo dengan penuh kewibawaan. Penampilan yang gagah dengan perawakan yang tinggi, serta dengan dibalut jubah berwarna putih membuat KGPA Tjempo sangat disegani banyak orang.
                KGPA Tjempo sangat bersemangat dalam berdakwah. Semua tempat di wilayah kekuasaan Majapahit dan sekitarnya sudah pernah beliau datangi untuk menyebarkan agama islam. Beliau berdakwah tanpa pernah mengatakan hal bohong sedikitpun. Perjalanan KGPA Tjempo ke arah barat sampai di lereng Merapi dan ke selatan melalui hutan dan kampung dan tidak akan berhenti sampai mendapat petunjuk dari Sang Maha Kuasa Allah SWT.
                Setelah sampai di suau tempat, KGPA Tjempo merasa kelelahan bahkan jatuh sakit sehingga tidak bisa meneruskan perjalanannya. Namun Joko Umbaran tetap setia menemani dan mendampingi KGPA Tjempo dalam suka maupun duka. Tempat yang teduh dan nyaman, penuh dengan pepohonan dekat dengan sungai kecil, Sungai Trasi, dan Sungai Gajah Wong. Kuda sembrani yang dinaiki dalam setiap perjalanan dan paling disayangi ternyata juga kelelahan dan akhirnya mati. Kuda itu dikubur di tempat tersebut. Hati KGPA Tjempo dan Joko Umbaran sangat gelisah dan kecewa. Tjempo semakin parah sakitnya. Akhirnya beliau wafat dan semua diurus oleh Joko Umbaran yang begitu setia padanya. Sebelum wafat beliau mewanti-wanti Joko Umbaran dalam bahasa jawa “sesuk yen ana rejaning jaman, papan iki jenengana Umbaran katitis ing wektu saiki.” Perintah itu sebagai pengingat rasa hormat  dan cintanya, serta dedikasi Joko Umbaran terhadap Gusti Kanjeng Pangeran Arya Tjempo. Joko Umbaran sangat sedih mengetahui apa yang dilihatnya, bahwa  KGPA Tjempo telah mendahuluinya mengahadap Allah SWT. Joko Umbaran dibantu warga setempat untuk memakamkan KGPA Tjempo. Tak begitu lama, Joko Umbaran juga menghembuskan nafas terakhirnya dan dimakamkan sangat dekat dengan makam Almarhum Tjempo, yaitu disisinya.
                Tempat ini kemudian dinamakan Dusun Jetisbaran. Hal ini seperti apa yang disampaikan oleh Pangeran Tjempo karena perjuangan, dedikasi, dan loyalitanya terhadap beliau yang saat itu Tjempo sampaikan kepadanya, “sesuk yen ana rejaning jaman, papan iki jenengana Umbaran katitis wektu iki.” Akhirnya menjadi nama Jetisbaran.
Sumber : Sigit Triana. 2017. Warta Sardonoharjo

                Haiiii, perkenalkan namaku Inas Salsabila, atau biasa dipanggil Inas. Aku lahir di Kota Fosil di Indonesia, 03 November 2002. SMA N 1 Pakem adalah tempatku menuntut ilmu saat ini. Hobiku sederhana dan pasti semua orang mampu melakukannya, yaitu menyanyi. Selain hobi menyanyi, aku juga memiliki hobi lain yang bisa dibilang bukan hobi yang cocok untuk seorang wanita. Dari kecil aku sering bermain sepak bola, sejak itu aku hobi melakukannya. Warna biru adalah warma kesukaanku, karena biru adalah warna utama dari tim sepak bola kebangganku.

Asal-Usul Upacara Adat Ngrowot
                Menurut cerita turun-temurun dari para leluhur, Ngrowot merupakan akronim dari sebuah kalimat berbahasa Jawa “Ngleluri (mempertahankan) Ombyaking Warga (kebiasaan atau kegiatan) Hametri (membuat situasi lebih baik) Koncara (hal – hal baik yang menonjol atau terkenal) Desa” yang bermakna “mempertahankan kebiasaan / kegiatan yang membuat situasi lebih baik dan hal – hal baik yang menonjol / terkenal”.
Ngrowot sebuah upacara adat turun-temurun sejak dahulu sebagai ungkapan rasa syukur warga masyarakat Desa Girikerto kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala anugerah yang telah diterima seperti hasil panen yang melimpah, terhindar dari segala musibah serta mara bahaya, dan sebagainya selama setahun, juga untuk melestarikan adat atau tradisi turun temurun dari para leluhur. Warga masyarakat setempat sering juga menyebutnya dengan Saparan karena upacara tersebut dilaksanakan di bulan Sapar(kalender Jawa) / bulan Shafar atau banyak warga yang menyebutnya dengan Merti Desa.
                Menurut cerita, Upacara adat Ngrowhod mengacu pada kebiasaan baik nenek moyang yang mengurangi kesenangan dan kenikmatan duniawi dengan cara berpuasa ngrowot. Puasa ngrowot merupakan cara berpuasa dengan hanya memakan jenis makanan yang disebut krowotan, di mana semua makanan tersebut berupa pala kependhem (umbi – umbian / buah) yang terpendam di dalam tanah.
                Jalannya Upacara Ngrowot tersebut, masing-masing padukuhan yang berjumlah 13 mengirimkan sepasang dimas dan diajeng atau pager ayu  sebagai simbol  masyarakat satu padukuhan. Sepasang muda-mudi berbusana tani dan alat pertanian sebagai aksesorisnya sebagai simbol mata pencaharian masyarakat Desa Girikerto yang sebagian besar penduduknya sebagai petani. Masing-masing dusun juga mengirimkan hasil bumi berupa buah-buahan, palawija, umbi-umbian, pala kependhem, pala kesimpar, dan padi yang dikemas dalam bentuk Gunungan Krowotan. Jika semua utusan dari tiap padukuhan telah siap, sesepuh adat yang diperankan oleh kepala desa memerintahkan pasangan dimas dan diajeng untuk berangkat ke Sendang panguripan menghadap Sang juru kunci dan memohon izin untuk mengambil air penghidupan di sendang sebanyak satu kendhi untuk dibawa ke masing-masing dusun sebagai simbol kemakmuran dan kesejahteraan, karena air sebagai simbol kehidupan seluruh makhluk hidup. Para dimas dan diajeng dalam perjalanannya mengambil air ke Sendang Panguripan dikawal oleh pasukan Bergodo, Perangkat Desa serta tokoh masyarakat yang dipimpin oleh cucuk lampah yang menunggangi kuda serta Arjuna (diperankan oleh warga sekitar).
Setelah dimas dan diajeng sampai kembali di Desa Girikerto air dari Sendang Panguripan dan Gunungan hasil bumi serta nasi tumpeng urap dibawa kirab mengelilingi wilayah Desa Girikerto menggunakan mobil pick-up yang diiringi kepala desa, perangkat desa dan lembaga Desa Girikerto serta bergada (pasukan) prajurit dan kelompok seni dari ke-13 padukuhan di Desa Girikerto. Di perjalanan sebagian isi dari Gunungan Krowotan diberikan kepada para penduduk yang melihat dari jalanan dengan cara dilemparkan, yaitu sebagai simbol bentuk rasa syukur dan kesukacitaan pada sesama.
                Setelah kirab usai, semua peserta kirab kembali dan berkumpul di aula Desa Girikerto untuk melaksanakan pesta rakyat atau makan nasi gudangan (urap) bersama, dan gunungan hasil bumi diperebutkan oleh seluruh orang yang hadir saat itu. Itu juga sebagai simbol bentuk syukur para penduduk kepada Tuhan.
                Tak hanya itu, cerita yang diangkat dalam upacara adat Ngrowhod adalah timbulnya sebuah Sendang Panguripan di Dusun Nangsri, Girikerto yang diejawantahkan dengan simbol-simbol dalam kehidupan sehari-hari.
                Dahulu kala menurut cerita para leluhur, Desa Girikerto dilanda kekeringan yang amat parah. Saat itu ada seorang Petapa yang oleh para penduduk dianggap bahkan diyakini bahwa petapa itu adalah Kyai Sapu Jagad.
Kyai Sapu Jagad tinggal di sebuah pendopo di dalam hutan bersama prajuritnya. Pada suatu hari, Kyai Sapu Jagad melakukan perjalanan.
“Wahai prajurit-prajuritku. Hari ini aku akan berkelana mencari tempat untuk bersemedi.” ucap Kyai Sapu Jagad.
“Baik Kyai, kami akan menjaga pendopo ini,” jawab Wonolelo salah satu prajuritnya. “Aku akan berkelana sendiri dan cukup lama, tolong jaga pendopo ini dengan baik wahai para prajuritku!” Kyai Sapu Jagad kembali berkata
“Baik Kyai,” jawab prajurit serentak
Kyai Sapu Jagad mulai berkelana membawa sebuah tongkat saktinya dan mencari tempat yang tepat untuk bersemedi hingga akhirnya sampai di sebuah dusun dibawah kaki Merapi. Saat itu sedang terjadi kemarau panjang, dusun itu sangat gersang. “Dusun ini sangat gersang, aku akan bersemedi di sini saja,” ucap Kyai Sapu Jagad. Kemudian Kyai Sapu Jagad melakukan persemedian di dusun tanpa nama tersebut selama beberapa hari. Di akhir persemediannya, Kyai Sapu Jagad menancapkan sebuah tongkat di tempat semedinya itu sambil mengucap “Bismillahirahmanirahim.”  Tak lama kemudian tongkat itu dicabut. “Tongkat ini akan ku cabut, semoga ada sumber air di bekas tancapan ini,” kata Kyai Sapu Jagad.  Dicabutlah tongkat sakti Kyai sapu Jagad dan timbullah sebuah mata air kecil di bekas tancapan tongkat tersebut. “Aku namai dusun ini Dusun Nangsri / Dusun Ngumbul. Saat itu juga, ada dua orang warga yang mengintipnya.
Yo, lihat itu ada mata air kecil,” ucap Parto
“Iya To. Eh lihat itu ada Kyai. Siapa ya itu?” tanya Karyo
“Nggak tahu aku Yo, mungkin Kyai Sapu Jagad, ayo Man kesana” jawab Parto
Karena sangat penasaran, Parto dan Karyo memberanikan diri menemui Kyai Sapu Jagad.
“Siapa kalian?” tanya Kyai
“Saya Parto dan ini Karyo, Kyai warga penduduk dusun ini” jawab Parto
“Sedang apa Kyai di sini?” tanya Karyo
“Saya habis bersemedi di tempat ini. Di sini ada mata air muncul di bekas tancapan tongkat ini, karena dusun ini belum bernama, saya beri nama Dusun Nangsri / Dusun Ngumbul” ucap Kyai
“Matur sembah nuwun Kyai, akan saya sampaikan ke penduduk di sini.” Ucap Parto
Setelah itu, Kyai Sapu Jagad pergi meninggalkan tempat persemediannya di Dusun Nangsri. “Aku harus segera pergi dari tempat ini, dan kembali ke pendopo,” ucap Kyai Sapu Jagad. Dan setelah Kyai pergi, Karyo dan Parto mengumumkan kepada penduduk dusun ini sekarang bernama Dusun Nangsri dan ada sebuah mata air kecil.
                Kian hari, mata air kecil tersebut semakin bertambah besar bahkan sampai muncul beberapa ekor ikan yang menyerupai ikan laut berjenis keper. Penduduk setempat merasa khawatir kalau tempat itu akan berubah menjadi laut.  
                Suatu hari, beberapa warga berkumpul di mata air itu berada.
“Bagaimana ini, mata air semakin besar Mbah?”  ucap Karto
“Bagaimana kalau dusun kita menjadi laut Mbah, ini banyak ikan bermunculan dan air semakin besar,” tambah Paimin
“Sudah-sudah tenang! Besok kita adakan selamatan saja” jawab Mbah Noto, sesepuh dusun itu
Maka keesokan harinya penduduk setempat yang diprakarsai oleh Sesepuh Dusun mengadakan selamatan dan menutup mata air yang bertambah besar tersebut dengan kepala kambing dan dandang  serta kenceng (alat masak yang terbuat dari tembaga).
“Cepat ambil dandang kenceng dan kepala kambingnya, kita tutup mata air ini agar tidak bertambah besar lagi!” ucap Mbah Noto
“Baik, Mbah.” Jawab Paimin
Sejak saat itu mata air tersebut tidak lagi bertambah besar, tetapi stabil dan tetap mengalir hingga saat ini meskipun kemarau panjang melanda.
“Syukurlah, sudah ada air. Kita bisa mengolah sawah kita Jo,” kata Barji
“Iya Jo, kita bisa panen banyak,” jawab Barji
“Kita juga bisa minum air bersih,” ucap Sri
“Iya budhe, kita juga bisa mandi air bersih berkat sendang ini,” tambah Yanti
Mata air tersebut oleh penduduk setempat juga disebut Sendang Panguripan, hingga saat ini dijaga oleh sesepuh dusun yang ditunjuk dan diangkat  sebagai juru kunci. Sendang Panguripan itu juga yang digunakan sebagai acuan dan prosesi awal jalannya Upacara Adat Ngrowot Desa Girikerto.
                Sendang Panguripan tersebut bagi para penduduk sangat penting, karena dapat menyediakan kebutuhan air untuk kehidupan sehari – hari serta untuk kebutuhan pengairan persawahan disekitarnya.
Sumber :
 Bapak Sudiharja  (47 tahun)
Pekerjaan : Perangkat desa
Alamat : Sorowangsan,Girikerto,Turi
Haii! Namaku Latifa Fahmi Anggraini, biasanya dipanggil Latifa / Fahmi. Aku lahir di Sleman, 25 September 2002. Zodiakku adalah Libra. Kelak nanti akuingin menjadi seorang Guru Matematika / Bahasa Indonesia/ Biologi. Hobiku adalah menulis. Aku mulai suka menulis sejak kelas VIII SMP dan saat itu aku pernah menjadi juara 2 dalam lomba karya tulis bentuk essay di sekolah, dan mulai saat itu aku mulai mengembangkan bakat menulisku.
Sekarang aku duduk di bangku SMA, yaitu di SMA N 1 PAKEM atau SMAPA kelas X MIPA 3.  Aku tinggal bersama kedua orang tuaku juga adik laki-lakiku di sebuah dusun dibawah kaki Merapi, yaitu di Dusun Sorowangsan, Girikerto, Turi, Sleman. Aku memiliki motto hidup yaitu “Terus Berlari Mengejar Mimpi, Yakin Aku Pasti Bisa Meraihnya dan SuksesJ



Sambirejo(Candibinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta)

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang pemuda rajin nan elok parasnya yang kerap disapa Bayan. Keluarga Bayan termasuk keluarga yang terpandang. Simbok dan bapaknya mempunyai banyak tanah yang luas. Bayan tinggal di sebuah desa kecil dan asri bernama Samberembe. Desa yang banyak ditumbuhi pepohonan ini menjadi tempat favoritnya karena di tempat inilah Bayan lahir. Setiap hari Bayan bercocok tanam di tanah milik orang tuanya bersama para buruh yang dipekerjakan oleh orang tua Bayan. Tanah tersebut letaknya lumayan jauh. Setiap hari Bayan harus menapakkan kakinya di jalan berbatu bersama dengan para buruh lainnya. Banyak dari buruh tani tersebut berasal dari daerah lain bernama Bulus.

Bayan pernah bertanya kepada salah satu buruh yang dekat dengannya tentang asal-usul desanya yang bernama Samberembe itu. Menurut buruh itu, dahulu kala sebelum Bayan lahir para buruh yang mengerjakan lahan orang tua Bayan selalu menyempatkan diri menancapkan tunas berbagai macam pohon di daerah yang sekarang dikenal dengan sebutan Samberembe itu. Maka dari cerita tersebut, dinamakanlah desa yang ditinggali Bayan tadi dengan sebutan Samberembe yang berasal dari kata sambe dan rembe. Sambe berasal dari kata sambi yang berarti melakukan pekerjaan lain di samping pekerjaan pokok yang dilakukan, sedangkan rembe berasal dari kata rembes yang berarti menancapkan. Hal itu membuat Bayan mengerti mengapa di wilayah tempat tinggalnya terdapat banyak sekali pohon.

Selepas matahari menyembunyikan sinarnya di ufuk barat, Bayan dan para buruh kembali ke rumah mereka masing-masing. Setiap pulang dari lahan bertani, Bayan langsun mandi dan pergi berangkat menuju surau. Sampai di surau, Bayan segera membuka buku mengajinya dan mulai mengaji bersama teman-temannya yang sebaya. Lepas mengaji, Bayan pulang ke rumah untuk beristirahat. Sebelum beristirahat, orang tua Bayan sering bertanya pada Bayan terkait dengan alasan Bayan membantu para buruh untuk bercocok tanam di lahan keluarganya. Orang tua Bayan kadang merasa kurang setuju melihat anaknya pergi bertani bersama para buruh.





Bayan merupakan pemuda yang disegani di wilayah Samberembe itu. Walaupun keluarga Bayan adalah keluarga yang terpandang, hal itu tidak menjadikan Bayan menjadi besar kepala. Justru sebaliknya, Bayan adalah pemuda yang sopan dan selalu menghormati orang yang lebih tua tanpa memandang jabatan yang dimiliki orang tersebut. Oleh karena sikapnya itu, maka tidak sedikit juga orang yang menghormati Bayan di desa itu. Bayan merasa nyaman dan senang di desa itu.

Hari ini Bayan melakukan rutinitasnya seperti biasa. Bayan pergi bercocok tanam dengan para buruh di pagi hari. Menapaki jalan setapak yang berbatu tanpa alas kaki juga merupakan kebiasaanya. Namun, hari ini tidak sama seperti hari lainnya. Hari ini adalah hari yang membahagiakan untuknya. Mengapa? Hal itu karena Bayan dapat bertemu dengan pujaan hatinya. Gadis tersebut bernama Binah. Bayan ingin sekali membantu Binah membawakan pakaian yang hendak dicucinya, tetapi apalah daya Bayan, ia hanya bisa melihat Binah dari kejauhan, menatap parasnya nan elok di pagi hari ini. Bayan telah lama mengagumi Binah dalam diam. Sebenarnya, Binah tak jauh berbeda dengan Bayan, Binah juga mengagumi Bayan. Namun cinta mereka terlarang.

Menurut keluarga Binah, Bayan tidak pantas menjadi suami Binah karena ilmu agama Bayan kurang kuat. Keluarga Binah juga tidak menyukai Bayan karena mereka merasa bahwa Bayan adalah anak orang kaya sehingga mereka berfikir bahwa Bayan adalah manusia yang besar kepala dan tidak mau berbaur dengan sesama. Namun, menurut keluarga Bayan, Binah lebih tidak pantas untuk Bayan karena kekayaan keluarga Binah tidak sebanding dengan keluarga Bayan. Walaupun cinta mereka terlarang, tetapi namanya juga jodoh, selalu punya cara untuk kembali bersama.

Sampai pada suatu hari, melihat cinta Bayan dan Binah yang begitu besar, orang tua mereka pun bersepakat. Bayan dapat menikahi Binah, tetapi dia harus memperdalam ilmu agamanya. Persyaratan yang lainnya adalah Binah dan Bayan harus keluar dari kampung kesayangannya yang bernama Samberembe. Orang tua mereka berharap dengan syarat yang berat itu, mereka berpikir untuk tidak melangsungkan pernikahan mereka. Namun, jawaban Bayan sungguh mengejutkan. Bayan menerima kedua persyaratan tersebut. Bayan berjanji akan mempersunting Binah jika Bayan sudah memenuhi persyaratan tersebut.

Maka pergilah Bayan ke sebuah desa. Seperti biasa, hari ini Bayan pergi menapaki jalan berbatu tanpa alas kaki seolah telapak kakinya sudah kebal dengan batu kerikil tajam. Hari ini Bayan membawa banyak bekal untuk beberapa bulan ke depan. Desa yang akan Bayan singgahi adalah tempat biasanya ia bercocok tanam bersama para buruh tani orang tuanya. Di desa itu ia akan belajar bersama seseorang yang menurut Bayan tinggi ilmu agamanya. Tempat itu adalah tempat yang tenang, sejuk, dan damai sehingga sangat cocok sebagai tempat untuk memperdalam ilmu keagamaan.

Bayan tinggal di rumah Kyai Hamzah. Kyai Hamzah sudah kenal dekat dengan Bayan. Mereka selalu bertemu setiap hari ketika Bayan bercocok tanam. Melihat kebaikan budi Bayan, maka Kyai Hamzah mengizinkan Bayan untuk tinggal di rumahnya selama ia memperdalam ilmu agamanya. Kyai Hamzah juga berjanji akan mengajarkan semua ilmu agama yang dimilikinya kepada Bayan. Bayan juga akan diajari sedikit ilmu bela diri silat sehingga Bayan dapat menjaga dirinya di mana saja.

Setelah berminggu-minggu Bayan belajar ilmu agama, kini saatnya Bayan belajar ilmu bela diri. Pertama Bayan belajar untuk bermeditasi, menenangkan diri, dan berkonsentrasi. Di desa yang sekarang ditinggali oleh Bayan banyak di dapati batu yang sungguh besar. Maka Bayan memutuskan untuk bermeditasi di atas salah satu batu yang terbesar. Ketika Bermeditasi, Bayan merasa ia mendapatkan kekuatan baru, ia merasa kekuatannya menjadi berlipat-lipat ganda. Hari berikutnya Bayan belajar ilmu bela diri yang lainnya, tetapi dia tetap menyempatkan diri untuk bermeditasi sebelum berlatih.

Selama berada di desa tersebut, Bayan telah mempersiapkan dirinya untuk masa depannya bersama Binah. Setiap ada waktu luang, Bayan menyempatkan diri untuk membangun “gubug” sebagai tempat tinggalnya bersama Binah setelah Bayan mempersunting Binah. Membangun rumah itu bukanlah pekerjaan pokok Bayan. Dia melakukannya hanya sebagai pekerjaan sampingan. Rumah yang dibangunnya tidaklah megah dan indah. Rumah itu memang besar, tetapi tidaklah seindah rumah milik kedua orang tuanya. Rumah dengan gaya adat Yogyakarta yang cukup kental ini dipastikan dapat ditempati oleh Bayan selepas ia menikah.
Setelah berbulan-bulan lamanya, Bayan memutuskan untuk kembali ke Samberembe untuk mempersunting Binah. Binah sangat senang karena mendengar kabar bahwa orang yang dikasihinya telah kembali dan tidak melupakan janjinya untuk menikahinya. Orang tua Binah juga telah merestui Binah dengan Bayan. Begitu juga sebaliknya, orang tua Bayan telah merestui mereka berdua untuk menikah. Maka, menikahlah mereka hari itu juga. Ramailah rumah kedua mempelai setelah satu desa mendengar hal itu.

Selepas pernikahan mereka, orang tua Bayan dan Binah mengatakan bahwa mereka tidak perlu untuk pergi dari desa. Orang tua mereka menyuruh Binah dan Bayan untuk tetap tinggal di Samberembe. Namun, Bayan menolaknya. Bukan karena sakit hatinya terhadap orang tuanya, melainkan ia telah mempersiapkan rumah untuknya dan untuk istrinya. Rumah tersebut berada di sebuah desa yang selalu menerima apapun kekuranga dan kelebihannya.

Desa itu tidak bernama. Maka atas seizin para penduduk dan Tuhan Yang Maha Esa, maka diberi namalah desa itu dengan sebutan Sambirejo. Sambi yang berarti mengerjakan suatu pekerjaan disamping pekerjaan pokok. Rejo berarti subur. Bayan mengharapkan agar desa ini menjadi desa yang subur dan makmur.


Sumber: Bapak Sumardjo selaku cicit dari Mbah Bayan dan sebagai penduduk asli Desa                                   Candirejo
Alamat: Candirejo 01/11, Candibinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta




IMG-20180604-WA0012Hallo perkenalkan namaku Laurentia Puspita Dewi. Aku biasa dipanggil Lauren tetapi juga bisa dipanggil Dewi. Aku anak ke-3 dari 3 bersaudara. Jadi aku sering dibilang anak bontot. Mungkin saking pendek dan kecilnya aku, kalian gak akan ngira kalau aku udah SMA. Aku sekarang kelas X MIPA 3 di SMA Negeri 1 Pakem atau biasa disingkat SMAPA. Jarakku dari  dumah ke SMAPA itu deket kok, cukup 8 menit perjalanan. Kalian tau SMAPA itu dimana? Hmm… mungkin yang terkenal dari Pakem itu adalah RS. Grasia. Nah kalo kalian tau Grasia, SMAPA gak jauh kok dari situ. Cukup keutara sedikit aja, sampek deh… kalau sekolah kalian itu butuh AC biar sekolahnya gak panas, SMAPA gak perlu itu. Tanpa AC aja kita udah kedinginan. Mungkin yang kita perlu itu penghangat ruangan hahaha. Jadi itu cerita seputar aku dan sekolahku. Jangan lupa baca hikayatku. Oh jangan lupa juga follow igku @laurentiadewi_


HIKAYAT DUSUN BALONG WETAN
   Dahulu kala terdapat sebuah kerajaan laut bernama Kerajaan Banyu Adem. Kerajaan tersebut merupakan kerajaan duyung yang berada di bawah laut. Tepatnya di daerah pantai selatan Pulau Jawa. Rakyat di dalam kerajaan tersebut sangat makmur karena sumber daya laut yang sangat melimpah. Terdapat rumput laut yang rimbun dan ikan-ikan yang sangat banyak, sehingga dapat diolah dan dimanfaatkan oleh rakyat duyung Kerajaan Banyu Adem.
   Kerajaan Banyu Adem dipimpin oleh sepasang raja dan ratu. Raja dan ratu tersebut bernama Raja Tunggara dan Ratu Innara. Mereka memiliki lima putri duyung dan seorang putra duyung. Kelima putri duyung tersebut bernama Nayla,Fatin,Cipa,Safu, dan Sida. Dan putra duyung bernama Arwana.
   Kelima putri duyung tersebut sangatlah baik terhadap siapa pun. Mereka juga sangat cantik. Namun, diantara kebaikan itu mereka memiliki kelebihan masing-masing. Putri Nayla yang merupakan putri sulung sangatlah enak menjadi teman curhat. Putri Fatin, dia sangatlah jahil terhadap duyung-duyung yang dekat dengannya. Putri Cipa dia adalah yang paling cantik dari semua putri, namun dia suka berkelahi. Putri Safu, dia suka membersihkan dan merapikan istananya. Sedangkan Putri Sida memiliki kelebihan yang berbeda dari yang lain yaitu tangannya dapat menghasilkan energi listrik.
   Berbeda dengan kelima putri duyung yang cantik cantik dan baik hati, putra duyung yang bernama Arwana sangat nakal dan manja. Mungkin karena Putra Arwana merupakan putra bungsu di dalam Kerajaan Banyu Adem.
   Walaupun sangat nakal dan manja Putra Duyung sangat menyayangi ibunya. Hal tersebut terbukti saat ia membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, seperti memasak kerang, dan pekerjaan lainnya. Putra Duyung juga tak pernah lupa mengucapkan selamat tidur kepada Raja Turangga dan Ratu Innara.   
   Suatu hari, Putra Duyung dan teman-teman duyungnya mengadakan kompetisi berburu kuda laut. Siapa yang mendapatkan kuda laut paling banyak ialah yang menjadi pemenang. Dari kompetisi tersebut, siapa yang kalah akan menuruti permintaan si pemenang selama tujuh hari. Karena terlalu bersemangat dan optimis menang, Putra Duyung berburu menggunakan panah, padahal teman-temannya berburu menggunakan jaring. Karena kesalahan teknis tersebut, panah yang meluncur tak mengenai kuda laut tetapi terkena bebatuan karang, yang mengakibatkan karang tersebut runtuh dan menimpa ibunya yang kebetulan melintas saat itu.
   Karena tertimpa batu karang, Ratu Innara tergeletak. Dalam sekejap rambutnya berubah menjadi warna biru. Saat itu juga Putra Arwana berteriak dan berlari menuju kepada ibunya. Dengan penuh rasa panik, ia langsung membawa ibunya menuju kamar kerajaan. Sesampainya di kamar, Ratu Innara belum juga sadar
   Raja Turangga dan kelima putrinya segera tahu akan hal yang terjadi. Putri Nayla, Fatin, Cipa, Safu, dan Sida sangat sedih setelah tahu bahwa ibunya tertimpa musibah. Mereka juga terus menyalahkan Putra Arwana.
   Raja Turangga berusaha mencari tahu bagaimana cara menyembuhkan sang ratu. Sampailah ia bertemu kepada seekor ikan hiu dan menceritakan hal tersebut kepadanya. Ikan hiu tersebut mengatakan bahwa sang Ratu Innara terkena bakteri dari batu karang yang menyebabkan rambutnya membiru dan dia tidur lama atau tidak tersadarkan diri. Satu-satunya cara untuk menyembuhkannya adalah menempelkan bunga melati ajaib di atas rambutnya yang membiru. Namun, bunga melati tersebut hanya tumbuh di dalam kawah Gunung Merapi.
   Putra Arwana merasa bersalah terhadap hal yang telah menimpa ibunya itu. Kemudian muncul ide untuk mengambil bunga melati ajaib yang ia dengar dari Ikan Hiu saat ia membuntuti ayahnya. Ia pun bersiap-siap dengan penuh semangat untuk pergi menuju daratan.
   Sebelum pergi ke daratan, Putra Arwana meminta bantuan Putri Sida agar mengubahnya menjadi manusia menggunakan kekuatan listriknya. Karena ingin ibunya sembuh, Putri Sida memberikan bantuan kepada adiknya tersebut. Namun ada satu ketentuan, yaitu apabila Putra Arwana jatuh hati kepada seorang wanita maka ia akan berubah menjadi bentuk aslinya.
   Setelah berubah menjadi manusia, Putra Arwana segera bergegas dan memberanikan diri untuk menginjakkan kakinya ke daratan. Ternyata daratan telah mengantarnya pada seorang wanita bernama Saras. Saras adalah seorang gadis yang berasal dari daerah lereng Gunung Merapi yang saat itu sedang menghibur diri di pantai dan tak sengaja bertemu Putra Arwana.
   Seperti telah lama kenal, Putra Arwana dan Saras tampaknya akrab. Lama-lama mengobrol, Putra Arwana menceritakan tentang dirinya dan tujuannya ke daratan. Walaupun Saras kaget dan awalnya tak percaya, namun karena suatu rasa entah itu apa dia pun percaya terhadap Putra Arwana. Saras pun bersedia membantu Putra Arwana. Sebenarnya selain gagah Putra Arwana memanglah tampan.
   Putra Arwana dan Saras segera memulai perjalanannya menuju Puncak Gunung Merapi. Sambil bercanda gurau, Saras mengenalkan makanan manusia kepada Putra Arwana. Ternyata diantara makanan-makanan yang dikenalkan Putra Arwana suka dengan makanan bernama jadah. Ia mengatakan bahwa jadah rasanya mirip dengan rumput laut goreng.
   Sampailah Putra Arwana di Puncak Gunung Merapi. Dengan penuh semangat yang membara Putra Arwana langsung memetik sekuntum bunga melati ajaib itu dengan hati-hati. Setelah berhasil memetik sekuntum bunga melati tersebut, kemudian Putra Arwana memasukkannya ke dalam keranjang kecil. Putra Arwana mengajak Saras duduk sebentar di sebelah timur kawah tersebut untuk menikmati pemandangan sejenak.
   Tanpa Putra Arwana sadari ia telah jatuh hati kepada Saras yang telah setia membantunya. Hal tersebut membuat Putra Arwana berubah menjadi wujud aslinya yaitu seorang Putra Duyung.  Saat itu juga Saras langsung panik karena tidak ada air di kawah tersebut. Putra Arwana langsung memeluk Saras dan mengatakan bahwa ia telah jatuh hati kepadanya. Saras juga berkata akan hal yang sama. Namun takdir berkata lain, Putra Arwana tak mampu bertahan tanpa air, kemudian tubuhnya berubah menjadi tulang kering yang abadi di sebelah timur lereng Gunung Merapi.
   Saras sangat sayang kepada Putra Arwana. Kemudian ia teringat ketika di perjalanan menuju puncak, Putra Arwana memberikan sebutir kuaci yang apabila ia memakannya maka ia akan berubah menjadi putri duyung. Ia juga ingat bahwa Putra Arwna mengatakan apabila umurnya tak panjang nantinya ia meminta tolong Saras untuk mengantarkan bunga melati ajaib kepada ibunya.
   Saras bergegas menuju pantai selatan dengan membawa bunga melati ajaib yang ada di keranjang. Setelah sampai, ia memakan sebutir kuaci tersebut. Saras mencari keberadaan Kerajaan Banyu Adem dan akhirnya ia sampai. Saras memberikan bunga melati ajaib tersebut kepada Ratu Innara. Ratu Innara telah terbangun dari tidur panjangnya. Ratu Innara menanyakan keberadaan Putra Arwana, karena tak ada diantara kerumunan orang yang melingkarinya. Kemudian Saras menceritakan semuanya kepada seluruh keluarga duyung Kerajaan Banyu Adem. Mereka sangat tercengang terutama Raja Turangga dan Ratu Innara. Setelah itu Saras berpamitan untuk kembali ke daratan. Melihat kebaikan Saras yang sangat tulus, Raja Turangga memberikan sekotak emas kepada Saras.
   Kemudian Saras kembali ke desanya yang berada di daerah lereng Gunung Merapi dengan membawa sekotak emas yang telah diberikan oleh Raja Turangga kepadanya.  Sekotak emas itu kemudian ia gunakan untuk memajukan dan membangun desanya menjadi lebih baik. Untuk mengenang Putra Arwana dan semua hal yang telah terjadi, ia mengganti nama desanya menjadi Balong Wetan. Balong Wetan memiliki makna balung yang berarti tulangnya Putra Arwana dan wetan berarti letak tulang tersebut berada di sebelah timur Gunung Merapi.




Sumbernya: Karangan saya sendiri (Madafa Tirta Fathina)

  

TENTANG PENULIS


Hai ! Namaku Madafa Tirta Fathina. Aku lahir di Sleman, 15 November 2002. Saat ini aku bersekolah di Sma N 1 Pakem. Aku berada di kelas X MIPA 3. Motivasi menulis hikayat diatas adalah saya ingin mendapatkan nilai yang memuaskan. 


  
Asal Usul Gunung Merapi

Alkisah, Pulau Jawa adalah satu dari lima pulau terbesar di Nusantara. Konon, pulau ini pada masa lampau letaknya tidak rata atau miring. Oleh karena itu, para dewa di Kahyangan bermaksud untuk membuat pulau tersebut tidak miring. Dalam sebuah pertemuan, mereka kemudian memutuskan untuk mendirikan sebuah gunung yang besar dan tinggi di tengah-tengah Pulau Jawa sebagai penyeimbang. Maka disepakatilah untuk memindahkan Gunung Jamurdipa yang berada di Laut Selatan ke sebuah daerah tanah datar yang terletak di perbatasan Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kabupaten Magelang, Boyolali, serta Klaten Provinsi Jawa Tengah.
Sementara itu, di daerah di mana Gunung Jamurdipa akan ditempatkan terdapat dua orang empu yang sedang membuat keris sakti. Mereka adalah Empu Rama dan Empu Pamadi yang memiliki kesaktian yang tinggi. Oleh karena itu, para dewa terlebih dahulu akan menasehati kedua empu tersebut agar segera pindah ke tempat lain sehingga tidak tertindih oleh gunung yang akan ditempatkan di daerah itu. Raja para dewa, Batara Guru pun segera mengutus Batara Narada dan Dewa Penyarikan beserta sejumlah pengawal dari istana Kahyangan untuk membujuk kedua empu tersebut.
Setiba di tempat itu, utusan para dewa langsung menghampiri kedua empu tersebut yang sedang sibuk menempa sebatang besi yang dicampur dengan bermacam-macam logam. Betapa terkejutnya Batara Narada dan Dewa Penyarikan saat menyaksikan cara Empu Rama dan Empu Pamadi membuat keris. Kedua Empu tersebut menempa batangan besi membara tanpa menggunakan palu dan landasan logam, tetapi dengan tangan dan paha mereka. Kepalan tangan mereka bagaikan palu baja yang sangat keras. Setiap kali kepalan tangan mereka pukulkan pada batangan besi membara itu terlihat percikan cahaya yang memancar.
“Maaf, Empu! Kami utusan para dewa ingin berbicara dengan Empu berdua” sapa Dewa Penyarikan.
Kedua empu tersebut segera menghentikan pekerjaannya dan kemudian mempersilakan kedua utusan para dewa itu untuk duduk.
“Ada apa gerangan, pukulun? Ada yang dapat hamba bantu?” tanya Empu Rama.
“Kedatangan kami kemari untuk menyampaikan permintaan para dewa kepada Empu.” Jawab Batara Narada.
“Apakah permintaan itu?” tanya Empu Pamadi penasaran, ”Semoga permintaan itu dapat kami penuhi.”
Batara Narada pun menjelaskan permintaan para dewa kepada kedua empu tersebut. Setelah mendengar penjelasan itu, keduanya hanya tertegun. Mereka merasa permintaan para dewa itu sangatlah berat.
“Maafkan hamba, Pukulun! Hamba bukannya bermaksud untuk menolak permintaan para dewa. Tapi, perlu Pukulun ketahui bahwa membuat keris sakti tidak boleh dilakukan sembarangan, termasuk berpindah-pindah tempat,” jelas Empu Rama.
“Tapi Empu, keadaan ini sudah sangat mendesak. Jika Empu berdua tidak segera pindah dari sini Pulau Jawa ini semakin lama akan bertambah miring” kata Dewa Penyarikan.
“Benar kata Dewa Penyarikan, Empu. Kami pun bersedia mencarikan tempat yang lebih baik untuk Empu berdua” bujuk Empu Narada.
Meskipun telah dijanjikan tempat yang lebih baik, kedua empu tersebut tetap tidak mau pindah dari tempat itu.
“Maaf, Pukulun! Kami belum dapat memenuhi permintaan itu. Kalau kami berpindah tempat, sementara pekerjaan ini belum selesai, maka keris yang sedang kami buat ini tidak sebagus yang diharapkan. Lagi pula, masih banyak tanah datar yang lebih bagus untuk menempatkan Gunung Jamurdipa itu” kata Empu Pamadi.
Melihat keteguhan hati kedua empu tersebut, Empu Narada dan Dewa Penyaringan mulai kehilangan kesabaran. Oleh karena mengemban amanat Batara Guru, mereka terpaksa mengancam kedua empu tersebut agar segera pindah dari tempat itu.
“Wahai, Empu Rama dan Empu Pamadi! Jangan memaksa kami untuk mengusir kalian dari tempat ini” ujar Batara Narada.
Kedua empu tersebut tidak takut dengan acaman itu karena mereka merasa juga sedang mengemban tugas yang harus diselesaikan. Oleh karena kedua belah pihak tetap teguh pada pendirian masing-masing, akhirnya terjadilah perselisihan di antara mereka. Kedua empu tersebut tetap tidak gentar meskipun yang mereka hadapi adalah utusan para dewa. Dengan kesaktian yang dimiliki, mereka siap bertarung demi mempertahankan tempat itu. Tak ayal, pertarungan sengit pun tak terhindarkan. Meskipun dikeroyok oleh dua dewa beserta balatentaranya, kedua empu tersebut berhasil memenangkan pertarungan itu.
Batara Narada dan Dewa Penyarikan yang kalah dalam pertarungan itu segera terbang ke Kahyangan untuk melapor kepada Batara Guru.
“Ampun, Batara Guru! Kami gagal membujuk kedua empu itu. Mereka sangat sakti mandraguna” lapor Batara Narada.
Mendengar laporan itu Batara Guru menjadi murka.
“Dasar memang keras kepala kedua empu itu. Mereka harus diberi pelajaran” ujar Batara Guru.
“Dewa Bayu, segeralah kamu tiup Gunung Jamurdipa itu!” seru Batara Guru.
Dengan kesaktiannya, Dewa Bayu segera meniup gunung itu. Tiupan Dewa Bayu yang bagaikan angin topan berhasil menerbangkan Jamurdipa hingga melayang-layang di angkasa dan kemudian jatuh tepat di perapian kedua empu tersebut. Kedua empu yang berada di tempat itu pun ikut tertindih oleh Gunung Jamurdipa hingga tewas seketika. Menurut cerita, roh kedua empu tersebut kemudian menjadi penunggu gunung itu. Sementara itu, perapian tempat keduanya membuat keris sakti berubah menjadi kawah. Oleh karena kawah itu pada mulanya adalah sebuah perapian, maka para dewa mengganti nama gunung itu menjadi Gunung Merapi.
(sumber: https://histori.id/legenda-asal-usul-gunung-merapi/)
Diunduh pada tanggal 29 Juli 2018 pukul 11.25




Namaku Meisya Anggita Putri, biasa dipanggil Icha. Lahir pada tanggal 29 Mei 2003. Hobiku membaca novel dan wattpad. Warna kesukaaanku pink. Saat ini aku kelas X MIPA 3 di SMAN 1 Pakem.
                                                    Asal Usul Budaya di Yogyakarta
Pada zaman dahulu terdapat sebuah kerajaan kecil di lereng selatan Gunung Merapi . Kerajaan itu bernama Kerajaan Tulunggeni yang dikenal dengan ketajamannya yang damai,subur,dan makmur. Seluruh anggota kerjaan memiliki pedoman yaitu untuk selalu membuat seluruh rakyat tetap hidup berkecukupan dan berbahagia . Kerajaan Tulunggeni dipimpin oleh Raja Brawiyata yang dikenal karena kemurahan hatinya untuk selalu membuat rakyat bahagia . Sebagian besar rakyat di Kerajaan Tulunggeni bekerja sebagai petani , karena tanah di lereng Gunung Merapi  itu subur dan banyak sungai tak heran jika setiap musim panen hasilnya selalu melimpah yang membuat Kerajaan Tulunggeni makin makmur.
Setiap musim panen , seluruh rakyat dan anggota kerajaan akan merayakannya dengan pawai petani yang diiringi permainan gamelan yang dimainkan dengan lembut . Suatu ketika saat musim panen tiba , seperti biasa Raja Brawijaya duduk di singgasana nya di pinggir jalan utama desa , disampingnya terdapat sebuah panggung tempat untuk gamelan dan pemainnya . Sementara itu para petani yang selesai panen akan berjalan menuju rumahnya masing masing melewati jalan utama desa . Mereka meletakkan hasil panen mereka di gerobak yang ditarik sapi. Ketika melewati singgasana raja para petani akan memperlihatkan hasil panen mereka dengan wajah bangga mereka yang diikuti senyuman Sang Raja . Pawai petani itu diiringi permainan gamelan yang lembut dan santai.
Empat tahun berlalu dan pada setiap musim panen Kerajaan Tulunggeni selalu melakukan tradisi yang sama . Ternyata raja mulai bosan dengan satu satunya tradisi budaya di kerajaannya itu . Raja Brawijaya ingin pesta perayaan musim panen itu dibuat lebih meriah dan heboh . Kemudian raja pada awal musim kemarau ini mengumpulkan seluruh warganya dan memerintahkan agar seluruh warga ikut berpartisipasi memeriahkan acara pesta musim panen . Setelah itu warga kebingungan , bagaimana caranya agar seluruh warga termasuk ibu ibu dan anak kecil ikut memeriahkan pesta musim panen . Saat itu semua warga berkumpul untuk bermusyawarah .  Seorang pemuda desa bernama Jaka Podhang memiliki usulan, dia menyarankan agar ibu ibu dan anak kecil mengiringi gerobak, tak hanya berjalan mengiringi tetapi mereka juga harus menari dan bernyanyi dengan kompak . Pemain gampangnya juga dibuat lebih cepat dan bertenaga . Setelah Jaka Podhang selesai dengan pendapatnya para warga yang hadir langsung menyetujuinya .
Sekarang sudah awal musim penghujan , jadi musim panen sebentar lagi akan tiba . Berita tentang para warga telah siap membuat pesta panen menjadi lebih meriah telah didengar raja dan Raja Brawijaya juga tak sabar untuk segera menyaksikannya . Musim panen telah tiba dan raja telah siap di singgasana di pinggir jalan utama . Dari kejauhan telah terlihat banyak sekali warga yang berarak-arakan. Ketika sebuah gerobak mulai melewati raja, musik gamelan mulai dimainkan diiringi nyanyian ibu-ibu dan tarian dari ibu-ibu yang lain dan para analnya. Mereka menari sambil berjalan mengiringi gerobak yang membawa hasil panen. Musik gamelan menjadi lebih bersemangat dan membuat seluruh warga juga bersemangat. Senyum raja menjadi lebih lebar, ia mengucapkan terimakasih kepada seluruh warga desa. Karena telah melakukan perintahnya dengan baik. Ternyata raja menjadi mendapat ide untuk membuat kerajaannya memiliki lebih banyak kebudayaan. Raja kemudian mengadakan sebuah sayembara. Ia memerintahkan prajuritnya untuk mengumpulkan semua warga di halaman istana, raja pun memulai pidatonya,
“Seluruh wargaku, aku mengadakan sebuah sayembara, buatlah kelompok-kelompok dan buatlah pentas seni yang dapat kita saksikan bersama, kelompok yang berhasil membuat pentas seni yang bisa menghibur seluruh warga, kelompok itulah yang berhasil dan akan ku beri hadiah, ku beri waktu dua bulan untuk kalian membuatnya” ucap raja.
Raja juga memberikan satu set alat musik gamelan untuk dimanfaatkan warga desa. Dengan segera para penduduk desa mulai berkelompok dan berdiskusi. Setelah sepakat dengan kelompoknya masing-masing, mereka mulai berlatih. Ternyata semua kelompok membutuhkan gamelan untuk pentas seninya. Namun raja hanya memberi satu set gamelan, sementara warga yang berpartisipasi telah membuat empat kelompok. Karena jiwa sosial warga yang kuat, mereka bisa tetap berlatih dengan satu set gamelan itu. Setiap malam mereka bergantian berlatih di rumah kelompok mereka masing-masing.
Dua bulan telah berlalu dan raja telah siap menunggu di singgasana yang diletakkan di halaman istana yang luas. Di halaman istana terdapat panggung dan tanah kosong yang diberi pagar yang disiapkan sendiri oleh para anggota kelompok. Semua warga yang tak membuat kelimpok juga berkumpul untuk menyaksikan pentas seni apa yang dibuat oleh kelompok-kelompok itu. Mereka semua menghadap ke panggung yang telah disiapkan. Pertunjukkan itu dimulai pada pertengahan hari. Keempat kelompok telah mendaftar pada sekretaris raja.
Kelompok pertama tampil, mereka terdiri dari ibu-ibu dan bapak-bapak penyanyi dan para pemain gamelan. Para penyanyi mulai menyanyi diiringi gamelan. Lagu yang dinyanyikan bercerita tentang kemakmuran kerajaan mereka. Semua warga termasuk raja belum pernah mendengar nyanyian seperti itu. Tepuk tangan meriah menyambut berakhirnya pertunjukkan nyanyian itu. Kelompok selanjutnya tampil dan mereka melakukan pertunjukkan nyanyian yang diiringi gamelan. Raja berpikir jika seni kelompok ini sama dengan kelompok yang maju pertama, tetapi setelah itu para penyanyi yang terdiri dari bapak-bapak,pemuda,dan ibu-ibuberhenti menyanyi dan mulai melakukan adegan drama. Drama itu menceritakan kisah cinta di desa tempat mereka tinggal.
Hari mulai beranjak sore, cahaya jingga terpancar dari ufuk barat, pencahayaan istana mulai dinyalakan. Kelompok selanjutnya pun tampil, kelompok itu terdiri dari para penari, penyanyi, pemain gamelan, dan seorang pawang. Semua penari itu membawa anyaman bambu pipih yang lebar dan berbentuk menyerupai kida. Gamelan mulai dimainkan dengan pelan, para penari menari dengan pelan dan lama kelamaan gamelan bermain lebih cepat, penyanyi juga memberi suara iringan yang lebih heboh yang memberi aura mistis. Para penari mulai menari tak beraturan, sebelum para penari menuju penonton para pawang telah menenangkan para penari. Para penari kemudian menari lagi dengan pelan dan pertunjukkan pun selesai. Tepuk tangan dan ekspresi keheranan terpampang di wajah warga termasuk raja.

Pertunjukan itu berlangsung lama, kelompok terakhir pun tampil pada malam harinya. Ketika kelompok terakhir akan tampil anggota menggelar sebuah layar berwarna putih yang sebuah layar berwarna putih yang disatu sisi diberi pencahayaan menggunakan semacam lampu minyak. Di sisi itu juga terdapat semacam boneka pipih yang memiliki tongkat sebagai penggerak. Pertunjukan pun dimulai, semua warga diam melihat bayangan boneka pipih yang seolah-olah boneka itu yang berbicara, diiringi gamelan dan nyanyian para penyanyi. Pertunjukkan telah selesai dan semua warga bertepuk tangan dengan sangat meriah. Raja berdiri berbicara,
“Marilah kita dambut, kebudayaan baru kerajaan kita!” ucap raja diikuti tepuk tangan meriah para warga
“Inilah kebudayaan kita bersama yang harus kita lestarikan dan ajarkan kepada generasi sesudah kita, karena kehebatan keempat kelompok ini memukau penonton dengan pertunjukkan yang belum pernah ada, maka keempat kelompok ini mendapatkan hadiah dariku, ” ucap raja.
Setiap kelompok mendapat sekantung koin yang terbuat dari emas yang langsung mereka bagi sama rata. Ternyata koin emas itu jumlahnya lebih dari cukup sehingga setiap kelompok membaginya kepada para warga. Sehingga semua mendapat satu koin emas. Ternyata raja sudah merencanakan ini, dia melebihi kepingan emasnya dan ingin melihat apa yang akan dilakukan keempat kelompok itu kepada koin emas berlebih tersebut. Raja Brawijaya bangga dengan jiwa sosial warganya. Dia yakin masa depan wilayah kerajaannya kelak pasti tetap akan makmur.
Budaya yang dibuat oleh keempat kelompok itu masih bertahan hingga sekarang. Tarian dengan anyaman berbentuk kuda itupun dinamakan Jathilan. Nyanyian yang diiringi gamelan disebut lagu macapat. Drama yang akhirnya disebut ketoprak, dan boneka pipih yang akhirnya disebut wayang kulit, karena bahannya berasal dari kulit lembu. Dan wilayah kerajaan Tulunggeni yang terletak di lereng selatan Gunung Merapi yang subur itu sekarang menjadi Kabupaten Sleman.


TENTANG PENULIS
Namaku Muhammad Annas Alfiansyah yang akrab dipanggil Annas. Aku lahir pada 5 April di Kabupaten Sleman. Aku suka dengan semua tentang alam dan senang menjelajahi alam. Aku suka merenung sendiri di hutan. Tempat tinggal saya di lereng Merapi sebelah selatan, itulah alasan saya menulis kisah tentang lereng Merapi.



Misteri Sungai Dara

          Al kisah, berdirilah sebuah dusun yang diberi nama Dusun Blekik. Di Dusun Blekik terdapat pemandangan alam berupa sawah, sungai, kebun, dll. Sungai-sungai yang ada di Dusun Blekik sangatlah jernih. Sungai-sungai itu diberi nama Sungai Boyong, Sungai Sumber, Sungai Dara, dan Sungai Mantras. Selain sungainya yang jernih, ternyata sungai-sungai di Dusun Blekik memiliki kisah misterinya masing-masing, salah satunya Sungai Dara.
          Sungai Dara adalah sungai yang sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Di Sungai Dara terdapat banyak pohon yang sangat rimbun, antara lain pohon bambu, pohon ketapang, dan lain-lain. Selain itu, di Sungai Dara terdapat bebatuan yang besar, pasir, dan lain-lain. Seorang nenek yang bernama Mbah Tuki, salah seorang warga Dusun Blekik, mengatakan bahwa Sungai Dara adalah salah satu cabang dari Sungai Boyong.
          Sungai Dara dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk mencuci, irigasi, mandi, dan lain-lain. Sungai Dara merupakan salah satu sungai yang selalu dipenuhi oleh air yang jernih dan menyejukkan. Disaat air di sungai-sungai Blekik mulai surut, hanya Sungai Daralah yang airnya tidak pernah surut. Meski pernah sedikit surut, air di Sungai Dara akan kembali terisi seperti semula saat malam hari atau keesokan harinya.
          Selain banyak manfaat untuk masyarakat sekitar, Sungai Dara memiliki kisah misteri yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat sekitar. Banyak kejadian yang dialami bahkan pernah dilakukan oleh beberapa masyarakat baik dari Dusun Blekik maupun dari dusun-dusun lainnya. Kejadian yang pernah didengar bahkan dilakukan oleh beberapa masyarakat, seperti pernah suatu ketika terjadi pembuangan bayi. Pembuangan bayi ini, dilakukan oleh salah seorang warga di Dusun Blekik karena kehadiran bayi itu tidak diinginkan oleh orangtuanya atau dengan kata lain diperoleh dari hubungan yang terlarang.
          Selain itu, pembuangan mayat pernah dilakukan oleh masyarakat zaman dahulu. Hal ini dikarenakan salah satu warga itu pernah membunuh seseorang. Kemudian, sang pelaku membuang korban ke Sungai Dara dengan tujuan menghilangkan jejak sang korban. Banyak orang yang melakukan pesugihan di Sungai Dara dengan cara menyembah serta memberikan sesaji untuk penunggu sungai itu, biasanya mereka meletakkannya di batu yang paling besar.
          Selain kejadian yang dilakukan oleh masyarakat, ada juga kejadian yang pernah dialami ataupun didengar oleh masyarakat sekitar. Banyak makhluk gaib yang sering menampakkan dirinya bahkan pernah dilihat sendiri oleh beberapa masyarakat. Pernah juga salah satu dari warga Dusun Blekik yang diperlihatkan penampakan ular jadi-jadian atau ular jelmaan yang berukuran besar. Selain itu, ada seorang kakek yang bernama Ki Soka, pernah melihat makhluk tak kasat mata di sungai itu. Beliau pernah mendengar suara, “krincinggg…krincinggg...krincing…”, yang berasal dari makhluk gaib. Ki Soka mengatakan bahwa makhluk gaib ini adalah makhluk yang memakai banyak perhiasan berupa emas.
          Ada satu benda tak kalah menyeramkan yang terdapat di Sungai Dara dan memiliki kisah misterinya tersendiri. Benda ini berupa batu kembar yang berukuran besar. Batu ini dikatakan oleh masyarakat setempat sebagai batu kembar karena bentuk dan ukurannya sama. Selain bentuk dan ukurannya yang sama, uniknya batu kembar ini saling berhimpitan satu sama lain. Mbah Tuki, warga Dusun Blekik mengatakan bahwa batu itu berasal dari Gunung Merapi. Batu kembar ini dahulunya terbawa oleh lahar dingin saat Merapi meletus dengan dahsyatnya sekian tahun lamanya. Dengan kejadian ini, kemudian batu kembar itu terhenti dan menempel pada daerah yang ada di Sungai Dara.
          Di batu kembar ini, ada beberapa masyarakat yang pernah melakukan semedi untuk pesugihan. Selain itu, ada juga yang meminta agar dirinya dapat memiliki dan menggunakan kekuatan yang besar dari makhluk gaib. Kebanyakan masyarakat yang melakukan hal itu adalah masyarakat dari luar Dusun Blekik. Mereka diberi tahu oleh salah satu orang pintar di Dusun Blekik yang bernama Ki Soka.
           Suatu ketika, banyak masyarakat sekitar Sungai Dara yang sering membuang sampah di sungai itu sehingga sang penunggu sungai menjadi terganggu. Sebagai tanda untuk memberitahukan kepada masyarakat sekitar untuk membersihkan Sungai Dara, sang penunggu itu memasuki raga salah satu warga Dusun Blekik yang bernama Mbah Tuki, warga Dusun Blekik. Saat itu, Mbah Tuki sedang melewati jembatan di sungai itu dalam keadaan banyak pikiran serta melamun. Kemudian, sang penunggu itu memasuki raga Mbah Tuki.
           Setelah kejadian itu, Mbah Tuki merasa lemas dan mengalami sakit kurang lebih seminggu. Ia sudah dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan, tetapi tidak kunjung sembuh. Akhirnya, Mbah Tuki dibawa pulang ke rumah oleh keluarganya karena masalah keuangan. Setelah beberapa hari, ia pun sembuh dari penyakitnya. Namun, setelah tiga hari sembuh dari penyakitnya, ia pun kembali sakit. Saat sakit, Mbah Tuki hanya melamun saja, ia tidak banyak bicara seperti biasanya.
           Kemudian, pihak keluarga pun memanggil orang pintar, dari nasihat tetangganya. Kata orang pintar itu, di dalam raga Mbah Tuki dimasuki oleh makhluk gaib, makhluk gaib ini bernama Kliwon. Namun, makhluk itu mengatakan kepada orang pintar untuk segera membersihkan tempat tinggalnya yang sudah dirusak oleh manusia, saat sebelum keluar dari tubuh Mbah Tuki. Lalu, orang pintar itu pun mengikuti keinginan makhluk gaib itu. Setelah beberapa jam orang pintar itu menyembuhkan Mbah Tuki, akhirnya makhluk gaib itu pun keluar dari tubuh Mbah Tuki dan pergi ke tempat asalnya.
          Dengan kejadian itu, masyarakat yang melewati Sungai Dara harus membunyikan klaksonnya saat melewati jembatan di sungai itu. Pembunyian klakson bertujuan sebagai ucapan atau pertanda permisi bagi manusia dengan makhluk gaib di sungai itu. Selain itu, setiap orang yang
melewati Sungai Dara harus senantiasa berdoa. Hal itu dilakukan agar kita senantiasa dilindungi
oleh Alah SWT dan terhindar dari perbuatan yang tidak diinginkan.



 


 Hai, namaku Mutiara Adzani Putri, aku biasa dipanggil Muti. Aku lahir tanggal 21 September 2002. Sekarang umurku 16 tahun. Alamat rumahku di Jakal KM.13 , di Dusun Blekik RT 01 RW 25, Sardonoharjo Ngaglik Sleman, Yogyakarta. Zodiakku adalah virgo. Warna kesukaanku adalah pink. Hobiku menggambar dan bersepeda. Sekarang aku duduk di kelas 10 MIPA 3 di SMA N 1 PAKEM.                             



ASAL MULA GUNUNG KIDUL


Asal mula Gunung Kidul terjadi pada masa berdirinya Kesultanan Yogyakarta. Kala itu yang menjadi raja adalah Sultan Hamengku Buwono I. Pada waktu pemerintahannya, daerah Selatan masuk ke dalam wilayah Kesultanan Yogyakarta. Namun, pada waktu itu namanya bukan Gunung Kidul, tetapi Sumengkar. Karena wilayahnya sangat luas, daerah Sumengkar dipimpin oleh seorang adipati.


Pada suatu hari, di Kadipaten Sumengkar saat semua sedang sibuk, tiba-tiba ada pemberitahuan mendadak akan adanya pertemuan penting dengan Adipati. Pertemuan itu dipimpin oleh Adipati Sumengkar sendiri, yaitu Adipati Wironegoro. Sang Adipati mengundang orang-orang kepercayaannya, dan para punggawa Kadipaten Sumengkar lainnya dalam pertemuan tersebut. Semua orang yang diundang langsung menuju ke tempat pertemuan saat itu juga. Saat sudah banyak yang hadir pertemuan langsung dimulai. Seluruh punggawa dan orang orang kepercayaan Adipati yang hadir dalam pertemuan tersebut langsung mendekati Adipati Wironegoro. Lalu salah satu punggawa bertanya kepada Adipati “Adipati ada perlu apa memanggil kami ke mari ?” tanya Patih Prajasena. “Aku mengundang kalian semua dalam pertemuan ini karena ada hal penting yang akan aku beritakan. Aku ingin memberitakan titah Kanjeng Sultan Yogyakarta Hadininingrat. Tetapi sebelum kuberitakan apakah ada yang belum hadir di sini?” tanya Adipati.


Puspowilogo yang mendengarkan pertanyaan Adipati langsung menjawab “Ada Adipati, Wonoprawiro belum hadir, karena masih harus menyelesikan suatu pekerjaan “Baiklah, kita tunggu sebentar sampai Wonoprawiro datang. Kalau tidak datang, kita tinggal saja dia,” jawab Adipati. Mendengar Adipati, Prajawirangga bertanya “Bolehkah saya menjemput dan membawa Wonoprawiro ke sini agar kita bisa memulai pertemuan?” Adipati menjawab “Cepatlah, karena ini sangat penting!”


Segeralah Prajawirangga keluar dari tempat itu dan menjemput Wonoprawiro. Punggawa yang ada di tempat pertemuan bersama Adipati terus menunggu dan menunggu. Hampir 1 jam berlalu, akhirnya Prajawirangga kembali ke tempat pertemuan sendirian. Bertanyalah Adipati kepada Prajawirangga “Di mana Wonoprawiro? Mengapa kau ke sini seorang diri”. Jawab Prajawirangga sambil kelelahan “Mohon maaf Adipati saya sudah mencari ke seluruh tempat, tetapi saya tidak bisa menemukan Wonoprawiro”. “Ya sudah, kita lanjutkan saja.” Adipati menjawab dengan nada sedikit marah


Adipati Wironegoro segera menyampaikan titah Sultan Hamengku Buwono kepada segenap punggawa yang hadir. Isi pokok dari titah Sultan Yogyakarta itu adalah agar ibu kota Kadipaten Sumengkar dipindahkan ke hutan topan. Alasan perpindahan ibu kota itu atas dasar petunjuk yang diterima Kanjeng Sultan ketika sedang meditasi. Jika ibu kota Kadipaten Sumengkar tidak dipindahkan, maka akan menyebabkan bencana. Bukan hanya Kadipaten Sumengkar, melainkan Kesultanan Yogyakarta keseluruhan.


Salah satu harus ada yang menjalankan perintah ke tempat yang berbahaya itu. Mengingat ancaman malapetaka yang bakal menimpa, Kanjeng Sultan Yogyakarta memerintahkan Adipati Wironegoro untuk secepat mungkin melaksanakan perintahnya.


“Perintah Kanjeng Sultan cukup jelas. Sekarang siapa di antara kalian yang akan berangkat melaksanakan tugas negara ini, mengambil alih hutan topan” tanya Adipati Wironegoro.


Semua yang hadir hanya bisa terdiam mendengar perintah itu. Mereka semua perlu bertanya lagi, karena memasuki hutan Topan karena risikonya sangat besar. Semua yang hadir dalam pertemuan itu tidak ada yang mampu melaksanakan tugas tersebut. Akhirnya Adipati memberikan waktu 1 hari kepada para punggawa. Lalu rapat dibubarkan dan semua punggawa diminta pulang.


Beberapa jam setelah pertemuan dibubarkan, Adipati Wironegoro tiba-tiba mendengar kabar bahwa Wonoprawiro dan adiknya berangkat menuju hutan topan untuk melaksanakan tugas negara itu. Sebelum berangkat, Wono prawiro meninggalkan sepucuk surat untuk Adipati, yang berbunyi “Adipati, saya memohon maaf atas ketidakhadiran saya dalam pertemuan penting. Maka dari itu saya akan melaksanakan tugas negara yang berbahaya itu”


Setelah membaca surat itu Adipati merasa senang karena ada yang mau melaksanakan tugas negara itu. Lalu Sang Adipati pun berjanji, jika Wonoprawiro itu berhasil menjalankan tugas negara, maka anugerah yang besar akan diberikan kepadanya. 


Ternyata ada salah satu warga yang tau bahwa Adipati akan memberikan penghargaan kepada Wonoprawiro jika tugasnya berhasil. Warga itu langsung memberitahu para punggawa yang lain. Mendengar kabar tersebut tanpa berpikir panjang para punggawa bersiap siap pergi ke hutan topan yang berbahaya itu. Kabarnya, penghargaan yang akan diberikan sangat berharga dan sangat sulit diperoleh. 


Di lain tempat, Adipati sedang mendatangi kediaman Wonoprawiro “Kamu telah melakukan hal mulia. Sekarang bersiaplah dan berangkatlah. Kami di sini mendoakanmu,” kata Adipati tanpa mengetahui apa yang sedang para punggawa lakukan.


Akhirnya, Wonoprawiro berangkat menjalankan tugas. Sebelum memasuki kawasan hutan topan yang berbahaya itu, Wonopawiro telah merecanakan untuk singgah di kediaman Ki Nitisari, saudaranya, yang tahu banyak informasi tentang hutan topan.


“Dimas, bukan sebuah pekerjaan yang mudah untuk mengambil alihhutan topan. Jika ada salah sedikit nyawa sebagai taruhannya,” kata Ki Nitisari mengingatkan saudaranya.


“Lalu apa yang harus saya lakukan agar bisa mengambil alih hutan topan?”


“Nanti tepat tengah malam, aku akan menemani Dimas untuk bertemu dengan penguasa hutan topan” jawab Ki Nitisari.


Tepat tengah malam, dua bersaudara itu nekat menerobos tengah malam dan bahaya hutan topan itu. Seperti namanya, di hutan itu angin berhembus sangat kencang. Sesekali mereka berdua mencari tempat menghindar dari angin topan, jika angin tidak terlalu kencang kedua saudara itu terus melanjutkan langkah mereka tanpa mempedulikan godaan dan serangan para jin penunggu hutan itu di sepanjang perjalanan. 


Di sisi lain para punggawa lain berangkat ke hutan topan bersama sama tanpa sepengetahuan Adipati. Mereka mencari jalan pintas agar dapat lebih cepat sampai ke tujuan. Pada kenyataannya ada beberapa halangan di perjalanan beberapa tidak mampu melalui itu dan tidak melanjutkan perjalanan. Semakin dekat dengan hutan malah semakin banyak halangan sehingga hanya dua punggawa yang masih kuat melanjutkan perjalanan yaitu Puspowilogo dan Wirenggana. Mereka melanjutkan perjalanan dengan pantang menyerah, sehingga mereka dapat sampai di hutan. Saat mulai memasuki hutan angin bertambah kencang, mereka beberapa kali mencari tempat agar terhindar dari angin kencang. Setelah kembali melanjutkan perjalanan banyak serangan dari jin penunggu hutan. Awalnya mereka bisa menahan para jin, tetapi lama kelamaan mereka tidak kuat dan tergeletak di bawah sutu pohon.


Saat Wonoprawiro dan adiknya sampai di suatu gubuk,tiba-tiba mereka mendengar suara meminta tolong yang tak jauh dari situ yaitu suara dari Puspowilogo. Wonoprawiro langsung menghampiri sumber suara, menolong kedua punggawa, dan bertanya apa yang terjadi. Setelah itu Wonoprawiro mencarikan kedua punggawa itu tempat yang aman dan meminta agar mereka berdua segera kembali ke Sumengkar melewati jalan yang diberitahu oleh Wonoprawiro. Kedua punggawa itu beristirahat dan beberapa lama kemudian mereka kembali ke Sumengkar. Wonoprawiro dan adiknya melanjutkan apa yang sedang mereka kerjakan, kedua saudara itu bertapa dan meminta pertolongan kepada Yang Maha kuasa agar dimudahkan. Empat puluh hari empat puluh tahun lamanya kedua saudara itu bertapa. Selama itu pula, keduanya tetap sabar menghadapi banyak serangan dari para jin penghuni hutan. Namun, akhirnya para jin penghuni hutan itu lari meninggalkan hutan karena tak kuat menghadapi kesaktian kedua saudara itu. Kedua saudara itu juga dapat meredakan angin topan di hutan itu. Setelah mengetahui para jin kabur Ratu Laut Kidul sebagai penguasa bagian selatan,mengutus Nyai Melati untuk menemui kedua saudara itu.


Melalui utusannya itu, penguasa wilayah selatan dan juga yang berkuasa pula atas hutan topan memberi dan merelakan hutan di bawah kekuasaannya itu dijadikan daerah kadipaten menggantikan Kadipaten Sumengkar karena kesaktian dua saudara tersebut. 


Sedangkan di Sumengkar, Adipati sangat murka karena sikap para punggawa yang hanya menginginkan penghargaan. Para punggawa yang melakukan perjalanan itu diberi hukuman berat oleh Adipati dan mereka harus menaatinya. Saat itu pula Adipati menemui Wonoprawiro dengan rasa senang dan berterimakasih. Adipati menjadikan Wonoprawiro menjadi orang kepercayaannya dan menjadikan Ki Nitisari sebagai salah satu orang penting di kadipaten.


Namun, ada suatu perjanjian oleh penguasa hutan topan yaitu jika ada penguasa baru hutan topan harus mengganti nama daerah yang baru itu menggunakan “Kidul” yang artinya selatan. Sehingga Adipati bersama dengan orang kepercayaannya sepakat menggunakan nama “Gunung Kidul” karena tempat itu berada di daerah pegunungan.


Sumber: http://kekunaan.blogspot.com





Halooo… perkenalkan nama saya Odilia Geerta Prames Paweling. Saya biasa dipanggil Odele. Saya dilahirkan di Jakarta, 06 Desember 2002 dan besar di Yogyakarta. Zodiak saya adalah Sagitarius. Saya adalah anak ketiga dari empat bersaudara sekaligus perempuan termuda dikeluarga. Tempat tinggal saya ada di Kaliurang. Sekarang saya bersekolah di SMA 1 Pakem. Hobi saya menonton film, mendengarkan musik.







Hikayat Desa Panggang
                Konon, Terjadi sebuah letusan Gunung Merapi yang dahsyat, letusan ini memporak-porandakan daerah sekitar lereng dan  membuat tanaman-tanaman mati. Tanah diselimuti oleh batuan keras sehingga tidak bisa ditanami lagi. Hal ini membuat sebagian warga meninggalkan Lereng Merapi dan mencari tempat tinggal baru.
                Beberapa bulan kemudian  seorang pemuda bernama Joko Thole pergi mengembara ke lereng Gunung Merapi untuk mengabdi pada masyarakat dan mencari jodohnya.
                Setelah berhari hari mengembara Joko Thole kehabisan bekalnya. Dia berhenti di sebuah pemukiman kecil dan membeli makanan. Dia tertarik dengan lingkungan sekitar akhirnya Joko Thole pun bertanya pada seorang penduduk
“Apakah saya bisa tinggal di sini?” Tanya Joko Thole,
 “Anda bisa tinggal di sini, asalkan Anda sudah mendapat izin dari tetua kami” jawab penduduk tersebut.
 “ Lalu di mana tempat aku bisa bertemu tetua mu?” Tanya Joko Thole lagi.
 Penduduk itu menjawab “Biasanya beliau sedang duduk di taman di tepi jurang saat sore hari begini.”
                 Joko Thole bergegas menuju taman untuk mencari tetua. Dia bertemu seorang pria tua yang sedang duduk di sebuah batu mengamati sekumpulan orang yang sedang membawa air dari sebuah sungai.
                “Wahai pak tua , apakah kau adalah tetua dari warga yang di sana?” tanya Joko Thole. “Ya benar, Saya adalah Purwa Sanjaya,.Ada apa anda mencari saya?” jawab pria itu.
” Saya ingin memohon ijin untuk tinggal di wilayah anda untuk sementara.“ Pinta Joko Thole.
  “ Saya mengijinkan siapa pun tinggal di sini asalkan dia tak pernah membuat kekacauan di wilayah ini” kata tetua wilayah, “ Kau bisa tinggal di rumah di dekat Pohon itu.”
“ Terima kasih atas kebaikanmu, saya pasti akan membalasnya esok” kata Joko Thole sambil pergi mengemasi barangnya dan pergi kerumah yang dimaksud.
                Keesokan harinya Joko Thole melihat pria tua yaitu Purwa Sanjaya duduk di taman yang sama saat mereka bertemu pertama kalinya. Begitu juga dengan hari berikutnya, Joko Thole pun bertanya pada Purwa Sanjaya apa yang selalu pria tua itu lakukan setiap hari, Purwa Sanjaya menjawab bahwa dia memikirkan cara untuk mendapat air lebih mudah, karena setelah bencana gunung meletus bendungan yang dibuat rusak dan mengering. Warga mencoba membuat sebuah jalur air dari sungai ke wilayahnya namun gagal karena air kering di tengah jalur sebab terlalu jauh. Joko Thole mengusulkan untuk menggali tanah untuk
 membuat sumur. Meski sudah mencoba menggali di beberapa tempat semuanya gagal, tidak ada air yang muncul.
                Pada malam hari, saat Joko Thole tidur. Dia bermimpi agar dia menaruh sesajen berupa ingkung panggang di bawah sebuah benda yang dianggap keramat oleh penduduk sekitar dan bertapa di sebelahnya.
                Keesokan paginya, Joko Thole bertanya pada Purwa Sanjaya tentang benda yang di anggap keramat di sekitar sini. Purwa Sanjaya menjawab bahwa benda yang dianggap keramat disekitar sini adalah sebuah pohon randu tua yang besar di dekat hutan. Joko Thole langsung menyiapkan semua perlengkapan sesaji  dan pergi ke dekat hutan sendiri pada sore hari.
                Joko Thole bertapa selama tiga hari tanpa makan dan minum, di malam terakhir Joko Thole mendapat bayangan seekor gagak hitam yang membawa sebuah ayam panggang diparuhnya. Gagak itu berkata bahwa di wilayah ini hanya ada sumber air yang memang akan mengering di musim kemarau, namun kalian akan mendapat banyak berkah dari pasir yang melimpah. Joko Thole pun bangun dari bertapanya karena suara kepakan sayap yang keras dari atas pohon randu. Dia melihat seekor gagak sama persis seperti  di dalam bayangannya saat bertapa tadi. Gagak itu mengangguk dan menjatuhkan ayam panggang di atas pohon randu tersebut.
                Joko Thole pun pulang dan memberi tau kepada warga bahwa tanah yang kita gali akan muncul air hanya saat musim penghujan.  Karena melihat usaha keras nya mencari air para warga dan Purwa Sanjaya terkesima. Purwa Sanjaya menawarkan Joko Thole menjadi tetua wilayah, namun Joko Thole menolak karena ia hanya semata mata membalas kebaikan Purwa Sanjaya dan para warga.
                 “Jika kau membutuhkan sesuatu,katakanlah pada kami. Kami tak kan ragu membantumu.” kata Purwa Sanjaya.
                “ Tentu saja .“  Jawab Joko Thole.
                Dimalam hari saat, Joko Thole teringat tujuannya mengembara juga untuk mencari jodohnya. Dia pun kembali bertapa sambil menaruh sesaji lagi ditempat yang sama dengan niat untuk memohon petunjuk tentang jodohnya. Dalam bayangannya dia melihat sosok gagak yang sama dan juga membawa ayam panggang seperti sebelumnya. Gagak itu menyampaikan bahwa jodoh Joko Thole berada jauh di arah barat,maka Joko Thole harus kembali mengembara seperti dulu. Joko Thole terbangun karena kepakan yang sama seperti sebelumnya dan melihat gagak yang sama di atas pohon
                Joko Thole pun pulang dan berpamitan dengan semua warga.  Para warga dikumpulkan. Joko Thole berkata “Saya harus pergi mengembara  lagi untuk mencari jodohku. Untuk semua warga, saya mempunyai sebuah pesan, apabila wilayah ini menjadi besar dan menjadi sebuah desa namakan wilayah ini dengan nama “Randu Panggang” .” selanjutnya Joko Thole melanjutkan pengembaraannya ke arah barat.
                Seiring waktu sumur yang dibuat itu benar benar muncul air saat penghujan dan mengering saat kemarau. Wilayah itu pun semakin besar. Purwa Sanjaya teringat pesan Joko Thole dan akhirnya menamakan wilayah itu Randu Panggang atau lebih dikenal sebagai Desa Panggang.


Sumber : Marjo Sumanto
IMG_20180805_094615.jpg

 Hei....Namaku Rizky Gustiantoro, kalian bisa memanggilku Rizky atau Gusti. Aku Lahir 9 jam sebelum hari ulang tahun Republik Indonesia di tahun 2003. Lahir di Bulan Agustus bukan berarti aku segalak Leo lho guys, aku malah lebih seperti kucing yang imut dan lucu hehehe...




ASAL- USUL GUNUNG MERAPI

Konon, Pulau Jawa memiliki tanah yang miring dan tidak rata.  Oleh karena hal tersebut, para dewa di kahyangan ingin menyeimbangkan Pulau Jawa. Para dewa ingin  meletakkan sebuah batu besar di tengah Pulau Jawa agar tanah di Pulau Jawa tidak miring dan menjadi lebih rata. Para dewa memutuskan untuk memindahkan Batu Jamurdipa. Batu tersebut berada di Pantai Selatan dan akan dipindahkan ke daerah sekitar perbatasan Kabuate Sleman, Boyolali, dan Klaten.  Para dewa akan mengutus Dewa Bayu untuk memindahkan batu tersebut.
Di tempat akan diletakkannya Batu Jamurdipa, tinggallah dua orang empu sakti. Kedua empu tersebut merupakan pembuat keris bernama Empu Rama dan Empu Pamadi. Kedua empu tersebut merupakan pembuat keris yang sangat ahli. Dalam membuat keris, kedua empu tersebut tidak pernah menempa besi menggunakan palu atau landasan logam. Kedua empu tersebut menggunkaan tangan dan paha sebagai alasnya.  Mereka menggunakan kesaktiannya untuk membuat keris yang sangat hebat dan berkualitas sangat tinggi.
Mengetahui di tempat akan diletakkannya Batu Jamurdipa tersebut terdapat dua orang empu sakti, para dewa berunding. Mereka kemudian mengutus Batara Narada dan Dewa Penyarikan untuk menemui kedua empu tersebut. Batara Narada dan Dewa Penyarikan meminta kedua empu untuk pindah dari tempat itu agar tidak tertindih Batu Jamurdipa.
Kedua utusan kahyangan tersebut turun ke bumi. Mereka menyampaikan pesan para dewa kepada Empu Pamadi dan Empu Rama.
“Maaf, Empu! Kami utusan para dewa ingin berbicara dengan Empu berdua,” sapa Dewa Penyarikan.
Kedua empu tersebut segera menghentikan pekerjaannya dan kemudian mempersilakan kedua utusan para dewa itu untuk duduk.
“Ada apa gerangan? Ada yang dapat hamba bantu?” tanya Empu Rama.
“Kedatangan kami kemari untuk menyampaikan permintaan para dewa kepada Empu,” jawab Batara Narada.
“Apakah permintaan itu?” tanya Empu Pamadi penasaran, ”Semoga permintaan itu dapat kami penuhi.”
Mereka mengatakan bahwa Pulau Jawa memiliki tanah yang miring dan tidak rata. Maka dari itu, para dewa ingin meletakkan sebuah batu besar yang akan diletakkan di tempat kedua empu tersebut tinggal. Namun, kedua empu tersebut menolak.
"Terima kasih atas kedatangan kalian, tetapi mohon maaf, kami tidak bisa pindah dari sini. Jika kami berpindah-pindah itu tidak baik bagi kualitas keris buatan kami," jawab Empu Rama.
Batara Narada dan Dewa Penyarikan mencoba kembali menasihati Empu Rama dan Empu Pamadi. Sekali lagi kedua empu tersebut tetap bertahan kepada pendiriannya dan tidak akan pindah dari tempat tersebut.
"Namun, jika hal ini tidak dilakukan, maka Pulau Jawa akan semakin miring, " Batara Narada menasihati. Kedua empu tetap tidak mau pindah dari tempat tinggalnya.
Dahulu, ketika terjadi badai di tempat kedua empu tersebut tinggal, mereka memutuskan untuk mencari tempat yang lebih aman supaya mereka tetap bisa membuat keris. Di tempat yang baru tersebut mereka terus berusaha untuk tetap membuat keris. Namun, keris yang dihasilkan kualitasnya lebih buruk dari keris yang yang mereka buat di tempat tinggal meraka yang asli.
Ketika badai sudah reda, mereka memutuskan untuk pindah ke tempat tinggal semula. Kedua empu tetap membuat keris dan keris yang dihasilkan pun kualitasnya jauh lebih baik. Sejak saat itu, mereka memutuskan untuk tidak akan pernah meninggalkan tempat tersebut apapun yang terjadi.
Batara Narada marah karena kedua empu tersebut tidak mau pindah. Akhirnya terjadilah pertengkaran yang dilanjutkan dengan pertarungan diantara kedua empu dengan Batara Narada dan Dewa Penyarikan. Empu Rama dan Empu Pamadi menggunakan kesaktiannya untuk melawan mereka. Kesaktian yang dimiliki kedua empu lebih tinggi, meraka berhasil memukul mundur Batara Narada dan Dewa Penyarikan.
Batara Narada dan Dewa Penyarikan kembalu ke kahyangan. Dewa-dewi di kahyangan murka ketika mengetahui mereka tidak berhasil mengusir Empu Rama dan Empu Pamadi.
"Kedua empu tersebut memang keras kepala! Lihat saja apa yang akan terjadi, " kata Batara Guru.
Hari selanjutnya, para dewa akhirnya ikut turun ke bumi. Mereka bertemu dengan kedua empu dan berusaha memberikan nasihat kepada kedua empu untuk kesekian kalinya dan untuk kesekian kalinya pula kedua empu menolak untuk pergi.
Kedua empu tersebut membuat para dewa murka. Akhirnya, terjadilah pertempuran antara kedua empu dengan para dewa dari kahyangan. Kedua empu berusaha melawan para dewa dengan kesaktian yang mereka miliki.
Pertempuran tersebut terjadi selama satu hari satu malam. Akhirnya, para dewa dapat dipukul mundur oleh kedua empu. Para dewa kembali ke kahyangan dengan perasaan malu sekaligus kecewa karena mereka tidak bisa memukul mundur kedua empu untuk pergi dari tempat tersebut. Para dewa pun murka.
"Kedua empu tersebut sulit sekali dikalahkan, jumlah kita bahkan lebih banyak dari mereka berdua, tetapi tetap saja kita tidak bisa mengusir mereka, " kata salah satu dewa.
" Kalau dengan diberi nasihat tidak bisa, maka kita tidak akan memperhitungakan mereka lagi, " sahut dewa yang lain.
" Segera tiupkan Batu Jamurdipa sekarang juga!" perintah Batara Guru.
Dewa Bayu lalu meniupkan Batu Jamurdipa sehingga terhempas dan jatuh tepat di atas perapian kedua empu tersebut membuat keris. Empu Rama dan Empu Pamadi pun tewas tertindih Batu Jamurdipa tersebut.
Perapian tempat Empu Rama dan Empu Pamadi membuat keris kemudian menjadi sebuah kawah. Akhirnya, batu berkawah tersebut diberi nama dengan Gunung Merapi, karena letaknya persis di lokasi perapian kedua empu tersebut membuat keris.

Sumber: https://dongengceritarakyat.com/cerita-rakyat-dari-yogyakarta-asal-mula-gunung-merapi/


BIODATA PENULIS
Titis Anggita Wazni, lahir di Sleman, 9 Mei 2003. Dia adalah siswi SMA Negeri 1 Pakem. Sekarang dia duduk di bangku kelas X SMA. Dia tinggal di Jetis, Argomulyo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Dia merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Dia senang sekali membaca cerita terutama novel. Saat ini, ia berusia 15 tahun. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya dan seorang kakak laki-laki.


Asal-Usul Ngaglik
Alkisah di desa Plosorejo hiduplah seorang anak yang bernama Ki Jaka Nganu. Orang tua nya pergi meninggalkannya sejak ia menginjak umur 4 tahun. Kemudian diasuh lah ia dengan pria tengah baya yang namanya tak diketahui oleh siapa pun. Namun, ia sangat dikenal sebagai Maha Guru di tempat tersebut karena ia bisa melakukan hal-hal yang tidak wajar, seperti terbang, menyembuhkan penyakit hanya dengan sentuhan, dan lain-lain. Karena orang-orang di desa itu begitu kagum dengannya, akhirnya tidak sedikit dari mereka yang ingin berguru kepadanya. Dalam hitungan hari Maha Guru tersebut memiliki banyak murid, ia mengajarkan kepada muridnya tentang arti hidup, dan ilmu-ilmu yang tak wajar.

  Singkat cerita Ki jaka Nganu pun tumbuh menjadi remaja dan menjadi murid Maha Guru.  Karena Ki Jaka Nganu adalah murid yang pintar, rajin, terampil, dan berbakat, maka ia menjadi murid terbaik Maha Guru. Pada suatu hari, di tempat biasanya Maha Guru membagi ilmu kepada murid-muridnya, yaitu di rumahnya sendiri.  Ki Jaka Nganu benar-benar penasaran tentang nama gurunya tersebut, ia ingin tahu kenapa beliau menyembunyikan identitasnya padahal beliau adalah Maha Guru yang disegani. Kemudian Ki Jaka Nganu bertanya tentang namanya.  “Guru....Mengapa selama ini guru tidak ingin seorangpun tahu tentang nama guru?” Tanya Ki Jaka Nganu dengan penuh penasaran. “Aku menyembunyikan namaku karena alasan tertentu, masih lama waktu mu untuk mengetahuinya muridku, jalanmu masih panjang, suatu saat nanti kamu juga akan mengerti.” Jawab Maha Guru, Ki Jaka Nganu pun terdiam.

 Hari itu sinar mentari begitu terang membuat suasana desa itu damai, angin menari ke sana ke mari. Tepat di depan rumah, Maha Guru sedang bersama muridnya . Mereka duduk dan berbincang - bincang tentang ilmu yang akan dipelajari Ki Jaka Nganu, kemudian di tengah perbincangan itu tiba-tiba langit menjadi gelap, hujan pun turun dengan lebat. Suara gemuruh di langit pun cukup untuk merusak gendang telinga. Mereka berdua bergegas masuk ke dalam rumah sambil menutup telinga mereka dengan sangat erat. Tak lama setelah itu petir menyambar di mana-mana. ” GLEGARRRR!!!” Petir itu menyambar rumah Maha Guru. Tak disangka ternyata Maha Guru lah yang terkena petir tersebut. Terbentuklah lobang di atap tepat di atas Maha Guru tergeletak. Seketika langit cerah kembali, cuaca menjadi terkendali, hujan badai pun terhenti. Ki Jaka Nganu pun terkejut melihat hal itu. Hati nya terasa seperti kertas yang dirobek. Sambil meneteskan air mata ia bergegas berlari menuju tempat Maha Guru tergeletak, rupanya Maha Guru masih setengah sadar. Ketika Ki Jaka Nganu ingin memanggil bantuan, Maha Guru memegang tangan Ki Jaka Nganu dengan erat. “Tak perlu muridku... waktuku sudah tak bisa dihitung menit..” Kata Maha Guru dengan lirih. “Tapi guru??!!!” Ki Jaka Nganu berteriak. “Mungkin Tuhan murka padaku, padahal selama ini aku ingin membangun sebuah padepokan di dekat Gunung Blego, ada yang berkata bahwa disana nyaman dan damai, tapi sepertinya aku tidak bisa mendapatkannya.” Jelas Maha Guru. “Baiklah Guru, biar saya yang akan mewujudkan mimpi Guru!” Seru Ki Jaka Nganu dengan menahan tangisnya. “Tidak....kau... tidak... seharusnya... me.... ... “ Kalimat terakhir Maha Guru pun terucap. Kedua mata Maha Guru tertutup rapat.  Hidup seorang Maha Guru yang disegani di desa tersebut. Tanpa menghiraukan kalimat terakhir  Maha Guru, Ki Jaka Nganu bertekad untuk mewujudkan mimpi Beliau dan menjadi Maha Guru.

Seperti biasanya Desa Plosorejo terlihat sangat damai, penuh senyuman dan tawa. Namun kini ada sesuatu yang berbeda, seseorang yang dulunya adalah anak yang ditinggal oleh orang tuanya yang kemudian diasuh oleh seseorang sudah tumbuh dewasa. Ki Jaka Nganu terlihat gagah dan tampan, sangat berbeda ketika ia masih remaja. Bahkan banyak wanita di desa yang tertarik padanya. Namun Ki Jaka Nganu tidak tertarik pada hal seperti itu, ia lebih menyukai kepada ilmu-ilmu yang ia pelajari dari Maha Guru3. Ia terus mempelajari dan mendalami ilmu tersebut. Sampai-sampai ia merasa bahwa ia sudah setara dengan Maha Guru. Semua orang di desa pun mengakui itu, disamping, itu dia sangat ramah dan baik kepada orang-orang di desa nya.

 Mengingat mimpi Maha Guru nya tersebut, ia mengajak Sangkutarub murid terbaiknya nya itu untuk memeriksa tempat yang dimaksud Maha Guru. Ia adalah seorang gadis yang berasal dari keluarga miskin. “kita akan pergi ke mana wahai guru?” Tanya Sangkatarub sambil menyiapkan barang-barang yang akan dibawanya. “Kita akan memeriksa sebuah tempat di dekat Gunung Blego, dan aku berencana membangun sebuah padepokan di sana.”Jelas Ki Jaka Nganu. Mendengar itu, Sangkutarub terkejut. “Tapi guru, bukankah itu adalah tempat yang berbahaya? Saya pernah membaca bahwa di sekitar Gunung Blego dipenuhi dengan aura yang tidak bersahabat, jika kita melakukan hal yang tidak wajar atau senonoh di sana, maka hal yang tidak terduga pun bisa terjadi.” Jelas Sangkutarub dengan penuh was-was. “Kita tidak akan tahu kalau belum mencoba, kamu sendiri mengenal diriku kan? Aku sudah mempelajari bahkan menguasai semua ilmu tersebut, jadi hal seperti itu bukan apa-apa bagiku.” jelas Ki Jaka Nganu dengan sedikit sombong. “Wah guru benar benar hebat, baiklah saya akan percaya pada guru!” Seru Sangkutarub dengan penuh semangat.

 Tak lama kemudian, langit terlihat begitu biru ditemani awan-awan putih yang bertebaran. Angin yang berhembusan membuat tanaman menari-nari, mencerminkan kedamaian di desa tersebut. Sangkutarub kemudian beranjak dari rumahnya, ia mencium tangan kedua orang tuanya. Dengan penuh semangat Sangkutarub berjalan menuju tempat yang akan menjadi titik awal perjalanan menuju ke Gunung Blego. Sesampainya di sana Ki Jaka Nganu sudah duduk manis menunggu kehadirannya. Melihat tempat yang akan dilaluinya adalah hutan, mereka jadi terbayang akan hal-hal aneh. “Guru, kenapa jalannya mengerikan seperti ini?” Tanya Sangkutarub. “Janganlah takut muridku, kita akan baik-baik saja.” Kemudian Ki Jaka Nganu menamakan tempat mereka memulai perjalanan dengan nama Gemawang.

 Di tengah jalan menuju Gunung Blero mereka sedikit berbincang-bincang. “Guru, konon katanya dalam perjalanan menuju ke Gunung Blego kita akan menemui sebuah pohon yang amat besar dan kuat. Pohon itu berdiri tegak di tepi sungai yang arusnya sangat deras yang mengalir panjang menutupi jalan menuju Gunung Blego.” Jelas Sangkutarub. “Kamu tahu banyak ya muridku, aku bangga mengangkat kamu menjadi murid terbaikku, ini membuktikan kalau aku tidak salah pilih. Hahahaha.” Puji Ki Jaka Nganu. “Ahahahha, guru terlalu berlebihan.” Muka Sangkutarub memerah.

 Tiba-tiba mereka melihat sebuah akar yang merambat di tanah. Diikutilah akar itu, terkejutlah mereka melihat pohon yang amat besar dan rindang. Benar kata Sangktutarub, bahwa ada sungai deras yang mengalir di dekat pohon. “Whoaaa... ternyata semua ini nyata..” Ungkap Sangkatarub dengan kagum. Melihat derasnya aliran sungai, Ki Jaka Nganu menjadi kebingungan. “Kalau seperti ini bagaimana bisa melewatinya?” Berkali-kali ia mencoba beberapa cara untuk menyeberang sungai itu, bahkan ia hampir terbawa arus bersama Sangkutarub. Akhirnya Ki Jaka Nganu menyerah lalu duduk dan berteduh di bawah Pohon besar bersama muridnya itu.

 Ia memperhatikan pohon besar itu, ia melihat daun-daun hijau yang menari-nari karena hembusan angin, diikuti beberapa burung yang lewat. Seketika ia teringat dengan mimpi Maha Guru. Ia pun menjadi kesal karena tidak bisa mewujudkan itu. Karena kesal dan depresi, ia pun memukul dan pohon besar itu sambil berkata yang tidak semestinya. Sangkutarub terkejut namun ia hanya diam saja, setelah itu ia merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Tak lama kemudian langit menjadi gelap, awan-awan gelap menutupi langit, hujan deras pun tiba tiba turun, angin pun bertiup sangat kencang. Suasananya hampir sama ketika Ki Jaka Nganu bersama Maha Guru di rumahnya.

 Ki Jaka Nganu panik, ia pun bergegas menyelamatkan diri dan mengajak Sangkutarub untuk berlari. Angin semakin kencang, bahkan pohon yang kuat dan besar itu pun bergoyang-goyang. Mereka berdua takjub melihat hal itu. Dengan ilmu yang dipelajarinya, Ki Jaka Nganu berusaha mengehentikan cuaca yang ekstrem itu namun gagal. Ki Jaka Nganu pun terbawa angin lalu terbawa arus sungai dan hanyut. Melihat itu Sangkutarub tak bisa apa-apa selain lari dan menjauh dari tempat tersebut.

 Tidak lama setelah Ki Jaka Nganu hanyut, langit menjadi terang benderang, cahaya mentari menyinari sekitar. Awan hitam pun berpindah semua, sehingga langit terlihat biru dan indah. “Indahnya tempat ini....” Dari keajdian itu Sangkutarub belajar bahwa jangan meremehkan hal sekecil apapun. Beberapa tahun kemudian, Sangkutarub satu-satunya gadis yang mampu menguasai ilmu yang diwariskan oleh Ki Jaka Nganu, bahkan ia mampu melampui Maha Guru. Sangkutarub tiba-tiba teringat tragedi yang terjadi Ki Jaka Nganu yang merupakan gurunya. Kemudian ia menamakan tempat itu dengan nama Ngaglik. Diambil dari nama gurunya Ki Jaka Nganu dan disaat pohon nya bergoyang-goyang atau dengan bahasa Jawa oglak-aglik.

Sumber : www.soendoel,blogspot.com









Biografi
Namaku adalah Triandi Aprilio. Aku biasa dipainggil Rian, panggil Andi juga bisa, tapi jarang ada yang manggil Andi sih, hehe... yang penting jangan panggil aku Lio ya... Aku lahir di Magelang, 3 April 2002. Sekarang aku tinggal di Nglanjaran, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman. Aku memiliki hobi, yaitu menggambar, bersepeda, dan bermain basket. Kalau soal menulis sesuatu jujur aku kurang suka, namun jika terbawa suasana saat menulis, aku bisa hampir lupa waktu. Namun menulis bukanlah hobiku.
Asal Mula Tlogo Putri, Kaliurang
                Konon, dahulu di Kaliurang berdirilah sebuah kerajaan atau orang Jawa menyebutnya sebagai keraton, keraton tersebut dipimpin oleh raja yang bijaksana dan adil kepada setiap rakyatnya sehingga beliau begitu disegani. Raja tersebut bernama Raden Mas Dwipura, anak tunggal dari Raden Dwipura dan Ajeng Anjani. Sebagai anak tunggal, Raden Mas Dwipura dilimpahkan seluruh kekuasaan milik kedua orangtuanya sebagai penerus kerajaan yang sebelumnya dipimpin oleh ayahnya sebagai seorang raja.
                Sebelum memiliki seorang permaisuri sebagai pendampingnya, Raden Mas Dwipura telah mendapat mandat dari ayahnya menjadi seorang raja, karena ayahnya sudah tidak memungkinkan menjadi seorang pemimpin lebih lama lagi karena faktor dari usia yang sudah lanjut. Raden Mas Dwipura tetap menerima perintah dari ayahnya demi kesejahteraan rakyatnya dan demi ayahnya yang telah banyak berkorban.
                Selama ia memimpin kerajaan, pernah beberapa kali adanya pertemuan antara kerajaan untuk mendiskusikan beberapa persoalan dan ada juga yang membawa serta putrinya untuk dikenalkan kepada Raden Mas sebagai permaisuri namun ia tolak dengan tegas, bukan karena tidak menawan namun ia merasa kurang cocok.
                Dengan kesibukannya menjadi seorang pemimpin kerajaan, membuatnya lupa akan dirinya sendiri. Ia terlalu fokus pada rakyatnya entah dari segi kesejahteraan kehidupannya, mata pencahariannya sampai dari segi keamanannya. Semuanya ia pikirkan, rakyatnya begitu beruntung memiliki pemimpin yang berjiwa besar.
                Dengan suasananya yang sejuk dan asri dengan adanya banyak pohon yang rindang membuat sang raja berpikir untuk membuat adanya telaga di dekat keraton untuk tempat pemandian karena suasananya begitu mendukung. Dengan begitu sang raja mengatakan hal tersebut kepada sang ayah “Ayahanda, bagaimana jika di dekat pohon dengan cucuran air yang menetes tersebut kita buat telaga untuk pemandian? Dengan keadaanya yang dingin serta dikelilingi pohon membuatnya semakin sejuk”
                Dengan wajah yang sudah semakin tirus dengan kulitnya yang sudah banyak keriput ditambah sebagian rambutnya memutih sebagai tanda penuaan tak dapat terelakkan, bibir yang memucat pun berucap
 “Lakukanlah jika itu keinginanmu tanpa merugikan orang lain, namun janganlah kau berbuat jika menyengsarakan orang lain” Namun dengan penambahan usia tersebut, tetap tidak menyurutkan betapa berwibawanya ayah dari Raden Mas tersebut.
                Tak berselang lama dari perizinan tersebut, raja segera membuat telaga di dekat mata air tersebut bersama beberapa orang yang ia minta.  Pembangunan bertahap tersebut telah mencapai setengah dari sempurna, namun perkataan ayahnya setelah meminta izin dari pembuatan telaga membuatnya tak dapat ia singkirkan begitu saja, dengan mata yang sayu serta sisi kerapuhan dari bagaimana cara ia berucap dan juga permintaan dari ibunya yang sependapatpun semakin membuatnya lebih merasa bersalah telah membuatnya menunggu lama.
                Mungkin memang ini saatnya ia mencari permaisuri sebagai pendamping dalam memimpin keraton. Ia akan meminang putri dari Ratu Ambarsari yang telah lama ia kenal karena keakraban dari kedua keraton, putrinya bernama Dewi Putrisari, memiliki wajah menawan serta usia lebih muda dua tahun dari Raden Mas tidak membuatnya memiliki sifat kekanak-kanakan, ia memiliki sifat lebih dewasa dari usianya. Itulah alasan Raden Mas memilihnya menjadi permaisuri.
                Setelah peresmian dari hubungan Raden Mas dan Dewi Putrisari menjadi sepasang suami istri telah terdengar sampai ke telinga rakyat masing-masing keraton, semuanya bersyukur akhirnya sang raja mendapatkan istri idamannya. Dan untuk pembuatan telaga yang diharapkan oleh raja telah selesai. Telaga itupun telah terisi sepenuhnya oleh air yang bersumber dari mata air alami di kawasan Tlogo Muncar.
                Setelah beberapa tahun mereka menikah, mereka dikaruniai dua anak kembar yang bernama Putri Nara Dwipura dan Putri Dewi Dwipura. Kehadiran mereka disambut bahagia oleh warga keraton dan rakyatnya, namun belum sempat Raden Dwipura melihat cucu pertamanya lahir, beliau telah lebih dulu meninggal dunia. Kebahagiaan dan kesedihan disaat yang bersamaan menyelimuti keduanya.
                Saat usia kedua putri raja menginjak belasan tahun mereka berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk bermain air di telaga, mereka terlalu bahagia dan bersemangat untuk saling menyipratkan airnya satu sama lain. Setiap harinya sepulang dari telaga tersebut mereka selalu membawa kebahagiaan serta senyuman untuk ditularkan kepada semua penghuni keraton sehingga tak ada yang menegur untuk berhati-hati, seolah tersihir dengan tawanya.
                Berhari-hari mereka lalui dengan bermain di telaga hingga suatu sore telah menjelang, mereka tidak kunjung pulang. Seluruh anggota kerajaan segera menyari kedua putri raja tersebut ke seluruh tempat kerajaan barang kali mereka sedang bermain di kerajaan sampai lupa waktu untuk segera pulang, awalnya memang mereka berpikir seperti itu. Namun, setelah ditemukannya jasad keduanya di dalam telaga yang sering mereka datangi, pikiran tersebut langsung menguap begitu saja digantikan dengan linangan air mata sebagai bentuk dari kesedihan bahwa keduanya telah meninggal karena diperkirakan diterkam sekumpulan monyet berukuran besar yang berada di kawasan Tlogo Muncar yang sedang mencari persediaan makanan.
                Dan untuk mengenang kedua putri raja maka telaga tersebut dinamai menjadi Telaga Putri atau yang kita kenal sebagai Tlogo Putri yang berada di Kaliurang, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sumber: http://teamtouring.net


                Widya Yustika. Atau yang lebih akrab dipanggil Widya ini lahir di Sleman, 19 April lima belas tahun yang lalu. Pecinta aksara sejak pertama kali meresapinya, dia memang bisu namun memiliki sejuta makna saat bersama rentetan kata yang lain, memang sesederhana itu. Awal menyukai aksara  yaitu saat membaca novel berjudul Perfect Mate, berlanjut dengan membaca novel yang lainnya serta membaca banyak cerita di aplikasi wattpad dan berakhir menjadi candu tersendiri. Penyuka warna biru ini sekarang sedang menimba ilmu di SMA Negeri 1 Pakem di kelas X MIPA 3.


LEGENDA SUNGAI PROGO


Yogi Pratama Hidayat

X MIPA 3/30

         Sungai Progo adalah sungai terpanjang di Propinsi Yogyakarta . Sungai ini merupakan batas dari tiga kabupaten di DIY yaitu Kabupaten Bantul , Sleman , dan Kulon Progo . Keberadaan sungai ini sangat bermanfaat untuk warga di sekitar sungai . Manfaatnya antara lain sarana MCK , pertambangan pasir,pencarian ikan , irigasi , bahkan pariwisata yaitu di pintu air Sungai Progo yang terletak di Dlingo , Kulon Progo  atau sering disebut ancolnya Yogyakarta. Selain manfaatnya , ternyata  ada legenda di balik SungainProgo . Mitos – mitos dari keberadaan Sungai Progo pun berbagai macam karena sungai ini melewati beberapa daerah , sehingga sering terjadi perbedaan pendapat . Salah satu mitos , dan sejarah Sungai Progo yaitu di Dusun Bakal Pokok , Sedayu, Bantul yang konon menurut sesepuh desa Sungai Progo  berkaitan dengan Pangeran Diponegoro , dan Nyi Rara Kidul .

        Pangeran Diponogoro ternyata masih  keturunan Kesultanan Yogyakarta . Beliau di lahirkan di Yogyakarta , 11 November  1785 , putra dari Pangeran Adipati Anom (  Sultan Hamengkubuwono III). Pada waktu kecil beliau di juluki Raden Mas Ontowiryo karena sangat akrab dengan rakyat kecil . Selain itu Pangeran Diponegoro sangat benci dengan Belanda yang merendahkan harkat martabat raja-raja , dan rakyat . Pada waktu Sultan Hamengkubuwono V berkuasa , Pangeran Diponegoro  merasa kecewa dengan keadaan istana , dan beliau memilih meninggalkan istana . Beliau tinggal di Desa Tegalrejo untuk memusatkan perhatiannya di bidang agama , adat , dan kerohanian . Sementara itu Belanda  , dan Patih Danureja memasang patok di atas makam leluhur Pangeran Diponegoro untuk dijadikan rel kereta api. Tanpa sepengetahuan mereka  ternyata Pangeran Diponegoro mengintip.
“ Hei Patih , aku tak percaya ternyata kau bekerjasama dengan dia si Belanda , cepat cabut kembali patok itu ! . “ Kata Pangeran Diponegoro .
“ Tidak aku akan tetap membantu Belanda membangun rel kereta api disini , karena Belanda lebih bisa memakmurkan rakyat . “ Kata Patih Danureja .
“ Benaraku bisa memakmurkan kamu dan rakyat kamu .” Kata Belanda  .
“ Tidak,tidak mulai sekarang aku menyatakan perang dengan mu, cepat pergi dari sini ! “ . Kata Pangeran Diponegoro.
Belanda ,dan Patih Danureja langsung  meninggalkan tempat itu ,dan pangeran mencabuti patok –patok itu . Setelah itu Pangeran Diponegoro langsung meninggalkan tempat itu , menuju tempat persembunyianya yang baru bersama para prajuritnya .
Pangeran Diponegoro , dan para prajuritnya akhirnya memilih Dusun Bakal Pokok sebagai tempat persembunyian sementara . Beliau membangun keraton kecil di sana ,dan beliau mengajarkan pendidikan agama Islam kepada masyarakat setempat . Tetapi  Belanda mengetahui  keberadaan beliau sehingga beliau dengan sigap untuk bergerilya ke Bukit Selarong.  Sebelum singgah beliau berpesan kepada satu prajuritnya yang di amanahkan untuk tetap berada di desa itu .
“Wahai prajuritku , aku yakin kau dapat menjaga warga desa ini . Saat aku singgah ke Selarong kuberikan kau keris pustaka ku “ . Kata Pangeran Diponegoro .
“Terimakasih pangeran,pangeran telah memberikan hamba amanah , dan kepercayaan untuk menjaga desa ini .” Kata prajurit itu .
“ Gunakan kerisku dengan baik ,jangan sampai keris ini dipangku oleh seorang wanita karena jika terjadi akan fatal akibatnya .” Kata pangeran .
Setelah berpamitan kepada warga beliau dan beberapa prajuritnya langsung berkelana kuda menuju Selarong .

Prajurit abdi itu lalai akan amanah pangeran . Dia menitipkan keris itu kepada istrinya . Tak disangka saat istrinya memangku keris itu terjadilah keajaiban . Wanita itu langsung hamil , dan tanpa menunggu sembilan bulan sepuluh hari dia ingin melahirkan yang akan di bantu oleh dukun beranak.
“ Aku merasa anak mu tak wajar .” Kata dukun .
“Sakit mbah , sakit mas .” Kata wanita itu sambil berteriak .
“ Astaga anakmu ular , anakmu ular .” Kata dukun terbelanga .
“ Tidak mungkin .......... !, ohiya ini kutukan . Aku lupa akan amanah pangeran untuk menjaga keris itu agar tak sampai kr tangan wanita . Maafkan aku istriki .”Kata prajurit itu .
“ Ibu , ayah aku anak kalian , aku bukan kutukan “. Ujar si ular itu yang bisa berbicara .
“Pergi sana , jangan kembali lagi ! , dasar kutukan “ . Kata prajurit itu .
“Baiklah jika itu keputusan kalian , aku akan membalas perbuatan kalian dengan tirta melimpah .” Ujar si ular .
Si ular berkelana menuju penunggu laut selatan Nyi Rara Kidul untuk meminta pertolongan .
“ Wahai  Ratu yang cantik jelita , bantu aku untuk membalas perbuatan kedua orang tuaku yang semena-mena terhadapku .” Ujar si ular .
“ Siapa dirimu nak ?” . Kata Ratu .
“Aku tak punya nama ratu .” Ujar si ular .
“ Aku berinama kau Progo sesuai tekad mu yang besar . Aku akan membantumu melatalah sampai gunung di sana , maka akan datang tirta melimpah . “ Kata Ratu .
“ Terimakasih ratu .” Kata ular .
Ular itu terus melata sampai ke gunung  . Tak terduga terjadilah badai dahsyat yang langsung mengguyur desa dimana orangtua ular itu tinggal . Tirta yang sangat melimpah itu menutup beberapa kawasan hingga menjadi sungai yang di beri nama Sungai Progo .Dalam cerita ini kita tidak boleh mencelakai orangtua kita walaupun setragis apapun, dan sebagai orangtua jangan menelantarkan anaknya.


Asal Usul Tambak Kali

Konon, ada sebuah kraton di Surokarto. Kraton itu memiliki wilayah yang luas dan asri. Sangat indah untuk dipandang mata. Penduduk di sini sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, sangat jarang yang bekerja sebagai pedagang. Hanya sedikit saja mereka yang menjadi pedagang besar. Sisanya, pedagang kecil-kecilan yang menjual hasil alam dari panenan sawah dan perkebunan mereka yang terbatas. Kraton itu sudah sejak lama berdirinya. Dengan hasil pertanian yang melimpah dan raja yang bijakasana dalam mengatur jalannya pemerintahan, maka wilayah ini menjadi sangatlah makmur. Sungai-sungai yang mengular dari hulu ke hilir memiliki cukup banyak air sehingga penduduk bisa memanfaatkannya.
Raja yang memerintah kraton itu bernama Airlangga Jayawarsa. Ia memiliki banyak putra dan putri dari para selirnya. Raja menyayangi semua putra dan putrinya dengan kasih sayang yang sama. Ia tidak membeda-bedakan satu anak dengan yang lain. Sebab itulah kerajaan ini sangat makmur dan sejahtera. Mereka memiliki raja yang bijaksana. Wilayah kerajaan begitu luas, sehingga Raja Airlangga memiliki beberapa orang yang dipercaya untuk menjaga wilayah masing-masing.
Ki Ageng Kameswara diberi mandat untuk menjaga wilayah selatan. Di wilayah ini terdiri atas bukit-bukit kecil yang menjulang. Sayangnya, wilayah ini tidak memiliki banyak tumbuhan yang dapat hidup di atasnya karena memiliki tanah kapur yang sulit ditanami tumbuhan. Air tanah juga sulit didapatkan sehingga wilayah ini hanya memiliki sedikit penduduk.
Wilayah timur dijaga oleh Patih Jayanaga. Ia merupakan keturunan dari panglima perang kraton di masa lampau. Oleh karena itu, ia diminta oleh raja untuk menjaga wilayah timur karena wilayah tersebut menjadi sasaran kerajaan lain untuk meruntuhkan kraton. Tak banyak penduduk yang tinggal di situ karena sering terjadi penyerangan.
Patih Darmaja menjaga wilayah barat yang merupakan wilayah utama atau pusat kerajaan ini. Ia menjaga wilayah kerajaan dengan sebaik-baiknya terutama penyerangan dari kerajaan yang berada di barat. Tidak lebih sulit dari kerajaan sebelah timur Jawa karena daerah timur memiliki persenjataan lengkap, prajurit yang banyak, dan strategi yang baik. Tetapi, tetap saja Patih Darmaja harus menjaga keutuhan wilayah dengan segenap jiwa raganya.
Wilayah utara dijaga oleh Patih Jayaningrat, seorang punggawa Kraton Surokarto. Ia merupakan abdi raja yang setia dan berbakti pada perintah raja.
Ketika itu pasukan Belanda telah memasuki wilayah Jawa. Awal kedatangan mereka hanya untuk berdagang. Akan tetapi, lama-kelamaan Belanda mencampuri urusan pemerintahan kraton dan memonopolinya. Raja Airlangga tak menyukai hal tersebut sehingga ia mengusir Belanda dari wilayah Surokarto.
Suatu saat, raja mendengar kabar bahwa Tomenggolo, seorang punggawa kraton, bersekutu dengan Belanda. Raja sangat marah dan mengutus Patih Jayaningrat untuk membunuh Tomenggolo karena dianggap mengkhianati kraton. Patih Jayaningrat pergi barat untuk mencari Tomenggolo dan pengikutnya.
Ternyata, Tomenggolo dan pengikutnya lari ke barat untuk bersembunyi. Patih Jayaningrat yang mengetahui hal tersebut segera melakukan perjalanan ke arah barat. Setelah berhari-hari melakukan pencarian terhadap Tomenggolo, Patih Jayaningrat akhirnya bertemu dengan Tomenggolo di lereng Merapi sisi selatan.
“Hai, engkau Tomenggolo. Mengapa kau lari setelah melakukan persekutuan dengan Belanda?” Patih Jayaningrat mulai mengeluarkan kata-kata.
“Aku tidak bersembunyi darimu. Aku tidak takut padamu!”
“Apakah kau ingin merebut takhta raja dengan bersekutu dengan Belanda?” Tanya Patih Jayaningrat.
Tomenggolo menjadi geram. Ia tidak suka dengan Patih Jayaningrat. Lalu, tomenggolo mengeluarkan jurus saktinya dan menyerang Patih Jayaningrat. Akan tetapi, Patih Jayaningrat segera menghindar dan juga memberi serangan balik kepada Tomenggolo. Ketika lengan atas Tomenggolo tergores karena serangan Patih Jayaningrat, ia membalas serangan dan mengenai paha Sang Patih.
Mereka berdua bertarung dengan sangat sengit. Saling melawan dan menghindar dari serangan. Mereka berdua sama-sama sakti, sehingga perang terjadi berhari-hari lamanya. Sampai-sampai mereka berpindah tempat dalam beberapa hari itu. Hingga tibalah Tomenggolo dan Patih Jayaningrat di lereng Gunung Merapi yang sekarang dinamai Tuk Mbebeng Glagaharjo.
Mereka masih berperang satu sama lain. Tidak ingin mengalami kekalahan. Patih Jayaningrat ingin menyelesaikan tugasnya kepada raja dan Tomenggolo ingin merebut takhta raja. Akhirnya, Tomenggolo dapat dibunuh di lereng Gunung Merapi. Jasadnya dibuang di Tuk Mbebeng Glagaharjo.
Tetapi, sebelum menghembuskan napas terakhirnya, Tomenggolo berucap, “Ketahuilah Jayaningrat, bahwa sepeninggal saya, saya tetap tidak akan terima sampai kapan pun. Sampai kamu dikuburkan pun, dimana pun tempatnya. Saya akan aliri dengan lahar panas Gunung Merapi.”
Patih Jayaningrat tak mengindahkan perkataannya. Ia  senang telah berhasil melaksanakan tugas dari raja walaupun membutuhkan waktu yang banyak. Ia dan pengikutnya bersiap kembali ke kraton untuk menghadap raja. Mereka akan umumkan berita gembira bahwa Tomenggolo sudah mati.
Tetapi ketika perjalanan pulang, Patih Jayaningrat dibunuh oleh pengikut Tomenggolo. Ia dibunuh secara licik dengan tombak yang dilemparkan dari belakang. Lalu oleh pengikutnya, ia dimakamkan di Dusun Gadingan, Argomulyo, Cangkringan yang merupakan bantaran Sungai Gendol.
Hingga saat ini setiap tahun pemerintah desa bersama masyarakat memperingati legenda tersebut dengan “Gelar Budaya Tambak Kali”. Konon katanya, ketika Gunung Merapi meletus akan dialiri lahar panas Gunung Merapi di Sungai Gendol.
Sumber : sdin.slemankab.go.id
Biodata Diri

Hai, perkenalkan nama saya Zahra Salsabila. Sebenarnya saya memiliki nama pena, tetapi tidak usah saya pakai saja. Saya duduk di bangku SMA kelas 10 di salah satu sekolah negeri di Yogyakarta. Saya lahir pada bulan Januari sehingga saya berzodiak Aquarius. Umur saya menginjak 15 tahun lebih 6 bulan.
Saya hobby membaca dan mendengarkan lagu. Bacaan yang saya senangi yaitu fiksi. Penulis favorit saya ada banyak, antara lain J.K. Rowling, Akiyoshi Rikako sensei, Gu Man, Kiera Cass, Victoria Aveyard, Stephanie Meyer, dan Brandon Sanderson. Untuk saat ini, buku favorit saya yang teratas adalah Harry Potter series. Selain itu, ada Holy Mother by Akiyoshi Rikako, The Sellection series by Kiera Cass, dan Love O2O by Gu Man. Lalu, penyanyi dan band favorit saya, antara lain One Direction, Zayn Malik, Billie Eilish, Sleeping At Last, Finding Hope, Oh Wonder, dan Khalid.
Sekian sedikit perkenalan dari saya. Terimakasih!